NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perisai Dingin

Fajar yang abu-abu menggantung rendah di atas langit pesantren, namun hawa panas kemarahan massa terasa membakar di halaman tengah. Shanum masih berlutut, bahunya didorong oleh salah satu pengurus pondok hingga ia nyaris terjungkal, sementara sumpah serapah tentang “pelacur” dan “wanita biadab” terus dilemparkan ke arahnya.

Tepat saat sebuah tangan warga hendak menarik hijab Shanum secara kasar, sesosok pria dengan jubah putih bersih membelah kerumunan. Rasyid masuk ke dalam lingkaran. Ia tidak langsung memeluk Shanum, namun ia berdiri tegak tepat di depan istrinya, menjadikan punggungnya sebagai perisai yang dingin dan tak tertembus.

“Cukup!” suara Rasyid tidak keras, namun frekuensinya yang rendah dan penuh wibawa seketika membungkam seluruh halaman.

Rasyid menoleh sedikit ke arah ibunya yang masih berdiri di samping Najwa. “Ibu ingin bukti siapa yang memfitnah dan siapa yang difitnah? Mari kita bicara dengan fakta yang digali dari dasar tanah, bukan dari mulut yang penuh air mata buaya.”

Zaki muncul dari kegelapan di belakang masjid. Ia berjalan dengan langkah berat, membawa sebuah kotak kayu yang dibungkus kain hitam. Saat ia sampai di tengah lingkaran, Zaki meletakkan kotak itu di hadapan semua orang. Bau amis maut yang samar mulai menguar, mengalahkan wangi melati yang selama ini menjadi ciri khas Najwa.

“Apa itu, Rasyid?” tanya Nyai Salamah dengan suara bergetar.

“Sesuatu yang dikubur Najwa di belakang asramanya tadi malam,” jawab Rasyid dingin. Ia memberi isyarat pada orang suruhannya. Dalam hitungan detik, sebuah layar proyektor darurat dibentangkan di dinding aula pesantren yang putih. Sebuah infocus dinyalakan.

Layar itu menampilkan rekaman dari ponsel lama. Meski sedikit blur dan berguncang, pemandangannya sangat jelas: Najwa yang sedang mengerang di lantai kamar mandi, Najwa yang menenggelamkan sesuatu ke bak mandi, dan Najwa yang menyeret sebuah bungkusan ke bawah pohon bambu.

Halaman pesantren yang tadinya riuh mendadak sesunyi kuburan.

“Itu fitnah! Itu rekayasa digital!” Najwa menjerit histeris. Ia bersimpuh di kaki Nyai Salamah, wajahnya yang tadi pucat kini tampak mengerikan karena ketakutan. “Ibu, percayalah padaku! Shanum yang mengedit video itu! Dia ingin menghancurkanku!”

Rasyid menatap Najwa dengan tatapan yang sangat menghina. “Jika rekaman ini rekayasa, maka tubuhmu tidak akan bisa berbohong. Aku sudah memanggil dokter perempuan dari klinik depan. Jika kamu jujur, biarkan dia memeriksamu sekarang juga.”

Najwa membeku. Ia menoleh ke arah Nyai Salamah, mencari pembelaan terakhir. Nyai Salamah yang harga dirinya sudah hancur lebur menatap Najwa dengan mata berkaca-kaca. “Najwa... jika kamu memang benar, biarlah diperiksa. Agar tidak ada salah paham lagi.”

“Tidak... tidak mau! Ibu, tolong!” Najwa mencoba lari, namun beberapa santriwati senior atas perintah Rasyid langsung menahannya.

Sepuluh menit pemeriksaan di dalam ruangan darurat itu terasa seperti satu abad bagi semua yang menunggu. Saat dokter keluar, wajahnya tampak sangat masygul.

“Pasien memang baru saja menggugurkan kandungannya secara paksa,” ucap sang dokter dengan suara jernih. “Dan kondisi rahimnya rusak parah karena ia langsung melakukan hubungan intim beberapa jam setelahnya. Pendarahan di dalamnya sangat berisiko.”

Seketika, seluruh mata tertuju pada seorang lelaki preman yang masih terduduk lemas di teras rumah joglo, menatap drama itu dengan sisa-sisa kesadaran yang teler.

“Bajingan kau, Shanum!” Najwa berteriak parau, seluruh topengnya kini sudah hancur total. “Ini semua perangkapmu! Kau yang menjebakku!”

Shanum perlahan bangkit berdiri. Ia merapikan pakaiannya, menepis debu di lututnya, lalu berjalan mendekat ke arah Najwa. Wajahnya tenang, hampir tanpa beban.

“Semua ini memang perangkap yang aku buat, Najwa,” ucap Shanum pelan, namun suaranya terdengar hingga ke barisan belakang santri. “Tapi tikus tidak akan terjebak perangkap jika dia tidak berniat masuk ke dalamnya untuk mencuri. Dan jika aku berbohong... jasad bayi yang membiru di dalam kotak itu tidak mungkin bisa direkayasa.”

Si lelaki preman di teras tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, suaranya parau terkena pengaruh obat. “Permainanmu sungguh hebat, Manis... sama seperti pelacur profesional yang pernah kutiduri di pasar dulu. Ah, nikmat sekali malam tadi...”

Massa mulai mengamuk. Sumpah serapah kini berbalik arah kepada Najwa. Beberapa warga yang merasa tertipu dengan citra suci Najwa mulai merangsek maju, hendak melayangkan pukulan dan tarikan.

“Ganyang pelacur palsu itu!”

“Usir dia! Bakar!”

Rasyid segera mengangkat tangannya, menghalangi massa yang beringas. “Berhenti! Jangan kotori tangan kalian dengan darah wanita ini di tanah suci pesantren kita.”

Rasyid menatap Najwa yang kini terduduk lemas di tanah, dikelilingi oleh jasad bayinya sendiri. “Demi menghormati guru besarku, ayahmu yang terhormat, aku tidak akan menyerahkanmu ke polisi di sini. Kamu akan dipulangkan ke rumahmu hari ini juga. Kamu akan diantar bersama jasad bayimu dan seluruh rekaman bukti ini menuju pintu rumah ayahmu. Biarlah beliau yang mengadilimu dengan hukumannya sendiri.”

“Tidakkk! Mas Rasyid, tolong! Jangan pulangkan aku! Ayah akan membunuhku!” Najwa meratap, namun Rasyid sudah memalingkan wajah.

Rasyid melangkah mendekati Shanum dan Nyai Salamah yang sudah tertunduk malu tak berdaya. “Ibu, mari masuk ke dalam,” ucap Rasyid singkat. Ia merangkul bahu Shanum dengan perisai tangannya yang dingin, membawa istrinya masuk ke rumah joglo melewati kerumunan yang kini mulai bubar dengan rasa ngeri.

Zaki bergerak cepat. Ia memberikan sejumlah uang kompensasi kepada si preman agar pria itu tutup mulut dan segera pergi dari area pesantren. Sementara itu, Najwa diseret masuk ke dalam mobil oleh beberapa orang suruhan Zaki, bersama kotak kayu yang menjadi saksi bisu kejahatannya.

Di balik pohon beringin besar yang gelap, Yusuf menyaksikan seluruh kejadian itu dengan napas tertahan. Ia melihat bagaimana Shanum menghancurkan musuhnya tanpa menyentuh seujung kuku pun, dan bagaimana Rasyid mulai menjadi pelindung yang buta bagi wanita itu.

Yusuf bergidik ngeri, merapatkan jaketnya. “Gila... Shanum benar-benar singa yang mengerikan,” gumamnya dengan suara sangat tipis. “Aku harus lebih hati-hati. Jika tidak, rencanaku bisa hancur sebelum dimulai. Aku tidak boleh membiarkan Rasyid menyadari siapa aku yang sebenarnya...”

Yusuf segera menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan halaman pesantren yang kini mulai disinari cahaya fajar yang pucat, menyisakan luka yang menganga bagi semua orang di sana.

1
Dwiwinarni
ternyata najwa tidak sebaik semua orang kira, najwa dengan kejamnya membunuhnya bayinya sendiri....
Dwiwinarni
Rasyid dilema satu sisi istrinya, dan satu sisi ibu kandungnya tidak mau menyakiti hatinya ibunya...
Dwiwinarni
saya suka karya author ini sangat menarik dari luar biasa....
Dwiwinarni: lanjut kakak😃
total 4 replies
Dwiwinarni
kebusukan najwa terbongkar juga, bidadari palsu🤭
Dwiwinarni
cantik iya wajahnya tapi hatinya tidak🤭
Dwiwinarni
rasyid jaga baik2 shanum banyak mengincarnya...
Dwiwinarni
ternyata shanum seorang putri dari turkey
Dwiwinarni
akhirnya muncul juga tuan bajak laut...
Dwiwinarni
masih jadi misterius simbol2 ditubuh shanum...
Dwiwinarni
shanum telah jatuh cinta sama mas kyai...
Dwiwinarni
mas kyai tidak fokus shanum tiba-tiba menciumnya🤭
Dwiwinarni
meraka hanya bisa menghakimi shanum aja...
Dwiwinarni
jahat banget saudaranya rasyid...
Dwiwinarni
cie-cie mas kyai bisa cemburu juga ya🤭
Dwiwinarni
mas kyai dah mulai bersikap baik...
Dwiwinarni
Mereka datang untuk menjemputmu shanum😃
Lyynn: bisa jadi tuhh
total 1 replies
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarangan mungkin anak horang kaya...
Dwiwinarni: wkwkwkwk🤣🤣🤣
total 2 replies
Dwiwinarni
kasian bingit nasibmu malang bingit shanum...
Dwiwinarni
Shanum bukan orang sembarang kayaknya...
Dwiwinarni
Bagus rasyid sangat gercap menyelidiki Siapakah dalangnya, yg membuat shanum mabuk berat sampai nyasar kekamar rasyid..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!