NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Aku ingin sekali menolak dan menyangkal keberadaannya. Namun, kemiripan genetik antara pria di sampingku ini dengan Jayan benar-benar nyata dan tidak bisa dibohongi.

​Sembari mengembuskan napas perlahan untuk meredakan gemuruh di dada, aku memberanikan diri menatapnya lurus-lurus. "Ada apa Pak Jalal yang terhormat datang ke sini?" tanyaku dengan nada sekeras batu, namun tetap diusahakan sepelan mungkin agar tidak memancing perhatian. "Mau anak ini anak Anda atau bukan, itu bukan urusan Anda! Silakan lanjut belanjanya, saya juga ingin lanjut."

​Tanpa menunggu responsnya, aku langsung berlalu dengan tenang sambil menggendong Jayan. Aku sengaja menguatkan hatiku yang sedari tadi gemetar ketakutan. Aku melangkah ke rak sebelah, mengambil dua kaleng susu formula dengan cepat, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.

​Ternyata, pria paruh baya itu tidak menyerah begitu saja. Dia kembali mengekor di sampingku, lalu berkata dengan suara lirih yang sarat akan penyesalan, "Yas... saya minta maaf. Saat itu saya khilaf. Saya benar-benar menyesal, Yas..."

​Aku berpura-pura tidak peduli. Dengan gerakan cepat, aku berbalik arah menuju rak perlengkapan mencuci untuk mengambil detergen. Namun, dia masih saja mengekor di belakangku bagai bayangan.

​"Yas, saya mohon... maafkan saya. Kamu boleh menghukum saya dengan cara apa saja, asalkan kamu mau memaafkan saya," ucapnya lagi, memelas.

​Karena sudah jengah dan risih terus-menerus diikuti, aku spontan berbalik dan menyemprotnya dengan logat daerahku yang keluar begitu saja. "Apakah maunya kita?! Kenapa ikut-ikut terus?!"

​Pak Jalal seketika terdiam. Raut wajahnya tampak kebingungan, mungkin mencerna arti dari omelanku barusan.

​Tak ingin membuang waktu menunggunya sadar, aku segera melangkah lebar menuju meja kasir untuk membayar. Di dalam gendonganku, Jayan tiba-tiba berbisik pelan, "Mama... aku mau sama Bapak."

​Bersamaan dengan ucapan itu, air mata mungilnya perlahan meleleh kembali di pipinya. Aku memilih mendiamkannya, hanya bisa mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.

​"Totalnya dua ratus enam puluh lima ribu rupiah, Kak," ucap si kasir ramah.

​Dengan susah payah karena harus menahan bobot tubuh Jayan di satu tangan, aku pelan-pelan membuka dompet untuk mengambil beberapa lembar uang. Namun, tiba-tiba sebuah tangan besar terulur dari belakang, mengejutkanku lagi.

​"Biar saya saja yang bayar, Mbak."

​Itu suara Jalal. Tanpa ragu, dia melemparkan tiga lembar uang seratus ribuan ke atas meja kasir. Aku menatapnya dengan pandangan tajam setajam silet. Bukannya takut, pria tua itu malah melempar senyuman manis tanpa dosa padaku. Bahkan, dengan tingkat kepercayaan diri yang kelewat batas, dia dengan tak tahu malunya mencolek daguku.

​Plak!

​Dengan cepat aku menepis tangannya kasar. Suara mbak kasir yang canggung melihat pertengkaran kami tiba-tiba menginterupsi, "Mohon maaf... ini pembayarannya bagaimana, Kak?"

​Aku tersentak, lalu dengan cepat menyodorkan uangku. "Biar saya saja yang bayar, Mbak!"

​"Ah, jangan, Yas. Mbak, biar saya saja yang bayar. Kebetulan dia ini istri saya, masa iya saya membiarkannya membayar belanjaan sendiri," potong Jalal dengan tenang.

​Aku jengkel setengah mati mendengar bualannya. Sembari mengembuskan napas berat untuk menahan diri agar tidak mengamuk di tempat umum, aku langsung menarik cepat kantong belanjaanku yang sudah selesai dikemas. Tanpa memedulikan kembalian uangnya, aku segera menggendong Jayan setengah berlari menuju parkiran motor.

​Ya sudahlah, pikirku ketus. Biar saja dia yang membayar. Untung juga kali ini aku belanja banyak tanpa perlu mengeluarkan modal sepeser pun.

​Namun, begitu aku hendak menyalakan mesin motor matic milik adikku, sosok Jalal sudah berdiri di depan kemudi. Dia menahan bodi motorku agar tidak bisa bergerak.

​"Yas... tunggu dulu. Yas, saya boleh ikut ya?" pintanya dengan nada memohon yang teramat sangat.

​"Yey! Bapak mau ikut! Bapak, ayo naik, kita pulang bersama!" sahut Jayan kegirangan di atas pangkuanku.

​Aku sempat tertegun diam saat melihat senyuman Jayan yang tampak begitu tulus dan bahagia. Sesuatu yang tidak pernah bisa kuberikan sepenuhnya selama tiga tahun ini.

​"Ayolah, Yas. Demi anak kita..." ucap Jalal lagi, sengaja membawa-bawa nama Jayan agar pertahananku runtuh.

​Aku masih bergeming di atas jok motor.

​"Mama, boleh ya? Kumohon...!" tambah Pak Jayan. Kali ini dia menatapku dengan tatapan memohon yang dalam, sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

​Tak tega melihat putraku kecewa dan melihat kesungguhan di mata pria itu, pertahananku akhirnya luluh juga. Aku mengangguk pasrah, lalu memberi isyarat agar dia naik ke boncengan belakang.

​Bukannya langsung naik, Pak Jalal malah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. "Emmm... Yas. Apa boleh saya saja yang bawa motornya? Biar kamu dan Jayan saya bonceng?" tanyanya hati-hati.

​Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Namun, dengan wajah muram dan cemberut, aku turun dari jok dan bergeser ke belakang.

​"Terima kasih, Yas. Terima kasih," ucapnya berulang kali dengan wajah benderang.

​Jujur saja dalam hati, aku membiarkannya ikut semata-mata hanya karena memikirkan kebahagiaan anakku. Kalau bukan karena Jayan, jangan harap aku akan mengizinkannya menginjakkan kaki di rumah orang tuaku.

​Akhirnya, Jayan memilih duduk di depan—berdiri di sela setang motor, sementara aku duduk di jok belakang dengan posisi menyamping. Di sepanjang perjalanan pulang yang diterpa angin siang yang teduh, telingaku dipenuhi oleh celotehan riang Jayan yang saling bersahutan dengan suara berat Jalal.

​Perlahan, sebuah senyuman tipis terukir di sudut bibirku. Hatiku menghangat melihat anakku yang tampak teramat sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dan berinteraksi langsung dengan Bapaknya.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!