Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Huek...huek....huek.....
Suara melati ketika memuntahkan isi perutnya, membuat Fian merasa bahagia, meski sudut hatinya merasa tidak tega Melati seperti ini.
Dengan tangkas, dirinya bangkit dari tidurnya dan segera menyusul istrinya ke dalam kamar mandi.
Memijit tengkuk melati yang tertunduk di atas westafel, dengan telaten Fian juga menggosokkan minyak angin ke tengkuk hingga bahu dan punggung istrinya.
"Sayang, biar saya buatkan teh jahe hangat untuk mengurangi mual nya. Saya siap kan obatnya juga, ya".
Melati mendongak, mendapati wajah Fian juga memucat dan bibirnya terlihat kian memutih.
Bukannya khawatir pada dirinya sendiri, Melati justru begitu mengkhawatirkan keadaan suaminya.
"Mas, njenengan pucat. Biar saya buat wedang jahe sendiri saja. Apa njenengan sakit?"
Jemari Melati refleks terulur ke arah kening dan rahang suaminya. Benar saja, tubuh Fian sedikit menghangat.
Mendapati hal ini, tentu melati sangat khawatir luar biasa.
"Saya nggak apa-apa. Ayo, saya papah kamu ke ranjang. Hari ini, kamu istirahat saja."
Tak bisa membantah, Melati hanya bisa nurut dan mengikuti langkah kaki suaminya. Sejujurnya, Melati panik bukan main saat ini. Tapi bila ia membantah, Fian pasti akan menceramahi ya sepanjang hari.
Karena hamil, Melati seolah di perlakukan seperti ratu di rumah itu.
"Mas...."
Melati meraih pergelangan tangan suaminya, menghentikan Fian yang hendak pergi setelah membantu Melati merebah di ranjang mereka.
"Mas kalau sakit jangan bekerja dulu. Lebih baik njenengan istirahat di rumah saja, menemani saya".
Fian tersenyum hangat.
"Kamu ingin saya temani seharian?"
"Bukan begitu..... tapi..... mungkin mas kelelahan menjaga saya dan perlu istirahat".
"Ya sudah. Apalun yang kamu minta, saya akan tetap di sini sesuai kemauan kamu".
Fian lantas merenggangkan tangan melati.
"Saya buatkan teh jahe hangat dulu. Tunggu di sini dan jangan kemana-mana sendirian".
Hati Melati hangat ketika pandangannya melepas kepergian Fian hingga bayangan suaminya itu, tertelan pintu kamar.
Dulu.... Melati sangat ingin di perlakukan demikian, oleh Faisal. Sayangnya, justru yang sangat menghormati Melati sebagai wanita, adalah Fian.
Sial.....
Melati mengumpati otaknya sendiri yang tiba-tiba kembali memikirkan Faisal. Melati ingin meraung sekeras yang ia bisa saat ini. Menyadarkan dirinya sendiri bahwa suaminya ini, jauh lebih baik dari Faisal -pria yang sudah mematahkan hatinya berkali-kali-, Faisal yang telah mengoyak cintanya hingga hancur berkeping tanpa sisa.
Pintu terbuka dari luar, Melati segera bangkit dan menyandar kan tubuhnya pada bahu ranjang. Fian datang dengan segelas penuh teh jahe hangat buatannya.
"Minum ini sedikit demi sedikit. Saya akan ambilkan obat sebentar."
Dan mata melati mengikuti arah langkah Fian menuju bufet kecil. Mengambil dua butir obat dan di serahkan ya pada Melati.
"Telan obat ini, biar mualnya berkurang".
Usai meminum obat, Melati memperhatikan suaminya yang juga meminum obatnya di meja nakas. Entah obat apa, Melati tak tau, sakit apa suaminya ini.
"Mas, njenengan minum obat, memangnya sakit apa?".
"Nggak ada, hanya obat pusing biasa".
"Ndak mungkin. Njenengan selalu pucat akhir-akhir ini".
"Saya tidak apa-apa, sayangku...... Hanya pusing biasa dan.... mungkin kelelahan".
Fian kemudian merebahkan kembali tubuhnya di samping Melati. Memejamkan mata dan nafasnya kian memburu.
Astaga......
Melati tidak bodoh-bodoh sekali untuk membedakan antara orang pusing biasa dan sakit yang lain.
Firasat Melati semakin tak karuan saat ini.
"Mas, njenengan baik-baik saja?".
Melati memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Fian. Fian kembali membuka matanya, kemudian memiringkan kepalanya untuk balas menatap Melati.
"Iya. Kamu istirahat saja, dulu. Oh ya, besok saya akan pergi dinas ke luar kota. Mungkin dua atau tiga hari saya di sana. Nanti... kamu sama Iban saya titipkan ke rumah bapak dan ibu. Apa.... nggak apa-apa?"
"Memangnya, mas Fian mau ke mana?"
"Membantu pasien yang sedang butuh tenaga dan kemampuan saya."
"Boleh saya ikut?"
Fian menatap Melati intens. Melati...... selama ini tidak pernah meminta ikut saat Fian pergi dengan alasan pekerjaan. Namun kini...... Melati tiba-tiba ingin ikut dengannya. Mungkinkah perasaan Melati merasa tak nyaman kali ini?
Fian lantas memutar otaknya dengan cepat untuk mencari alasan agar Melati tidak ikut.
Ia tak ingin rencananya kali ini gagal.
"Kehamilan mu masih sangat muda, sayang. Untuk menempuh perjalanan jauh, sangat memungkinkan nanti untuk kamu kelelahan"
Bujuk Fian dengan halus. Ia tak mau rencananya kali ini gagal total.
Melati tersenyum lembut.
"Njenengan khawatir dengan saya? Terima kasih sudah mencintai saya, mas. Tapi..... pulanglah nanti dengan selamat, ya? Saya menunggu panjenengan kembali pulang ke saya".
Fian lantas meraih dan mendekap erat Melati. Di dalam netra matanya, ada banyak emosi yang sulit terbaca. Ada banyak kalimat yang ingin Fian ungkapkan, namun Fian tak ingin membuat Melati terluka kembali.
Biarlah....
Fian akan menahannya dulu semampu yang Fian mampu.
"Saya janji.... saya akan pulang untuk kamu......"
Dan menjagamu dari jauh hingga nanti, sayang.
Bisik nya kemudian dalam hati.
Hari ini, adalah hari yang tak akan pernah Fian lupakan sepanjang pernikahan mereka. Pernikahan yang sangat berarti. Pernikahan yang sangat di impikan. Dan pernikahan yang akan menjadi kebanggaan dalam hidup Fian.
~~
~~
Dua orang pria kini tengah berhadapan dengan seorang pria yang.....sejujurnya tengah sibuk dengan pekerjaannya. Karena sekertaris ya tadi mengabari bahwa yang datang adalah salah satu kerabat dekatnya, jadi lah Faisal menghentikan dulu aktifitas kerjanya.
"Apa kabar kamu, mas Faisal?"
"Baik. Dari mana kalian tau saya ada di sini?"
"Mas Panca yang mencari tau".
Ekor mata pria yang sedang Faisal ajak bicara, melirik ke arah pria sebelahnya.
"Bagaimana kabar bapak dan ibu..... juga Gibran?".
"Baik....... Mereka semua sehat.
Mas Faisal..... tidak bertanya bagaimana kabar Melati?"
"Saya percaya dia akan baik-baik saja di tangan suami baik sepertimu".
Senyum tipis Faisal ulas hingga sampai pada sudut matanya.
"Pulanglah, mas. Tugasmu belum selesai. Saya minta maaf atas kesalahan saya. Tapi saya mohon........
Ada yang harus mas Faisal jaga setelah saya pergi nanti".
Ungkap Fian lirih dengan suara bergetar.
"Apa maksud kamu, Fian?"
....
....
....
Hai para readers kebanggaan.....
Di part selanjutnya, akan di bahas tentang masa lalu yang belum usai ya, Semoga gag bosen mantengin coretan abal-abal neng Tia.
Salam santun dari neng tia.❤️❤️❤️
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩