Seorang mahasiswi yang harus rela menikah dengan brondong.
Karena kejadian yang tidak mengenakkan. Di grebek warga saat di toilet. Dan menjadikannya harus menikah di saat itu juga.
Dia yang sudah berumur 21 tahun semester VI dan dengan terpaksa harus menikah dengan brondong 18 tahun. Masih SMA kelas 3.
Bagaimana kelanjutannya...?
Pantengin di sini ya??
Makasih sudah mampir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
.
.
.
Jo kembali ke rutinitas seperti biasanya. Setelah kelulusannya dia langsung kembali bekerja di kantor pak Wahyu. Sedang Nesa kembali kuliah ke kampus terbarunya.
Saat ini adalah jam makan siang. Jo sedang duduk berhadapan dengan sang Papa.
"Jo ada hal serius yang ingin Papa katakan..."ucap pak Wahyu menatap anaknya dengan serius.
"Apa itu Pa???"tanya Jo datar.
"Kamu harus kuliah ke London Jo...."
"Apa???" Jo menganga tak percaya. Cobaan apa lagi ini??? Yang benar saja, di London???
"Iya, ini demi masa depanmu Jo... Lagian Nesa juga belum hamilkan???"pak Wahyu memejamkan matanya sejenak. Ada rasa yang berat saat mengatakannya apa lagi dia juga berharap cucu. Tapi sepertinya masih mustahil. Umur Jo masih 18 tahun terlalu muda memiliki anak, biarlah ia belajar dulu. Itu juga demi semuanya. Kebahagiaan anak dan menantunya.
"Kalau Nesa hamil apa Jo akan tetep kuliah di London???
Kenapa gak di Jakarta aja Pa?? Atau di Surabaya??? Kenapa harus di negara orang Pa???" Jo frustasi. Baru saja kemarin dia membina rumah tangganya dengan baik. Merasakan bagaimana rasanya menjadi suami yang sesungguhnya. Tapi kini masa depan seperti penghalangnya. Kenapa harus dipisahkan saat cintanya sudah tumbuh??? Salahkah pernikahannya ini???
"Papa dan Ayah mertuamu memang pengen menimang cucu, tapi bukan berarti kamu harus leha-leha saja.... Papa dan ayah mertuamu sudah sepakat menguliahkanmu. Hanya 4 tahun, gak lama... Dan Papa pastikan Nesa juga akan mengerti. Percaya sama Papa,, kalau jodoh gak akan kemana. Soalnya sejak awal Papa dan ayah mertuamu sudah sepakat menjodohkan kalian... jadi Papa pasti akan menjaga mantu papa untuk kamu...."terang pak Wahyu panjang lebar.
Tak tahukah pak Wahyu. Semua kata-katanya itu sangat menyakitkan bagi Jo.
"Kalo papa udah ngejodohin kenapa kalian tega memisahkan kami???" Jo menengadahkan kepalanya ke atas. Mencoba menahan air mata yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. Apakah ini cobaan hidup??? Atau hanya ujian pernikahan mereka??? Bagaimana jika Nesa hamil saat Jo meninggalkannya.
"Jo, kamu hanya pisah sementara. Bukan berarti pisah selamanya.... Lebih baik kamu pikirkan ini, kuliah di London dan menggapai kebahagiaan seutuhnya..."
"Oh ya,,, segera urusi surat-suratnya... kalau bisa, minggu ini kamu harus sudah siap..."ucap pak Wahyu seraya ingin meninggalkan Jo yang sedang dilanda kesedihan.
"Tapi Pa...." suara Jo terasa sesak di tenggorokan. Meninggalkan Nesa tak pernah sedikitpun terbayang dibenaknya. Meskipun hanya perpisahan sementara. Sanggupkah dia??? 4 tahun??? 3 hari saja rasanya rindu berat. Gundah, gelisah berkabut menjadi satu.
"Pa..."
Pak Wahyu berusaha menulikan panggilan dari anak semata wayangnya. Sebenarnya dia sendiri juga tidak tega. Tapi ini demi dia dan keluarganya. Usia Jo terlalu muda untuk berumah tangga. Setidaknya setelah lulus nanti usianya akan lebih matang membina rumah tangganya sendiri. Bahkan punya anak juga sudah pas di umur 22 tahunnya.
****
Jo mengacak-acak rambutnya frustasi. Menatap Nesa yang ada di sampingnya pun tak sanggup. Bagaimana Jo mengatakannya??? Kenapa rasanya begitu berat tanpa Nesa??? 'Ya Allah... apa yang harus hamba lakukan???'
"Kamu kenapa??? Kok kusut banget??"tanya Nesa heran. Setelah menyiapkan makan malam, Nesa langsung menghampiri suaminya. Jo tak biasanya mengabaikannya. Biasanya dia minta di salimi tangannya setiap kali pulang bekerja. Tapi untuk hari ini rasanya berbeda, ada yang janggal bagi Nesa.
"Nes...." suara Jo tertahan. Sanggupkah???
"Iya,,, kamu udah laper???"tanya Nesa menatap suaminya dengan intens.
Jo menggeleng, rasanya dia tak bisa menelan makanan saat ini.
"Kenapa? Apa ada masalah??"tanya Nesa lagi yang kini ikutan duduk di samping suaminya di ranjang.
Jo langsung memeluk tubuh istrinya. Menghirup aroma kekasih hatinya. Aroma yang begitu memabukkan, bagaimana dia bisa hidup berjauhan? Jo tak kuasa menahan dentuman jantungnya. Air matanya luruh menetes ke pundak Nesa.
"Kamu kenapa?" Nesa masih heran. Tak biasanya suaminya itu menangis. Biasanya ngelucu, manja, mesum, dingin. Nesa tak suka Jo yang cengeng.
"Kamu kenapa sih.... ini bukan Jo yang aku kenal. Cerita sama aku kalau kamu anggap aku ini istri..." Nesa melepaskan pelukannya. Menatap Jo dengan nyalang. Dia marah jika harus didiemin. Karna Nesa merasa dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Dengarkan aku Nes..."Jo menyeka air matanya dengan kasar. Menatap lekat sang istri. Hatinya terasa begitu sesak.
"Aku disuruh kuliah di London..."perkataan Jo begitu lirih. Andai Nesa tak menajamkan pendengarannya, mungkin dia tak akan mendengarnya.
"London???" Nesa terkejut bukan main. Meskipun kehadiran Jo sempat mengganggunya, tapi Nesa tak pernah menginginkan perpisahan ini. Jarak jauh, bagaimana mungkin dia bisa melaluinya???
"Iya... Papa dan ayah menyuruhku kuliah di London...." balas Jo sambil menunduk. Jo benar-benar tak kuasa menatap istrinya sekarang.
Nesa menjauhkan dirinya dari Jo. Dia butuh waktu tentang ini. Tanpa berkata apapun Nesa langsung mengambil sling bag nya. Pergi menjauh meninggalkan Jo.
"Nes...."
"Nes, mau kemana??"
Nesa sama sekali tak menghiraukan panggilan dari suaminya itu. Tembok pertahanannya seraya roboh seketika. Haruskah dia menyalahkan takdir??
****
35 menit perjalanan. Akhirnya Nesa sampai di kediaman pak Bambang.
"Ayah.... Yah... Ayah...."
"Ya Allah Nesa,,, yang sopan apa gak bisa??? Ucap salam dulu..."
Nesa tak menggubris kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya itu.
"Ayah tega sama Nesa??? Ayah gak sayang ama Nesa???" Nesa menangis tergugu. Tubuhnya merosot ke lantai.
Pak Bambang menghela nafas berat.
"Sa,,, kamu ini dah gedhe. Mbok yo fikirane seng jelas... Jo kuliah demi kamu. Demi kalian dan masa depannya..."
"Gak Yah,,, ayah tega misahin Nesa....huhuhu..." Air mata Nesa terus mengalir tanpa henti.
"Ini demi kesuksesan suamimu... kalian berpisah hanya sebentar. Sudah, kamu fokus aja sama kuliahmu. Biasanya kamu juga baik-baik aja sebelum kenal Johan. Dimana Nesa nya ayah yang ceria??? Kamu itu harusnya nyemangatin suami. Bukannya malah kayak gini...." ucap pak Bambang yang mulai terbawa suasana.
***
Hari ini saatnya Jo meninggalkan tanah air, meninggalkan istrinya tercinta. Nesa hanya diam seribu bahasa saat berada di samping Jo. Ketakutan, kesedihan, kerinduan berlabuh di dalam hatinya. Nesa berusaha tegar sekarang. Menyemangati suaminya agar cita-citanya tercapai dan kembali padanya suatu ketika.
"Sayang.... aku berangkat dulu ya... jaga cintaku di sini (sambil menunjuk dada Nesa)... I always love you..."
Nesa tersenyum getir. "Love you too more, yang sungguh-sungguh kuliahnya.. jangan lupakan aku..."ucap Nesa pelan.
"Gak akan...."
Jo memeluk Nesa dan mencium semua inchi wajah istrinya. "Aku pasti sangat merindukanmu... dan nanti setelah aku pulang, kita buat sore kedua ya???" Jo mengerlingkan matanya menggoda. 'Aku merindukan moment itu....'
"Nakal ih...." Nesa mencubit perut Jo. Jo meringis meskipun tidak sakit.
"Jangan lupa langsung ngabarin aku..."lanjut Nesa dengan wajah yang mulai sedih. Jo hanya mengangguk.
Setelah bersalam-salaman, Jo akhirnya menuju ke bandara dengan naik travel. Dia terus memejamkan matanya. Berharap ini sebuah mimpi. Kalau pun bukan mimpi Jo berharap...
'Semoga 4 tahun segera berlalu...'
Bersambung...
DN OTHOR SNANG BANGET BUAT CERITA KONFLIK YG GK HABIS2
BETUL KATA JO, KLO GK ADA YG JAWAB SAJA