Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diroasting Jayden cs
Jayden menggiring Baim dan Abiyan setelah mereka selesai meeting, pergi ke ruangannya.
"Aku sudah mendapatkan kiriman cctvnya," ucapnya sambil membuka video itu di ipadnya.
"Ooh..... Oke." Abiyan duduk di samping kanan Baim. Sedangkan Jayden di samping kirinya.
Awalnya mereka mulai melihat rekaman itu dengan santai.
"Takut banget dia sudah telat hampir sejam," tawa Jayden melihat Dave yang buru buru keluar dari mobil.
"Anak lo tetap cool aja, Im," cuit Abiyan. Padahal anak Jayden dan Jennifer sudah berlarian ngga sabar menghampiri om jomblonya.
Baim hanya tersenyum saja.
"Di sini aku merasa Miya lebih sayang Dave dari pada aku," cibir Jayden dalam tawanya.
Abiyan dan Baim tertawa pelan menanggapinya.
Tapi ketika melihat ekspresi Dave yang tanpak aneh waktu melihat Rhea, Abiyan cs mulai mengamati dengan lebih serius dan jantung yang berdebar cepat.
Sunyi, hanya terdengar deru nafas pelan mereka.
Keheningan yang tercipta ketika menonton video rekaman itu hingga selesai, dibuyarkan oleh pertanyaan Jayden.
"Menurut kalian, ada yang aneh, ngga, dengan video rekaman cctv ini?" tanya Jayden sambil melihat wajah Abiyan dan Baim bergantian.
Dia merasa sangat curiga dengan tindak tanduk Dave di video cctv itu.
Abiyan dan Baim saling tatap.
"Mereka udah saling kenal?"
Abiyan dan Baim saling tatap lagi karena mereka tadi berucap bersamaan.
"Im, kamu juga merasa begitu, kan?" tanya Abiyan. Tawa dan senyum Dave yang mendadak menyurut dan tertangkap di kamera, membuat Abiyan yakin, saat itu Dave kaget melihat Rhea. Sayangnya tidak ada rekaman yang menyorot ekspresi wajah Rhea saat itu, apakah kaget juga atau enggak. Karena guru anak anak mereka memunggungi kamera cctv.
Baim mengangguk pelan.
"Itu juga yang aku pikirkan," sela Jayden.
"Sepertinya mereka sudah saling kenal dan hubungan mereka kurang baik," sahut Baim. Dia melihat dengan jelas tatap nakal Dave pada Rhea. Walaupun Rhea memunggungi mereka yang melihat video cctv ini, tapi Baim yakin ke arah mana tatapan nakal mata Dave terhenti sesaat tadi.
Dia juga yakin, Jayden dan Abiyan pasti menyadarinya. Mereka suhunya kalo untuk tatapan seperti itu.
Dasar. Nikah ngga mau, tapi ngelihat itu suka, cibir Baim dalam hati, mencemooh Dave.
"Kapan mereka kenalnya, ya?" Abiyan menatap kedua sepupunya. Dia yakin sekali dengan dugaannya.
"Mungkin waktu di Surabaya?" cetus Jayden.
"Mungkin saja." Baim ikut menebak karena Dave beberapa hari berada di Surabaya. Rhea juga tinggal di Surabaya.
Hening.
"Kenapa Dave terlihat ilfeel?" Abiyan masih bingung merekatkan kepingan fuzzlenya.
"Lebih baik kita tanya Dave langsung," putus Jayden sambil menyimpan ipadnya.
"Dia akan sulit mengaku," tawa Abiyan ngakak.
"Ngga apa apa kita tanya tanya dia dulu sambil melihat reaksinya," usul Baim.
Jayden dan Abiyan tidak langsung menjawab. Mereka saling tatap sejenak.
"Oke. Kapan kita menemui dia?" tanya Jayden akhirnya setuju.
"Sekarang aja kita ke perusahaannya. Aku sudah nggak sabar," jawab Abiyan sambil bangkit dari duduknya.
"Anak anak kita juga sudah diantar ke rumah," tukas Baim. Dia sudah mendapat notif dari Gisela-istrinya.
"Oke," jawab Jayden. Seringai tipis muncul di wajahnya.
Sebentar lagi si jomblo akan punya gandengan tetap, tawanya dalam hati.
*
*
*
Dave baru aja mau pulang setelah urusan kantornya beres. Dia akan ke rumah opanya, Hendy Permana. Opanya memintanya datang karena dengan terus terang Opanya berkata akan mengenalkannya dengan cucu temannya.
Perjodohan lagi, keluhnya dalam hati. Padahal sudah setengah tahun ini dia merasa tenang karena opanya tidak melakukannya lagi.
"Opa udah sakit sakitan, Dave. Sebelum opa masuk icu, opa mau melihat kamu nikah dulu," ucap Opa Hendy di telpon tadi.
"Opa ngomongnya ngga benar," koreksi Dave. Alasan opanya selalu membuat dia tidak bisa menolak keinginannya.
"Loh, opa ini udah tua. Kapan aja bisa ketemu oma kamu," ngeyel Hendy.
Saat itu Dave hanya bisa menghela nafas saja setelah mengiyakan keinginan opanya untuk kesekian kalinya.
"Mau pulang?" tanya Abiyan begitu pintu dibuka olehnya. Dave sedang berdiri sambil menggantungkan tas ipadnya ke bahu.
Dave agak terkejut dengan kedatangan ketiga kerabatnya yang tanpa kabar.
Kekesalan yang dipendamnya muncul lagi. Bayangkan saja, ternyata istri Jayden, istri Baim dan Jennifer sedang ada di rumah.
Dia dibohongin demi niat mereka mempertemukannya dengan Rhea.
"Ya, ke rumah opa," jawab Dave datar.
"Oooh, ngga ke apartemen?" Baim menutup pintu setelah Jayden masuk.
Dave menatap ketiga kerabatnya dengan curiga. Dia hapal kelakuan mereka.
"Nggak. Opa.mau ngenalin cucu temannya."
Jayden cs tertawa tertahan.
Mereka pernah mengalaminya.
"Ada yang ingin kalian bicarakan?" Dave meletakkan tas ipadnya ke atas meja.
"Hanya ingin menunjukkan ini." Jayden meletakkan ipadnya ke atas meja di depan Dave.
Dave agak terkejut ketika tau yang diperlihatkan kerabatnya. Sesaat jantungnya berdebar keras. Dia lupa ada kamera cctv di parkiran kindergarten .
Pasti sudah ditonton, ya, batinnya lemas. Dave yakin, karena itu mereka bertiga datang ke perusahaannya. Mereka sudah melihat ada sesuatu yang janggal di antara dia dan Rhea.di sana.
"Kamu kenalkan sama Bu Rhea ini?" tuduh Abiyan langsung.
Dave ngga menyahut.
"Tatapanmu aneh saat melihatnya. Kamu kaget." Jayden juga ikut menuduh.
"Kalian kenal di Surabaya?" tanya Baim memulai interogasi.
Dave mencoba tetap santai.
"Ya, aku pernah lihat dia di club di Surabaya."
"Di club?" cetus Abiyan ngga terkejut.
Dave mengangguk.
"Makanya aku kaget. Dia, kok, jadi guru tk. Memang, sih, rekom tante Puspa," jawabnya dengan tetap menyimpan sebagian rahasia pentingnya.
Baim merasa ada yang aneh dengan jawaban tenang Dave.
"Sempat buka kamar?" tuduh Abiyan dengan wajah jahilnya.
Dave tertawa pelan.
"Belum sempat," jawab Dave jujur. Dia sempat mengajak memang, tapi Rhea menolak.
Abiyan, Jayden dan Baim nyengir.
"Jadi kamu masih penasaran, sampai segitunya melihat bagian depannya?" ejek Jayden meremehkan.
Dave memicingkan matanya.
Apaan, sih.
"Jodohmu udah di depan mata, Dave," decak Abiyan.
Dave masih meneruskan tawanya tapi dalam pikirannya sibuk memilih kalimat kalimat untuk menjatuhkan Rhea agar ketiga kerabatnya tidak curiga.
'Kalian ngga apa apa kalo guru yang membuka otak emas anak kalian suka clubbing?"
Kening Jayden mengernyit.
"Setidaknya dia tau efek buruk clubbing," jawab Jayden santai.
Jawaban apa itu, dengus Dave kesal dalam hati.
Abiyan dan Baim tergelak mendengarnya.
"Dia bisa gabung dengan kita tanpa rasa canggung," sela Abiyan tanpa beban.
"Pas jadi pasangan kamu,' pungkas Jayden.
"Bilang saja sama Opa Hendy, kamu ngga perlu dijodohkan lagi," tukas Baim di antara tawa berderainya.
Huufffhhhh.....
Dave menghembuskan nafasnya.
Dia sudah gagal memberikan stigma buruk untuk Rhea. Ketiga kerabatnya malah mendukungnya dengan Rhea.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk