NovelToon NovelToon
WOTU

WOTU

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:491
Nilai: 5
Nama Author: GLADIOL MARIS

Di kota kecil Eldridge, kabut tidak pernah hanya kabut. la menyimpan rahasia, bisikan, dan bayangan yang menolak mati.

Lisa Hartman, gadis muda dengan kemampuan aneh untuk memanggil dan mengendalikan bayangan, berusaha menjalani hidup normal bersama dua sahabat masa kecilnya-Ethan, pustakawan obsesif misteri, dan Sara, sahabat realistis yang selalu ingin mereka tetap waras.

Namun ketika sebuah simbol asing muncul di tangan Lisa dan bayangan mulai berbicara padanya, mereka bertiga terseret ke dalam jalinan rahasia tua Eldridge: legenda Penjaga Tabir, orang-orang yang menjadi pintu antara dunia nyata dan dunia di balik kabut

Setiap langkah membawa mereka lebih dalam pada misteri yang membingungkan, kesalahpahaman yang menimbulkan perpecahan, dan ancaman makhluk yang hanya hidup dalam bayangan. Dan ketika semua tanda mengarah pada Lisa, satu pertanyaan pun tak terhindarkan

Apakah ia pintu menuju kegelapan atau kunci untuk menutupnya selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GLADIOL MARIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PELAJARAN PERTAMA

"eumhh....", Bangunnya pagi ini diawali dengan ringisan, bukan karena sinar pagi yang menusuk mata lewat sela jendela. Bukan suara bising tetangga yang memotong besi atau sedang mengelas pagar yang rusak. Bukan karena suara pemotong rumput halaman, tapi karena denyut. Denyut yang bukan dari jantungnya, tapi lagi-lagi dari sesuatu yang tertanam di bawah kulit telapak tangannya — seperti akar hitam yang tumbuh perlahan, menggantikan urat darahnya. Ia membuka mata, napasnya tersengal, tubuhnya basah oleh keringat dingin meski udara di kamar tamu Bu Redfield menusuk tulang.

Lisa duduk perlahan, wajahnya mengernyit menahan perih, punggungnya menempel pada kayu ranjang yang keras. Ia menatap tangannya. Simbol itu masih ada — garis-garis hitam yang kini merambat hingga ke pergelangan, bercabang seperti akar pohon yang mencari jalan ke pusat bumi. Cahayanya redup, tapi hidup. Setiap kali ia menarik napas, simbol itu berdenyut. Setiap kali ia menghembuskan napas, bayangan di sudut kamar ikut bergetar.

---

Sarapan di rumah Bu Redfield yang tidak pernah seperti sarapan biasa. Tidak ada suara sendok beradu piring, tidak ada obrolan ringan tentang cuaca atau pekerjaan. Hanya keheningan yang tebal, berat, seperti selimut basah yang menutupi setiap kata yang ingin keluar.

Mereka duduk di meja kayu tua, cangkir teh hitam di depan masing-masing. Lisa duduk di meja dapur, tangannya menggenggam cangkir teh hitam yang sudah dingin. Uapnya lenyap sejak lama, tapi ia tetap menatap permukaannya, seolah menunggu bayangan dirinya muncul dari dalam cairan itu.

Di sisi lain meja, Sara mengunyah roti gandum dengan gerakan mekanis, matanya merah, tubuhnya kaku. Ia tidak tidur semalam — bukan karena takut, tapi karena ia takut tidak bangun jika tertidur..

Ethan, seperti biasa, sibuk. Ia menyalin mantra yang diajarkan Bu Redfield tadi malam ke dalam buku catatannya, pena bergerak cepat, huruf-hurufnya berantakan tapi penuh semangat. Di pinggir halaman, ia menggambar ulang simbol di tangan Lisa, lalu menambahkan catatan kecil: "Reaksi emosional \= intensitas cahaya. Stres \= kebocoran energi.".

Bu Redfield muncul dari balik pintu dapur, tongkat kayunya mengetuk lantai—tok, tok, tok—seperti detak jam yang mengingatkan: waktu tidak menunggu.

“Hari ini,” katanya, suaranya serak tapi tajam, “kau akan belajar mengendalikan apa yang ada di dalam dirimu.”

Lisa menoleh. Matanya tidak lagi penuh keraguan. Ia mengangguk pelan. “Aku siap.”

Bu Redfield mengangguk. “Ikuti aku.”

Mereka mengikuti Bu Redfield ke ruang belakang rumah—ruangan yang sama tempat bayangan pertama kali muncul. Tapi kali ini, segalanya berbeda.

Meja kayu besar telah dibersihkan. Tidak ada tumpukan kertas, tidak ada peta tua yang lusuh. Hanya ada satu benda di tengah meja: cermin kecil berbingkai perak.

Ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan Lisa. Bingkainya diukir dengan simbol yang sama persis dengan yang ada di telapak tangannya—lingkaran dengan tiga garis spiral yang saling menyambung di tengah. Tapi permukaannya… tidak memantulkan cahaya. Ia memantulkan kegelapan.

Lisa mendekat perlahan, jantungnya berdegup kencang. Di permukaan cermin itu, ia tidak melihat wajahnya. Ia hanya melihat bayangan — samar, gelap, dan bergerak pelan, seolah bernapas.

“Ini adalah Cermin Bayangan,” kata Bu Redfield, suaranya rendah, seperti bisikan yang datang dari dalam tanah. “Ia tidak memantulkan wajahmu. Ia memantulkan… kegelapan di dalam dirimu.”

Sara menelan ludah. “Jadi… ini semacam tes?”

“Bukan tes,” jawab Bu Redfield. “Ini latihan. Kau harus menstabilkan bayangan itu. Jangan biarkan ia lepas.”

“Bagaimana caranya?”

“Gunakan mantra. Gunakan napasmu. Dan yang paling penting…” Bu Redfield menatap Lisa tajam. “…jangan biarkan emosimu menguasaimu. Jika kau takut, marah, atau putus asa… bayangan itu akan lepas. Dan jika ia lepas…” Ia menatap Sara dan Ethan. “…ia akan ‘makan’ cahaya di ruangan ini. Semua cahaya. Sampai yang tersisa hanya kegelapan.”

Sara menelan ludah. “Jadi… kalau Lisa gagal, kita bakal buta?”

“Tidak,” jawab Bu Redfield. “Kalian tidak akan buta. Tapi kalian akan lupa bagaimana rasanya melihat cahaya. Dan itu… jauh lebih buruk.”

Ethan menatap Lisa, matanya berbinar. “Kau bisa, Lis. Kau sudah lakukan ini sebelumnya.”

Lisa mengangguk pelan, lalu berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangan itu. Bayangan itu menatap balik — bukan meniru, tapi mengamati. Seolah menunggu.

Ia menarik napas dalam-dalam. Udara terasa berat di paru-parunya, tapi ia tidak sesak. Ia merasa… tenang. Seperti jika beban yang selama ini menindih dadanya akhirnya diangkat — bukan karena hilang, tapi karena ia memilih untuk memikulnya.

“Kael’neth en shal…” bisik Lisa, suaranya pelan tapi mantap.

“…veth’ra en lun.”

Dan saat kata-kata itu meninggalkan bibirnya—

Bayangan di dalam cermin bergetar.

Lisa menatapnya, matanya tidak berkedip. Ia merasakan simbol di telapak tangannya berdenyut, seirama dengan napasnya. Ia tidak melawan. Ia tidak takut. Ia hanya… mengalir.

Bayangan itu perlahan-lahan berhenti bergerak. Ia menjadi tenang. Stabil. Seperti air yang baru saja berhenti bergolak.

Sara menghela napas lega. Ethan mencatat sesuatu di buku catatannya.

Tapi tiba-tiba—

“Hatch!”

Sara bersin.

Suara kecil itu memecah konsentrasi Lisa. Bayangan di dalam cermin meledak — bukan sebagai sosok, tapi sebagai kabut hitam yang menyebar ke seluruh ruangan.

Lampu minyak di dinding langsung padam. Cahaya lilin di meja bergetar, lalu mati. Bahkan cahaya dari jendela tampak meredup, seolah disedot oleh kegelapan itu.

“Lis!” teriak Sara, suaranya panik.

Lisa menutup mata. Ia tidak panik. Ia tidak takut. Ia hanya mencoba untuk tetap fokus.

“Vel’shar en mora…” bisiknya, suaranya lebih keras kali ini.

“…thal’kai en dren.”

Cahaya biru kehitaman meledak dari telapak tangannya, membentuk perisai tipis di sekeliling mereka. Kabut hitam itu berhenti, lalu perlahan-lahan ditarik kembali ke dalam cermin.

Cahaya kembali ke ruangan. Lampu minyak menyala. Lilin bergetar, lalu stabil. Cahaya dari jendela kembali normal.

Lisa membuka matanya. Bayangan di dalam cermin kini tenang — lebih tenang dari sebelumnya. Seolah ia puas.

Bu Redfield menatap Lisa, matanya berkilat. “Bagus. Kau belajar cepat.”

Sara menghela napas lega, lalu menepuk dada Lisa. “Jangan pernah suruh aku jaga napas lagi, oke? Aku hampir bikin kita semua buta!”

Ethan tersenyum, lalu menulis sesuatu di buku catatannya. “Respon emosional langsung memengaruhi stabilitas bayangan. Catat itu.”

Lisa menatap cermin itu lagi. Bayangan di dalamnya menatap balik — tapi kali ini, ia tidak menatap dengan rasa ingin tahu. Ia menatap dengan… pengakuan.

Lisa tersenyum samar. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada bayangan.

Ia merasa… terhubung.

“Ini baru permulaan, Lisa Hartman,” kata Bu Redfield, suaranya pelan tapi tegas. “Dan kau baru saja membuktikan bahwa kau layak menjadi custodian.”

Lisa menatap Bu Redfield, lalu menatap Ethan dan Sara. Di mata mereka, ia melihat kekaguman, kekhawatiran, dan cinta.

Ia menatap tangannya sendiri. Simbol itu masih berdenyut, tapi kini denyutannya terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih… bersahabat.

1
~abril(。・ω・。)ノ♡
Saya merasa seperti berada di dalam cerita itu sendiri. 🤯
GLADIOL MARIS: Semoga betah nemenin Lisa di Wotu dalam perjalannya 🤗
total 2 replies
Không có tên
Kocak abis
GLADIOL MARIS: Waduh, susah nih bikin kakak takut pas baca kayaknya⚠️
total 1 replies
GLADIOL MARIS
Halo teman-teman yang sudah menyempatkan mampir. Aku harap WOTU bisa nemenin kalian nantinya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!