NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: tamat
Genre:Vampir / Thriller / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 30: Perburuan

Disaat malam hari, cahaya bulan purnama bersinar terang di dalam kegelapan.

Tidak ada siapapun yang berkeliaran di kedalaman hutan, kecuali salah satu sosok yang mengenakan gaun gothic lolita berwarna merah gelap dan hitam yang roknya berenda, berjalan menelusuri kesunyian hutan.

Tatapan mata crimson miliknya menatap ke salah satu benteng yang kokoh namun terbengkalai di kedalaman hutan, senyum menghiasi wajahnya. Senyum yang memiliki sisi kejam dan sadis disaat bersamaan.

"Ketemu!"

Begitu cahaya bulan purnama tertutup oleh awan, sosok tersebut menghilang tanpa jejak seolah-olah keberadaannya hanya ilusi.

Di dalam sel tahanan yang pengap, seorang gadis lima belas tahun duduk terikat pada dinding batu yang dingin. Rambut pirangnya yang panjang dan dipotong model butterfly haircut kini kusut, sebagian menempel pada wajahnya yang dipenuhi memar. Ada bekas darah kering di sudut bibirnya—jejak dari upaya terakhirnya melawan para pria yang telah merenggut kebebasannya.

Gaun merah yang dikenakannya sudah koyak di banyak bagian, tidak lagi menutupi tubuh kecilnya sebagaimana mestinya. Meski demikian, kain yang robek itu cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah diperlakukan kasar, lebih daripada yang ingin dipikirkan siapapun.

Namun yang paling menghancurkan bukanlah luka-luka di tubuhnya, melainkan kosongnya tatapan mata gadis itu. Ia menunduk menatap lantai, wajahnya pucat, napasnya terputus-putus seolah setiap hembusan membawa kembali kilasan kejadian yang ingin ia lupakan. Setiap kali rantai di pergelangan tangannya gemetar, tubuhnya mengejang tanpa sadar, seakan ketakutan terhadap sesuatu yang mungkin kembali terjadi.

Di sudut sel, udara terasa berat seakan menyimpan bisikan yang tidak berani diucapkan. Di antara kesunyian itulah ia terkadang menggigit bibirnya sendiri, berusaha keras menahan gemetar yang merambat dari pundaknya hingga ujung jemarinya.

Ia tampak seperti seseorang yang jiwanya telah ditarik paksa meninggalkan tubuhnya—seorang gadis yang belum sempat tumbuh dewasa, tetapi sudah dibuat patah hingga ke akar hatinya.

"Besok kita harus bagaimana, Boss?"

"Kita akan jual dia di pelelangan budak."

Tatapan mata crimsonnya yang gelap, hanya menatap mereka penuh keputusasaan karena tidak bisa melakukan apapun selain pasrah, tahu kalau masa depannya tidak lagi cerah melainkan suram.

“Dibayar, dan sekaligus menghancurkan masa depan gadis itu. Lengkap sudah.”

"Ya."

Ketiga pria itu berdiri di luar sel dengan tawa puas, seperti predator yang merasa berhasil meremukkan mangsanya. Wajah mereka memancarkan kesombongan yang menjijikkan, seolah tindakan keji yang baru saja mereka lakukan adalah sebuah prestasi.

“Akhirnya ada yang bisa kita ajari rasa takut yang sebenarnya,” ujar salah satu dari mereka dengan nada sombong.

Yang lain menimpali dengan seringai lebar, “lihat kondisinya sekarang. Dia bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya lagi. Kita sudah menghancurkannya dari dalam.”

Tawa mereka meledak lagi, menggema di koridor sempit yang lembap. Suara itu terdengar seperti ejekan bagi gadis yang terbaring di dalam sel—suara yang menunjukkan betapa mereka menikmati penderitaan yang mereka ciptakan.

Bagi mereka, gadis kecil itu bukan seorang manusia.

Hanya sebuah sasaran untuk melampiaskan kekejian yang selama ini tersembunyi dalam diri mereka.

Ketika cahaya bulan purnama mulai terlihat, di depan mereka terlihat seorang wanita yang memiliki rambut long layer berwarna merah gelap, berkulit putih pucat dengan gaun gothic lolita perpaduan antara merah gelap dan hitam di beberapa bagian, mata crimsonnya menatap ke ketiga pria yang berjaga diluar.

"Permisi, apakah kalian bisa menunjukkan tempat ke arah ibukota?"

Didepan sosok itu, terlihat ketiga pria yang menatapnya penuh terpukau layaknya sosok dewi yang diterangi oleh cahaya rembulan, sangat sempurna namun rapuh disaat bersamaan.

"Tentu saja, Nyonya." Salah satu pria yang mengenakan zirah ala khas samurai berwarna merah gelap, terlihat antusiasme di wajahnya tanpa ada rasa sungkan.

"Tunggu sebentar, Bro!"

"Ada apa?"

Terkejut melihat rekannya, pria yang mengenakan zirah mirip seperti pakaian beladiri berwarna putih dengan garis berwarna hitam, dengan celana bahan berwarna krem, pria itu berbisik di telinga rekannya.

"Bagaimana kalau kita manfaatkan kepolosan wanita itu?"

"Ah, aku paham."

Keduanya menyeringai lebar, tahu kalau ide itu tidak buruk untuk dilakukan.

Seorang pria yang mengetahui ide gila dari kedua rekannya, hanya menghela nafas panjang dengan gelengan kepala berkali-kali, tidak disangka kalau mereka lebih bejat dari dirinya.

"Nyonya, jikalau kau berkenan maka kami bisa–"

Disaat pria dengan zirah khas samurai hendak menyentuh pundak dari wanita di depannya, pergelangan tangan dari telapak tangan kanannya terputus menyebabkan shock mendalam untuknya.

"Tanganku! Tanganku!"

Ia meringis kesakitan, berteriak histeris seolah-olah rasa sakitnya terasa jelas disaat darahnya muncrat dari bagian terpotong.

"Hama!"

"Kau... apa yang kau lakukan padanya?"

Tatapan mata crimson diarahkan pada kedua pria didekat pria tersebut. Dalam sekejap, mata mereka terpenggal oleh sesuatu tak terlihat membuat pria dengan zirah khas samurai semakin histeris melihat kedua rekan mereka tumbang.

"Ampun... ampuni aku..."

Wanita itu berhenti tepat di depan Samurai, menjambak rambutnya untuk membuatnya sejajar dengan tingginya sambil menatap dingin tanpa ada rasa ramah seperti sebelumnya, sangat tajam hingga menembus jiwanya.

"Katakan padaku, apa yang kalian lakukan disini?"

"I-Itu... kami... kami sebenarnya..."

Sebelum dapat menyelesaikan perkataannya, wanita itu menggunakan tubuh Samurai sebagai perisai daging saat merasakan tembakan sihir dari anak panah dalam jumlah besar ke arahnya menyebabkan tubuh Samurai itu tertembus di bagian perutnya dengan wajah yang terkejut saat mati.

"Sepertinya hama lain datang ya."

Diatas batang pohon, terlihat High Archer dengan busur panahnya di kejauhan, sementara dibawah terdapat High Wizard dengan tongkat sihir berbentuk tanda tanya dengan bola kristal transparan, menatap dalam diam ke arahnya.

"Yah, ini akan menyenangkan."

Sebelum dapat bergerak, High Archer menggunakan sihirnya dengan mana yang dituangkan didalamnya membuat anak panah sihir tersebut menembakkan sihir panah berwarna biru langit mengitari tubuh wanita tersebut.

"....."

Tahu kalau ia bergerak sedikit saja, anak panah yang mengitari tubuhnya akan menghasilkan ledakan yang dapat membuatnya mati ditempat tanpa bisa melakukan perlawanan.

High Archer juga membidik ke arah wanita itu, menembakkan sihir panah dalam jumlah banyak untuk menargetkannya untuk melukainya.

Wanita itu tetap diam, ia tertusuk oleh anak panah yang membuat lubang di dadanya membuat ia tumbang dengan darah yang bercucuran disekitar, tubuhnya dipenuhi dengan genangan darah.

"Suara apa itu?"

Tahu kalau ada hal tidak beres diluar, Best Knight didalam melirik ke Assassin dan Shinobi untuk memeriksa area luar. Mereka berdua mengangguk lalu lenyap untuk pergi keluar untuk mengetahui apa yang terjadi di sana.

Dijambak rambut butterfly haircut pirang panjang milik Alice oleh Beast Knight, ia menatap jengkel padanya.

"Meskipun seseorang mencoba untuk menyelamatkanmu, mereka tidak bisa lolos dari kematian."

Itu bukanlah ancaman melainkan kenyataan.

Siapapun yang mendekati kastil terbengkalai yang mereka tempati sekarang, mereka akan mati. Bukan mati olehnya melainkan kerjasama dari para petualang yang sepakat untuk melindungi tempat ini hingga esok pagi tiba.

Setelah pria itu melepaskan genggamannya dari rambutnya, tubuh gadis itu terjatuh lemas ke lantai. Ia hanya berbaring tanpa daya, pucat dan kosong, seolah seluruh cahaya hidup telah padam dari matanya.

Ia tidak lagi berusaha bicara—air matanya mengalir tanpa suara, satu-satunya tanda bahwa dirinya masih bisa merasakan sesuatu setelah masa depannya direnggut begitu saja.

"Tetaplah diam ditempat, kami akan menjual dirimu besok."

Lelah karena tidak ada reaksi sama sekali darinya, Best Knight meninggalkan sel tahanan dalam kondisi terkunci untuk melihat situasi diluar kastil terbengkalai.

Diluar, Shinobi dan Assassin mendekati jasad dari wanita berambut long layer berwarna merah gelap dalam posisi telungkup bersimbah darah dengan bagian dada berlubang.

"Apakah aman?"

"Ya, semuanya aman."

Diberitahu oleh Assassin dan Shinobi yang memeriksa kalau wanita tersebut sudah tiada, High Archer dan High Wizard bernafas lega karena mereka akhirnya membunuh wanita tersebut tanpa melakukan perlawanan sengit.

"Apakah mereka mati terbunuh olehnya?"

"Ya, kira-kira begitu."

"Begitu ya."

Ada kebingungan di raut wajah Assassin dan Shinobi, mereka tidak paham kenapa Samurai, Monk, dan Summoner bisa terbunuh begitu cepat tanpa melakukan perlawanan.

Padahal jika wanita itu selemah yang mereka perkirakan, mana mungkin mereka bisa mati secara instan, pasti mereka sudah sejak awal membunuhnya.

"Mungkinkah ada musuh lain?"

Ekspresi Shinobi dan Assassin menegang begitu merasakan hawa keberadaan lain disekitar mereka, tapi mereka tidak melihat siapapun selain rekan mereka disini.

"Apakah hanya firasatku saja?"

Saat Shinobi sedang lengah, sebuah jarum raksasa sepanjang dua meter muncul dari genangan darah dan melesat dengan kecepatan tak terduga.

Tanpa sempat bereaksi, Shinobi dan Assassin tertembus serangan itu secara bersamaan. Deretan jarum lain menyusul dalam sekejap, menghantam tubuh mereka dari berbagai arah hingga keduanya tidak lagi mampu bergerak.

Melihat dua rekannya tewas, ekspresi dari High Archer dan High Wizard menegang dalam sikap waspada.

Dari genangan darah di lantai, wanita itu perlahan bangkit. Luka besar di bagian dadanya menutup kembali dengan sendirinya, seolah tubuhnya menolak untuk mati. Saat napasnya kembali stabil, ia mengusap bibirnya dengan senyum puas—seperti seseorang yang baru mencicipi sesuatu yang memuaskan dahaga yang sudah lama ia pendam.

"Apakah kalian pikir bisa membunuhku?"

Rasa kesal akibat provokasi memenuhi hati mereka, mereka tidak terima diejek seperti itu oleh wanita yang bangkit dari kematian seolah-olah ia tidak bisa mati oleh serangan dari salah satu rekan mereka, Sniper.

"Wahai roh pelindung, berikanlah aku berkah untuk mengekang semua kejahatan yang memenuhi area tersebut. Magic Wall!"

Sebuah dinding sihir yang tingginya sekitar 3 meter dengan lebar 1 meter untuk seseorang—mengurung wanita itu dalam penjara sihir berwarna biru transparan, tidak bisa bergerak maupun lepas.

"Wahai roh tanah, berikanlah hamba berkah supaya hamba bisa menguatkan tekad untuk mengalahkan musuh hamba dengan bijak. Earthquake."

Getaran tanah mulai terasa. Beberapa detik kemudian, kembang bunga dari mengembang layaknya bunga bermekaran yang membuat dentuman keras menyapu bersih pepohonan dan semak-semak di sekitar, bahkan bagian bawah kastil sempat berlubang akibat serangan tersebut.

Debu tanah memenuhi pandangan di sekitar wanita yang mereka pikir terkena serangan tanpa ampun dari rekan mereka, High Wizard, mustahil untuk wanita itu dapat bertahan hidup.

"Sudah selesai?"

Sontak terkejut, High Wizard menoleh ke belakang. High Archer sudah tumbang sebelum sempat mengeluarkan suara, tubuhnya roboh seolah nyawanya direnggut dalam satu kedipan. Sosok itu berdiri tanpa bergerak sedikitpun—namun satu lawan telah terjatuh begitu saja, seakan kematian mereka terjadi tanpa proses.

High Wizard hanya bisa terpaku, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

"Hiiiiik!"

High Wizard terjatuh dalam ekspresi takut. Ia mundur dalam kondisi merangkak seolah-olah menjauh dari wanita berkulit putih pucat di wajahnya terdapat lumuran darah di kedua pipinya, ia berjalan mendekati High Wizard.

"Ampun... ampuni aku..."

"Oh... sekarang kamu memohon ampun? Lucu sekali."

Wanita itu lenyap dari tempatnya, muncul dibelakang pria gemuk dengan zirah merah gelap yang menutupi tubuhnya, kecuali kepalanya yang bulat dengan rambut french crop hitam, mata lime yang melihat sekitar dengan pukulan yang kuat.

Namun, pukulan tersebut ditahan oleh pelindung sihir seperti setengah lingkaran yang cukup kukuh dibelakang punggung pria tersebut, menyulitkan wanita itu untuk melenyapkannya.

"Lakukanlah tugas kalian!"

Ditebarkan bubuk dari sihir berwarna keemasan melalui tepukan tangan, sosok wanita berambut long wavy coklat menyebarkan serbuk yang menghujani area dimana pria berzirah merah gelap dan wanita berambut long layer berada.

Tak lama serbuk itu mengenai kulit dari wanita berambut merah gelap panjang, rentetan ledakan terdengar berkali-kali tanpa henti, sedangkan untuk pria berzirah merah gelap menyeringai pada sosok wanita berambut long wavy berwarna coklat, tahu kalau ia melakukan tugasnya dengan baik sebagai Alchemist.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Ya. Terimakasih banyak. Kau datang tepat waktu."

Best Knight yang mendekati Alchemist, ia senang karena wanita itu kembali disaat yang tepat.

Kalau tidak, ia akan menjadi sasaran empuk untuk wanita berambut merah gelap panjang yang menyerangnya tanpa hasrat membunuh, seperti yang dilakukannya pada rekan-rekannya yang lain.

"Oi, bangunlah."

Tersadar dari rasa takut, High Wizard segera bangkit, ia berdiri lalu mendekati Best Knight.

"Cepat kita bawa pergi sandera. Disini sudah tidak aman."

"Baik."

Tatapan mata lime Best Knight diarahkan pada wanita yang memiliki class Alchemist untuk mengisyaratkan sesuatu. Wanita itu memahami apa maksud dari Best Knight, ia menggunakan magic book untuk menciptakan Perfect Shield, perisai lonjong berwarna putih transparan yang memiliki tinggi sesuai dengan ukuran tubuh mereka masing-masing dengan lebar untuk satu orang.

"Mari kita masuk."

"Ya."

Mereka masuk kembali kedalam kastil terbengkalai berniat untuk memindahkan sandera yang tak berdaya ke tempat lain.

Tapi saat mereka melihat ke sel tahanan, terlihat wanita berambut long layer merah gelap dengan gaun gothic lolita berwarna merah gelap dan hitam menjambak rambut gadis itu, seringai kejam dan sadis terlihat menatap ke mereka bertiga.

"Kalian ingin ini, kan?"

"Tolong aku!"

"Tsk..."

Best Knight menggenggam pedang besar dari punggungnya, menguatkan dirinya dengan Perfect Guard yang membuat tubuhnya dipenuhi oleh aura keemasan. Ia kemudian memperkuat dirinya dengan aura biru langit, mengaktifkan Magic Parry siap untuk tetap ditempatnya.

Sementara itu, Alchemist menggunakan magic book yang mengeluarkan cahaya berkilau berwarna perak layaknya bintang-bintang di langit, ia menjentikkan jarinya berkali-kali membuat kilauan dari serbuk perak terbang kearah wanita berambut long layer merah gelap.

"Menyedihkan sekali."

Dalam sekejap, kobaran api memenuhi tempat dimana wanita itu dan gadis itu berada, membungkus mereka dalam nyalanya api tanpa sempat melarikan diri.

Saat kobaran api padam, sesuatu mirip seperti tentakel yang membentuk jarum menargetkan Alchemist namun dihadang oleh Beast Knight yang berdiri didepannya, melindunginya dari serangan tanpa terluka sama sekali.

"Lakukanlah, High Wizard!"

"Ya."

Tongkat sihir melengkung seperti tanda tanya diarahkan ke depan, mata High Wizard di pejamkan untuk melafalkan mantra didalam batinnya supaya musuhnya tidak tahu sihir apa yang digunakannya.

Saat bola kristal transparan memperlihatkan warna perak, itu bersinar terang memenuhi area.

"Imperion Ray!"

Sebuah ledakan putih meluap, membutakan pandangan mereka sejenak. Wanita yang menyandera gadis itu terhempas dan hilang dibalik kilatan cahaya. Saat cahaya mereda, hanya dinding sel yang remuk menyingkap gelapnya malam dengan cahaya rembulan.

"Apakah kali ini berhasil?"

"Entahlah."

Di dekat gerbang menuju Ibukota, wanita berambut long layer merah gelap menurunkan tubuh gadis itu dengan hati-hati. Dalam sekejap, cahaya lembut menyelimuti tubuh gadis itu, memulihkan seluruh luka dan bekas penderitaan yang menimpanya hingga kembali seperti semula—seolah kejadian tragis itu tidak pernah terjadi sama sekali.

Bahkan gaun merahnya yang sebelumnya telah rusak, kini kembali utuh dan rapi, menutupi tubuhnya tanpa jejak robekan sedikit pun.

"Kenapa... kenapa kamu hidup?"

Setahunya, didepannya adalah ilusi yang dibuatnya saat menceritakan pada ayah dan ibunya, tapi entah mengapa sosok itu malah jadi nyata, Bloen.

Bloen yang tersenyum, terkekeh lalu menepuk kepala gadis itu dan mengusap-usap rambut butterfly haircut miliknya.

"Sederhana. Imajinasimu menciptakan diriku untuk hidup."

"Huh?"

Tidak paham atas maksud dari Bloen, seingatnya, hal seperti itu mana mungkin terjadi di dunia ini.

Kalaupun ada, mungkin ia tidak perlu berusaha keras untuk menjadi kuat dan hebat melainkan hanya perlu menggunakan imajinasi untuk ia bisa menjadi kuat dan hebat.

"Mana mungkin aku percaya itu!"

Ditepis tangan Bloen, gadis itu dengan wajah jengkel tidak mempercayai perkataannya membuat wanita itu terkejut—mendesah pelan, tidak ingin meladeni gadis didepannya karena merepotkan.

"Terserah kamu percaya atau tidak, aku tidak memiliki waktu untuk meladeni dirimu."

Berbalik badan lalu berjalan beberapa langkah, Bloen lenyap begitu cahaya rembulan tertutup oleh awan meninggalkan gadis itu berdiri dalam wajah bingung dalam kesunyian.

"Terimakasih," gumamnya, yang pergi memasuki gerbang yang dijaga oleh kedua ksatria yang berpatroli.

Kedua ksatria tersebut membawa gadis itu memasuki Ibukota Thijam lalu membawanya ke Kerajaan Thijam untuk diserahkan pada ksatria lain, diserahkan pada kedua orangtuanya yang mencari keberadaannya.

Di kedalaman hutan, Beast Knight, High Wizard, dan Alchemist bernafas lega karena mereka terhindar dari marabahaya meskipun mereka harus mengorbankan Alice, sandera mereka hingga mati bersamaan dengan wanita tersebut.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Entahlah. Bagaimana kalau kita lapor kalau kita gagal?"

"Mana mungkin. Kita sudah menjalankan tugas kita dengan baik."

Tanpa sepengetahuan mereka, sosok mengintai dibalik kegelapan diantara batang pohon tanpa hawa keberadaan untuk mereka rasakan.

"Itu artinya kita tinggal minta bayaran?"

"Ya, kau benar."

Tiba-tiba sesuatu melesat dengan kecepatan yang tak terduga. Dalam sekejap, High Wizard dan Alchemist terhentak keras, tubuh mereka terlempar tanpa sempat mengeluarkan suara. Keduanya tumbang bersamaan, membuat Best Knight terbelalak tak percaya melihat rekan-rekannya jatuh dalam satu serangan kilat.

"Mustahil."

Sebelum sempat menggunakan kemampuannya, sulur berwarna crimson mengikat tubuh Best Knight, mencegahnya untuk merepotkan dirinya.

"Ada apa, serangga? Tidak bisa melarikan diri?" Ejek Bloen menyeringai atas ketidakberdayaan Best Knight dalam sulur yang mengikat tubuhnya dengan kuat.

"Kau... kenapa kau tetap hidup?"

"Kenapa?"

Terkekeh atas kebingungan dari Best Knight, Bloen menjelaskan saat kejadian dimana serangan dari Alchemist hingga serangan dari High Wizard.

Saat butiran perak melesat ke arah mereka, percikan energi memancar dan menyulut hawa panas yang menyebar ke seluruh ruangan. Sekilas terlihat seolah-olah api menyelimuti Bloen dan Alice, namun sebenarnya Bloen telah membentuk sebuah dinding pelindung dari sihirnya—sebuah perisai berwarna merah gelap yang memantulkan cahaya seperti kaca tebal. Dari luar, semuanya tampak seolah mereka tertelan kobaran api, padahal di balik perisai itu—keduanya hanya merasakan hangat yang menenangkan.

Belum sempat lawan mereka menyadari, High Wizard melancarkan serangan berikutnya: Imperion Ray, cahaya sihir tingkat tinggi yang mampu memenuhi ruangan dengan kilau putih menyilaukan. Tepat sebelum cahaya itu menguasai seluruh tempat, Bloen membuka sebuah celah di lantai menggunakan sihir ruang, menarik gadis itu bersamanya.

Dari sudut pandang para saksi, tubuh Bloen dan Alice menghilang tepat saat cahaya meledak memenuhi ruangan—meninggalkan kesan bahwa keduanya telah lenyap bersama terangnya serangan itu.

"Begitulah ceritanya."

"Tsk...." ada ketidakpuasan di wajah Best Knight.

Ia sama sekali tidak memahami apa yang diinginkan oleh sosok didepannya, Bloen, dengan mengganggu rencana mereka sekaligus menyelamatkan gadis itu.

"Kenapa kau melakukan ini pada kami? Apa maumu?"

"Apa mau aku?" Bloen tertawa geli melihat kebingungan Best Knight, ia mendekatinya lalu menepuk pipi pria itu dengan lembut lalu meletakkannya di kedua pipinya untuk menatapnya.

Ada rasa dingin dari kulit Bloen saat ia menyentuh pipinya, pria itu menyadari kalau di depannya bukanlah makhluk hidup melainkan makhluk yang sudah lama mati.

"Itu karena kalian mengambil buruanku. Aku takkan segan untuk melenyapkan kalian."

Ekspresi kelam yang memperlihatkan wajah sadis, senyum kejam terlihat di wajah Bloen yang diarahkan pada pria yang tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Pria itu gemetar ketakutan, tahu kalau wanita didepannya bukanlah tandingannya.

"Ampuni aku... kumohon, jangan bunuh aku...."

"Ara... kupikir kamu bersenang-senang denganku tadi, tapi sekarang tidak ya."

Senyum terlihat dibibir Bloen seolah-olah ia menikmati keputusasaan Best Knight di depannya yang gemetar dalam ketakutan.

"Aku akan berikan apapun... kumohon, jangan lakukan apapun padaku...."

Didengarkan permohonan dari Best Knight, hanya ada anggukan dengan senyum dibibir Bloen tanpa mengabulkan permintaannya.

"Baiklah, aku akan membebaskan mu."

Dilepaskan sulur crimson mengikat tubuh Best Knight, ada rasa puas dan senang di wajahnya lalu ia segera berlari meninggalkan tempatnya daripada menghadapi Bloen.

"Tapi, bohong!"

Dalam sekejap, serangan itu menghantam Best Knight dengan kekuatan yang bahkan tidak sempat ia antisipasi. Tubuhnya terhempas keras ke tanah, dan kendali atas tangan serta kakinya hilang seketika, membuatnya tak mampu bangkit lagi. Wajahnya memucat—antara kaget dan tak percaya—menyadari bahwa pertarungan sudah berakhir untuknya.

"Kamu pikir aku akan membiarkanmu hidup? Jangan harap!"

“Aaargh…!!”

Teriakan histeris sangat nyaring didengar. Saking kerasnya membuat Forest Boar dan Forest Wolf merinding ketakutan karena mereka merasakan ancaman yang lebih berbahaya, mereka segera bersembunyi daripada berkeliaran.

^^^To be continued...^^^

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!