Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Ponsel di dasbor mobil Emirhan bergetar hebat, memecah keheningan yang menyesakkan setelah kepergian Aliya.
Nama Kabir, asisten sekaligus orang kepercayaannya, berkedip di layar.
Emirhan menjawabnya dengan nada yang sangat tidak bersahabat.
"Ada apa, Kabir? Aku sedang tidak ingin diganggu," desis Emirhan tajam.
"Maaf, Tuan Emirhan, tapi ini mendesak," suara Kabir terdengar cemas di seberang sana. "Dewa komisaris dan investor dari London datang tiba-tiba. Mereka meminta meeting darurat sekarang juga terkait merger perusahaan. Jika Anda tidak hadir, posisi kita dalam kontrak ini bisa terancam."
Emirhan memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Ia melirik ke arah gedung sekolah, tempat Aliya berada. Hatinya terbelah.
Di satu sisi, ia ingin menunggu Aliya keluar dan meminta maaf atas bentakannya tadi pagi.
Di sisi lain, kekaisaran bisnis Karadağ yang dibangun ayahnya sedang dipertaruhkan.
"Tuan? Anda masih di sana?" tanya Kabir memastikan.
"Siapkan ruang rapat," perintah Emirhan akhirnya dengan suara berat. "Aku akan sampai dalam lima belas menit."
Emirhan menutup teleponnya dengan kasar. Ia menatap pintu gerbang sekolah Aliya sekali lagi dengan tatapan penuh rasa bersalah sekaligus frustrasi.
Ia terpaksa meninggalkan sekolah itu, meninggalkan Aliya tanpa pengawasan, demi kewajiban yang selalu mengikat lehernya.
"Maafkan aku, Aliya," gumamnya pelan sebelum menginjak pedal gas dalam-dalam.
Deru mesin mobil sport-nya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi menuju pusat kota.
Emirhan tidak menyadari bahwa keputusannya untuk pergi kali ini adalah celah yang sudah ditunggu-tunggu oleh Zaenab dan Laura untuk melancarkan rencana mereka, dan awal dari kebebasan singkat Aliya yang akan membawanya kembali ke lantai dansa bersama Leyla.
Di sebuah sudut kota yang terpencil, di mana gang-gang sempit hanya diterangi oleh lampu temaram, Zaenab membawa Laura masuk ke dalam sebuah rumah tua yang berbau kemenyan dan rempah-rempah yang tajam.
Di sana, seorang pria tua dengan tatapan mata yang kosong namun tajam duduk menunggu mereka.
"Lakukan seperti apa yang kamu lakukan dulu," perintah Zaenab tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan penuh otoritas.
Ia ingin mengulang keberhasilan masa lalunya saat ia memisahkan Onur dari Maria.
Namun, di luar dugaan, dukun itu perlahan menggelengkan kepalanya.
"Waktu telah berubah, Nyonya.
Garis takdir pemuda itu sekarang sangat kuat. Ilmu hitam yang dulu tidak akan mempan untuk memutus benang merahnya dengan gadis itu."
Laura hanya berdiri mematung di samping Zaenab.
Ia mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Zaenab tentang "kejadian dulu". Ada rahasia kelam yang tampaknya tidak ingin dibongkar oleh Zaenab di depan siapapun.
"Lalu apa? Aku tidak mau dia kembali ke mansion itu!" bentak Zaenab frustrasi.
Pria tua itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening dari balik kainnya.
"Ada cara lain, tetapi dengan racun ini. Ini bukan racun biasa. Efeknya cepat, menyerang saraf secara perlahan sehingga orang akan mengira itu hanya kelelahan atau sakit kepala biasa."
Ia menatap Laura dengan tatapan yang mengerikan.
"Ia tidak akan pernah tahu tentang racun ini di dalam darahnya. Dia akan melemah, pikirannya akan kacau, dan perlahan dia akan menjauh dari dunia luar."
Laura tertegun sejenak, namun rasa benci dan obsesinya terhadap Emirhan telah menutup hati nuraninya.
Ia membayangkan Aliya yang menderita dan akhirnya pergi meninggalkan Emirhan karena kondisi fisiknya yang hancur. Laura menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Lakukan. Berikan padaku."
Zaenab mengambil botol itu dan menyerahkannya kepada Laura dengan tangan yang dingin.
Ia menatap Laura dalam-dalam, sebuah peringatan terakhir diberikan.
"Hati-hati, Laura. Jangan sampai ada satu tetes pun yang terbuang atau terlihat oleh pelayan lain. Masukkan ke dalam minumannya sedikit demi sedikit," bisik Zaenab penuh ancaman.
"Jika kamu gagal, kita berdua yang akan hancur di tangan Emirhan."
Laura menggenggam botol kecil itu erat-erat di dalam saku gaunnya.
Di balik kegelapan ruangan itu, sebuah rencana pembunuhan perlahan mulai tersusun, sementara Aliya di sekolah sedang bersiap untuk menari, sama sekali tidak tahu bahwa maut sedang mengintai melalui tangan orang-orang yang tinggal di bawah atap yang sama dengannya.
Cahaya matahari siang menyengat pelataran sekolah, namun di salah satu sudut kantin yang terbuka, suasana terasa begitu kontras. Aliya tampak sangat berbeda dari beberapa jam yang lalu; ia tertawa terbahak-bahak bersama Leyla, melupakan sejenak beban berat yang menghimpit pundaknya.
Tawa itu lepas, murni, dan penuh kebebasan remaja yang selama ini terpendam.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi dari balik pilar gedung olahraga.
Laura berdiri di sana, menyamar dengan kacamata hitam besar dan syal yang menutupi sebagian wajahnya.
Hatinya panas melihat kebahagiaan Aliya. Baginya, tawa Aliya adalah penghinaan terhadap penderitaannya karena penolakan Emirhan.
"Tertawalah selagi bisa, gadis kecil," desis Laura penuh kebencian.
Saat bel berbunyi pelan menandakan pergantian jam, Aliya dan Leyla beranjak menuju loker untuk menyimpan buku.
Aliya meninggalkan botol air minum plastiknya di atas meja kantin, berencana mengambilnya kembali setelah mengambil perlengkapan tari.
Inilah kesempatan yang dicari Laura. Dengan gerakan cepat dan waspada, ia mendekati meja itu.
Tangannya yang gemetar merogoh saku, mengeluarkan botol kecil berisi cairan bening pemberian dukun tadi.
"Dua tetes saja..." Suara peringatan dukun itu terngiang di kepalanya.
Namun, saat melihat Aliya yang melambai ceria pada teman-temannya di kejauhan, akal sehat Laura benar-benar hilang ditelan cemburu yang membakar.
Ia tidak ingin Aliya hanya sekadar sakit kepala atau lemas; ia ingin gadis itu menghilang selamanya dari hidup Emirhan.
Dengan napas memburu, Laura membuka tutup botol racun itu dan menuangkan seluruh isinya ke dalam air minum Aliya.
Cairan itu menyatu sempurna, tanpa warna, tanpa aroma, namun membawa maut yang pekat.
"Ini bayaran karena telah berani menyentuh apa yang menjadi milikku," gumam Laura sambil meletakkan kembali botol itu ke posisi semula dan bergegas pergi menghilang di balik kerumunan siswa.
Beberapa saat kemudian, Aliya kembali ke meja dengan napas sedikit terengah setelah berlari kecil.
Ia merasa haus yang luar biasa. Tanpa kecurigaan sedikit pun, ia meraih botol itu, membuka tutupnya, dan meminum air yang kini telah terkontaminasi dosis mematikan tersebut.
Leyla yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum.
"Ayo cepat, Aliya! Guru tari sudah menunggu kita di aula!"
Aliya mengangguk, namun tepat saat ia meletakkan botol itu, ia merasakan sensasi dingin yang aneh menjalar di tenggorokannya.
Ia mengabaikannya, mengira itu hanya efek air dingin, dan melangkah menuju aula tari tanpa menyadari bahwa setiap tetes yang ia telan mulai bekerja menghancurkan pertahanan tubuhnya.
Langit musim gugur mulai berubah menjadi jingga gelap saat jarum jam menunjuk ke arah pukul enam malam.
Sekolah sudah mulai sepi, hanya menyisakan beberapa lampu koridor yang menyala.
Di depan gerbang, mobil Emirhan sudah terparkir. Ia langsung memacu kendaraannya kembali ke sekolah begitu pertemuan di kantor selesai, hatinya tidak tenang sejak kejadian tadi pagi.
Dari kejauhan, ia melihat Aliya berjalan keluar dari aula tari bersama Leyla.
Langkah Aliya tampak goyah, tangannya sesekali menyentuh dinding untuk menjaga keseimbangan.
Begitu Aliya melihat sosok Emirhan yang berdiri menunggunya, ia mencoba tersenyum, namun seketika dunia di sekitarnya seolah berputar hebat.
Rasa sakit yang luar biasa menghantam bagian belakang kepalanya, jauh lebih sakit daripada sakit kepala biasa yang pernah ia rasakan.
Emirhan yang menyadari ada sesuatu yang salah langsung berlari mendekat.
Ia menangkap bahu Aliya tepat sebelum gadis itu limbung.
"Aliya! Kamu baik-baik saja?" tanya Emirhan, suaranya penuh dengan nada panik dan kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Matanya menatap wajah Aliya yang mendadak sangat pucat, dengan keringat dingin yang membasahi keningnya.
Aliya memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa mual yang mendera perutnya.
Ia tidak tahu bahwa dosis racun yang dituangkan Laura sedang mulai bereaksi secara agresif di dalam tubuhnya.
"Aku, baik-baik saja, Emir," gumam Aliya sambil menganggukkan kepala dengan lemah.
"Mungkin aku hanya kelelahan karena latihan tari tadi."
Emirhan menatapnya dengan sangsi, namun ia tidak ingin memaksanya berbicara lebih banyak.
Ia merasa sangat bersalah karena telah membentaknya tadi pagi, mengira bahwa kondisi Aliya saat ini adalah akibat dari tekanan mental yang ia berikan.
"Maafkan aku, Aliya," ucap Emirhan lembut sambil merangkul pinggang Aliya untuk membantunya berjalan menuju mobil.
"Aku tidak seharusnya membentakmu tadi pagi. Aku hanya terlalu takut kehilanganmu."
Aliya hanya diam, tidak memiliki energi untuk membalas.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Emirhan, merasakan suhu tubuh pria itu yang hangat, namun di dalam dirinya, ia merasa sangat dingin.
Sesuai janji dan permintaannya, Emirhan mengantarkan Aliya kembali ke rumah Maria.
Sepanjang perjalanan, Emirhan terus menggenggam tangan Aliya yang terasa sangat dingin, tanpa menyadari bahwa maut sedang bekerja secara diam-diam di dalam nadi gadis yang paling dicintainya itu.
Sesampainya di depan rumah makan, Emirhan membantu Aliya turun.
"Istirahatlah. Besok pagi aku akan menjemputmu lagi," bisik Emirhan sebelum melepaskan Aliya ke pelukan Maria yang sudah menunggu di depan pintu dengan wajah penuh kekhawatiran.