Bagi Heskala Regantara, kehidupannya di tahun 2036 hanya soal kerja, tanggung jawab, dan sepi. Ia sudah terlalu lama berhenti mencari kebahagiaan.
Sampai seorang karyawan baru datang ke perusahaannya — Aysha Putri, perempuan dengan senyum yang begitu tipis dan mata yang anehnya terasa akrab.
Ia tak tahu bahwa gadis itu pernah menjadi bagian kecil dari masa lalunya… dan bagian besar dari hidupnya yang hilang.
Lalu, saat kebenaran mulai terungkap, Heskal menyadari ...
... kadang cinta paling manis lahir dari kesalahan yang paling tak termaafkan.
•••
"The Sweetest Mistake"
by Polaroid Usang
Spin Of "Gairah My Step Brother"
•••
Bisa dibaca terpisah.
•••
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Polaroid Usang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
•••
Siang itu, suasana yang awalnya di penuhi gelak tawa berubah drastis menjadi begitu tenang. Canggung. Dua orang itu duduk di sofa, tidak berhadapan, tidak juga bersebelahan. Heskal duduk pada sofa single di ujung meja, Zeline duduk pada sofa panjang di sisi meja.
Sementara itu yang lain, sengaja meninggalkan mereka berdua dirumah itu. Dengan alasan mengajak bermain anak-anak.
Sejak mereka pergi, Heskal tak sekalipun mengalihkan pandangan dari Zeline yang sejak tadi menunduk. Dia menatap perempuan itu lamat-lamat, menatap fitur wajah dewasanya, menatap gerak-gerik canggungnya.
Hening panjang memenuhi seluruh ruangan. Heskal yang pertama kali bersuara.
"Masih pusing?" Tanya lelaki itu sedikit mencondongkan badan.
Zeline meliriknya sekilas, lalu menggeleng.
Heskal mengangguk pelan, masih tak mengalihkan pandangan. Rasanya seperti ada magnet yang membuatnya ingin terus menerus menatap wajah itu. Masih ada rasa tak menyangka, masih ada rasa tak percaya. Bahwa Zeline yang dulu masih dia anggap anak kecil kini sudah sedewasa ini.
"Zeline," Panggil Heskal lagi.
Zeline kembali menoleh, menatap Heskal dalam diam, berusaha keras menjaga jarak yang sejak tadi ia bangun dengan rapi.
Heskal menelan ludahnya susah, bibirnya terbuka sedikit, matanya terpaku pada mata Zeline yang balas menatapnya. Tanpa menghindar lagi, tanpa memutus tatapan lebih dulu seperti sebelumnya.
"Makasih udah bertahan." Suara Heskal tercekat.
Sunyi.
Cukup lama Zeline terdiam sebelum ia mengangguk pelan. Heskal mengangguk juga tanpa sadar. Mata mereka masih terkunci dalam jarak. Heskal berusaha mendekat tapi juga menahan diri. Dan Zeline belajar untuk tidak menjauh lagi.
"Zeline," Panggil Heskal lagi.
"Iya."
Heskal menatap mata bulat itu, lalu berucap serak, "Makasih udah bertahan dan memilih untuk ngelahirin anak kita."
Netra Zeline bergetar. Air matanya perlahan menggenang, berusaha kuat ia tahan perasaannya supaya air mata itu tak jatuh.
Zeline mengangguk kecil, sudut bibirnya tertarik samar membentuk senyuman yang nyaris tak terlihat.
Dan disana, Heskal memutus tatapan itu lebih dulu. Matanya memerah, rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Tak sanggup melihat Zeline-nya yang berusaha kuat menahan sesak.
"Kewajiban."
Satu kata. Singkat. Lirih.
Sunyi lagi.
Heskal menggeser posisi duduknya sedikit. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Hanya ingin berada di titik yang sama.
"Kamu hebat." Bisik Heskal menunduk.
Zeline tersenyum tipis, perih, tapi terselip rasa hangat yang tak seharusnya ada. "Iya."
Jawaban-jawaban itu biasa. Sepele. Tapi bagi mereka ... itu kemajuan.
Heskal menunduk sebentar, lalu kembali menatap Zeline. "Kamu… kelihatan tenang sekarang."
Zeline terdiam.
"Bukan karena semuanya udah selesai," lanjut Heskal pelan. "Tapi kayak… kamu udah berdamai sama banyak hal."
Zeline menghembuskan napas perlahan. "Mungkin. Atau mungkin aku cuma udah capek marah."
Kalimat itu jatuh lembut. Tidak menyalahkan. Tidak menuntut.
Heskal mengangguk. Menatap sisi wajah manis Zeline yang membuatnya enggan untuk mengalihkan pandangan sedikitpun. Dia lalu berbisik ragu. "Aku seneng dengarnya."
Zeline menoleh cepat. "Kenapa?"
"Karena… kamu pantas hidup tenang."
Tatapan mereka bertemu. Lama. Tidak ada senyum. Tidak ada air mata. Hanya keheningan yang tidak lagi menekan.
Justru terasa hangat.
Zeline akhirnya menunduk lebih dulu. Menatap mata hitam Heskal yang membuat irama jantungnya semakin cepat. Zeline menghindar lagi, tapi batasnya tidak dihapus. Hanya masih kabur. Walau begitu, Heskal tetap sangat bersyukur Zeline sudah mulai terbuka.
Dan itu cukup untuk hari ini.
Lebih dari cukup.
•••
Zeline Aysha Putri⬇️
Di kantor: Aysha Vibes☕🤎❄️🪽⬇️
Real Life: Zeline Vibes🍓🐇🩷🫧⬇️
14 Tahun Zeline Vibes🌈🍭🐇🍓🫧⬇️
...
Anak seceria "Zeline" jadi sedewasa dan sependiam "Aysha"💔💔
oh iya boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe)
boleh cek profil ku ya kak... nama judul ceritanya Pernikahan yang tak terduga
PLISSSSSSSS
😭😭😭😭😭