Selamat Membaca 💖
Asyila seorang gadis cantik, periang dan sederhana. Ia terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan. Diusianya yang sangat muda yaitu 18 tahun, dirinya harus menikah dengan seorang pria yang usianya jauh diatasnya.
Ayah Asyila yaitu Herwan hanya bekerja sebagai buruh tani sementara Ibu Asyila yaitu Arumi hanya bekerja sebagai tukang masak. Hidupnya berubah saat orang tuanya meminta Asyila menikahi seorang pria yang sudah dijodohkan olehnya saat usia Asyila menginjak 2 tahun, Sementara Asyila tidak tahu siapa pria itu.
Akankah hubungan mereka bisa berjalan baik dan saling jatuh cinta?
Abraham seorang pria yang sangat mencintai Asyila sedari Asyila kecil bahkan rela melakukan apapun agar Asyila dapat menerimanya sebagai suami Asyila.
Apakah perjuangan Abraham berakhir dengan saling bahagia?
Ikuti terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam Part 3
Bakso pesanan dari Abraham telah datang.
Eko langsung saja menikmati bakso tersebut, namun tidak untuk Abraham.
Abraham terus saja menatap ke arah istri kecilnya yang sedang menikmati bakso yang ia makan sesekali bercanda dengan Ema dan Kevin.
Bahagia sekali rasanya jika kita makan berdua istriku!
“Tuan muda kenapa tidak dimakan?” tanya Eko membuyarkan lamunan majikannya itu.
Abraham sebenarnya tidak lapar, yang di pikirannya hanya ingin menjaga dan memperhatikan Istri kecilnya itu.
Tapi ia juga menikmati bakso itu karena bagaimanapun juga makanan tidak boleh dibuang-buang.
“Ini aku makan!” seru Abraham.
Abraham mengambil sambal di depannya dan memasukkan sambal itu ke dalam mangkuk bakso miliknya sambil melihat istrinya dari kejauhan.
Satu sendok sambal dimasukkan, dua sendok sambal dimasukkan hingga 5 sendok sambal dimasukkan, dengan cepat Eko menahan sambal yang ke enam.
“Tuan muda yakin makan bakso sepedas ini?” tanya Eko keheranan.
Abraham yang belum fokus ke bakso miliknya hanya menoleh sekilas dan terkejut lah dia saat melihat kuah bakso yang sudah di penuhi oleh sambal.
Astaghfirullah..
Aku sampai tidak fokus.
“Iya aku yakin, lagipula aku ingin makan bakso pedas,” ucap Abraham berbohong.
Bagaimanapun ia juga harus terlihat keren di depan bawahannya meski ia sendiri terkejut dengan baksonya yang sudah dipenuhi dengan sambal.
Kalau begini aku makan bukan bakso lagi, melainkan air sambal.
Eko mengangguk paham dan kembali menikmati bakso miliknya.
🍃
Ema tertawa kecil melihat mangkuk bakso Asyila yang sudah hampir habis sementara Asyila bersikap biasa-biasa saja.
“Kamu lapar juga ternyata Syila,” ucap Ema.
“Ya sekali-kali makan banyak!” seru Asyila dengan santai.
Asyila sebenarnya sedari tadi merasakan ada yang aneh dengan jantungnya, detakan jantung membuat dia merasakan tenang sekaligus nyaman yang ia sendiri tak tahu arti detakan itu.
Akhirnya acara makan-makan pun berakhir, Kevin memanggil ibu penjual bakso dan membayar tagihan bakso mereka. Asyila mengeluarkan uang sisa dari ia naik kora-kora pemberian Kevin namun dengan cepat Kevin menolak karena uang itu telah ia berikan kepada Asyila.
Setelah membayar mereka pun melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat permainan di sekitar pasar malam.
“Sekarang para ladies mau kemana nih?” tanya Kevin dengan penuh semangat.
“Bagaimana kalau kita pergi ke rumah hantu!” seru Asyila saat melihat rumah hantu tak jauh dari tempat mereka membeli bakso.
Ema menelan Saliva nya dengan penuh tenaga, ia paling takut jika harus memasuki rumah hantu apalagi hantu-hantu di tempat itu terkenal menyeramkan.
“Tidak, aku tidak mau,” tolak Ema ketakutan.
“Ema sayang kan ada aku! kamu tidak perlu takut kalau kamu takut, kamu tinggal peluk aku!” seru Kevin.
“Itu kan memang mau kamu Kevin,” ledek Asyila sambil memiringkan bibirnya.
Ema berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah hantu itu.
Tidak jauh dari mereka bertiga Abraham dan Eko telah selesai menikmati bakso, terlihat jelas bibir Abraham yang memerah dan menjadi tebal akibat sambal yang ia masukkan ke dalam bakso miliknya.
Eko menahan tawanya karena wajah majikannya sungguh memerah akibat kepedasan dan bukan hanya es jeruk miliknya majikannya bukan hanya satu melainkan 3 gelas sekaligus.
Hebat tuan muda menghabiskan bakso kuah sambil itu.
Berulang kali Abraham menghapus air mata serta air yang keluar dari hidungnya berulang kali memakai tisu.
Aku harus tetap mengikuti istri kecilku kemana ia pergi sampai ia kembali ke rumah dengan selamat.
“Eko berikan uang ini kepada ibu penjual bakso dan beli air hangat untukku!” perintah Abraham.
“Baik tuan muda!” seru Eko dengan cepat ia mendatangi penjual bakso untuk membayar tagihan bakso dan beberapa minuman es.
Asyila, Ema dan Kevin melangkahkan kaki mereka menuju loket pembelian tiket masuk, Kevin membayar 3 tiket untuk mereka dan menunggu giliran masuk.
Asyila berada di depan Ema dan Kevin, terlihat sekali wajah ketakutan serta gugup dari Ema. Ema terus menggenggam tangan kekasihnya itu.
“Kevin aku takut,” ucap Ema lirih.
Kevin menepuk pundak Ema agar kekasihnya itu tenang.
Akhirnya giliran mereka bertiga yang masuk, Asyila begitu semangat untuk memasuki rumah hantu tersebut.
Ia melangkahkan kakinya terlebih dahulu namun tanpa disadari Ema dan Kevin tak masuk mengikuti Asyila, Ema malah berlari menjauh sejauh mungkin Kevin pun akhirnya mengejar Ema yang sudah jauh.
Asyila masuk dan sedikit ketakutan karena Ema maupun Kevin hanya terdiam tak mengeluarkan suara bahkan suara langkah kaki pun tak terdengar.
“Ema kamu kenapa diam saja?” tanya Asyila tanpa menoleh ke arah belakang.
Tak mendengar jawaban dari sang sahabat, Asyila pun membalikkan tubuhnya dan tak menemukan siapa-siapa dibelakang.
Kemudian para pemeran hantu di dalam itu menakut-nakuti Asyila, sontak Azizah terkejut dan mulai ketakutan.
Ia berusaha untuk segera keluar dari rumah hantu itu, suasana di ruangan itu benar-benar mencekam membuat bulu kuduk Asyila berdiri ditambah suara audio rintihan menangis dan tawa kuntilanak melengking.
“Aaahhhh...!” teriak Asyila.
Asyila berusaha lari dan tanpa sengaja ia terjatuh kesandung kayu pembatas di ruangan itu.
“Paman!” ucap Asyila ia sendiri bahkan bingung kenapa mulutnya memanggil paman yang tak lain dan tak bukan panggilan itu ditujukan oleh Abraham.
Tubuh Asyila yang semula gemetar akhirnya menjadi tenang, ia membuka matanya secara perlahan samar-samar ia melihat sosok Abraham di hadapannya.
“Kamu tidak kenapa-kenapa Asyila?” tanya pria itu yang masih memeluk tubuh kecil Asyila.
Asyila tertegun saat mendengar suara pria yang tentu saja ia kenali, jantungnya berdetak sangat kencang jika saja ruangan itu terang sudah pasti terlihat jelas wajah serta telinga Asyila yang memerah bak udang rebus.
Deg.... deg.... deg....
“Lepaskan saya paman!” pinta Asyila agar Abraham mau melepaskan pelukannya dari tubuh Asyila.
“Maaf,” ucap Abraham dan dengan cepat melepaskan pelukannya dari tubuh istri kecilnya itu.
Asyila bangun dari jatuhnya dan merapikan celananya yang sedikit kotor itu, baru ingin menanyakan mengapa Abraham bisa berada di ruangan itu tiba-tiba para pengunjung yang lain masuk membuat Asyila maupun Abraham bergegas keluar dari rumah hantu tersebut.
Asyila begitu canggung saat mereka telah berada di luar dan wajah mereka nampak satu sama lain karena pencahayaan pasar malam itu sungguh banyak.
“Paman kenapa bisa ada di dalam?” tanya Asyila tanpa mau menatap Abraham.
“Aku kebetulan masuk dan mendengarkan kamu memanggilku Asyila!” seru Abraham.
Apakah kamu mulai tertarik dengan suamimu ini istri kecilku?
Aku tidak pernah berpikir dan membayangkan bahwa kamu memanggilku dalam keadaan genting seperti tadi.
“Be... be.. benarkah mu.. mungkin paman salah dengar,” balas Asyila yang begitu gugup untuk mengeluarkan kata-kata.
Ada apalagi denganmu Asyila? kenapa kamu malah memanggil pria ini, semoga paman percaya denganku.
“Kamu benar mungkin aku salah dengar,” sahut Abraham berpura-pura percaya.
Syukurlah paman percaya kepadaku.
“Apakah ada yang sakit?” tanya Abraham khawatir namun serapat mungkin ia menyembunyikan ke khawatirannya.
“Tidak paman, Asyila baik-baik saja!” seru Asyila dengan menundukkan pandangannya.
“Ini sudah malam, sebaiknya kamu aku antar pulang Asyila,” ucap Abraham menawarkan diri mengantarkan istri kecilnya untuk pulang.
Asyila tiba-tiba mengingat Ema dan Kevin yang entah kemana.
“Asyila kesini bersama sahabat Asyila paman, jadi paman tidak perlu repot-repot untuk mengantarkan Asyila,” tolak Asyila sehalus mungkin.
Abraham melihat Ema dan Kevin berjalan menghampiri dirinya dan istri kecilnya dari kejauhan, jika hanya ada Ema tak masalah namun ada Kevin juga yang datang bersama Ema.
Abraham mengingat kejadian saat di pusat perbelanjaan pada saat Kevin memergokinya mengikuti Asyila dengan cepat ia pamit pergi meski dari lubuk hati yang paling dalam ia tak rela meninggalkan Asyila begitu saja.
“Baiklah, aku pergi dulu Asyila. Kamu jaga diri baik-baik dan jaga kesehatan,” ucap Abraham dengan penuh perhatian.
Asyila menganggukkan kepalanya dan memperhatikan punggung Abraham yang semakin lama semakin menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi.
Kenapa aku merasakan kesedihan seperti ini setiap berpisah dengan paman.
“Asyila!” panggil Ema dan memeluk tubuh Asyila.
“Maafkan aku karena tidak masuk ke rumah hantu,” ucap Ema dengan penuh penyesalan.
“Sudah tidak apa-apa, Ema ini sudah malam ayo kita pulang!” ajak Asyila mengingat perkataan dari Abraham.
“Kamu memang sahabat terbaik, ayo Syila!” seru Ema.
Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk pulang, seperti biasa Abraham dari kejauhan akan membututi istri kecilnya sampai rumah dengan selamat.
Abraham menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat kontrakan istri kecilnya beserta sahabat istrinya itu.
Ia akan benar-benar pergi saat lampu ruang tamu sudah dimatikan.
Abraham ❤️ Asyila
😘😘
Like ❤️ vote 🙏
Terima kasih atas penantian kalian teman-teman. ❤️
cz si romi tuh anak mama 🤣