Aurora gadis desa yang penuh dengan misteri tentang masa lalunya. Ia datang mencari apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarganya di masa lalu. Ia hidup dengan identitas orang lain di besarkan oleh mantan pembantu ibunya sekaligus orang kepercayaan ibunya. Setelah berusia 21 tahun ia datang untuk mencari tahu penyebab ibunya mendekap di penjara dan kematian ayahnya yang masih melekat di ingatannya. Aurora kecil yang hampir kehilangan nyawanya karna ulah kejam sang ayah namun ia paham jika sikap ayahnya bukan seperti yang nampak di matanya. Setelah mendapatkan surat ucapan ulan tahun dari ibunya ia mencari sendiri kebenaran tentang dirinya. Bi inah mantan pembantu ibunya yang telah membesarkannya telah bercerita tentang masa lalunya namun ia merasa ada yang janggal ia memutuskan untuk pergi menemui keluarga ayahnya yang tak lain adalah dalang dari kekacauan keluarganya di masa lalu. Mampukah ia mengungkapkan beneran tanpa membongkar identitasnya. Kisah ini akan di bumbui dengan cinta segitiga yang berakhir tragis. akankah Aurora si gadis jenius mampu menghadapi kesulitan yang akan menghadang jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Era Nur agustina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 Kekecewaan Yudis
Yudis masih terpaku di tempatnya ada rasa amarah yang besar di dadanya,ia berusaha meredamkannya namun rasa kecewa dan bertanya - tanya makin memuncak di benaknya. Ia merapikan berkas itu dan pergi menuju kantor ayahnya. Ia tak habis pikir sosok ayah yang menjadi panutannya tega berkhianat pada keluarga bahagia mereka.
Wiguna grup
Hendrawan masih sibuk dengan dokumen dokumen penting perusahaannya. Ia mengecek ulang data laporan keuangan serta nilai saham perusahaan miliknya tanpa memperdulikan panggilan telpon miliknya. Sekretarisnya Hasan masuk dan memberikan berkas yang harus di tanda tangani olehnya
"Permisi, Tuan. ini berkas perjanjian dengan perusahaan B untuk anda tanda tangani"ujar sekretaris itu
"Jadwal ulang meeting hari ini dan besok sepertinya pekerjaan ini membutuhkan wakti yang cukup lama. Saya tidak ingin ada kesalahan apapun mengenai laporan ini"
"Baik Tuan. Saya permisi"
Hendrawan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi miliknya. Ia memejamkan matanya sambil memijit pelan pelipisnya. Getaran ponsel miliknya terus saja berbunyi ia membuka matanya lalu meraih ponselnya yang sejak tadi tak henti bergetar. Ia membuka ponselnya panggilan tak terjawab dari Yudis anaknya lalu ia melihat ada beberapa pesan masuk lalu ia membuka pesan itu
'Ayah, aku butuh penjelasan soal foto ini' gumamnya sambil memicingkan matanya satu lalu mencoba membuka foto yang di kirimkan oleh anaknya itu. ketika foto itu sudah terlihat jelas ia membelalakkan matanya. Ia menelan salivanya begitu berat sambil mengusap kasar wajahnya dan terus menatap foto itu.
'Dari mana anak ini mendapatkannya' gumamnya
Tak berselang lama pintu ruangannya pun sudah terbuka dengan kasar. Menampilkan sosok Yudis yang penuh dengan kekecewaan, ia melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja ayahnya tepat di depan meja sang ayah ia masih berdiri dengan mata memerah. Lalu meletakkan amplop coklat itu tepat di hadapan sang ayah
"Jelaskan semua ini padaku, Yah..."
Hendrawan mengambil amplop itu ia kenal betul dengan berkas yang ada di hadapannya lalu menaruhnya kembali ia menghela nafasnya panjang sudah saatnya Keluarganya tahu tentang rahasia yang selama ini ia sembunyikan dengan rapat dan rapi.
"Duduk lah dulu, Ayah akan menjelaskan semuanya padamu."
"Jelaskan...Yah" ujarnya sambil duduk dan berusaha untuk tidak emosional
" Foto yang kau lihat itu memang benar itu adalah ayah dan wanita itu adalah Rianti cinta pertama Ayah dan juga Istri kedua Ayah dan.."
"Dan anak perempuan itu anak Ayah dengan wanita bernama Rianti begitu" ujarnya dengan menahan gemuruh di hatinya. ia merasa di tipu oleh ayahnya
"Ya Kau benar, Nak...itu adalah masalalu yang berusaha Ayah kubur"
"Apa Ibu tahu tentang ini" Setenang mungkin
"Ibu mu tidak tahu masalah ini."
"Dan Ayah tidak merasa bersalah sedikit pun pada Ibu... ck... Yudis kecewa"
"Ayah sudah menerima hukuman atas rahasia yang selama ini ayah Simpan...Ayah kehilangan segalanya Nak. Percaya pada ayah semua tinggal masa lalu"
"Tapi dia gadis kecil itu tidak mungkin akan menjadi masalalu, Ayah....Ayah sudah menghancurkan segalanya....Hah.."
'Dia lah gadis yang paling aku cintai, Yah... Aurora' batinnya
"Ayah tahu itu Nak. Ayah mencarinya selama ini dan sudah menemukannya. Kau pasti sudah bertemu dengannya bukan"
Yudis hanya memalingkan wajahnya
"Ayah akan membawanya tinggal bersama kita"
"Jangan lakukan itu, Yah. Kau hanya akan membuat luka Baru bagi Ibu" ujarnya sambil meninggalkan Kantor Ayahnya.
Pikirannya tak lagi baik baik saja. Semua yang terlihat baik tak selamanya terlihat baik. Entah harus mengungkapkan dengan cara apa rasa kecewa dan keterkejutannya di waktu yang bersamaan. Bagaimana tidak gadis yang di cintainya selama ini di kejarnya adalah anak dari hasil pernikahan siri ayahnya dan sialnya hingga detik ini ia masih mencintainya.
***
Cafe Invinite
"Bagaimana, Sekar kamu mau kan,Nak tinggal bersama dengan Ayah kita akan menjadi keluarga yang utuh kau akan mempunyai kakak dan adik serta ibu" Bujuk Hendrawan
"Tapi...aku takut, Yah... kalau mereka tidak bisa menerima ku karna aku hanya anak dari istri sirih mu,Yah"
"Tidak...Tidak Ayah jamin itu. Kamu permata hati Ayah. Jangan kecewakan Ayahmu ini. Mau kan Nak" ujar Hendrawan lagi. Di sambut anggukan pelan dari Aurora. Ia menyetujui rencana Hendrawan untuk ikut bersamanya mengingat Dipta sedang berada di Turki melakukan reset penelitiannya beberapa bulan kedepan. Itu adalah kesempatan yang baik baginya. Kesempatan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Sesuai kesepakatan mereka Aurora sudah berada di wiguna Grup sambil menunggu Hendrawan Selesai Meeting. Mereka akan pulang bersama setelahnya.
Waktu menunjukkan pukul Lima Sore mereka sudah bersiap meninggalkan gedung Wiguna Grup dan memasuki mobil milik Hendrawan dan melaju menuju kekediaman mereka. Setelah beberapa saat Aurora sampai ia harus berakting dengan sangat baik di depan mereka.
"Ma... mama" ujar Hendrawan
"Iya, Ayah sudah Pulang..." sambil menatap suaminya "Siapa gadis ini, Yah?"
"Panggil Anak - anak Ayah akan jelaskan semuanya pada kalian"
Beberapa menit kemudian ruang tamu itu pun hening rak bersuara semua yang berada si ruangan itu sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Yudis hanya tersenyum kecut ketika memandang sekilas wajah gugup Aurora. 'Please Yah jangan buat kesalahan mu di masalalu semakin runyam'batin Yudis. Dian dan ibunya hanya saling bertukar pandang penuh kebingungan. Hingga Hendrawan membuka suara
"Eeehhhmmm"
"Baiklah kalian sudah berkumpul,Ayah akan memberitahu hal penting pada kalian." Menarik nafasnya dan melanjutkan kembali ucapannya " Dia adalah Aurora Putri Ayah"
"Apa" seru Ibu dan Dian. Yudis Membelalakkan matanya dan menahan geramnya ternyata perkataan Ayahnya tempo hari bukan sebuah gagasan melainkan tindakan nyata dari seorang Hendrawan Wiguna.
"Maksud, Mas apa... Putrimu....bagaimana bisa"
"Dia Putriku bersama Rianti, dan mulai sekarang dia akan tinggal bersama kita di rumah ini" ujarnya
'Rianti... ogh Tuhan aku kira dengan semua yang aku lakukan dengan hubungan mereka aku bisa hidup tenang, Tapi sekarang Ia sudah menemukan Anaknya.' batinnya sambil meremas kuat dadanya yang terasa sesak
"Tapi, Yah... Dia anak dari Pelakor" seru Dian penuh amarah,Sedang Yudis matanya memerah menahan amarahnya sambil sesekali melihat wajah lesu Aurora
"Jaga omongan Mu,Dian...Dia putri kandung Ayah sama seperti mu dan Yudis.Tidak ada bantahan lagi sekarang" ujarnya.
"Ayah antar ke kamar mu." ujarnya pada Aurora yang masih tertunduk diam dan terlihat lesu. Hendrawan berlalu dan di ikutu Aurora tepat di belakang sang Ayah.
Dalam hatinya ia merasa usahanya akan berjalan lancar namun di sisi lain sudut hatinya merasa tindakannya salah sangat salah namun keegoisannya membungkam hati nuraninya terdalam.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna putih. Sang Ayah membukakan pintu kamarnya terbentang luas kamar yang besar dengan segala ornamen yang detail banyak barang barang yang tersusun rapi di sana.Ia masuk dan duduk di sofa
"Kamu Suka Nak"
"Suka,Yah..."
"Ini semua barang barang milik kamu, kamu lihat semua barang barang yang di pajang di rak dinding itu" ujarnya sambil menunjuk sudut ruangan itu
"Ya... "
"Itu semua kado ulan tahun kamu yang ayah Simpan dengan baik. Kamar ini memang di persiapkan untuk mu. Kamu istirahat ya nanti malam kita akan makan malam bersama"
"Baik,Yah...dan terima Kasih"
"Sama sama Nak"
"Ayah pergi dulu"
"Iya"
Di ruang Tamu
"Bu, Kok Ibu diam ajah sieh,Ayah sudah menghianati kita bahkan membawa anak pelakor itu" ujar Dian penuh emosi
"Ibu... Ibu... tidak tahu harus berbuat apa, Nak. Ibu juga tidak bisa menentang keputusan Ayah kalian"
"Apa Ibu baik baik saja"
"Ya, Ibu ingin istirahat sejenak," ujarnya sambil menuju ke kamar miliknya.
Yudis dan Dian menatap nanar kepergian Ibunya. Yudis kembali mengepal tangannya entah ia harus bagaimana ingin marah tapi percuma kecewa ia bahkan sangat lalu ingin menyalahkan siapa Ayahnya yang sudah membohongi mereka semua selama bertahun tahun atau kah gadis asing yang tiba tiba datang dan sialnya lagi gadis asing itu adalah gadis yang sangat ia cintai.
"Kak.. bagaimana ini..."
"Kakak juga ngak tahu, Di" ujarnya sambil meninggalkan sang adik. Ia pergi menuju kamarnya namun ia terhenti sejenak di kamar yang berada dekat tangga. Ia lalu membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya. Bertepatan dengan Aurora yang baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya hanya menggunakan lilitan handuk dan gulungan handuk di kepalanya
"Ngapain Lu di Sini, Keluar ngak"
"Cih...Lu yang harusnya keluar dari rumah ini"
"Gue ngak akan keluar dari rumah kalau bokap yang ngusir Gue, Paham Lu"
"Ra Kenapa sieh Lu tega banget ke gue. Gue ngak bisa terima kalau Lu anak Ayah Gue"
"Jangan gila Lu. Mau ngak mau,suka ngak suka lu dan gue adek kakak paham ngak Lu"
"Gue ngak terima, Lu harus jadi milik Gue Ra" ujarnya sambil berjalan ke arah Aurora dan tiba tiba menyesap bibir Aurora begitu intim. Dengan sekuat tenaga Aurora melepaskan pangutan bibir Yudis
"Gila Lu, Gue kecewa sama Lu.Pergi dari kamar Gue sebelum gue teriak karna kelakuan bejat lu ke gue ketahuan bokap" hardik Aurora
Sedang Yudis wajahnya merah padam ia terlalu terbawa emosi.Ia menatap lekat mata Aurora ada sebuah kebencian yang teramat di sana dan itu untuknya. Ia berlalu tanpa berkata apapun,sangking cintanya ia sampai sampai tega melakukan hal sememalukan itu dan nyaris saja menikmati adiknya sediri. Ia mengutuki tindakannya itu
'bodoh...bodoh... bodoh... Lu Yud, Bisa bisa nya lu nyium dia' batinnya.
TBC