.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Semut, Istana Gua, dan Cara Menembus Formasi Sambil Rebahan
Kabar tentang Gao Peng yang lari tunggang-langgang dari Hutan Kuno setelah menyaksikan seekor Beruang Belati "terbang" akibat tendangan sandal kayu, menyebar seperti api yang menyiram minyak. Di hari kedua turnamen, radius satu mil di sekeliling tebing tempat Ji Huang berkemah mendadak menjadi zona terlarang bagi seluruh murid baru.
Namun, target Ji Huang sejak awal bukanlah mengumpulkan poin buruan, melainkan merebut kembali Cincin Giok Bulan Sabit milik ibunya. Dan peninggalan tersebut disimpan di titik terdalam hutan: Istana Gua Karang Jiwa, sebuah labirin bawah tanah yang dilindungi oleh formasi ilusi tingkat tinggi kekaisaran.
"Tuan Muda, menurut peta yang dijatuhkan oleh salah satu pengikut Senior Gao kemarin, pintu masuk gua ada di balik air terjun hitam di ujung lembah," ucap Xiao Mei sembari melipat tikar piknik.
Ji Huang yang sedang duduk bersandar di kursi malas lipatnya menghela napas berat. "Berjalan ke air terjun hitam itu membutuhkan waktu setidaknya dua jam. Xiao Mei, apakah tidak ada metode transportasi yang lebih hemat energi di hutan ini?"
Tepat setelah kalimat itu selesai, semak-semak di dekat mereka berdesir. Bukannya monster raksasa, yang keluar justru rombongan Semut Baja Spiritual Lapis ke-3 berukuran sebesar kambing muda. Monster-monster ini biasanya sangat agresif dan hobi mengunyah zirah para murid.
Ji Huang melirik mereka malas. Dia tidak menggunakan Niat Pedang untuk membunuh, melainkan melepaskan segel tipis aura penundukan binatang purba dari sisa-sisa jiwa Dewa Pedang-nya.
Wush.
Ratusan Semut Baja itu seketika berhenti bergerak. Antena mereka bergetar hebat sebelum akhirnya seluruh koloni tersebut bersujud rapi di depan sandal kayu Ji Huang, seolah-olah baru saja bertemu dengan Kaisar Serangga dari zaman kuno.
"Nah, ini baru namanya harmoni alam," ucap Ji Huang polos. Dia melangkah lempeng, merebahkan tubuhnya di atas punggung semut pemimpin yang memiliki karapas paling datar dan lebar, menjadikan selimut bebeknya sebagai bantalan kepalanya. "Xiao Mei, naiklah ke semut di sebelahmu. Katakan pada mereka untuk merangkak dengan kecepatan konstan menuju air terjun hitam. Jangan sampai ada guncangan yang merusak ritme relaksasiku."
Maka, dimulailah perjalanan paling absurd dalam sejarah akademi: seorang murid jalur khusus menembus hutan berbahaya dengan cara berbaring miring di atas punggung monster semut, melaju melewati kerumunan murid lain yang sedang bertaruh nyawa melawan serigala hutan.
Satu jam kemudian, rombongan aliansi semut itu tiba di depan Istana Gua Karang Jiwa. Tempat ini sudah dipenuhi oleh puluhan murid elit dari faksi inti Klan Ye dan para instruktur muda, termasuk Mu Ning’er yang sedang berdiri di depan pintu masuk gua dengan wajah frustrasi.
Pintu masuk gua tersebut ditutupi oleh sebuah tirai cahaya pembalik ruang bernama Formasi Sembilan Gerhana. Ini adalah formasi pengunci tingkat tinggi yang sengaja dipasang dekan akademi untuk menguji kemampuan pemecahan matriks para murid baru.
"Instruktur Mu, formasi ini terlalu rumit!" seru salah seorang murid elit klan Ye yang berkeringat dingin setelah mencoba memecahkan kode formasi selama tiga jam. "Setiap kali kami mengalirkan Qi, elemen formasinya berubah secara acak!"
Mu Ning’er memijat keningnya. "Formasi ini membutuhkan perhitungan simetri yang absolut dan..." Kalimat Ning’er terhenti saat mendengar suara langkah kaki beritme aneh.
Krek... krek... krek...
Semua orang menoleh dan seketika membeku. Mereka melihat Ji Huang baru saja tiba, masih dalam posisi berbaring nyaman di atas punggung Semut Baja raksasa, memegang secangkir teh herbal yang disuguhkan Xiao Mei.
"Ji Huang?!" Mu Ning’er berteriak, matanya membelalak. "Bagaimana bisa kamu menjinakkan koloni Semut Baja untuk menjadi kasur berjalanmu?! Dan untuk apa kamu ke sini? Ini adalah area formasi terlarang, bukan tempat untuk memperluas area tidur siangmu!"
Ji Huang menyuruh semutnya berhenti tepat tiga meter di depan tirai cahaya formasi. Dia meregangkan tubuhnya malas tanpa niat untuk turun.
"Instruktur Mu, aku ke sini hanya untuk mengambil cincin yang kamu ceritakan kemarin," ucap Ji Huang lempeng. "Pintu gerbang cahaya ini terlalu berkilau dan merusak pemandangan mataku. Bisakah kalian menyingkir sebentar?"
"Jangan sombong, murid baru!" Zhou Yan, yang juga ada di sana dengan wajah yang masih agak patah hati, maju dengan geram. "Formasi Sembilan Gerhana ini tidak bisa ditembus dengan keberuntungan atau jimat! Bahkan Instruktur Mu pun membutuhkan waktu untuk menghitung titik baliknya. Jangankan masuk, menyentuhnya saja bisa membuat meridianmu hancur!"
Ji Huang mengabaikan peringatan Zhou Yan. Dia menatap matriks cahaya yang berputar-putar di depannya dengan pandangan bosan. Bagi seorang mantan Dewa Pedang yang pernah mematahkan formasi pelindung bintang di Alam Atas hanya dengan satu hembusan napas, Formasi Sembilan Gerhana ini tak lebih dari sekadar mainan anak kecil yang penuh dengan cacat struktural.
Mencari mata formasi dengan cara berdiri dan menghitung rumus matematika adalah hal yang terlalu melelahkan bagi Ji Huang.
Dia tetap berbaring miring di atas punggung semut. Tangan kanannya perlahan keluar dari balik selimut bebek, lalu dia menjentikkan jari telunjuknya ke arah udara kosong di depan tirai cahaya.
Pletik.
Sebuah gelombang resonansi frekuensi mikro yang sangat murni melesat dari ujung jarinya. Gelombang itu tidak menghancurkan formasi secara kasar, melainkan menyusup ke dalam titik cacat paling krusial dari matriks energi tersebut—sebuah metode pemecahan formasi paling malas yang disebut Akapunktur Energi.
Zzzz... Pop!
Tirai cahaya raksasa yang mengunci pintu gua selama berhari-hari itu mendadak bergetar hebat, meredup dalam sekejap, lalu melarut ke dalam udara seperti garam yang disiram air panas. Pintu gua terbuka lebar tanpa ada satu pun ledakan balik.
Hening.
Seluruh area di depan gua seketika berubah menjadi zona bisu. Zhou Yan menatap pintu gua yang kosong dengan tangan gemetar, sementara Mu Ning’er hampir saja menjatuhkan kompas formasi mahalnya ke tanah.
Menghancurkan formasi tingkat tinggi kekaisaran hanya dengan satu jentikan jari... sambil tetap rebahan di atas punggung semut?! Ini bukan lagi sekadar jenius, ini adalah penghinaan terhadap seluruh ilmu pengetahuan formasi yang dipelajari Ning'er selama belasan tahun!
"Xiao Mei, suruh semutnya masuk ke dalam," perintah Ji Huang polos, menarik kembali selimut bebeknya hingga ke leher saat semut tunggangannya mulai merangkak memasuki kegelapan gua. "Udara di dalam gua sepertinya cukup dingin dan sejuk. Sangat cocok untuk melanjutkan tidur siang kuartal kedua kita."
Ji Huang melaju santai memasuki istana gua, meninggalkan puluhan murid elit dan instruktur akademi yang masih berdiri mematung dengan otak yang mengalami kegagalan fungsi massal.