Amila Pranadja adalah anak ketiga dari pasangan terkenal Amora dan Dion Pranadja. Di usianya yang masih muda, ia harus menangani bisnis hotel keluarganya. Bahkan ia pun sudah mandiri dengan tinggal di salah satu rumah milik keluarganya.
Kesibukan Amila dengan bisnis, membuatnya melupakan masalah pribadinya terutama soal pasangan hingga membuat orang tuanya khawatir.
Suatu saat ia bertemu dengan pria berkebangsaan Inggris bernama Louis. Pria itu adalah teman dari kakak iparnya Veronica Jukler.
Pada pandangan pertama, Louis langsung jatuh cinta pada Amila. Namun tidak dengan wanita itu, ia justru berusaha menjauhi Louis karena tak ingin menjalin hubungan dengan pria berkewarganegaraan asing.
Lika liku cinta mereka akan menjadi hal menarik karena Louis akhirnya berinvestasi pada bisnis Novotel, yang membuatnya harus terus kembali ke Indonesia. Investasi yang Louis lakukan salah satu alasannya adalah Amila.
Akankah cinta mereka terwujud...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Mendengar mereka akan keluar, Amila bersemangat. "Aku ikut." ujarnya.
"Tidak..." jawab keluarganya bersamaan.
"Oh ayolah, aku aman bersama kak Kevin."
"Berhentilah merengek, kau sudah akan berkeluarga Ami. Tetaplah di rumah." ujar Amora membuat Amila menekuk wajahnya. "Pergilah bersama Veronica, biar Nathan tetap disini Kev." sambungnya.
"Tentu mi, aku akan melihat Vero apakah sudah berhasil membuat tidur jagoanku." kata Kevin.
"Tidak perlu, aku sudah kembali." jawab Veronica menghampiri mereka.
"Istriku selalu luar biasa." goda Kevin.
"Ciiiih... menjijikan sekali." ejek Amila.
"Selamat menikmati kamarmu nona." ejek Kevin balik.
Amila mencubit pinggang Kevin hingga membuatnya berteriak. Mereka tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah lebih baik kami pergi sekarang." ujar Kevin.
"Pergi kemana?" tanya Veronica.
"Papi dan mami ingin kita mengajak tamu berkeliling sayang." jawab Kevin.
Veronica menatap kedua mertuanya dan mendapat anggukan. "Tapi mereka baru sampai, bukankah seharusnya..."
"Kami tidak lelah sama sekali, benarkan Celine." ujar Hilton.
Celine mengangguk. "Kami sangat bersemangat." sahutnya.
"Oh baiklah, tapi bagaimana dengan Nathan?"
"Kau seperti orang lain Vero, biarkan Nathan bersama kami." jawab Amora.
"Itu sangat merepotkan mi, Nathan semakin nakal."
"Pergilah sebelum larut Vero." ujar Dion.
Veronica menghela nafasnya. "Baiklah pi, kami berangkat sekarang."
"Kak Vero..." ujar Amila memasang wajah memelas agar bisa pergi juga.
Veronica kembali menatap kedua mertuanya lalu kembali ke Amila. "Sepertinya kau harus tetap disini nona cantik. Kami akan membeli makanan kesukaanmu oke."
Kevin terkekeh mendengar penolakan istrinya membuat Amila semakin kesal. Mereka pun berpamitan untuk pergi jalan jalan.
*****
Dion dan Amora berbicara berdua saja setelah Amila kembali ke kamarnya, kali ini mereka membahas soal perjodohan Kairo.
"Ini dia fotonya pi, namanya Anyalir." ujar Amora.
Dion menatap foto yang diberikan oleh istrinya. "Sayang, sepertinya wanita ini juga pendiam. Jika bersama Kai, bukankah sangat tidak cocok."
"Anya memang pendiam tapi ia wanita yang sabar pi, aku sudah mencari tahu dari karyawan hotel Kurnia. Ia putri dari rekan bisnis hotel Sheraton, pak Budi Santoso. Aku pikir akan sangat cocok dengan Kairo."
"Apa kita bisa melakukannya, Kai bahkan tak pernah memikirkan kekasih sayang. Dan agama mereka, aku menghormati setiap keyakinan tapi bukankah sebaiknya..."
"Biar kita coba terlebih dahulu, jika Kai tertarik apapun pilihan keyakinan untuknya kita tetap mendukungnya." jawab Amora.
"Meluluhkan hatinya saja akan sulit, bagaimana kau bisa menyatukan keyakinan mereka. Amor, carilah yang lebih mungkin sayang." pinta Dion.
"Anya sangat cantik, aku sangat menyukainya. Pak Santoso memiliki kepribadian yang kuat, aku bahkan sering bertemu dengan istrinya yang sangat baik. Apalagi yang kita cari sayang, Kairo tak akan mau beristri jika tidak dipaksa."
"Sepertinya pak Santoso sangat menyukai Kairo hingga ia bisa membuatmu menyukai mereka. Ini perjodohan yang sangat berat, masalah keyakinan adalah hal utamanya sayang, tolong pikirkan lagi." ujar Dion.
"Bertemu sekali saja, aku mohon Dion." rayu Amora.
Dion menghela nafasnya. "Baiklah, kita ke hotel Kurnia sekarang. Bukankah lebih tepat ketika Amila tidak bekerja."
Wajah Amora berseri seri, ia senang akhirnya bisa membuat suaminya setuju untuk bertemu chef Anyalir.
"Aku siap siap dulu." ujar Amora seraya beranjak menuju kamarnya.
15 menit kemudian...
Amora akan tetap cantik walaupun umurnya sudah tak muda lagi. Dion selalu mengagumi istrinya, bahkan ia masih saja cemburu jika kolega bisnis Sheraton ingin bertemu langsung dengannya.
"Apa aku cantik?" tanya Amora.
"Tak perlu diragukan lagi nyonya, kau selalu sempurna." jawab Dion.
"Tidak ada manusia yang sempurna, ayo..." ajak Amora.
Dion mengangguk lalu mengikuti istrinya keluar rumah. Baru saja sampai pintu, Kairo muncul disana.
"Kalian ingin kemana? Aku datang, kalian justru akan pergi." ujar Kairo.
"Kebetulan sekali sayang, bisakah kau ikut dengan kami ke hotel Kurnia. Mami ingin mengecek makanan di restoran, karena pernikahan adikmu akan diselenggarakan disana. Jadi mami harus bertemu langsung dengan chef nya." jawab Amora sambil mengedipkan matanya pada Dion.
"Antarkan kami Kai." sahut Dion.
"Baiklah, kebetulan sekali aku belum makan. Kita bisa makan langsung kesana." ujar Kairo.
Amora dan Dion berhasil mengajak putra mereka langsung bertemu Anyalir. Amora berharap Kairo bisa menatap wanita itu sedikit saja. Dion mengatakan pada supirnya untuk tidak mengantar mereka karena akan pergi bersama Kairo. Ketiganya pun pergi menuju hotel Kurnia.
*****
Kedatangan mereka yang begitu mendadak membuat seluruh staf hotel terkejut. Bahkan manager hotel itu terlihat ketakutan jika ada yang salah dengan hotelnya.
"Tak perlu gugup pak Ary, kami datang ingin makan saja." ujar Dion.
"Seharusnya anda memberi kabar tuan."
"Tak apa apa, nona Amila tidak disini. Rahasiakan kedatangan kami kemari darinya karena kami pergi tanpa mengatakan padanya." sahut Amora.
"Tentu nyonya." jawab pak Ary lalu mengantarkan mereka langsung menuju restoran.
Resepsionis begitu cepat tanggap, seluruh karyawan restoran sudah siap menyambut kedatangan mereka. Pak Ary menyerahkan keluarga Pranadja pada manager Restoran. Mereka langsung menuju ruangan khusus VIP. Kedatangan mereka bahkan sudah terdengar oleh Fani sekertaris Amila. Wanita itu segera menuju restoran, hingga hampir tersandung karena terburu buru.
Fani bertemu pak Ary saat menuju restoran. "Bagaimana? Maksudku mereka datang tiba-tiba?"
Pak Ary menghela nafasnya. "Aku hampir jantungan melihat mereka, mereka bilang hanya ingin makan. Kemungkinan ini ada hubungannya dengan persiapan pernikahan nona Amila. Aku sudah menyerahkannya pada bu Yulia."
"Baiklah, aku akan segera kesana pak." ujar Fani seraya melanjutkan langkahnya.
Fani bertemu bu Yulia setelah manager restoran itu keluar ruangan. "Bu..."
"Bu Fani."
"Apa yang mereka katakan?" tanya Fani.
"Ini soal persiapan makanan untuk pernikahan nona Amila. Mereka ingin bertemu langsung dengan chef Anya sekaligus makan disini." jawab bu Yulia.
"Baiklah, aku akan menemui mereka sebentar." ujar Fani seraya mengetuk pintu VIP lalu masuk ke dalam.
Apa yang dikatakan bu Yulia sama persis dengan yang disampaikan pada Fani.
"Anda tak perlu datang dan menyambut kami bu Fani, tujuan kami hanya ingin bertemu chef Anya." ujar Amora.
"Maaf nyonya, tuan jika kami tak menyambut kalian dengan layak." ujar Fani.
"Jangan terlalu serius, anda bisa melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan Amila. Kami akan baik baik saja." jawab Dion.
"Kalau begitu, aku pamit. Selamat menikmati makanannya nyonya, tuan." jawab Fani.
"Eh, bu Fani... Tolong rahasiakan kedatangan kami dari Amila." pinta Amora.
"Tentu nyonya." jawab Fani seraya keluar dari ruangan.
Fani kembali bertemu bu Yulia lalu menghela nafas panjang. "Mereka seperti patung porselen, nyonya Pranadja sangat cantik, tuan Pranadja sangat tampan. Dan ya Tuhan, bukankah itu tuan muda Kairo. Ia sungguh luar biasa tampan, tapi berwajah dingin." ujarnya terkekeh.
"Bu Fani mulai lagi. Tapi anda benar, mereka memang keluarga sempurna." jawab bu Yulia.
"Baiklah, aku akan kembali ke kantor. Tolong layani mereka dengan baik." pinta Fani.
"Anda tenang saja bu, kami akan melakukan yang terbaik." jawab bu Yulia.
Fani menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan dari sana. Bu Yulia kembali manggil chef Anyalir agar segera menemui keluarga Pranadja.
"Cepatlah chef..." ujar bu Yulia.
"Iya bu, aku sedang membersihkan diri." jawab chef Anyalir.
Tentu saja ia harus terlihat bersih, ia sangat mengagumi sosok Amora Pranadja. Ia menjadi seorang chef karena terinspirasi dengan wanita itu. Setelah ia meminta Amila untuk bertemu dengannya, ternyata hari inilah waktunya ia bertemu. Jantung Anyalir berdebar lebih cepat, ia ingin memberikan kesan yang baik di hadapan wanita itu.
*****
Happy Reading All...
Ilustrasi Kairo Pranadja 👇👇👇
Love You
sukses dan sehat terus untuk Miss 🤗🤗🤗