NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Dua Nama yang Diblokir Kembali Muncul

Jumat pagi, Liana membaca pesan Nadia tanpa menyentuh tautan di dalamnya.

Ia membuka tangkapan layar yang dibuat semalam, memperbesar kalimat terakhir, lalu melihat satu kata yang salah tulis.

`Sekedar.`

Nadia selalu menulisnya begitu. Bahkan setelah dikoreksi berkali-kali, ia menolak memakai `sekadar` karena menurutnya bentuk itu terlihat aneh.

Nomornya baru. Akunnya baru. Cara tersenyum di balik kata-kata tetap sama.

Liana mencatat nomor, nama pengguna, jam kirim, dan alamat tautan tanpa membukanya. Salinan terenkripsi masuk ke penyimpanan awan milik penasihat hukum. Salinan kedua ia pindahkan ke penyimpanan fisik.

Dalam kehidupan sebelumnya, pesan seperti ini akan membuatnya tidak tidur semalaman. Ia akan membalas, memohon Nadia berhenti, lalu memberi penyerangnya lebih banyak kalimat untuk dipotong dan dipelintir.

Kali ini Liana membuat teh hangat.

Ia mengirim ringkasan satu halaman ke Bu Ratna dari tim legal dan memberi kabar singkat kepada Renard.

`Bukti sudah disimpan. Saya tetap masuk kantor. Jangan balas atau blokir dulu sebelum legal selesai merekam akun.`

Balasan Renard datang kurang dari satu menit.

`Aku jemput.`

Liana mengetik `nggak perlu`, lalu menghapusnya.

`Baik.`

Jawaban itu bukan penyerahan kendali. Renard menjemput karena Liana menyetujuinya, dan rute mereka memang searah. Ia tetap menyalakan berbagi lokasi hanya kepada kontak yang dipilihnya sendiri dan memasukkan nomor darurat gedung ke layar cepat.

Sebelum pergi, Liana berdiri di depan cermin.

Wajah yang menatap balik masih miliknya. Tidak pucat. Tidak menangis. Tidak meminta izin kepada masa lalu untuk menjalani hari.

"Kali ini aku lebih dulu," bisiknya.

***

Pada waktu yang sama, dua gedung dari Tan Group, Aldi duduk berhadapan dengan Nadia di sebuah kafe SCBD.

Kopi Aldi sudah dingin. Di layar laptop Nadia, sebuah proposal dengan logo `Cheron Parfums` terbuka di antara dua jendela percakapan.

"Mereka mau formula lini premium, bukan sampel pasar," kata Nadia. "Kalau kita kasih yang benar, uang muka cair minggu depan."

"Aku nggak punya akses Tan Group."

"Tapi kamu kenal orang-orang pemasok."

"Sejak kasus di lobi, namaku masuk daftar hitam."

Nadia memutar mata. "Makanya aku yang masuk. Vendor kreatif tempat temanku kerja lagi butuh konsultan lepas. ID mereka bisa sampai lantai divisi parfum."

"Akses gedung beda dengan akses server."

"Aku sudah dapat nama pengguna Liana dari dokumen lama yang kamu kirim. Tinggal bikin jejaknya terlihat seperti dia."

Nadia menunjukkan foto layar portal vendor. Haknya tidak bisa membuka formula, tetapi bisa melihat struktur folder dan mengirim permintaan dukungan kepada staf internal. Dengan surel phishing yang dibuat menyerupai notifikasi reset kata sandi, mereka berharap salah satu pegawai menyerahkan token sesi.

Aldi pernah menjual perangkat aroma ke tim Tan Group. Ia tahu istilah yang dipakai dalam surel internal dan nama proyek yang cukup meyakinkan untuk dijadikan umpan.

"Jangan pakai jaringan rumahmu," katanya. "Dan jangan kirim apa pun langsung ke Cheron dari akun kita."

"Aku nggak sebodoh itu."

Keduanya mengira kehati-hatian teknis bisa menghapus niat yang sudah tertulis di percakapan mereka sendiri.

Aldi menelan ludah. "Kalau ketahuan, ini bukan sekadar bikin dia dipecat."

"Kamu mau uang atau mau ceramah?"

Nadia memutar laptop. Angka yang dijanjikan Cheron cukup untuk menutup utang bisnis Aldi dan membayar sebagian tagihan Ibu Nadia.

Ibunya telah menjalankan arisan berantai dengan uang anggota baru untuk membayar anggota lama. Arus uang itu mulai macet. Beberapa peserta sudah menuntut pengembalian dana dan mengancam melapor atas investasi bodong.

"Setelah formula keluar," lanjut Nadia, "kita unggah bukti akses atas nama Liana. Orang akan percaya dia naik jabatan karena dekat sama Renard, lalu mencuri untuk cari uang."

"Kalau Renard melindungi dia?"

"Itu justru menguatkan cerita kita."

Aldi melihat foto lama Liana di ponselnya. Rasa bersalah sempat muncul, tetapi segera kalah oleh iri.

"Berapa bagianku?"

Nadia tersenyum. "Tiga puluh persen."

Ia tidak mengatakan bahwa nilai kontrak yang sebenarnya dua kali lipat dari angka di layar.

***

Liana tiba di Tan Group bersama Renard. Di pantry, Rizal dan Bayu berhenti berdebat tentang kopi ketika melihat wajahnya.

"Mbak, semalam aman?" tanya Rizal.

Liana menatapnya. "Kenapa tanya begitu?"

"Pak Renard kirim pesan jam sebelas, minta security pastikan kamera lobi apartemen bisa diminta kalau ada gangguan."

Renard tidak pernah memberitahunya.

"Aman," jawab Liana. "Cuma akun palsu."

Bayu mengerutkan kening. "Yang dulu lagi?"

"Belum pasti. Jangan sebarkan apa pun."

"Siap."

Rizal mengangkat dua tangan. "Mulut kami terkunci. Untuk hal serius, kami nggak main-main."

Liana percaya. Mereka suka bergosip tentang tatapan dan perjalanan dinas, tetapi tidak pernah menjadikan keselamatan seseorang sebagai hiburan.

Menjelang siang, ia turun ke divisi parfum untuk menyerahkan revisi laporan. Di lobi lantai tersebut, sekelompok vendor baru sedang menerima kartu akses sementara.

Salah satunya mengenakan blus merah muda dan senyum yang sangat Liana kenal.

Nadia.

Keduanya berjalan saling mendekat dari arah berlawanan.

"Lama nggak ketemu, Lia," sapa Nadia manis.

"Nama saya Liana."

"Masih sensitif soal itu? Aku cuma kerja proyek di sini. Semoga kita bisa profesional."

Nadia mengangkat kartu aksesnya seolah menunjukkan piala. Logo perusahaan vendor tercetak di bawah foto, disertai kode `K-17`.

Liana tidak mengeluarkan ponsel di depan wajahnya. Ia terus berjalan, lalu berhenti di depan panel kaca yang memantulkan area belakang.

Dalam pantulan itu, kamera lobi terlihat tepat di atas Nadia.

Waktu 11.42.

ID vendor K-17.

Pendamping internal dari divisi kreatif bernama Sari, terlihat pada daftar tamu digital.

Liana mencatat semuanya setelah masuk ruang rapat. Ia meminta legal mengamankan rekaman tanpa menuduh siapa pun dan memeriksa batas akses vendor tersebut.

Bu Ratna membalas dengan tiga instruksi: jangan dekati Nadia sendirian, jangan mencoba mengambil perangkatnya, dan catat hanya hal yang Liana lihat secara sah. Tim legal akan meminta daftar akses melalui prosedur vendor.

Liana menyetujui semuanya.

Ingatan kehidupan pertama memberinya arah, bukan bukti. Di masa lalu, ia sering tahu kebohongan Nadia tetapi tidak memiliki apa pun yang bisa diterima orang lain. Sekarang ia tidak akan mengulangi kesalahan dengan bertindak berdasarkan dugaan saja.

Setiap langkah Nadia harus menemukan jejaknya sendiri.

Saat kembali melewati lobi, Nadia tersenyum lagi.

Kali ini Liana membalas senyumnya.

Itu membuat wajah Nadia berubah sepersekian detik.

***

Sore hari, di kafe yang sama, Nadia menunjukkan draf unggahan Instagram kepada Aldi. Judulnya sudah dicetak tebal.

`ASISTEN NAIK KARENA BADAN, LALU CURI FORMULA PERUSAHAAN?`

Di bawah judul, separuh cerita palsu telah siap.

Nadia mengangkat cangkirnya.

"Minggu depan nama Liana akan terkenal," katanya. "Dan bukan dengan cara yang bagus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!