Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.16 — Trobosan Awal
Retakan tipis yang muncul pada permukaan rantai pertama terus memancarkan cahaya redup, sementara energi Warisan Altar Pertama masih mengalir tanpa henti menuju segel kuno tersebut. Setiap aliran cahaya hitam yang menghantam rantai menghasilkan gelombang getaran yang menjalar ke seluruh ruang gelap, membuat pusaran raksasa di pusat segel berputar semakin cepat. Cahaya hitam dan perak yang sebelumnya bergerak tenang kini berubah jauh lebih terang, seolah kekuatan yang selama ini terkunci mulai merasakan adanya kesempatan untuk kembali terbebas.
Xiao Yun berdiri terpaku tanpa mampu mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia dapat merasakan bahwa setiap benturan energi yang terjadi di hadapannya bukan sekadar peristiwa biasa, melainkan perubahan yang telah lama dinantikan oleh Nadi Kekosongan itu sendiri. Aura purba yang memenuhi ruang tersebut terus meningkat sedikit demi sedikit, menghadirkan tekanan luar biasa yang bahkan membuat jiwanya ikut bergetar.
Gelombang energi kembali menghantam rantai pertama.
Satu kali.
Lalu kedua kalinya.
Disusul benturan ketiga yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Dentuman demi dentuman menggema memenuhi dunia gelap itu hingga akhirnya terdengar suara retakan yang jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.
KRAAAAK!
Retakan kecil pada mata rantai perlahan memanjang, membelah permukaannya hingga membentuk celah yang semakin nyata. Simbol-simbol kuno yang terukir di atas rantai berkedip tidak beraturan, seolah formasi penyegel yang telah bertahan selama zaman yang tak terhitung akhirnya mulai kehilangan keseimbangannya.
Pada saat yang sama, pusaran raksasa di pusat segel mengeluarkan gelombang kekuatan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.
BOOOOM!
Seluruh ruang gelap berguncang hebat.
Xiao Yun tanpa sadar mengangkat kedua lengannya untuk melindungi tubuhnya dari terpaan angin energi yang berembus keluar dari pusat pusaran. Meskipun hanya sebagian kecil segel yang retak, kekuatan yang berhasil lolos dari balik belenggu itu sudah cukup membuatnya merasakan tekanan yang belum pernah dialaminya sepanjang hidup.
Kekuatan itu terasa begitu murni.
Begitu dalam.
Seolah berasal dari masa ketika langit dan bumi baru saja terbentuk.
Namun sebelum Xiao Yun sempat memahami apa yang sedang terjadi, seluruh ruang di sekelilingnya tiba-tiba bergetar semakin keras. Penglihatannya mulai menjadi kabur, sementara pusaran raksasa, rantai penyegel, bahkan ruang gelap tempat ia berdiri perlahan berubah menjadi bayangan yang tidak lagi dapat dikenali.
Dalam sekejap, dunia di hadapannya runtuh.
BOOOM!
Kesadarannya seakan ditarik menuju tempat lain.
Saat penglihatannya kembali pulih, Xiao Yun mendapati dirinya sedang menyaksikan pemandangan yang sama sekali berbeda.
Di atas langit yang dipenuhi awan hitam, petir-petir berwarna gelap menyambar tanpa henti, membelah cakrawala dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Langit tampak retak di berbagai tempat, sementara ruang di antara retakan tersebut memancarkan cahaya asing yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.
Di bawah langit yang hancur itu, gunung-gunung raksasa roboh satu demi satu hingga berubah menjadi debu, sementara lautan luas terbelah akibat benturan kekuatan yang melampaui akal manusia.
Di segala penjuru dunia berkobar peperangan yang begitu dahsyat.
Ratusan sosok melayang di udara, saling berhadapan dengan aura yang begitu besar hingga setiap benturan serangan mereka mampu menghancurkan pegunungan dan mengguncang daratan ribuan li jauhnya. Cahaya pedang, tombak, api, petir, serta berbagai energi yang tidak dikenal memenuhi langit, membentuk badai kehancuran yang seolah hendak memusnahkan seluruh dunia.
Xiao Yun hanya mampu menatap semua itu dengan napas tertahan.
Ia sama sekali tidak mengenali tingkatan kultivasi orang-orang tersebut, tetapi nalurinya mengatakan bahwa satu sosok saja sudah cukup untuk memusnahkan kerajaan yang pernah ia ketahui.
Namun pemandangan itu kembali berubah.
Di tengah peperangan yang mengguncang dunia, berdiri sembilan altar raksasa yang tersebar di sembilan penjuru daratan. Masing-masing altar menjulang tinggi hingga menembus langit, memancarkan pilar cahaya hitam dan perak yang menghubungkan bumi dengan cakrawala.
Meskipun jaraknya sangat jauh, Xiao Yun dapat merasakan bahwa setiap altar membawa aura yang sama dengan Warisan Nadi Kekosongan.
Altar Pertama.
Altar Kedua.
Altar Ketiga.
Dan altar-altar lainnya.
Kesembilan altar itu saling terhubung oleh aliran cahaya yang membentuk sebuah formasi raksasa, seolah sedang menjaga sesuatu yang sangat penting bagi dunia.
Tatapan Xiao Yun terus mengikuti pemandangan tersebut, berharap dapat melihat lebih jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun pada saat itulah, sebuah sosok perlahan muncul di kejauhan.
Ia mengenakan jubah hitam panjang yang tertutup kabut pekat sehingga wajah maupun bentuk tubuhnya tidak dapat terlihat dengan jelas. Tidak ada aura yang meledak keluar dari tubuhnya, tidak pula ada gerakan yang berlebihan, tetapi hanya dengan memandang keberadaannya saja, jantung Xiao Yun langsung berdegup sangat keras.
Perasaan bahaya yang belum pernah ia alami sebelumnya memenuhi seluruh tubuhnya.
Nalurinya berteriak agar segera menjauh.
Namun tubuhnya sama sekali tidak dapat bergerak.
Sosok berjubah hitam itu perlahan mengangkat kepalanya.
Meskipun wajahnya tetap tersembunyi di balik kabut, Xiao Yun merasakan sepasang tatapan dingin sedang mengarah tepat kepadanya, seolah sosok tersebut mampu menembus ruang dan waktu untuk mengetahui keberadaan dirinya.
Sesaat kemudian, seluruh penglihatan itu hancur.
CRAAASH!
Langit.
Peperangan.
Sembilan altar.
Sosok berjubah hitam.
Semuanya pecah menjadi serpihan cahaya sebelum lenyap tanpa meninggalkan jejak.
Pada saat yang sama, di ruang inti Altar Pertama, tubuh Xiao Yun masih duduk bersila di tengah pusaran energi Warisan Nadi Kekosongan.
Cahaya hitam dan perak terus mengalir di permukaan kulitnya, membentuk pola-pola kuno yang bergerak mengikuti aliran energi di dalam tubuhnya. Setiap helaan napasnya memancarkan aura yang semakin dalam, sementara pusaran Nadi Kekosongan di dalam dirinya terus menyerap sisa-sisa energi warisan yang masih memenuhi ruangan.
Perubahan yang terjadi bukan hanya pada aliran energinya.
Tubuh fisiknya pun mengalami penyempurnaan secara menyeluruh.
Tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berderak pelan ketika ditempa oleh energi kuno.
Otot-ototnya menjadi semakin padat.
Darah yang mengalir di seluruh tubuhnya membawa aura yang jauh lebih murni dibandingkan sebelumnya.
Bahkan setiap meridian yang telah dibuka oleh Nadi Kekosongan kini menjadi lebih kokoh sehingga mampu menahan aliran energi yang jauh lebih besar.
Di luar lapisan energi pelindung, Luo Hai memperhatikan seluruh perubahan itu dengan tatapan penuh kesungguhan.
Sebagai mantan Dao Master, ia memahami bahwa Xiao Yun sedang mengalami penyempurnaan tubuh yang sangat langka. Namun semakin lama ia mengamati, semakin jelas pula bahwa perubahan tersebut telah melampaui batas penyempurnaan biasa.
"Ini bukan sekadar warisan..." gumamnya perlahan.
"Warisan itu sedang membangunkan sebagian kecil kekuatan asli Nadi Kekosongan."
Nada suaranya dipenuhi keterkejutan.
Ia pernah membaca banyak catatan kuno semasa hidupnya, tetapi belum pernah menemukan warisan yang mampu mengubah tubuh penerimanya sedemikian menyeluruh hanya dalam satu proses pewarisan.
Di dalam kesadaran Xiao Yun, retakan pada rantai pertama kembali melebar akibat hantaman energi yang tidak pernah berhenti.
KRAAAAK!
Suara pecahan itu bergema ke seluruh ruang gelap.
Sesaat kemudian, sebuah serpihan kecil dari mata rantai akhirnya terlepas.
BOOOM!
Gelombang aura purba yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya langsung memancar keluar dari celah tersebut, menyapu seluruh ruang gelap seperti badai yang tidak dapat dihentikan.
Xiao Yun hanya sempat merasakan tekanan luar biasa itu sesaat sebelum seluruh kesadarannya kembali ditarik keluar dari dunia batin.
Cahaya yang memenuhi ruang inti perlahan mulai meredup.
Aliran energi yang sebelumnya berputar liar kini berangsur-angsur kembali tenang, sementara lapisan pelindung hitam yang mengelilingi Xiao Yun perlahan menghilang satu demi satu hingga lenyap sepenuhnya.
Luo Hai segera melangkah mendekat.
Tatapannya tidak pernah lepas dari muridnya yang masih duduk bersila dengan kedua mata terpejam.
Beberapa saat kemudian, bulu mata Xiao Yun bergerak pelan.
Ia menarik napas panjang.
Lalu perlahan membuka kedua matanya.
Sorot matanya tampak jauh lebih jernih dan lebih dalam daripada sebelumnya, seolah pengalaman yang baru saja dialaminya telah mengubah sesuatu yang paling mendasar di dalam dirinya.
Xiao Yun memandang sekeliling beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya kepada Luo Hai.
"Guru..." ucapnya perlahan dengan suara yang masih sedikit serak.
Melihat muridnya telah sadar sepenuhnya, Luo Hai akhirnya mengembuskan napas lega.
Senyum tipis muncul di wajah roh tua itu.
"Kau berhasil melewati Warisan Altar Pertama."
...BERSAMBUNG...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?