"Di kehidupan sebelumnya, Siti Aminah meninggal di tangan suami dan keluarganya. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke awal pernikahannya. Mengetahui semua pengkhianatan yang akan terjadi, Aminah tak lagi tinggal diam.
Hal yang pertama ia lakukan adalah memberi pelajaran kepada anak tirinya, mempermalukan ibu mertuanya, dan menghajar suaminya hingga masuk rumah sakit. Tak hanya itu, Aminah juga memastikan keluarganya sendiri hancur sebagai bayaran telah menjual dirinya ke dalam pernikahan ini!
Kali ini, Aminah akan memastikan dirinya bahagia di atas penderitaan musuhnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Tangisan Nenek Shinta memenuhi ruang depan kantor polisi setempat. Suaranya sengaja ditinggikan, bergetar dramatis, seolah-olah seluruh penderitaan dunia berkumpul di pundaknya.
“Saya ini sudah tua…” isaknya sambil mencengkeram lengan salah satu polisi. “Tapi dia… dia baru masuk rumah sudah memukul anak-anak!”
Tangannya menunjuk ke arah Aminah yang berdiri beberapa langkah di belakang.
“Rudi dipukul! Riki dipukul! Bahkan Dina kecil juga tidak dilepaskan!” lanjutnya tanpa jeda.
Beberapa orang yang berada di sekitar kantor polisi mulai memperhatikan.
Nenek Shinta tidak berhenti.
“Anak saya… Andre… juga dipukul sampai masuk rumah sakit!” katanya sambil terisak. “Pintu rumah kami dirusak! Saya juga dipukul!”
Tangisnya semakin menjadi-jadi.
“Pak Polisi, tolong… tangkap dia! Hukum dia berat!”
Dua orang polisi setempat yang berdiri di depannya tampak kewalahan. Mereka saling berpandangan, lalu mencoba menenangkan wanita tua itu.
“Ibu, tolong tenang dulu,” kata salah satu dari mereka dengan sabar. “Kami akan menanyakan semuanya satu per satu.”
Namun Nenek Shinta masih mencengkeram lengan polisi itu dengan erat.
“Tidak bisa! Dia harus ditangkap sekarang!”
Kepala wanita dari kantor kelurahan yang ikut datang segera maju. Wajahnya tenang, tetapi terlihat sedikit tegang menghadapi situasi tersebut.
“Ibu, mohon lepaskan dulu,” katanya lembut namun tegas. “Kami akan menangani ini dengan serius.”
Dengan sedikit paksaan, akhirnya tangan Nenek Shinta dilepaskan.
Sementara itu, Aminah berdiri di samping dengan wajah datar.
Dia mendengar semua tuduhan itu dengan jelas.
Namun di dalam hatinya—
Dia hampir tertawa.
Dia sudah sangat familiar dengan situasi seperti ini.
Prosedur mediasi.
Dua pihak dipanggil.
Masing-masing mengadu.
Lalu pada akhirnya…
Keduanya hanya akan dinasihati untuk berdamai.
Di kehidupan sebelumnya, bahkan ketika dia dipukul hingga hampir tidak bisa berdiri dan melapor ke polisi, hasilnya pun tidak jauh berbeda.
Karena itu, dia tidak merasa takut.
Hanya sedikit bosan.
Beberapa saat kemudian, mereka dipindahkan ke ruang mediasi.
Ruangan itu sederhana—meja panjang, beberapa kursi, dan suasana yang lebih tenang dibandingkan luar.
Aminah duduk dengan punggung tegak.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi.
Polisi dan kepala wanita dari kelurahan saling bertukar pandang.
Mereka jelas sedikit bingung.
Gadis di depan mereka ini…
Tidak terlihat seperti sosok garang yang digambarkan Nenek Shinta tadi.
Kepala wanita itu akhirnya membuka percakapan.
“Kami ingin mendengar dari pihak kamu,” katanya dengan suara profesional. “Apakah benar semua yang dikatakan Ibu Shinta?”
Aminah langsung menjawab.
“Tidak benar.” Jawabannya singkat.
Nenek Shinta yang duduk di samping langsung melompat dari kursinya.
“Bohong!” teriaknya.
Dia menunjuk Aminah dengan marah.
“Perempuan ini pembohong!”
Polisi segera berdiri.
“Ibu! Duduk kembali!” bentaknya.
Dengan sedikit paksaan, Nenek Shinta akhirnya kembali duduk, meskipun mulutnya masih komat-kamit mengumpat.
Kepala wanita itu melanjutkan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan darah di wajah Ibu Shinta?” tanyanya.
Aminah menoleh sekilas.
Lalu berkata dengan tenang.
“Saya tidak melakukan kekerasan.”
Semua orang terdiam.
“Saya juga tidak melihat ada luka di wajahnya,” lanjutnya. “Saya tidak tahu dari mana darah itu berasal.”
Kalimat itu seperti menusuk.
Nenek Shinta langsung berdiri lagi.
“Kamu—!”
Dia hampir menerjang ke depan.
Namun kepala wanita itu segera menahannya.
“Ibu, mohon tenang!”
Dengan susah payah, wanita tua itu kembali duduk.
Namun amarahnya sudah tidak terbendung.
Polisi kemudian mengambil alih.
“Kami juga menerima laporan bahwa kamu memukul anak-anak,” katanya kepada Aminah.
“Melukai suami, merobohkan pintu rumah, dan memukul orang.”
Semua mata kembali tertuju pada Aminah.
Untuk sesaat, dia terlihat seperti kehilangan kata-kata.
Bibirnya terbuka sedikit.
Seolah sedang menyusun kalimat.
Namun sebelum dia sempat berbicara—
Nenek Shinta kembali meledak.
Dia berdiri dengan wajah merah padam.
“Saya sudah bilang! Dia memang seperti itu!” teriaknya.
Namun kali ini, yang membuatnya benar-benar marah adalah sikap polisi.
Alih-alih langsung menangkap Aminah, mereka justru bertanya dengan tenang.
Seolah-olah mempercayai gadis itu.
Kecurigaan langsung muncul di benaknya.
Matanya menyipit.
Dia menunjuk polisi itu dengan jari gemetar.
“Kamu membelanya, ya?” katanya tajam.
Ruangan langsung hening.
Polisi itu mengerutkan kening. “Apa maksud Ibu?”
Namun Nenek Shinta sudah kehilangan kendali.
“Kamu suka sama dia, kan?” teriaknya.
Kepala wanita kelurahan langsung membeku.
“Makanya kamu tidak mau menangkapnya!”
Situasi langsung berubah canggung.
Wajah polisi itu berubah.
“Apa Ibu bicara?!”
Namun Nenek Shinta tidak peduli.
Dia bahkan mencoba maju ke arah Aminah.
“Perempuan seperti kamu memang pandai menggoda!” katanya dengan nada menghina.
Polisi langsung menahannya.
“Cukup!” bentaknya.
Wajahnya sudah memerah karena marah.
Kepala wanita dari kelurahan juga tampak sangat tidak nyaman.
“Ibu Shinta, tolong jaga ucapan!” katanya.
Namun kata-kata itu justru membuat Nenek Shinta berbalik menyerangnya.
“Dan kamu!” katanya dengan nada tajam.
“Jangan-jangan kamu juga sama saja!”
Kepala wanita itu terkejut.
“Apa maksud Ibu?”
Nenek Shinta menatapnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Kamu juga punya hubungan tidak wajar dengannya, kan?” katanya tanpa rasa malu.
Kata-katanya kasar.
Tanpa filter.
Ruangan mediasi langsung kacau.
Polisi menghela napas panjang, mencoba menahan emosi.
Kepala wanita itu terlihat sangat canggung.
Namun Nenek Shinta masih terus mengomel.
Aminah duduk diam di kursinya.
Namun di dalam hatinya—
Dia tersenyum.
Semakin Nenek Shinta mengamuk, semakin buruk citranya di mata orang lain.
Semakin kacau situasi, semakin kecil kemungkinan orang akan mempercayai tuduhannya.
Dan itu…
Menguntungkannya.
Beberapa menit kemudian, ketika suasana hampir tidak terkendali—
Pintu ruang mediasi terbuka.
Seorang wanita bertubuh gemuk, berusia sekitar empat puluhan, masuk dengan langkah cepat.
“Sudah, sudah!” katanya sambil mendekati Nenek Shinta.
Dia menarik lengan wanita tua itu dengan lembut namun tegas.
“Ayo ke ruangan sebelah dulu.”
Nenek Shinta masih mencoba melawan.
“Lepaskan aku! Aku belum selesai!”
Namun wanita itu terus menariknya.
“Ayo, Ibu… kita bicara pelan-pelan saja di sana.”
Dengan sedikit usaha, akhirnya Nenek Shinta dibawa keluar.
Pintu tertutup.
Suasana langsung menjadi lebih tenang.
Di ruangan sebelah, wanita gemuk itu mempersilakan Nenek Shinta duduk.
Dia menuangkan segelas air.
“Nah, Ibu minum dulu,” katanya lembut.
Nada suaranya sangat berbeda.
Penuh empati.
Tidak menghakimi.
Nenek Shinta yang masih terengah-engah menerima gelas itu.
Wanita itu melanjutkan dengan suara pelan.
“Saya mengerti… pasti Ibu sangat terluka.”
Kalimat itu tepat mengenai sasaran.
Wajah Nenek Shinta sedikit melunak.
Wanita itu terus berbicara.
“Kalau saya di posisi Ibu, saya juga pasti marah,” katanya.
Setiap kata yang keluar terasa seperti membela.
Seolah benar-benar memahami.
Nenek Shinta menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, dia merasa didengarkan.
“Akhirnya ada yang mengerti saya…” gumamnya.
Tanpa sadar, dia mulai berbicara.
Semua keluhan yang selama ini dipendam—
Keluar satu per satu.
Tentang Aminah.
Tentang Maria.
Tentang keluarganya.
Tentang ketidakadilan yang dia rasakan.
Semuanya mengalir tanpa henti.
Wanita gemuk itu hanya mengangguk sesekali.
Memberi respons yang tepat.
Membiarkan Nenek Shinta merasa benar.
Sementara itu, di ruang mediasi utama—
Aminah duduk dengan tenang.
Matanya tenang, tetapi pikirannya bergerak cepat.
Permainan ini…
Baru saja memasuki babak yang lebih menarik.
ᴛᴏᴘ ᴍᴀʀᴋᴏᴛᴏᴘ...👍👍
ʙᴇɴᴇʀᴀɴ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ sᴇᴘᴇʀᴛɪɴʏᴀ...
katana dina dan siti itukan 2 orang anak perempuan jadi 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan empat orang anak kan 🤔🤔