Takdir tuhan tidak pernah ada yang tahu..
Meski terkadang takdir tuhan itu tidak sesuai dengan harapan hambanya...
Tapi, mereka tidak tahu bahwa takdir tuhan itu jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan...
Maira gadis 22 tahun yang memiliki rasa terhadap Ko Jonathan dan berharap bisa menikah dengan lelaki pujaannya itu. Namun, karena sebuah kesalahpahaman yang tidak di sengaja, ia terpaksa menikah dengan Faris 34 tahun putra sulung Mami Risa secara dadakan.
Meski awalnya Maira tidak mencintai Faris, namun karena perhatian dan kasih sayang yang tulus dari Faris hati Maira pun luluh dan mencintai Faris. Kehidupan yang mereka jalani sangat harmonis dan penuh kebahagiaan.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama karena Seryl sepupu Faris yang juga mencintai lelaki itu sangat tidak menyukai Maira dan melakukan segala cara untuk membuat Maira menderita dan pergi jauh dari kehidupan Faris untuk selamanya.
Hingga suatu hari Seryl membius Maira dan membawa Maira keluar kota, Seryl melukai dan menghancurkan wajah Maira dengan tangannya sendiri dan menabrak tubuh Maira dengan sengaja namun Seryl dengan licik nya membuat semua itu hanyalah sebuah kecelakaan.
Beruntungnya ada sepasang suami isteri paruh baya yang menolong Maira, tapi sayang Maira hilang ingatan dan kondisinya sangat mengenaskan wajah nya penuh luka. Bram dan Yuni membiayai biaya operasi plastik untuk Maira. Mereka merawat Maira seperti layaknya anak kandung.
Setelah sembuh Maira menjalani hari hari nya seperti biasa, namun bukan sebagai Maira tapi sebagai Marcella Anastasya (Icha) putri tunggal Bram dan Yuni.
Sementara Faris sangat terpukul dengan kepergian Maira, semua orang menganggap Maira sudah meninggal. Namun Faris sangat yakin di dalam hatinya kalau isteri nya masih hidup, Faris terus mencari Maira namun sudah bertahun tahun tetap tidak menemukannya, Faris pun hilang arah.
Hingga suatu ketika Faris bertemu dengan seorang gadis pemilik toko kue yang mempunyai mata dan senyuman yang mirip dengan Maira.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya???
Apakah Cheryl bisa mengambil hati Faris kembali????
Apakah Maira akan mengingat ingatannya kembali???
Namun, apa yang akan Maira lakukan saat ingatannya kembali tapi wajahnya berbeda dengan dirinya yang dulu????
Yuk.. simak kelanjutan kisahnya..
Mari ikutin terus.. Mendadak Nikah.. sampai selesai ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana Bai Qian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemesraan Faris & Maira
❦
❦
❦
Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi, Maira baru saja selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah dengan Faris. Kenapa Faris tidak shalat berjamaah di masjid seperti biasanya?? itu karena lelaki itu terlambat bangun, dan semalam ia pulang kerja pukul 02.30 pagi akibat nya shalat subuh nya jadi kesiangan. Karena masih mengantuk dan masih merasa lelah Faris pun kembali melanjutkan tidurnya, dan Maira yang melihat itu memaklumi nya. Maira akan memberi waktu sedikit lagi untuk Faris melanjutkan tidurnya.
30 menit berlalu....
Maira mencoba membangunkan Faris, namun bukannya segera bangun suaminya itu malah menarik tubuh Maira ke dalam dekapannya. Maira mendengus kesal, kebiasaan!! batin Maira.
"Abang, ayo bangun."
"Sebentar sayang, abang masih capek dan masih ngantuk. Lanjut tidur lagi aja yuk."
Maira berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya, "Ngga boleh, jangan tidur lagi abang. Ini kan hari minggu, kita lari pagi yuk bang."
Faris menggeleng, "Ngga mau sayang, abang masih ngantuk banget. Udah tidur lagi aja ya." Rengek Faris seraya kembali merengkuh tubuh Maira.
Maira mencebikkan bibirnya kesal, "Abang, ayo ih cepetan bangun. Mai kan juga mau pacaran sama abang di hari minggu kayak orang-orang. Apalagi kan sekarang anniversary kita yang ke lima bulan." Rengek Maira.
Eh???
Mata Faris melotot dan langsung mengarahkan pandangannya menatap Maira yang sedang mampoutkan bibirnya, "Oh iya bener, abang lupa sayang, maafin abang ya." Cengirnya.
"Ya udah makanya ayo, abang cepetan bangun. Biar sehat!!." Ucap Maira seraya membantu Faris untuk bangkit dari posisinya.
Faris menghela nafas sebentar sebelum mencium kening Maira dan bangkit dari duduknya, lalu lelaki itu melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap.
Hanya butuh waktu 15 menit Maira dan Faris sama-sama sudah siap menggunakan pakaian olahraga.
"Harus lari loh ya abang, ngga boleh cuma hanya jalan doang." Ucap Maira memperingati.
Faris terkekeh mendengarnya, "Iya sayang, makanya ayo sini larinya sambil pegangan tangan. Biar abang nya makin semangat ini." Jawab Faris seraya senyum sumeringah.
Maira tersenyum saat Faris menggenggam tangannya dan mulai mengajak nya berlari mengelilingi jalan yang ada di sekitar taman yang ada di komplek rumahnya. Faris dan Maira kompak menyapa beberapa tetangga yang sedang berlalu lalang dan sedang lari pagi juga di sekitar taman itu, dan juga Faris dan Maira terkadang mengobrol dengan beberapa lansia yang sedang menikmati cahaya mentari pagi yang hangat.
Tidak terasa sudah satu jam berlari kecil menyusuri taman komplek, hingga Maira meminta untuk berhenti.
"Abang, Mai capek. Istirahat dulu yuk." Keluh Maira seraya menatap suaminya.
"Hmmm... boleh, istirahat nya di sana aja yuk sayang, sambil makan bubur ayam." Ucap Faris, Maira tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Maira dan Faris berjalan ke arah tukang bubur ayam yang ada di deket taman komplek itu.
Faris menyuruh Maira duduk, lalu lelaki itu mengambil sebotol air mineral yang tersedia di kedai bubur itu kemudian membuka tutupnya dan memberikannya kepada Maira.
"Ini sayang minum dulu, kamu pasti haus kan."
Maira mengambil botol itu, lalu meminumnya. "Makasih ya bang." Maira kembali menyerahkan botol air mineral yang tinggal setengah itu kepada Faris. Kini bergantian Faris meminum air mineral itu sampai habis karena dirinya juga capek dan haus karena habis berlari tadi.
Faris meminta Maira untuk menunggunya, dan lelaki itu pergi untuk memesan. "Pak, bubur ayam spesial nya dua ya. Yang satu jangan pake kacang dan daun bawang ya."
"Iya Mas, tunggu sebentar ya."
Setelah itu Faris kembali menghampiri Maira yang sedang menunggunya sambil memegang handuk kecil di tangannya.
"Abang sini." Ucap Maira begitu melihat Faris yang berjalan ke arahnya.
Faris tersenyum manis menatap isteri tercintanya, "Bentar ya sayang, buburnya lagi di buatin." Ujar Faris sembari menatap Maira kini mengusap peluh di wajahnya menggunakan handuk kecil itu. Maira mengangguk dan tersenyum menatap Faris.
"Capek banget ya sayang ?? muka nya itu loh sampe merah banget." Tanya Faris sembari mengusap pelan pipi Maira.
"Hmm.. dikit doang sih, lagian abang nih langkah nya panjang banget kan Mai sedikit kewalahan ngikutin dan ngimbangin lari bareng abang." Keluh Maira.
"Iya.. Iya.. maafin abang ya sayang, itukan bukan salahnya abang. Sayang nya aja yang badannya kecil mungil, mungkin dulu saat pembagian tinggi badan kamu datang nya yang paling belakangan ya jadi ngga kebagian." Ucap Faris meledek isterinya.
"Ih.. abang ngeselin banget sih. Suka banget ngeledekin Mai, pokoknya Mai marah sama abang." Ucap Maira kesal sembari membuang muka nya ke arah lain tidak mau melihat muka Faris.
Faris tersenyum melihat Maira yang sedang merajuk itu, namun terlihat sangat menggemaskan menurutnya. "Iya.. Iya.. sayang maaf, maafin abang ya. Walaupun isteri abang ini kecil mungil juga suka ngambekkan dan merajuk tapi abang tetap sayang dan cinta mati kok sama kamu sayang." Ucap Faris seraya mencubit mesra hidung Maira.
"Ih.. abang gombal nya receh banget sih." Maira mencebbikan bibirnya dan memukul dada bidang Faris pelan.
Faris terkekeh melihat tingkah menggemaskan Maira, lalu ia memeluk sejenak dan mengecup pucuk kepala Maira yang terbalut hijab pashmina nya beberapa kali.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya bubur ayam pesanan mereka datang. Faris memberikan bubur ayam special yang tidak pake kacang dan daun bawang itu kepada Maira.
"Makasih.. abang, tau banget deh kalo Mai ngga suka kacang sama daun bawang."
"Sama-sama sayang, tau dong. Apa sih yang abang ngga tahu soal isteri abang."
Faris dan Maira pun menyantap bubur ayam itu sembari berbincang-bincang ringan.
Saat jam menunjukkan pukul 08.00, mereka menyelesaikan kegiatan pagi harinya. Faris yang sudah menyelesaikan membayar bubur ayam dan minumannya, langsung mengajak Maira untuk pulang.
"Abang... "
Faris sontak melihat ke arah Maira yang memanggilnya, "Kenapa sayang?? masih mau makan lagi??? mau beli minuman lagi?? atau mau membeli sesuatu yang lain???" Tanya Faris bertubi-tubi.
Maira menggelengkan kepalanya, senyum manis terpatri di bibirnya, "Mai mau gendong, boleh ngga??" Pinta Maira dengan malu-malu dengan memelas.
Dengan mimik wajah yang berubah panik, Faris bertanya lagi kepada Maira, "Sayang, kamu sakit??? kaki kamu terluka atau bagian mana yang sakit kasih tau sama abang." Tanya Faris lagi.
Maira menghela nafasnya pelan, "ih abang, jangan lebay deh!! Mai baik-baik aja kok. Mai cuma mau minta gendong aja, boleh ngga?? ngga boleh ya??" Ucap Maira dengan nada kecewa.
Faris tersenyum lega, lalu memeluk tubuh Maira sejenak. "Bukan begitu maksud abang sayang. Abang khawatir soalnya, kamu tumben banget minta gendong sama abang. Abang kira kamu sakit."
Maira Mancebikkan bibirnya, "Mai cuma minta gendong ya karena Mai ingin aja. Kalo abang ngga mau, ngga apa-apa kok."
Faris menghela nafas pelan, lalu lelaki itu berjongkok di hadapan Maira. "Ayo naik.. "
Mata indah milik Maira mengerjap saat mendengar perintah dari Faris, "Abang Serius ????"
"Iya sayangku, buat pacar dan kekasih halal abang. Apa sih yang ngga?"
Senyum Maira kembali terbit di bibirnya, tanpa menunggu lama Maira langsung memeluk leher Faris dan membiarkan Faris menggendongnya.
"Mai berat ngga, abang??" Tanya Maira.
Faris menolehkan kepala nya sedikit, "Ini mah belum berat sayang, nanti lagi kalau mau nanya berat. Saat kamu hamil dan mau lahiran terus abang yang gendong, kayaknya dua kali lipat deh beratnya." Jawab Faris diiringi tawanya.
Deg.
Entah kenapa hati Maira sedikit merasa tersentil oleh ucapan Faris. Hamil, melahirkan dan mempunyai anak bahkan Maira belum berfikir sampai sejauh itu. Meski usia pernikahannya sudah lima bulan, tapi Maira masih belum menjadi seorang istri yang seutuhnya. Faris sama sekali belum menyentuhnya, karena Maira masih belum siap untuk menyerahkan mahkota berharganya kepada Faris, Maira masih merasa takut. Dan Faris adalah sosok seorang suami yang baik, lelaki itu tidak pernah menuntut dan memaksa kehendaknya kepada Maira. Dan Faris sudah berjanji akan menunggu sampai Maira sudah benar-benar siap.
❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦❦
keqx seru nih ...
Aku suka ceritanya..
Mampir juga di novelku
-PEREMPUAN DAN LANGIT
-LUCA
Mari saling mendukung dalam berkarya.
yuk kita saling support. aku rate dan fav karya hebatmu.
salam dari Cinta Anya utk X^^