Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Winda dan Vika sedang duduk di restoran yang satu gedung dengan kantor. Mereka hendak makan siang bersama. Winda merasa risih karena banyak karyawan yang memandang ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Seorang office girl makan berdua dengan atasan di restoran. Rupanya Vika menyadari hal itu.
"Kamu gak usah pedulikan mereka. Kita di sini bukan sebagai atasan dan bawahan tetapi sebagai teman."
"Iya, kak."
"Pesan makanan dulu."
Vika menyodorkan daftar menu ke Winda. Winda memilih sebuah menu makanan. Demikian pula dengan Vika. Pelayan pun menyiapkan pesanan mereka.
"Win, besok kamu bisa ke rumah?" tanya Vika di sela-sela makan.
"Ada acara apa, kak?"
"Enggak ada acara apa-apa. Mama kangen masakan kamu. Kamu sudah lama gak ke rumah."
Winda hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Sebenarnya Winda merasa enggan ke rumah Vika jika sedang ada acara karena pasti Tante Ami akan selalu memperkenalkan dirinya sebagai calon menantu, di hadapan teman-teman nya.
"Gimana, kami bisa kan?"
"Insya Allah, kak. Winda usahakan."
Vika tersenyum. Mereka melanjutkan makan siang. Selesai makan siang, mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
####
Sore itu, Winda tengah bersiap-siap di kamarnya. Septi menghampiri Winda di kamarnya.
"Mau ke mana, Win?"
"Ke rumah mas Radit."
Sekarang, di depan Septi, Winda sudah tak canggung lagi memanggil Radit dengan panggilan mas..
"Ada acara keluarga lagi?"
"Gak. Cuma mau makan malam bersama. Mbak Septi mau ikut?"
"Enggak. Kan hanya kamu yang di undang. Mending nonton tv aja di rumah."
Winda tersenyum. Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor memasuki halaman. Septi ke ruang tamu dan mengintip dari balik korden jendela.
"Siapa, mbak?" tanya Winda sambil menghampiri septi
"Adi."
Winda mengerenyitkan dahinya. Perasaan dia gak ada janji dengan Adi. Winda membuka pintu.
"Mas Adi, tumben ke sini." kata Winda.
"Mau jemput kamu."
"Jemput? Bukannya ..."
"Radit gak bisa jemput. Dia suruh aku jemput kamu. Udah ayo naik."
Setelah berpamitan dengan Septi, Winda naik ke motor dan Adi segera melajukan motornya menuju rumah Radit. Sesampainya di rumah Radit, Tante Ami sudah menunggu.
"Assalamualaikum, Tante .... " sapa Winda seraya mencium punggung tangan Tante Ami.
"Waalaikumssalam. Winda, sudah lama nggak datang kemari. Tante kangen sama kamu."
Winda tersenyum mendengarnya.
"Kok sepi, Tante? Pada ke mana?" tanya Winda mengedarkan pandangannya.
"Vika lagi keluar sebentar sama suaminya. Kalau Radit lagi di kamarnya."
"Adi ke kamar Radit dulu ya, Tan." kata Adi.
"Iya. Terimakasih ya kamu telah menjemput Winda."
"Iya, Tante."
Adi segera ke kamar Radit di lantai di dua. Sementara itu, Tante Ami membawa Winda ke dapur untuk memasak sop. Tante ami ingin makan sop ayam buatan Winda. Mereka masak di bantu Irna dan Isah. Tak lama kemudian masakan itu telah siap. Tante Ami pun pamit untuk ke kamar.
Waktu makan malam tiba. Tante Ami, Arya, Vika , Adi, Radit juga Winda duduk mengelilingi meja makan. Mereka makan tanpa suara. Selesai makan malam, semua berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai Setelah berbincang-bincang sebentar, Tante Ami pamit ke kamar untuk beristirahat. Tak berapa lama kemudian Winda pun juga berpamitan untuk pulang.
"Kak, Winda pulang ya." pamit Winda kepada Vika sambil mencium punggung tangan Vika dan Arya.
"Kok buru-buru sih."
"Iya kak takut kemalaman. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam. Hati-hati ya."
"Iya, kak."
Winda hendak meninggal ruang keluarga itu. Tetapi Radit menghentikan langkahnya.
"Winda, tunggu."
Winda berhenti dan menoleh kearah Radit.
"Iya, ada apa, mas?"
"Ada yang mau aku sampaikan ke kamu. Bisa kamu duduk lagi?"
Winda pun kembali duduk. Tiba-tiba Radit duduk bersimpuh di depan Winda sambil menggenggam erat jari tangan Winda. Winda merasa risih dan berusaha melepaskan genggaman itu tetapi tidak bisa.
"Mas Radit apa-apaan sih. Malu sama yang lain," kata Winda setengah berbisik.
"Aku tak peduli. Aku mau bilang kalau aku sangat mencintai kamu. Maukah kamu menikah dengan ku?"
Kembali Winda terkejut mendengar perkataan Radit.
"Kenapa mas Radit bilang seperti itu. Padahal mas Radit tau kan aku udah punya kekasih. Kenapa mas Radit gak mau ngerti juga sih."
"Karena aku adalah Gito, kekasih mu."
Winda tersentak mendengar suara Radit. Dia menatap Radit lalu tersenyum.
"Mas Radit, aku tau, mas Radit cinta sama aku tapi jangan begini juga, mengaku sebagai mas Gito. Banyak perempuan di luar sana yang pantas untuk menjadi pacar mas Radit."
"Tapi, Win ...."
"Tapi dia memang Gito, Winda,"
Perkataan Vika membuat Winda menoleh. Vika mengangguk.
"Maksud kak Vika apa?" tanya Winda.
"Gito adalah Radit yang menyamar. Radit sengaja menyamar menjadi sosok Gito untuk mencari cinta sejatinya dan cinta sejatinya itu adalah kamu."
Kembali Winda menatap Radit yang masih duduk bersimpuh di depannya.
"Apa yang bisa membuktikan bahwa mas Radit adalah mas Gito?"
Radit mengangkat jari tangan Winda yang melingkar sebuah cincin. Winda heran.
"Kenapa dengan cincin ini?" tanya Winda.
"Boleh aku pinjam cincin ini?"
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin pinjam sebentar."
Dengan penuh tanda tanya dalam hatinya, Winda meloloskan cincin itu dari jarinya dan menyerahkan nya pada Radit. Radit mengambil dan mengangkatnya di depan wajah Winda.
"Kamu lihat tulisan di dalam lingkaran cincin ini?"
Winda melihat ke arah yang di maksud Radit. Winda terkejut membaca tulisan yang tertera di dalam lingkaran cincin itu.
...RADITYA WINDA...
Winda menatap nanar tulisan itu. Kenapa nama Radit yang terukir bukan nama Gito? Winda menatap tajam ke arah Radit.
"Jadi .... "
"Iya, dek, aku Gito. Pacar kamu."
Mata Winda berkaca-kaca. Dia tak percaya dengan apa yang terjadi. Winda terdiam. Dia masih belum percaya dengan kenyataan itu. Radit memegang kedua bahu Winda.
"Dek ...."
Winda menepis tangan Radit dan mendorongnya hingga Radit terjatuh.
"Kamu jahat ...!"
Winda berlari keluar rumah. Arya, Adi dan juga Vika sama-sama terkejut.
"Winda, tunggu ...!"
"Biar gue aja, " kata Adi mencegah Radit. Adi berlari menyusul Winda. Adi berhasil meraih tangan Winda.
"Winda, tunggu ...."
"Lepaskan!"
Winda menghempaskan tangan Adi.
"Winda, aku bisa jelasin semuanya."
"Mas Adi gak usah jelasin apapun ke aku. Kalian udah bohongin aku. Mulai hari ini mas Adi dan mas radit jangan hubungin aku lagi.Aku benci kalian. ...!"
Winda berlari keluar gerbang, dan menghentikan taksi yang melintas.
"Windaaaaa..."
Adi merasa kesal melihat Winda pergi. Dia segera kembali ke rumah Radit, di mana Radit telah menunggunya.
"Gimana, Di?" tanya Radit.
"Sorry, gue gak bisa bawa Winda balik,"
Radit mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue udah nyangka ini bakalan terjadi. Tapi gue lebih gak nyangka dia bakalan semarah ini."
Adi menepuk pundak Radit.
"Loe yang sabar ya. Kalau Winda jodoh loe, pasti dia akan balik ke loe."
Radit sedikit senyum mendengar perkataan Adi. Pikirannya melayang pada saat bersama Winda.
'Winda, maafin aku. Ku mohon kembalilah kepada ku,' ucap Radit dalam hati. Tak terasa air mata nya menetes. Radit membuka genggaman tangannya. Disana masih ada cincin yang tadi Winda pakai. Radit kembali ke kamarnya dengan langkah lesu. Melihat itu, Arya dan Vika hanya bisa saling pandang.
Aku tak akan bisa
Aku yang bisa gila
Bila kau pergi meninggalkanku
meluncur ke cerita lainnya