Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan Makan Malam
"Maksud Anda?" tanya Lia pada Arka. Arka menghela napasnya panjang lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Lia.
"Percayakah Anda jika saya mengatakan bahwa seorang Ren Damaris pernah sangat mencintai seorang wanita?" tanya Arka pada Lia. Lia mengerutkan kedua alisnya.
"Benarkah?" tanya Lia. Arka tersenyum sambil mengangguk.
"Belasan tahun yang lalu, saat dia duduk di bangku SMA, dia mempunyai seorang kekasih. Gadis itu, gadis paling cantik, paling pintar, dan paling dikagumi di sekolah," kata Arka memulai cerita.
"Keduanya merupakan pasangan yang sangat serasi dan sukses membuat iri banyak orang. Ren terlihat sangat menyayangi gadis itu. Gadis itu terlihat begitu bahagia. Semuanya terlihat sempurna," lanjut Arka.
"Hingga pada suatu hari, dia mendapat fakta yang mengejutkan dan menghancurkan hatinya," kata Arka. Lia menyimak dengan seksama.
"Dan fakta itu, membuat Ren mengubah seluruh pandangannya tentang makhluk bernama wanita," kata Arka.
Lia mengerutkan kedua alisnya, mencoba fakta menyakitkan apa yang membuat Ren menutup hatinya pada wanita. Seketika Lia teringat pembicaraannya dengan Ren tentang ciuman.
"Tapi ada yang melakukannya dengan mudah, bahkan bukan dengan kekasihnya,"
"Pengkhianatan?" gumam Lia lirih tapi cukup keras untuk di dengar Arka. Sudut bibir Arka terangkat. Lia menatap Arka.
"Gadis itu tak dapat membohongi Ren lebih lama lagi dan akhirnya mengakui perbuatannya yang tentu saja menghancurkan hati Ren," tutup Arka.
Lia menatap Arka dengan tatapan tak percaya. Namun, Lia tak dapat melihat kebohongan di mata Arka.
"Sejak hari itu, Ren Damaris berubah. Dari yang semula ramah, menjadi dingin. Dari yang semula mudah digapai, menjadi sulit dijangkau," kata Arka.
"Sejak hari itu juga Anda menemaninya?" tanya Lia. Arka tersenyum.
"Anda benar-benar hebat, Nona," puji Arka.
"Kami tak terpisahkan," kata Arka.
"Kami melalui banyak hal bersama," lanjut Arka.
Lia menatap Arka dalam-dalam. Dia ingin menanyakan sesuatu, tapi ragu-ragu.
"Ada yang ingin Anda tanyakan terkait suami Anda?" tanya Arka seolah tahu apa yang Lia pikirkan. Lia menghela napas dalam-dalam.
"Bagaimana hubungan Anda dengan suami saya?" tanya Lia akhirnya. Arka menaikkan kedua alisnya.
"Hubungan saya dengan suami Anda? Anda tidak menanyakan hal itu padanya?" tanya Arka sambil beranjak dari duduknya. Lia menatap Arka.
"Saya akan menjawab pertanyaan Anda di lain kesempatan. Saya harus segera pergi sekarang. Terimakasih sudah meluangkan waktu Anda yang berharga. Permisi, Nona Edelia Lavendra," kata Arka lalu berjalan keluar dari ruangan Lia.
Lia menatap pintu ruangannya yang tertutup. Dia bertanya-tanya, untuk apa Arka menceritakan semua itu pada Lia.
'Apa tujuannya?'
***
Ren terus memikirkan pertemuannya dengan Arka hari itu. Entah mengapa, perasaannya terhadap Arka terasa menguap seiring kehidupan pernikahannya dengan Lia berjalan baik. Dia merasa tak lagi membutuhkan Arka dalam hidupnya.
Tapi, rasa kehilangan itu ada. Ada ruang di hari Ren yang kosong setelah Arka meninggalkannya. Rasa sepi yang membekas, membuat Ren menjadi lebih dingin dan datar setelah kepergian Arka dari hidupnya.
Pintu ruang kerja Ren dibuka, menampilkan sosok yang membuat Ren seketika merasa sesak tiap kali melihatnya.
"Ayah dengar kamu memulai proyek yang melibatkan isterimu," kata ayah Ren sambil duduk di sofa ruang kerjanya. Ren mengangguk kaku. Ayahnya tersenyum.
"Untung saja kamu nggak salah pilih wanita. Dengan begini, nama Damaris akan semakin dikenal karena kemampuannya," kata Ayahnya bangga.
"Ayah tak bisa bayangkan kalau kamu memilih wanita yang hanya bisa menghamburkan semua uangmu," kata Tuan Damaris.
Ren hanya diam. Tuan Damaris menatap puteranya yang terdiam.
"Ayah rasa kamu sudah tidak punya keinginan untuk menemui teman priamu itu," kata Tuan Damaris tiba-tiba. Ren menoleh, menatap ayahnya yang menatap dirinya tajam.
"Ren sudah menikah. Apalagi yang Ayah inginkan?" tanya Ren. Tuan Damaris menghela napas panjang lalu berdiri, berjalan menuju ke arah meja kerja puteranya.
"Apalagi yang diharapkan dari pasangan yang sudah menikah?" tanya Tuan Damaris sambil tersenyum. Mata Ren membulat.
"Kamu pernah menciumnya di depan publik. Jadi tak salah bukan jika Ayah mengharapkan kehadiran seorang cucu?" tanya Tuan Damaris masih dengan senyum terkembang di wajahnya. Ren tidak menjawab.
"Well, karena Ayah lihat isterimu juga wanita yang pekerja keras, kalian nikmati saja prosesnya," kata Tuan Damaris sambil berjalan keluar ruang kerja Ren.
Ren menatap punggung ayahnya yang berlalu begitu saja meninggalkannya dengan perasaan tak percaya.
"Anak?" gumam Ren.
Seketika Ren terbayang saat dia memeluk dan mencium Lia di dapur malam itu. Wajah Ren tiba-tiba terasa panas. Ren menutup wajahnya dengan tangan kanannya.
"Apa yang aku pikirkan?" gumam Ren.
Ren melirik ponsel di atas meja kerjanya. Dengan ragu-ragu, Ren meraih ponselnya lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk Lia.
Kamu pulang jam berapa? Aku jemput.
Ren masih menatap layar ponselnya, menanti balasan Lia yang biasanya secepat kilat.
Tak perlu, Tuan. Saya akan minta Julio mengantar saya pulang.
Ren menghela napas panjang lalu diam, berpikir sejenak, kemudian ibu jarinya kembali sibuk menari di atas layar ponselnya.
Bagaimana kalau kita sesekali makan diluar?
Ren menatap layar ponselnya. Satu detik, dua detik... sepuluh detik... satu menit. Tak ada balasan. Ren meletakkan ponselnya, putus asa, lalu beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan ke sofa. Ren menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil mengusap wajahnya perlahan.
"Jelas dia akan menolaknya. Dia tak nyaman denganku. Dia hanya berpura-pura baik agar aku nggak terlalu merasa bersalah dengan sikapku waktu itu," gumam Ren sambil menatap langit-langit ruang kerjanya.
"Pura-pura... Aku bahkan tak bisa membedakan apakah dia pura-pura atau tidak," gumam Ren.
Wajah Lia tiba-tiba terlintas di benak Ren. Bagaimana Lia tersenyum, bagaimana Lia tertawa, ekspresi seriusnya saat sedang memasak, ekspresi bahagianya saat menyantap masakannya sendiri, semua silih berganti seperti slide show presentasi.
Dering ponsel Ren menyadarkan Ren dari lamunannya. Ren dengan cepat berjalan menuju meja kerjanya dan meraih ponselnya. Sebuah pesan singkat balasan dari Lia.
Makan malam diluar? Sepertinya menyenangkan.
Sudut bibir Ren sedikit terangkat. Ren kemudian dengan cepat menggerakkan ibu jarinya, mengetik balasan untuk Lia.
Saya jemput jam lima sore.
Ren kembali duduk di kursi kerjanya dengan perasaan lebih ringan. Senyum terkembang di wajahnya, membayangkan suasana makan malam bersama Lia di resto bintang lima nanti.
"Aku harus segera buat reservasi," gumam Ren sambil mencoba menghubungi Julian untuk memintanya membuat reservasi di salah satu restoran bintang lima langganan Keluarga Damaris.
Ren menatap layar ponselnya. Dia lalu teringat satu foto Lia yang pernah dia ambil diam-diam saat berada di hotel pagi hari setelah pernikahan mereka. Ren menatap foto itu dalam-dalam. Entah mengapa dia merasa begitu tenang menatap foto itu lama-lama.
'Dia benar-benar menggemaskan,'
***