NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Kerajaan

Sera menghabiskan waktu seperti biasa di sekolah. Di sisi lain, Yunkai juga sedang disibukkan dengan tugas tingkat akhirnya.

Ketegangan mulai membayangi ketika Tuan Besar Kane meminta Sera untuk kembali ke rumah pada akhir pekan ini. Sera tahu cepat atau lambat keluarga Kane pasti akan menginterogasinya mengenai hari itu—hari di mana ia nekat meninggalkan asrama sekolah tanpa izin. Hari dimana ia mensupport saham keluarga Fountain dengan perusahaan Mourn milik ayahnya.

“Ada apa?” tanya sang Pangeran, melangkah menghampiri Sera yang sedang berada di dalam ruang pribadi didalam perpustakaan.

Ruangan itu sunyi, bersifat pribadi dimana hanya Sera yang selalu menempati bilik nomor 6 di sisi sudut gedung, ruangan yang hanya diisi oleh beberapa sofa nyaman dan deretan rak buku tinggi yang tersusun rapi.

Ting!

Pintu lift barang berukuran kecil berdenting. Sera membuka pintu besi tersebut, mengambil beberapa buku tebal yang ia butuhkan dari dalam sana.

“Tuan Besar Kane menyuruhku pulang besok,” sahut Sera. Suaranya terdengar tenang, berbanding terbalik dengan isi kepalanya yang berkecamuk.

“Apa ada masalah?”

“Duan mengirimkan kartu undangan makan malam dari istana. Kau tahu soal itu?” Tanya Sera sambil meletakkan tumpukan buku berat itu ke atas meja.

“Ya... Ayahku sudah mendengar tentang hubungan kita dari salah satu perdana menteri kerajaan.”

“Lalu?”

“Aku mengenalkanmu secara resmi. Dan Ayah ingin menemuimu,” jawab Yunkai teramat tenang.

Sera tertawa hambar. “Kau gila,” desisnya kesal. “Berdoalah agar aku bisa keluar hidup-hidup dari rumah besar keluarga Kane besok. Aku bahkan sangsi bisa memenuhi undangan istana itu.”

Sebelum Sera sempat melangkah mundur, Yunkai merebut buku dari tangannya. Pria itu maju selangkah, mengungkung tubuh Sera di antara sofa dan kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada sandaran. Mata biru safir itu berubah menjadi hitam pekat, gadis dihadapannya sengaja menutupi jati dirinya dengan sebuah softlens.

“Apa itu yang kau pikirkan sejak tadi?” bisik Yunkai, menatap manik mata Sera lekat-lekat. “Aku yang akan datang menjemputmu langsung ke kediaman Kane, Sera. Jadi, lebih baik kau pikirkan saja pakaian dan sepatu apa yang akan kau kenakan nanti. Seperti saat ini, sembunyikan jati diri mu sebagai Mourn.”

Yunkai mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan posesif yang tak terbantahkan. “Di sana akan ada banyak pria lain, anggota kerajaan dan perdana menteri. Aku tidak suka banyak pria yang memandangmu dengan tatapan vulgar. Kenakan pakaian sesederhana dan setertutup mungkin.”

Sera bisa merasakan embusan napas Yunkai yang hangat menerpa wajahnya. Jarak mereka begitu intim hingga detak jantung Yunkai yang beraturan terdengar di telinganya—kontras dengan detak jantungnya sendiri yang berpacu liar karena kombinasi antara gugup dan kekesalan yang membumbung.

Sebelah sudut bibir Sera terangkat, membentuk seulas senyum dingin yang menantang. “Kau sudah mulai mengaturku, hm?” ujarnya rendah, menatap langsung ke dalam manik mata sang Pangeran. “Dengar, Yunkai. Meski aku terpaksa tunduk pada Tuan Besar Kane dan putra pertamanya, Alaric... pada akhirnya, akulah yang memegang kendali atas alur hidupku sendiri. Bukan kau.”

Yunkai tidak marah. Ia justru menyunggingkan senyum tipis, terpesona oleh binar berani di sepasang bola mata yang tengah menantangnya itu. Sejak awal, hanya gadis ini yang selalu punya nyali untuk menentangnya, mengatainya gila, bahkan mengabaikan segala protokol dan tata krama di hadapannya. Pembangkangan Sera adalah candu yang berbahaya baginya.

“Aku tidak berniat mengaturmu, Sera. Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan,” bisik Yunkai lembut.

Namun, sedetik kemudian, pria itu memiringkan kepala. Ia mendaratkan kecupan lembut di ceruk leher Sera, sebelum akhirnya mengakhirinya dengan gigitan kecil yang intens di sana—sebuah tanda kepemilikan yang spontan dan mengejutkan.

Sera tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan saat Yunkai berbisik tepat di telinganya, “Tapi ingat... jika kebebasanmu mulai mengusik ketenanganku, aku sendiri yang akan menyeretmu ke dalam ruangan tertutup. Berdua bersamaku. Dan kau akan melihat sendiri bagaimana kebebasanmu itu berakhir di tanganku.”

Sentuhan basah dan gigitan kecil di lehernya meninggalkan sensasi panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuh Sera. Napasnya memburu, namun ia menolak untuk kalah. Di tengah kungkungan intimidatif itu, Sera justru mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak yang tersisa hingga dadanya bergesekan samar dengan dada bidang Yunkai.

Jemari lentik Sera bergerak lambat, naik dari dada Yunkai menuju rahang tegas pria itu, lalu ibu jarinya dengan berani mengusap sudut bibir sang Pangeran.

Sera bisa melihat dengan jelas bagaimana fokus Yunkai langsung terpecah. Sepasang manik mata gelap pria itu perlahan turun, mengunci seluruh perhatiannya pada bibir Sera yang sedikit terbuka. Ada kilat kelaparan yang pekat di sana—hasrat yang begitu besar untuk langsung membungkam, melumat, dan Menghabisi bibir ranum yang terus memprovokasinya sejak tadi.

Yunkai menunduk, napasnya yang berat terasa kian memanas di atas permukaan bibir Sera. Tinggal beberapa milimeter lagi sebelum kepemilikannya menjadi mutlak.

Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, Sera memiringkan kepalanya sedikit.

Bibirnya sengaja melewati bibir Yunkai, bergerak menuju samping telinga sang Pangeran. Ia membisikkan sesuatu dengan suara yang luar biasa tenang, namun mematikan.

“Jangan terburu-buru, Yang Mulia,” bisik Sera, senyum dinginnya kembali terkembang di balik bayang-bayang wajah Yunkai. “Jika kau merusak bibirku sekarang, apa yang akan kau katakan pada keluargaku besok? Bahwa sang Pangeran tidak bisa menahan dirinya di dalam perpustakaan sekolah?”

Sera menarik kembali wajahnya, menatap Yunkai dengan binar mata yang penuh kemenangan. Ia menepuk pelan dada Yunkai, sebuah isyarat halus untuk menyuruh pria itu mundur. “Simpan hasratmu untuk istana nanti, Kai. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan tugasku.”

Kilat frustrasi sekilas melintas di mata Yunkai. Rahangnya mengeras, menahan desakan gairah yang sudah berada di ujung tanduk karena permainan tarik ulur gadis itu. Digoda lalu dihempaskan begitu saja adalah hal yang belum pernah dialami seorang Yunkai seumur hidupnya—dan Sera melakukannya dengan sangat fasih.

Yunkai tidak langsung menjauh. Pria itu menatap Sera dalam-dalam, menghela napas berat untuk meredam gemuruh di dadanya, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum gelap yang tak kalah mengintimidasi.

“Kau sangat pandai bermain-main dengan waktuku, Sera,” desis Yunkai rendah, suaranya terdengar serak dan berbahaya. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya dari sofa, memberikan Sera ruang, namun tatapannya tetap mengunci gadis itu tanpa ampun. “Tapi ingat, aku adalah pemburu yang sabar. Nikmati kendalimu selagi bisa, karena di istana nanti... aku tidak akan memberimu ruang sedikit pun untuk menghindar.”

Sera tertawa ringan, sebuah tawa merdu yang sengaja ia gunakan untuk mencairkan sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di udara. Ia membalikkan tubuhnya dengan tenang, lalu meraih kembali buku tebal yang sempat direbut oleh Yunkai tadi.

“Pergilah,” ujar Sera tanpa menoleh lagi, mencoba menyembunyikan sisa debaran di dadanya. “Aku harus menyelesaikan tugas-tugasku sekarang, sebelum terseret ke dalam serangkaian undangan kerajaanmu yang merepotkan itu.”

Yunkai memperhatikan punggung Sera sejenak, mengagumi bagaimana gadis itu bisa kembali menguasai diri dengan begitu cepat. Pria itu mundur selangkah, lalu jemarinya bergerak santai merapikan jas seragamnya yang sedikit kusut akibat interaksi intim mereka tadi.

“Aku akan menjemput dan mengantarmu sampai ke gerbang sekolah besok pagi,” kata Yunkai, suaranya kembali tenang namun tetap membawa beban otoritas yang mutlak.

Sebelum melangkah pergi, Yunkai sengaja berhenti di dekat pintu, melemparkan tatapan terakhir yang sarat akan peringatan. “Dan ingat kataku tadi, Sera. Pilih gaun yang paling sopan. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk berbagi keindahan milikku dengan siapa pun di istana nanti.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!