Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10. Serangan mendadak
Pagi di Unit 402 biasanya dimulai dengan suara mesin kopi otomatis milik Saga yang berbunyi dengan ritme yang sangat teratur. Namun, pagi ini, simfoni keteraturan itu digantikan oleh denting wajan yang beradu dengan sutil dan aroma bawang putih yang menusuk hingga ke dalam mimpi.
Saga terbangun dengan jantung berdebar. Hal terakhir yang ia ingat adalah kaki Nala yang melintang di perutnya. Ia segera bangkit, merapikan sprei secepat kilat—seolah-olah dengan menghilangkan bekas kerutan, ia bisa menghapus jejak memalukan semalam—lalu keluar kamar dengan wajah "arsitek profesional"-nya.
Namun, di meja makan, pemandangan yang menantinya jauh lebih mengerikan daripada reruntuhan gedung pencakar langit.
Tante Sofia sedang berdiri dengan celemek bunga-bunga yang entah didapat dari mana, sementara Nala duduk manis dengan daster ayam jagonya, rambutnya diikat asal-asalan menyerupai sarang burung yang baru saja diterjang badai.
"Selamat pagi, anak Mama!" seru Tante Sofia ceria, tangannya lincah menyendokkan nasi goreng mentega yang mengepul ke atas piring.
Saga duduk di kursinya dengan gerakan kaku.
"Pagi, Ma."
"Nala, ayo makan yang banyak. Mama buatkan porsi spesial untukmu," Tante Sofia menyodorkan piring setinggi gunung ke hadapan Nala.
"Kamu butuh banyak energi. Menghadapi Saga setiap hari itu pasti menguras kalori, kan?"
Nala nyengir lebar, matanya berbinar melihat telur mata sapi yang pinggirannya garing sempurna—tipe makanan yang sangat dilarang Saga dimakan di ruang tamu karena "risiko remahannya bisa mengundang koloni semut".
"Makasih, Tante! Tante emang yang terbaik. Mas Saga cuma pernah kasih saya sereal hambar yang rasanya kayak makan kardus."
Saga melirik Nala tajam. Itu sereal gandum organik premium, Nala! teriaknya dalam hati.
Tante Sofia mendadak menghentikan aktivitasnya. Ia meletakkan sutil, melepas celemek, dan duduk tepat di hadapan mereka dengan ekspresi yang berubah drastis—dari koki ceria menjadi hakim agung yang siap membacakan vonis.
"Nala, Sayang..." suara Tante Sofia mendadak lembut, namun memiliki frekuensi yang membuat bulu kuduk Saga berdiri.
"Mama perhatikan dari kemarin, kamu masih panggil Mama dengan sebutan 'Tante'."
Nala yang sedang mengunyah kerupuk langsung membeku. "Eh, iya... kan memang—"
"Tidak ada 'Tante-tantean' lagi di rumah ini," potong Tante Sofia telak. Ia menggenggam tangan Nala yang berminyak karena kerupuk dengan penuh kasih sayang.
"Mulai detik ini, panggil Mama. Anggap saja ini latihan menjalani kehidupan sebagai menantu mama."
Saga tersedak air putih yang baru saja ia sesap.
"Uhuk! Ma, bukannya itu terlalu cepat? Nala butuh waktu untuk... menyesuaikan lidahnya."
"Lidah apa yang perlu disesuaikan, Saga?" Tante Sofia beralih menatap putranya dengan tatapan maut.
"Mama sudah lihat sendiri tadi pagi. Kalian tidur seranjang, berpelukan seperti koala kehilangan induknya. Di zaman Mama, posisi begitu sudah sah disebut pasangan dunia akhirat! Mama tidak mau tahu, kalian harus segera menikah."
MENIKAH.
Kata itu menghantam kepala Saga seperti palu godam. Pikirannya langsung meluncur ke skenario terburuk: Nala akan tinggal di sini selamanya. Nala akan membawa lebih banyak daster ayam jago.
Nala akan menaruh handuk basah di atas maket stadion nasionalnya. Dan yang paling mengerikan...
"Mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu," lanjut Tante Sofia dengan binar mata yang sanggup menerangi seluruh Jakarta.
"Mama sudah bayangkan, nanti di sudut ruang tamu yang kosong itu, kita taruh boks bayi. Oh, dan selotip hitammu itu, Saga? Bagus juga kalau nanti dipakai buat nempelin foto-foto USG di dinding!"
Saga merasa dunianya gelap seketika.
"Cucu? Ma, apartemen ini adalah area steril! Bayi itu... bayi itu tidak bisa dikontrol! Mereka mengeluarkan cairan dari segala lubang tubuh mereka tanpa jadwal yang jelas!"
Nala, yang awalnya panik, kini malah ingin tertawa melihat wajah Saga yang sudah pucat pasi menyerupai warna tembok apartemennya. Ia memutuskan untuk sedikit "mengompori" situasi.
"Iya sih, Ma. Mas Saga emang agak khawatir soal kebersihan. Tapi Nala sih setuju-setuju aja. Bayi kan lucu, kayak... mainan hidup," sahut Nala sambil melirik Saga jahil.
"Tuh, lihat! Nala saja sudah siap jadi ibu!" Tante Sofia semakin bersemangat. "Mama sudah siapkan daftar gedung, pilihan katering yang bebas MSG, sampai vendor suvenir.
Kalian tinggal pilih tanggal, atau Mama yang pilihkan menurut hitungan primbon?"
Saga menoleh ke arah Nala, matanya memberi kode darurat
'Tolong-hentikan-ini-sekarang!', tapi Nala justru sibuk mengunyah nasi goreng dengan nikmat.
"Ma, ini masalah prinsip. Kami butuh waktu untuk... memantapkan hati," Saga mencoba mencari alasan paling klise di dunia.
"Hati apa lagi yang mau dimantapkan kalau badannya sudah nempel begitu tadi pagi?" Tante Sofia berdiri, lalu memeluk kepala Nala dari belakang.
"Pokoknya, Nala... coba panggil Mama sekarang. Mama ingin dengar."
Nala menelan nasi di mulutnya dengan susah payah. Ia menatap Tante Sofia yang penuh harap, lalu melirik Saga yang tampak seperti orang yang baru saja kehilangan harta warisan. Ada rasa kasihan, tapi godaan untuk menjahili Saga jauh lebih besar.
"Iya... Ma-ma," ucap Nala dengan suara kecil yang dipaksakan.
Tante Sofia memekik kegirangan, suaranya melengking hingga mungkin terdengar sampai ke Unit 401 di bawah mereka.
"Aduh! Menantu kesayangan Mama! Saga, dengar itu? Nala sudah sah jadi anak Mama! Sekarang, cepat habiskan makanan kalian. Kita akan buka katalog gaun pengantin di laptop Mama!"
Saga lemas. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan pasrah. Garis kedaulatannya bukan hanya runtuh, tapi sekarang wilayahnya sudah dijajah secara total oleh kekuatan koalisi antara Ibunya sendiri dan seorang gadis berantakan yang gemar makan keripik di tempat tidur.
Di sela-sela kegirangan Tante Sofia, Nala diam-diam menjulurkan lidahnya ke arah Saga dan membisikkan kata tanpa suara: "Mampus kita."
Saga hanya bisa memejamkan mata. Bayangan cucu, popok bayi di atas meja arsitek, dan panggilan "Mama" dari mulut Nala berputar-putar di kepalanya seperti komidi putar yang rusak. Malam ini, ia harus melakukan rapat darurat dengan Nala, atau Unit 402 akan berubah menjadi pelaminan dalam waktu kurang dari seminggu.