Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.
Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”
Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 Senyum Kembali Dendam Datang
Mendengar Anjana yang cerewetnya gak ada habisnya. Nimas yang kamarnya bersebelahan dengan Dira, diam-diam mengintip dari celah pintu. Terlihat sekali ada rasa penasaran menyelimutinya.
Melihat ada seseorang yang tengah mengintip. Anjana yang memiliki rasa penasaran tingkat tinggi memutuskan menghampiri.
Sret…
Tarikan pelan di pakaian yang dilakukan oleh Anjana. Membuat Nimas menunduk melihat sosok gadis cantik sekaligus centil di depannya.
“Ibu siapanya Kakak Dira?”
Suara Anjana yang terdengar dari belakang. Membuat Mbah Sekar berjalan mendekat. Takut jika sampai Nimas lepas kendali ketika melihat orang asing tak dikenal.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan Anjana. Nimas tetap diam sambil mengawasi bocah cantik itu.
“Ibu cantik kayak Kakak Dira. Pasti ibunya Kakak Dira, ya?” tebak Anjana sambil manggut-manggut. Membuat kepangan di kedua rambut Anjana bergoyang lucu.
“Nimas,” gumam Mbah Sekar yang langsung menghentikan langkahnya.
Rasa khawatir yang sebelumnya menyelimuti Mbah Sekar langsung hilang. Saat melihat senyum Nimas sambil memegang rambut Anjana. Dengan pandangan menatap wajah cantik putri dari Manik itu.
Entah kenapa pemandangan sederhana itu menimbulkan rasa haru. Senyum Nimas yang sempat hilang 18 tahun lalu, kini sudah kembali.
“Salam kenal, Ibu. Namaku Anjana,” ucap Anjana sambil mencium punggung tangan Nimas.
Tidak hanya Mbah Sekar yang terharu dengan pemandangan itu. Bahkan Dira juga terharu, sampai nangis dalam pelukan Manik.
“Oh iya, tadi Mama bawa buah-buahan dan kue enak loh. Ibu mau makan gak?” tanya Anjana yang langsung membuat Manik tersenyum.
Tingkah laku Anjana memang ajaib. Bisa merubah suasana dari terharu ke ceria hanya dalam hitungan detik saja.
Apalagi saat langkah kaki mungilnya menghampiri Mbah Sekar. Manik yang tahu apa yang putrinya akan lakukan lebih memilih menutup wajahnya.
“Mbah, sini,” bisik Anjana agar Mbah Sekar mencondongkan wajahnya.
“Ada apa, Anjana?” tanya Mbah Sekar penasaran.
“Anjana boleh buka buah-buahan sama kue yang dibawa Mama, gak?”
Sesuai dugaan Manik, tingkah laku putrinya itu memang ajaib. Bisa-bisanya membuka bingkisan yang dibawa sendiri. Membuat wajah Manik langsung merah menahan rasa malu.
“Dibuka semuanya juga boleh,” jawab Mbah Sekar semangat.
“Yeeeee, terima kasih banyak, Mbah.”
“Iya.”
Dengan penuh semangat Anjana menuju meja tempat buah-buahan dan kue disimpan. Namun, belum juga sampai langkah kakinya kembali menghampiri Mbah Sekar. Membuat Mbah Sekar penasaran.
“Ada apa lagi, Anjana?”
“Anjana kan sudah punya 2 nenek. Tapi, belum punya Mbah. Mau gak jadi Mbahnya Anjana?”
Mbah Sekar kembali tersenyum mendengar pertanyaan Anjana. Padahal nenek dan mbah itu memiliki arti sama saja.
“Mau.”
Ya, siapa yang nolak jadi Mbah buat Anjana. Sosok mungil berwajah cantik itu berhasil mengusir kesedihan dan rasa lelah menyelimuti keluarga Dira.
“Makasih banyak, Mbah.”
Anjana kembali berlari menuju meja membuka buah-buahan dan kue bawaan Manik. Mengambil buah anggur yang memang dibeliin khusus sesuai permintaan Anjana.
“Sayang, anggurnya dicuci dulu. Untuk kue lapis legit prune biar Mama yang potong."
“Siap, Mama.”
Setelah mencuci anggur yang ada di tangannya. Anjana mulai menyuapi satu persatu orang yang ada di rumah. Mulai dari Mbah Sekar, Nimas, Manik, hingga terakhir Dira.
“Enak, kan? Buah anggur kesukaan Anjana,” tanya Anjana sambil tersenyum.
“Enak, manis, berair dan gak lembek,” ucap Mbah Sekar jujur.
Andai saja Mbah Sekar tahu harga anggur yang dibeli Manik. Pasti tidak akan langsung dihabiskan dalam satu suapan. Karena bisa buat makan bertiga selama sebulan.
Bahkan, jika ditotal semua barang bawaan Manik. Sudah bisa untuk makan keluarga Dira selama lima bulan.
Ketika Mbah Sekar dan Nimas fokus ke Manik. Justru Manik ingin memanfaatkan momen ini. Manik menggenggam punggung tangan Dira yang langsung menatap ke arahnya.
“Izin mengabadikan momen hari ini. Apakah boleh?” izin Manik pada Dira yang sudah siap dengan handphone di tangannya.
“Silahkan, Bu.”
Tanpa ada rasa curiga sama sekali menyelimuti Dira. Manik mengabadikan momen hari ini. Lalu mengarahkan kamera ke wajah Dira.
Cekrek.
Manik berhasil mengambil gambar wajah pucat Dira. Lalu mengirimkan ke Faza dengan pesan ‘Calon istri masih lemas’.
Setelah berhasil mengirim pesan ke Faza. Kini pandangan mata Manik ke Dira.
“Faza ganteng gak?” tanya Manik tiba-tiba. Membuat Dira gugup secara tiba-tiba.
“Gak perlu dijawab. Aku tahu jawabannya,” goda Manik sambil tersenyum.
“Tadi subuh, Faza titip salam untukmu,” ucap Manik dengan suara sangat pelan. Tujuannya jelas hanya Dira saja yang dengar.
Perubahan wajah Dira yang memulai memerah menahan malu. Langsung membuat Manik memeluk Dira.
Ya, meskipun Dira memilih diam. Tapi, reaksi tubuh serta wajah Dira jelas tidak bisa dibohongi. Jika memang ada rasa yang tersimpan di hati Dira untuk Faza.
“Dia nengok kamunya nanti siang. Paginya dia ada keperluan.”
Ucapan Manik memang ada benarnya. Setelah menyerahkan file laporan ke Satria. Faza lanjut ikut pertemuan perkembangan kasus yang ditangani. Lalu menyelesaikan pekerjaan selama dirinya tidak ke kantor.
Membuat niat hati Faza ingin menengok Dira pagi hari. Justru waktunya mundur hingga siang kearah sore hari.
Hurff…
“Akhirnya selesai juga.”
Setelah menyelesaikan laporan. Faza langsung mengambil pakaiannya yang tersimpan di loker. Karena tidak mungkin dirinya ke rumah Dira menggunakan seragam. Penyamarannya saat ini jelas percuma jika diketahui sebelum waktunya.
“Mau kemana, Ndan?” tanya bawahan Faza.
“Biasa,” jawab Faza sambil tersenyum.
“Ndan Faza menyamar jadi murid SMA masih pantas. Wajahnya terlihat baby face. Lah kalau aku menyamar pantesnya jadi tukang kebun,” seloroh bawahan Faza saat melihat ada seragam putih abu-abu di tangan atasannya. Membuat suasana kantor sedikit tidak terlalu tegang. Karena tawa memenuhi ruangan.
“Ah, kamu.”
“Beneran, Ndan. Kalau gak tahu pasti aku manggilnya Dek.”
“Hallo, Dek, dong.”
Tawa kembali terdengar di kantor tempat Faza berada. Memiliki wajah awet muda memang salah satu kelebihan Faza. Karena banyak kasus terbongkar saat Faza sendiri yang turun tangan.
“Kalau ada informasi penting. Langsung hubungiku!”
“Siap, Ndan. Semoga lancar, Ndan.”
“Iya.”
Faza langsung menuju ke ruang ganti. Setelah mengganti seragam PDH dengan seragam putih abu-abu dengan pakaian dikeluarkan. Faza keluar kantor untuk mengambil motornya yang sudah tiga hari dititip.
Faza yang sebelumnya mematikan notif pesan. Langsung membuka handphonenya. Yang pertama dibuka adalah pesan Manik.
Ting!
Senyum yang sebelumnya menghiasi wajah tampannya langsung hilang. Saat melihat wajah pucat Dira.
“Masih pucat,” gumam Faza menatap terus foto Dira di handphonenya.
Faza yang memang belum memiliki foto Dira. Langsung menyimpan foto kiriman Manik. Entah apa maksud Faza melakukan hal itu.
GREEENG.
Dengan mengendarai motornya, Faza menuju ke salah satu restoran untuk membelikan makanan untuk Dira beserta keluarganya. Mata tajamnya terus mengawasi rumah makan hingga akhirnya sampai juga di restoran yang memiliki menu makanan sesuai untuk Dira.
“Take away atau makan disini, Mas?” tanya pelayan restoran melihat kedatangan Faza.
“Take away, Mbak.”
“Pesan makanan apa?”
“Gurame asam manis , 1 sup kimlo, 1 ekor ayam bakar madu, sama 1 porsi bubur Manado.”
“Pakai nasi, Mas?”
“Dua porsi.”
“Saya ulangi pesanannya ya, Mas. Ada gurame asam manis, sup kimlo, 1 ekor ayam bakar madu, 1 porsi bubur Manado, dan 2 porsi nasi. Total semuanya 400 ribu rupiah.”
“Ini uangnya, Mbak.”
“Uangnya pas. Ini struknya.”
Setelah melakukan pembayaran. Faza duduk mengawasi sekitar sambil menunggu pesanannya. Tidak butuh waktu lama, makanan pesanan sudah siap.
“Ini pesanannya, Mas.”
“Makasih banyak, Mbak.”
GREEENG!
Suara khas motor Faza mengalihkan perhatian seseorang.
Dari dalam restoran, Sisil yang akan pergi ke toilet. Diam terpaku sambil mengawasi parkiran.
“Lihatin siapa sih, Sil? Sampai seperti itu lihatnya,” tanya teman Sisil yang juga ikut menoleh ke parkiran.
“Sil!” panggil temannya lagi.
Tanpa menanggapi temannya, Sisil buru-buru keluar dari restoran. Jelas dirinya ingin memastikan jika penglihatannya tidak salah.
“Eh, Sil. Mau pergi kemana, lo?”
Keadaan lalu lintas Jakarta yang padat dengan kemacetan. Sedangkan Faza mengendarai motor. Sisil memilih mencari ojek pengkolan.
“Sisil!” teriak temannya berlari menghampiri Sisil. Yang kini sudah menyebrang jalan.
“Bang, putar balik. Kejar motor itu!”
“Tapi, Mbak.”
“Berapapun biayanya akan aku bayar,” potong cepat Sisil.
“Siap, Mbak.”
Dalam keadaan jantung bergemuruh, Sisil membuntuti Faza. Beberapa hari tidak bertemu Faza membuat Sisil rindu berat.
“Dia pakai seragam, tapi gak masuk. Mau pergi kemana dia?” gumam Sisil bertanya-tanya tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Faza.
Setelah melewati jalan besar. Motor Faza kini masuk ke pemukiman padat pinggiran kota Jakarta.
“Tempat ini?” gumam Sisil.
Sisil langsung mengepal kuat tangannya saat tahu arah tujuan Faza. Amarahnya meletup-letup saat dirinya tahu sosok perempuan yang akan didatangi Faza.
Jelas dia tahu betul rumah siapa itu. Karena dirinya sudah menandai apapun berhubungan dengan perempuan yang tidak pernah ia sukai.
“Berhenti disini saja, Pak,” pinta Sisil menekan suaranya saat berada di ujung gang.
“Siap, Mbak.”
Dari arah kejauhan Sisil melihat motor Faza berhenti tepat di depan pagar kediaman Dira. Ya, alamat yang dituju Faza adalah kediaman Dira.
“Dasar perempuan murahan. Berani sekali kamu merebut Fazaku. Lihat saja, aku tidak akan pernah tinggal diam. Aku akan membuatmu hancur-sehancurnya,” geram Sisil dengan keadaan mata memerah menahan tangis.
Dengan keadaan gemeteran Sisil merogoh saku bajunya untuk mengambil handphone miliknya. Tujuannya jelas menghubungi seseorang memperlancar aksinya.
Sangking tangannya gemetar hebat menahan amarah melihat Faza lebih memilih perempuan miskin seperti Dira. Tangannya tidak mampu meskipun hanya menggenggam handphone.
Teg!
Dalam keadaan susah payah Sisil menghubungi seseorang. Meskipun tangannya masih terasa kaku.
“Lakukan secepatnya!” perintah Sisil pada sosok dibalik telepon saat dirinya mampu menggenggam handphone miliknya.
Ceritanya keren 👍