🔥✨ Update Minggu, Rabu, dan Jumat✨🔥
Seorang gadis hypertymesia yang dapat mengingat apapun yang dilihatnya hanya ingin hidup biasa saja, namun setelah kematian mendadaknya ia reinkarnasi ke tubuh budak yang tiba-tiba diangkat selir oleh seorang pangeran. Tubuh yang ditinggalinya ternyata bukanlah budak biasa, ia sangat cantik dan seksi karena milik assassin yang sedang menyamar!
Raymond adalah pangeran licik yang memanfaatkan kemampuan hyperthymesia Alice untuk membangun kerajaan melawan kekaisaran Procyon yang selalu menyerang kerajaannya. namun setelah menjadi raja ia terpikat oleh Alice dan ingin mengangkatnya menjadi ratu!
Apakah seorang selir rendahan dapat menjadi ratu?
mau kenalan atau ngewibu bareng author?
follow ✨anichan21✨ aja di Instagram ฅ^•ﻌ•^ฅ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anichan21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Seasons
Semua orang di tenda itu menatap Alice. Mereka berjalan perlahan keluar dari tenda meninggalkan Alice dan Raymond. Kaki mereka sudah berada di luar tenda, namun pandangan dan pikiran mereka masih di dalam tenda bersama Alice. Bukan gaun indah ataupun perhiasan mewah yang ia gunakan, hanya gaun sederhana yang ditutupi jubah hitam. Tapi kehadirannya sudah mencuri banyak perhatian.
“Darick dan Arlo juga tetap disini.” Lanjut Raymond.
Tenda besar mewah kini hanya diisi empat orang. Udara didalam tenda itu anehnya terasa lebih berat. Mereka saling menatap diantara kesunyian yang menyesakkan itu.
“Alice, aku tak menyuruhmu kesini.” Raymond menatap Alice serius.
“Aku yang menyuruhnya kesini.” Jawab Darick.
“Untuk apa kau membawa wanita penggoda itu ke pertempuran?” Arlo protes kepada Darick.
“Akui Raymond, kau membutuhkannya.” Darick merangkul Alice.
“Lepaskan Alice. Tidak, pulangkan dia, tempat ini terlalu berbahaya untuknya.” Protes Raymond.
“Peramu strategi Procyon cukup handal, kita harus memaksimalkan sumber daya yang kita punya.” Darick mengelak.
“Alice adalah selirku, bukan peramu strategi.” Raut wajah Raymond berubah marah.
“Alice coba liat pola pergerakan ini.”
Darick mengajak Alice melihat peta di atas meja besar di tengah ruangan. Peta itu menggambarkan dengan detail hutan perbatasan Fomalhout yang dapat tersambung ke Sirus, Estelle, dan Ibu kota. Bidak catur dan goresan berwarna menandakan serangan yang sudah terjadi. Alice memperhatikan peta tersebut dengan seksama. Raymond bangkit dari kursinya dan ikut berjalan ke meja tersebut dengan menopang tangannya yang patah.
“Apa yang aneh dari pola ini?” Tanya Alice kepada Darick.
“Ini adalah pola unik yang tak ada di buku Strategi Perang di Musim Berbeda karya Erwin. Ini menandakan peramu strateginya melebihi kecerdasan Erwin yang dilegendakan.” Jelas Darick.
“Tidak, pola ini ada dibuku tersebut.” Jawab Alice memperhatikan kembali pola tersebut.
“Aku tak pernah membaca ada pergerakan seperti itu.” Raymond mengerutkan dahi ikut berpikir.
“Darick, kau tahu kenapa Erwin disebut peramu strategi legendaris?” Tanya Alice.
“Karena ia dapat membuat strategi luar biasa, seperti di bukunya.” Jawab Darick.
“Arlo, coba sebutkan prinsip dasar pertempuran yang harus dipenuhi menurut buku itu.” Alice tersenyum ke arah Arlo.
“Prinsip yang harus kau penuhi adalah menguasai medan, waktu yang tepat, dan mempertahankan keharmonisan pasukan.” Jawab Arlo.
“Benar, tapi itu membuat buku Strategi Perang di Musim Berbeda hanya menjadi buku yang bagus bukan buku legenda.” Jelas Alice.
“Waktu, medan, dan keharmonisan. Itu urutan yang tepatnya kan?” Tanya Raymond.
“Yaps! Karena itu adalah buku legenda yang tak boleh diubah strukrutnya.” Lanjut Alice sambil mengacungkan jempolnya.
“Tunggu…”
Darick mengambil buku strategi perang itu kembali. Mempertanyakan kenapa judul mereka dibedakan berdasarkan musim. Memperhatikan detail kecil struktur kalimat karena mempertimbangkan perkataan Alice. Kelopak mata Darick terbuka lebar, mata hijaunya berbinar dan ia tersenyum.
“Buku ini dapat dibaca lebih dari satu arah…”
“Ding dong~ sangat tepat~ Sebanyak apa kau dapat membaca buku itu menandakan seberapa hebat kau dalam melihat sebuah strategi. Itu sebabnya Erwin dan bukunya disebut legenda.” Jelas Alice dengan wajah berseri.
“Alice… halaman berapa strategi gerilnya di buku musim dingin dan musim semi?” Tanya Raymond menyipitkan matanya.
“Halaman 212, bagian kanan atas di buku musim dingin. Halaman 125, bagian tengah kanan di buku musim semi.” Jawab Alice sigap.
Halaman demi halaman di buka oleh Darick dan Raymond, mereka menjajarkan halaman buku itu dan mencoba mencari cara membaca yang tepat. Raymond beradu pendapat, Darick merincikan petunjuk, Arlo menggambar pola-pola strategi, dan Alice bersantai minum teh.
“Alice, perang gerilya di musim gugur dan panas ada di halaman berapa?” Tanya Raymond.
“Musim panas halaman 221, kanan bawah. Musim gugur 194, kiri atas.” Jawab Alice sembari meneguk tehnya.
“Lihat Raymond! Seperti ini polanya!” Seru Darick.
“Oke, panggil lagi para pemimpin pasukan dan Ottar.” Seru Raymond.
“Terimakasih Alice~!” Darick mengecup kening Alice.
Pemimpin pasukan memasuki kembali tenda besar tersebut setelah di panggil oleh Arlo. Rasa penasaran menyelimuti pikiran mereka, mata mereka langsung mencari sosok pembawa rasa penasaran itu yang tak lain adalah Alice. Dua sosok berambut pirang panjang menjadi sorotan utama para pemimpin pasukkan. Mereka semua kaget dengan apa yang dilihatnya. Ottar mengkerutkan dahinya, ikut mempertanyakan kenapa pangeran Raymond menodongkan pedang ke arah Darick dan mengapa Alice berada di pelukan peramu strategi berambut pirang itu.
“Yang mulia…” Arlo menghembuskan nafas panjang saat melihat wajah Raymond yang kesal.
Keringat dingin mulai membasahi pakaian para pemimpin pasukan yang belum diganti selama beberapa hari. Situasi pertempuran memang cukup susah dikendalikan, namun mereka tak menyangka Raymond akan semarah itu. Darick yang ditodong pedang oleh Raymond hanya bisa tertawa pasrah memegangi Alice. Arlo menarik nafas lagi lalu mengajak para pemimpin pasukan mendekat ke meja utama. Pemimpin pasukan yang tak tahu apa yang terjadi sebelumnya mulai berimajinasi.
Membayangkan pengalaman mereka bersama Raymond yang tega bersikap kasar terhadap wanita cantik yang menggodanya. Mereka memindai tubuh Alice yang mereka pikir telah diselamatkan oleh Darick. Hembusan nafas panjang antara lega dia tidak terluka dan menahan nafsu dari keseksian badan Alice dikeluarkan para pemimpin pasukan.
Berbeda dengan imajinasi para pemimpin pasukan. Kepala Alice tak dapat berjalan sempurna karena malu hingga wajahnya memerah. Suara lembut yang keluar dari bibir seksi Darick yang tiba-tiba mendarat di keningnya masih terbayang jelas di benak Alice. Jam saku Darick yang terdengar suara detiknya tak mampu memajukan waktu Alice. Bagi Alice hangat di keningnya membekukan waktu.
“Berdasarkan prediksi Darick, Procyon akan melakukan penyerangan sebentar lagi untuk memojokkan kita. Jadi kita harus berakting terpojok dan menggiring mereka mundur ke arah bukit Estelle.” Jelas Raymond memasukkan pedangnya ke sarungnya.
“Ini adalah jalur pelarian kita.” Darick menunjuk jalan-jalan yang harus ditempuh tiap pasukan.
“Alice sebutkan jarak tempuh dan medan setiap jalur.” Perintah Raymond.
Alice berjalan mendekat dan merangkul tangan Raymond. Mata para pemimpin pasukan menatap Alice tajam, seorang selir rendahan yang menggoda pangeran di tengah rapat penting. Mata mereka semakin menatap tajam saat Alice dengan detailnya menjelaskan struktur geografis setiap medan seakan dia yang memiliki hutan perbatasan Fomalhout. Penjelasanya sangat terperinci dan mudah dimengerti. Bibir kecil merona Alice terus menyita perhatian pria-pria kekar di tenda itu.
“Berdasarkan penjelasan Alice, Kelompok 7 dengan jarak 30 km dan jalur mendatar akan menjadi yang pertama tiba di perbatasan Estelle. Bergabunglah dengan pasukan bantuan disana.” Lanjut Raymond menunjuk pion pion di meja.
“Yang mulia persiapan sudah selesai.” Ottar memasuki tenda kembali setelah menghilang tanpa disadari siapaun.
TAK!!
CLANG…!
“Yang Mulia!”
Para pria kekar dengan baju zirah lengkap mencoba berlari ke arah Raymond ketika hujan panah tiba-tiba menyerang camp Arcux. Raymond yang lengan kirinya tak bisa digunakan mencoba menghindar sekuat mungkin dari serangan mendadak dari sisi kirinya. Suara pedang yang menangkis panah dengan cepat mengagetkan mereka. Alice, dengan rambut keemasannya yang berkibar sudah berdiri di hadapan Raymond menangkis panah demi panah yang mendekat. Satu hal yang mereka sadari saat melihat keindahan rambut Alice.
‘Alice bukanlah selir rendahan biasa’
siapakah Alice sesungguhx thorr
tetap semangat yach
jangan lupa mampir,
makasih
menenangkan orang yg panik itu ternyata lebih susah yaa (´°̥̥̥̥̥̥̥̥ω°̥̥̥̥̥̥̥̥`) tetap patuhi 3M yaw ( ´◡‿ゝ◡`)
selamat menikmati crazy upnyaa ฅ^•ﻌ•^ฅ
salam hangat dari ADA APA DENGAN JODOHKU ❤️❤️. dan Janda Muda ..
Ku tunggu Feedback mu..