NovelToon NovelToon
In Between

In Between

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Office Romance / Tamat
Popularitas:37.2k
Nilai: 5
Nama Author: PrettyDucki

Bagi Mila, hidup adalah perencanaan. Dan dalam rencana itu, Tyas adalah pilihan yang sempurna. Rasa aman, masa depan jelas, jawaban dari segala doanya.

Namun hidup punya selera humor yang aneh.

​Tepat saat ia bersiap melangkah ke arah Tyas, Arya kembali muncul. Mantan kekasihnya itu datang membawa kembali aroma masa lalu yang seharusnya Mila kubur dalam-dalam.

Untuk pecinta second-chance romance dengan drama kantor, chemistry yang explosive, dan heroine yang nggak mau kalah, ini cerita kamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terikat

Mila mengunci pintu kamar mandi dengan tangan gemetar hebat. Di atas wastafel marmer yang dingin, tiga batang plastik berwarna putih berjejer rapi, menunggu waktu yang terasa berjalan terlalu lambat.

Mila berdiri mematung, menatap pantulan wajahnya di cermin. Bibir pucat, mata sembab. Ia mencoba melafal logika di dalam kepalanya.

Ini hanya efek obat. Hormonmu hanya sedang kacau. Dunia tidak mungkin sekejam itu.

Tiga menit berlalu.

Mila mendekat dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Ia melihatnya. Satu garis merah tegas. Lalu, perlahan tapi pasti, garis kedua muncul di sebelahnya. Awalnya samar, namun lama-kelamaan menjadi nyata.

Ia beralih ke alat kedua. Hasilnya sama. Dua garis merah.

Alat ketiga. Dua garis merah.

Positif.

Lutut Mila lemas seketika. Ia merosot jatuh ke lantai kamar mandi yang dingin, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan agar teriakannya tidak menembus dinding kamar. Seluruh dunianya runtuh saat itu juga.

"Nggak mungkin... Nggak boleh..." bisiknya di sela isak tangis yang mulai pecah.

Pikirannya langsung melayang ke Mama, ke kariernya yang baru saja terancam skandal, dan ke Arya. Pria yang paling ingin ia benci tapi kini justru terikat secara permanen di dalam rahimnya.

Mila menangis sejadi-jadinya. Tangisan itu bukan hanya berisi kesedihan, tapi juga keputusasaan yang pekat.

.

.

TENG NONG!

Pukul setengah delapan malam bunyi bel kamar memecah keheningan. Mila yang masih tergeletak lemas di atas tempat tidur dengan bantal yang basah oleh air mata, tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya menatap kosong ke arah pintu.

Bel kembali berbunyi dua kali. Lalu sunyi.

Hingga kemudian, ponsel di nakas bergetar. Nama "Doni (Leasing)" muncul di layar. Mila menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang serak.

"Halo?" suara Mila terdengar sangat kecil.

📞"Mbak Mila! Ayo turun, ini kita udah kumpul di lobi. Pak Hendra udah kelaperan, katanya harus cobain Lontong Kupang di Wonokromo. Pak Arya juga udah nunggu di mobil," suara Doni terdengar ceria, sangat kontras dengan badai di dalam hati Mila.

"Sorry, Mas... aku nggak ikut," jawab Mila singkat. "Aku... aku beneran nggak enak badan nih. Tadi udah minum obat dan mau langsung tidur."

📞"Wah, parah ya mualnya? Mau dititipin sesuatu nggak? Atau mau dibeliin obat lain?"

"Nggak usah, Mas. Aku cuma butuh tidur. Makasih ya."

Mila langsung mematikan sambungan sebelum Doni sempat bertanya lebih lanjut. Ia melempar ponselnya ke sisi ranjang yang kosong, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Di bawah pengaruh sisa adrenalin dan kelelahan mental yang luar biasa, Mila akhirnya jatuh tertidur dengan sisa air mata yang masih mengering di pipinya.

.

.

Langkah kaki Arya bergema pelan di koridor sunyi lantai tujuh. Ia baru saja kembali dari makan malam. Dan di depan pintu kamar 712, langkahnya melambat, lalu dua detik kemudian berhenti sepenuhnya.

Tangannya terangkat, menggantung di depan bel. Pikirannya berperang. Doni bilang Mila sakit, dan Arya tahu betul wanita itu belum mengisi perut sejak siang. Ada dorongan kuat untuk menekan bel, bertanya apakah Mila butuh dokter, atau sekadar memastikan wanita itu sudah makan.

Namun, bayangan Mila yang membentaknya di kantor tempo hari kembali muncul.

“Menjauh! Itu satu-satunya cara biar aku bisa napas di kantor ini!"

Arya menurunkan tangannya. Egonya yang terluka setelah berulang kali ditolak mentah-mentah akhirnya menang.

Dia butuh jarak, kan? Oke, gue kasih jarak. Batinnya pahit.

Ia memutar tubuh dan melangkah pergi, meninggalkan pintu kamar Mila tanpa sepatah kata pun.

.

.

Selasa pagi, suasana di restoran hotel mulai ramai. Pak Hendra dan Doni sudah asyik dengan piring mereka, namun kursi di sebelah Doni masih kosong.

"Mbak Mila kayaknya nggak turun deh, Pak." ujar Doni sambil mengunyah roti. "Tadi saya telepon kamarnya nggak diangkat. Mungkin masih tidur."

Arya terdiam, selera makannya menguap seketika. Perasaan tidak enak mulai menggerogoti dadanya. Tanpa menghabiskan kopinya, Arya berdiri. "Kalian lanjut aja. Saya cek Mila sebentar."

Arya berjalan cepat menuju lantai tujuh. Kali ini, ia tidak ragu. Ia menekan bel kamar 712 berkali-kali. Tidak ada jawaban. Ia menekan lagi, lebih tidak sabar, hingga akhirnya terdengar suara kunci diputar dari dalam.

Pintu terbuka sedikit. Mila berdiri di sana, dan jantung Arya mencelos melihat pemandangan di hadapannya.

Mila tampak sangat kacau. Rambutnya kusut, wajahnya pucat pasi, dan matanya bengkak luar biasa. Dia jelas habis menangis sepanjang malam. Dan tatapan yang ia berikan pada Arya begitu lekat. Ada amarah, ketakutan, dan kehampaan yang tidak bisa didefinisikan.

Tanpa bicara, Mila menarik lengan kemeja Arya, menyeretnya masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintu dengan gerakan cepat yang berisik.

"Kamu kenapa?"

Mila tidak menjawab. Ia berjalan menuju ranjang yang berantakan, mengambil sesuatu dari nakas, lalu berbalik dan menyodorkan sebuah test pack ke hadapan Arya yang masih berdiri mematung.

Arya menerima test pack itu. Tangannya membeku saat melihat dua garis merah yang sangat jelas di sana. Dunianya seolah berhenti berputar saat itu juga.

"Kamu... hamil?" suara Arya tercekat, nyaris tak terdengar.

"Menurut kamu?" Mila bertanya balik dengan suara serak, tawa hambar terselip di sela napasnya yang tidak stabil.

Arya merasa kakinya lemas. Ia ikut terduduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Mila, masih menatap alat tes itu seolah berharap garis merahnya bisa memudar jika ia menatapnya cukup lama.

"Mila... aku... aku janji akan tanggung jawab," ucap Arya serius. "Kita akan urus ini. Aku akan bicara sama keluarga kamu, kita bisa--"

"Tanggung jawab?!" Mila mendadak meledak. Ia berdiri dan menatap Arya dengan air mata yang siap tumpah. "Dengan cara apa kamu mau tanggung jawab? Nikah? Kamu pikir itu bisa bikin masalahnya selesai gitu aja?!"

Mila memukul bahu Arya dengan tangan gemetar. "Gimana dengan pekerjaan aku? Gimana dengan karier yang aku bangun mati-matian biar nggak dianggap sampah sama orang-orang?! Kamu mau aku nanggung malu karena aib ini? Satu kantor udah curiga aku hamil, dan sekarang itu jadi nyata!"

Isak tangis Mila pecah lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. "Gimana aku bilang ke Mama... gimana aku bisa hidup setelah ini..."

Seketika rasa bersalah menghantam Arya. Ia sadar bahwa ia telah menghancurkan hidup Mila untuk ke sekian kalinya. Saat itulah ia langsung berdiri dan menarik Mila ke dadanya.

"Lepas!" Mila meronta.

"Maaf." Arya mendekapnya erat, memaksa tangis Mila tumpah membasahi kemejanya.

"Aku harus apa? Hidupku akan hancur setelah ini!" Mila meraung.

"Sstt... nggak apa-apa. Tenang," bisik Arya, berusaha meredam gemetar di tubuh Mila. "Aku nggak akan biarin kamu jalan sendirian. Kita cari jalan keluarnya. Aku janji, kita akan cari jalan keluarnya sama-sama."

Di dalam kamar hotel yang dingin itu, keheningan kembali merayap, hanya menyisakan suara tangis Mila yang perlahan mereda dalam pelukan pria yang menjadi sumber sekaligus penawar pilunya.

.

.

Setelah tangisnya mereda, Mila berhasil mengusir Arya keluar dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Namun, tepat satu jam kemudian, pria itu kembali mengetuk pintu kamarnya berkali-kali.

Mila membuka pintu dengan gerakan kaku. Ia sudah mengenakan busana kerja rapi, meski wajahnya masih pucat dan matanya tampak cekung.

"Kamu nggak usah ikut meeting," ujar Arya tanpa basa-basi.

​"Aku ikut."

"Kamu nggak ikut." Putus Arya. "Pak Hendra dan Doni cukup. Sisanya aku yang handle."

"Tapi dokumen presentasinya--"

"Udah aku minta Doni yang pegang." Arya menatapnya sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Kamu udah makan?"

Mila tidak menjawab.

Arya menghela napas, lalu menyerahkan paper bag yang sedari tadi ia pegang di tangan kirinya. "Roti gandum sama air jahe dari restoran hotel. Kamu harus makan. Jahe bisa bantu redakan mual."

Mila hanya menatap paper bag itu tanpa ada niat mengambilnya.

"Ambil, Mila. Kamu mungkin belum makan dari semalam."

Hening merayap di antara mereka. Setelah beberapa detik yang alot, tangan Mila akhirnya bergerak mengambil bungkusan itu.

"Pakai dua jam nanti untuk makan dan istirahat. Nanti aku ke sini lagi sebelum check-out." Arya sudah berbalik hendak pergi, tapi kemudian ia menoleh lagi. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Mila berdiri di ambang kamar, menatap paper bag di tangannya.

.

.

Dua jam kemudian, Arya benar-benar kembali. Ia tidak banyak bicara, hanya membantu Mila membawa koper dan barang-barangnya turun ke lobi.

Siang itu lobi hotel ramai dengan tamu. Koper-koper berjejer di troli, bellboy hilir-mudik, dan suara dering tidak pernah berhenti terdengar dari ponsel Doni.

Di kejauhan Mila duduk di sofa pojok sambil mendekap tas bahunya. Wajahnya masih lesu, tapi sudah sedikit lebih berwarna dari tadi pagi. Roti dan air jahe yang diberi Arya rupanya cukup membantu meringankan rasa mualnya.

Dalam taksi menuju bandara, Mila sengaja memilih duduk di baris paling belakang, berhimpitan dengan tumpukan koper. Sementara Arya duduk di kursi tengah bersama Pak Hendra. Sepanjang perjalanan Arya mati-matian menahan diri untuk tidak menoleh terlalu sering ke arah Mila. Meski setiap beberapa detik dorongan itu selalu datang lagi, lebih kuat dari sebelumnya.

.

.

Di gate keberangkatan, saat Pak Hendra sedang sibuk mengantre di kasir minimarket, Arya mendekati Mila yang duduk sendirian di deretan kursi tepi jendela.

"Nanti kamu tuker seat sama aku."

Mila mendongak. "Apa?"

"Seat kamu di pesawat, tuker sama punyaku di business."

Mila langsung mengerutkan kening. "Nggak usah."

"Kamu nggak fit, Mila. Duduk dua jam di kelas ekonomi dalam kondisi begini, cuma akan nyiksa diri kamu."

"Aku bilang nggak usah." Mila memotong tajam. Matanya melirik gelisah ke arah Pak Hendra dan Doni yang masih di minimarket. "Jangan bikin adegan di sini ya, Arya," geramnya.

Arya duduk di kursi sebelahnya, berusaha membuat jarak tetap wajar. "Nggak ada yang bikin adegan. Ini logistik."

Mila memalingkan wajah kesal.

"Kursi business lebih luas dan tenang. Kamu bisa istirahat dengan nyaman di sana."

"Mereka akan bilang apa kalo kamu kasih kursi kamu ke aku?"

"Aku bisa bilang aku mau diskusi sama Pak Hendra."

Mila terdiam, menggigit bibir bawahnya. Ia melirik ke arah minimarket di mana Doni tampak sedang mempertimbangkan antara dua rasa keripik. Pikirannya berperang antara ego dan rasa tidak nyaman di tubuhnya yang memang sudah di ambang batas.

"Pak Hendra bisa curiga," bisik Mila lagi, mencari celah untuk menolak.

"Aku akan bilang aku mau review dokumen proyek sama dia."

Mila menatap boarding pass di tangannya, lalu menghela napas panjang. Ia tau bahwa berdebat dengan Arya yang begitu gigih, terlalu melelahkan untuk kondisinya sekarang.

"Aku jamin nggak akan ada yang curiga."

Arya tidak menunggu jawaban lagi. Ia mengambil boarding pass dari tangan Mila dan menukarnya dengan miliknya. Kemudian ia berdiri, dan berjalan santai ke arah Pak Hendra yang baru saja keluar dari minimarket.

...***...

1
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
nikah dunk... kan mereka bikinnya sama-sama enak 🤣🤣🤣
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
Astaga Thor jujur maaddtt 🫠
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
Eeiya bapak Mila udah mati belum sih ??
lupa?? kayaknya belum yah 🤭
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
Wali hakim juga bisa Mila
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
masih trauma kayaknya Mila, efek pernah termakan janji manis Arya sebelumnya
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
peduli amat... omongan orang hanya sepanjang lidahnya aja...
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
Alhamdulillah 🤧
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
ayo Arya bujuk Mila
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
Huft... lari aja nggak sihh .. bahaya bngt 😭
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
bapak Arya kenapa kamu diem aja, cegah athu, itu bayi kan ga salah 😭
SαѕMαуα_(๑•͈ᴗ•͈)
😭😭😭 Mila... come on Mila jangan begitu...
Rain Aricia
Biasa lah berantem suami istri🤭ntar jg balikan lagi
Rain Aricia
Ooo gitu ya alasannya. Ga ada pembelaan sih, sama2 salah kalian
Rain Aricia
Damian plisssss aku suka kata2mu, ulti aja si Mila itu. Bener pulak apa yg kau omongin🤭
Rain Aricia
Emang Mil, kejam kalinya dunia pekerjaan ini. Harus punya pengalaman 10 tahun lho🤣
Rain Aricia
Gak sih menurutku, salah siapa ga ngomong diluan
Rain Aricia
Ga sih, mending kau ikur bantu aja
Rain Aricia
Lah, baru nyariin istri lo?
Agis.35
menurut gwe sih pasti masih ada orang di belakangnya, 🥴
Agis.35
gimana tindakan arya setelah tau ini🥴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!