Gema adalah seorang Manajer Pemasaran pada salah satu perusahaan di Jakarta. Kerja keras dan semangatnya untuk meniti masa depan melupakannya untuk mencari pasangan.
Beberapa kali ia bertemu wanita, tetapi selalu saja ia tolak. Standar yang terlalu tinggi untuk mencari wanita yang sempurna, membuat dirinya belum bisa menikah.
Sampai akhirnya mama Gema menjodohkannya dengan seorang gadis desa bernama Ratih. Ratih sendiri merupakan gadis polos dan cantik, yang baru saja pindah ke Jakarta beberapa bulan lalu karena berhasil diangkat menjadi PNS di Tanggerang Selatan.
Awalnya hubungan mereka selalu dihiasi dengan adu mulut dan saling benci satu sama lain. Perilaku tidak senonoh Gema kepada Ratih juga membuat Ratih semakin tidak menyukainya.
Namun siapa sangka, mereka seperti menjilat ludah sendiri, ketika sebuah rasa hadir dalam hubungan mereka. Membuat mereka sadar bahwa menikah dahulu dan pacaran setelahnya adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepada mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Adek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percobaan yang Gagal
"Gas!" Adam menepuk punggung Gema sekuat tenaga. Membuat badan Gema sedikit maju ke depan.
"Sakit be-" Gema mencoba membalas.
"Week ... ga kena!" cibir Adam. Dia dengan segera menghindar dari pukulan Gema yang siap menerkamnya.
Gema yang meringis kesakitan hanya menatap Adam tajam. Matanya menggambarkan sebuah ancaman peperangan. Sementara Adam tidak peduli dengan itu.
"Keluar lo sana! Ga Erick, ga elo sama aja semuanya. Sama-sama iblis!" teriak Gema.
"Hehe, jangan marah-marah dong sayang!" Adam mencubit dagu Gema.
Gema mengibaskan tangannya kegelian. "Anjj ... lo ngapain sih Dam, geli banget gua. Sana sana!"
"Geli apa suka?"
"Haduh, pusing gua ama makhluk jadi-jadian. Makin diladenin makin menjadi-jadi." Gema memijat dahi.
"Ya udah, aku pergi dulu ya sayang," ucap Adam lembut. Kali ini dia memegang dadanya. Dia bertingkah seperti seorang wanita yang sedang membenahi pakaian dalamnya agar berada pada posisi yang pas.
"Bener-bener lo ya!" Gema bangkit dari duduknya mencoba mengejar Adam yang berdiri di depan pintu.
Namun, baru saja Gema akan berdiri. Adam sudah lari sambil tertawa lepas. Raut wajahnya terlihat bahagia karena berhasil menggoda pria yang bahkan belum menyentuh istrinya itu. Duet maut antara Erick dan Adam benar-benar membuat Gema kewalahan. Menjahili pria malang itu habis-habisan.
"Pusing gua lama-lama kalau kayak begini terus," gumam Gema.
Tubuhnya dengan segera mendarat pada kursi tempat ia bekerja. Kemudian dengan cepat menatap monitor, untuk segera bekerja. Mencoba menghilangkan kenangan buruk yang diberikan oleh dua pria penggoda.
......................
Cakrawala kini diisi oleh beberapa siluet burung yang terlihat terbang menuju sarangnya. Hiruk pikuk kota kian terasa, saat klakson mobil saling bersahutan di waktu senja. Sinar mentari jingga juga terlihat membaluri tubuh Ratih yang sedang menuju ke halaman kantor. Rutinitas yang biasa dia lakukan untuk menunggu kedatangan Gema.
"Ada yang ketinggalan." Gumam Ratih sambil mengacak-acak isi tasnya.
Dengan cepat dia kembali ke ruangan tempat dia bekerja. Beberapa senyuman Ratih hadiahkan. Saat berpapasan dengan rekan kerja yang terlihat juga mau pulang.
Saat sudah berada di depan ruangan. Ratih mendengar suara seorang wanita dan pria yang sedang berbincang. Semakin dekat, semakin jelas suara yang dia dengarkan. Karena tidak ingin mengganggu Ratih berhenti dan tidak sengaja menguping pembicaraan mereka.
"Udahlah, dia udah menikah. Biarkan dia bahagia sama pasangannya," ucap seorang wanita.
"Aku ga akan berhenti! Dia kan cuma dijodohkan. Siapa tahu dia nikah hanya karena terpaksa," balas pria di dalam ruangan itu.
"Ta-tapi to-"
"Ah, udahlah ... tenang aja, aku pasti bisa bikin dia cinta sama aku. Sekali aku cinta sama orang, aku akan mempertahankannya. Walaupun istri orang sekalipun."
Ratih yang mendengar dari luar tersentak kaget. Matanya terbelalak mendengar ucapan pria tersebut. Dia berpikir ada orang yang sampai begitu cintanya kepada wanita. Sampai-sampai ingin memiliki wanita tersebut walaupun dia sudah menikah.
"Pokoknya ga bisa, aku gamau bantu la-"
"Ya sudah, aku ga butuh bantuan mu. Lagian apa hak kamu melarang ku?" potong pria itu cepat.
"Karena aku suka kamu ..." balas wanita itu lirih.
Suasana hening menyelimuti ruangan. Ratih yang mendengarkan juga menganga seakan tidak percaya. Dirinya penasaran siapa orang yang berada pada ruangan itu.
Tak lama, suara langkah kaki terdengar keluar. Ratih yang menyadarinya pura-pura berjalan seperti orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi. Kemudian seorang lelaki dengan potongan rambut pendek keluar dari ruangan.
Dahinya mengernyit. Matanya kemudian menatap Ratih tajam dibalik kacamata berbentuk bulat. Rahangnya tegas, dan tentu tidak ada senyuman di wajahnya. Namun, saat pria itu bertemu Ratih, sebuah senyuman terukir di wajahnya. Kemudian berlalu melewati Ratih yang berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Toni?" gumam Ratih. Dia bergumam setelah pria itu telah jauh melewatinya.
Kembali tersadar, Ratih kembali ke urusannya. Dia ke ruangan kerja untuk mengambil barang yang tertinggal. Namun, dia menjumpai seorang wanita yang duduk sambil tertunduk lemas. Dia adalah Nina.
"Eh, Mbak belum pulang?" tanya Ratih.
"Eh, iya ... itu ... sebentar lagi Dek, hehe," jawab Nina kelabakan. Dia seperti kaget dengan kedatangan Ratih.
"Atau mau bareng sama aku aja?" Ucap Ratih sambil melirik barang yang dia cari.
"Ga usah Dek, nanti malah repot. Kamu duluan aja."
"Ya udah deh Mbak." Ratih sibuk mencari barang yang dia tinggalkan, "nah! Ini dia," lanjutnya setelah berhasil menemukan barang yang dimaksud.
"Ya udah, hati-hati ya!"
"Iya Mbak. Beneran nih Mbak? Ga bareng aja?" tanya Ratih sekali lagi.
Nina hanya mengangguk, lalu tersenyum. Namun matanya seperti menyimpan kesedihan. Karena Ratih seperti mengetahui yang terjadi. Dia tidak ingin bertanya terlalu banyak. Lalu dia berpamitan dan meninggalkan Nina.
Tak lama Gema datang dan menjemput Ratih. Namun tidak seperti biasanya, Ratih hanya diam sambil bersandar ke arah jendela. Pikirannya menerawang entah kemana. Membuat Gema heran dan bingung apa yang terjadi.
Saat sampai di rumah, Ratih langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Dia menelungkup dengan menenggelamkan wajah di bantal. Sementara Gema sendiri terlihat mengganti pakaian yang dia gunakan.
"Dek, kamu ga ganti baju dulu?" tanya Gema.
"Hu'um," gumam Ratih. Wajahnya masih tenggelam pada bantal yang empuk.
"Atau Mas yang gantiin baju kamu?" Gema tertawa kecil.
"Emang Mas bisa?" Ratih mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Gema.
"Bisa dong!" jawab Gema semangat.
"Iss, sudah berani ya sekarang!" Ratih menghampiri Gema dan mencubitnya.
"Adu du duh, hahaha. Ampun ..." Gema meringis, "lagian kamu daritadi ngelamun aja, kenapa sih Dek?" lanjut Gema.
Kemudian Gema duduk di atas kasur. Dia menepuk bagian kosong di sebelahnya. Sebuah isyarat untuk mengajak Ratih bercerita tentang apa yang terjadi.
Ratih duduk di sebelah Gema, kepalanya bersandar di bahu pria yang bertanya kepadanya. "Gapapa kok Mas."
"Beneran?" Gema menatap Ratih.
Ratih mengangguk. Wajahnya mendongak ke atas menatap Gema. Memastikan bahwa dia baik-baik saja. Walaupun sebenarnya ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya.
"Oke deh. Kalau ga ada, Mas mau bilang sesuatu Dek"
"Apa Mas?"
"Hmmm ... Mas bisikin aja deh."
"Duh, Mas ribet banget sih."
Lalu Gema mendekatkan mulutnya ke telinga Ratih sambil berbisik, "Hamil...."
"HAMIL?! SIAPA MAS?"
"Duh, gimana ngomongnya ya?" batin Gema.
"Mas? Siapa yang hamil?" tanya Ratih kembali.
"Gini Dek ... aduh, gimana ya. Mas pengen kamu yang hamil, hehe," jawab Gema enteng.
Seketika wajah Ratih berubah merah. Gema juga demikian. Keduanya saling menatap, namun tak ada kata yang keluar dari mulut mereka. Tanpa sadar wajah Gema sudah berada tepat di depan Ratih. Bibirnya perlahan mengarah ke Ratih seperti akan menyambar wanita yang terlihat bingung itu.
"Duh, Mas lagi pengen banget ni. Gimana ya? Jujur aku belum siap," batin Ratih. Jantungnya berpacu sangat kencang, keringat dingin juga keluar dari dahinya.
Saat bibir Gema hampir menyentuh bibir Ratih wanita itu berkata, "Mas, Stop!"
Gema yang terhanyut dalam fantasi segera terbangun dan membuka mata, "Kenapa Dek?"
Ratih kemudian memberikan kedua tangannya kepada Gema. "Ini Mas."
"Maksud Kamu?" Gema bingung.
"Iya, kan kamu pengen aku hamil. Setahu aku kalau kita gandengan kan bisa bikin hamil. Caranya gitu kan Mas?" ucap Ratih polos.
"Heh?" Gema tersenyum kecut.
"Yok, Bismillah hamil." Ratih mengambil tangan suaminya. Membuat kedua tangan mereka saling bergandengan.
Gema yang melihatnya hanya menatap kosong. Semangat yang sebelumnya membara, kini turun dan rusak seketika. Ratih tertawa lega dalam hati. Sementara Gema kehilangan semangat karena percobaannya sia-sia.
hi kak Rifky
salken yaa..
salam buat urang minang, salam utk urang kampuang awak...
urang minang nihh.. othor orng mana nih??
jd kangen main ka taplau😄
astaga
soalnya jarang bgt Nemu novel othornya cowok..ceritanya mnarik, rapih lg,,ga tw dh slanjutnya..
lanjut ja dh,,smangat KK othornya y..
waduuuh nanggung amat yaa
IYA wanita jantan ✅
salken yaa