Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bai Hu pun segera berdiri, aura binatang suci nya perlahan keluar.
Wraaakkk... waaahhh!
Teriakan seekor rubah ekor sembilan memekikkan telinga. Meja-meja sudah terbalik, sisa satu orang yang menyerang Lian langsung terhempas seolah dihantam oleh tembok tak kasat mata.
Satu orang lainnya pun segera melawan Bai Hu. Kibasan pedangnya yang dilontarkan sang penyerang tidak menyentuh Bai Hu sama sekali.
"Kenapa tidak kena?!" seru sang penyerang.
"Hahaha... sekarang giliranku." Bai Hu langsung menerjang sang penyerang itu.
Dengan kibasan kukunya yang tajam menyentuh baju dia. Hingga sang penyerang mulai merasakan dingin yang menusuk.
Ketika melihat ke badannya, ia terkejut, bajunya tampak compang-camping tak beraturan.
Dia pun marah dan sekali lagi pedangnya menghunus pada Bai Hu.
Tetapi, Bai Hu tidak kalah ganas. Kuku dan pedang sang penyerang saling beradu.
TRING
Mereka saling menatap tajam. Tangan kiri Bai Hu yang bebas, dengan mencari kesempatan, ia langsung menusuk perut sang penyerang hingga mengeluarkan darah.
Si penyerang langsung terkulai lemas hingga jatuh terduduk.
Dua kawannya lagi langsung menyerang mencoba menyentuh Bai Hu. Namun, mereka terlambat, Paman Yun langsung berdiri di depan Bai Hu dengan aray yang tak kasat mata.
BRUKK... AHH!
Dua penyerang langsung terbang menabrak tiang, hingga tiang itu langsung retak.
Sedangkan sang pemimpin, ia tampak marah melihat rekannya jatuh.
Ia pun langsung menyerang dengan pedangnya. Namun kali ini, Ling Xi tidak tinggal diam, ia mengeluarkan kekuatan es nya dan-
KRAAAKKK!
Bunyi pedang yang telah dibekukan.
Sang pemimpin terkejut, ia pun melemparkan pedangnya, "Sial." Ia pun mengambil belati yang terselip di balik bajunya.
WUSHHH... SLANG...
SET... WUSHHH...
"BERANI SEKALI KALIAN MEMBUAT KERIBUTAN DI DESA ORANG!" seru Ling Xi.
"TENTU SAJA KAMI BERANI! KARENA KAMI AKAN SELALU MENCARI CARA UNTUK MEMBAWAMU DENGAN DARAH PHOENIX DI DALAM DIRIMU UNTUK MEMBANGKITKAN RAJA IBLIS KAMI!" jawabnya tak kalah tegas.
"SEKARANG IKUT DENGAN KAMI ATAU..."
"ATAU APA?!"
"KAMI AKAN MEMAKSAMU DAN MEMINTAMU UNTUK MELAYANI KAMI SEMUA! HAHAHA!" tawanya.
Ling Xi yang mendengar itu langsung marah dan mengeluarkan kekuatan kegelapannya.
SET SRAAKK WUSHHH..
Sebuah lubang hitam perlahan mulai terbentuk menyedot tubuh ke enam penyerang itu dan pemimpinnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!"
"Tidak ada, hanya membiarkanmu terhisap ke dalam lubang hitam." ucap Ling Xi dengan santai.
"KAU AKAN MENERIMA BALASANNYA! RAJA IBLIS KAMI SEBENTAR LAGI AKAN BANGKIT!" serunya.
Lubang hitam pun perlahan mengecil hingga akhirnya hilang dari pandangan.
Ling Xi melihat ke sekeliling, para pengunjung yang berada di penginapan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, begitupun juga dengan pemilik penginapan.
Ia pun menghampiri paman pemilik penginapan.
"Maafkan kami, paman. Kami telah mengacaukan kediaman milik paman," ucapnya dengan parau.
Sang pemilik langsung tersentak, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Sebagai ganti ruginya, Ling Xi mengeluarkan sekantong koin emas dan menyerahkannya pada sang pemilik penginapan.
"Nona, ini..." belum sempat sang pemilik menyelesaikan ucapannya, Ling Xi kembali memotong.
"Itu untuk biaya kerugian yang telah terjadi. Tapi izinkan kami untuk menginap di sini semalaman. Dan besok kami akan pergi dari sini."
Dengan lesu, sang pemilik langsung menatap Ling Xi dan yang lainnya. "Istirahatlah, tidak apa-apa, nak. Ini mungkin sudah takdir agar paman harus memperbaiki penginapan ini. Sekali lagi, terima kasih."
"Kami yang harusnya berterima kasih, karena paman masih mau mengizinkan kami untuk menginap di sini semalaman."
"Sama-sama, nak. Kalau gitu, pesanan kalian, kami akan antarkan langsung ke kamar, bagaimana?"
"Baik, paman."
Setelah itu, mereka pun naik ke lantai dua melewati tangga.
Sedangkan di seberang penginapan, tepatnya di atas atap rumah warga, terdapat dua orang laki-laki, yang satu tengah menyandarkan tubuhnya dengan tumpuan tangan, ia menggunakan pakaian berwarna putih yang dihiasi warna merah.
Sedangkan yang satunya, ia tengah duduk di atas atap, menggunakan pakaian berwarna hitam dengan sebuah pedang di pinggangnya, seperti seorang pengawal.
"Yang mulia, kenapa Anda tidak menolong wanita itu?"
"Belum waktunya aku menunjukkan wajahku."
Sang pengawal menatap malas orang yang dianggap Yang Mulia itu.
"Permaisuriku... sebentar lagi kita akan bertemu. Dan pada saat itu juga, sang raja iblis akan terbangun dari tidurnya," gumamnya.
"Cepatlah kalian bertemu, supaya anda tidak hanya menonton pertarungan kekasihmu dengan prajurit iblis itu."
...****************...
Keeosakan paginya, Ling Xi, Lian, Bai Hu dan juga Paman Yun keluar dari kamar menuju tempat makan yang berada di lantai bawah.
Ketika mereka di sana, hanya tersisa 1 meja lagi. Mereka pun dengan cepat menuju meja yang berada dekat jendela.
Ling Xi memanggil pelayan itu untuk menuliskan pesanan mereka. Setelah semua sudah, pelayan itu pun pergi.
1 dupa pun berlalu, mereka telah menyelesaikan sarapan paginya. Mereka pun menuju meja resepsionis untuk berpamitan dengan paman pemilik penginapan itu.
"Paman, terima kasih karena telah memberikan pelayanan yang baik untuk kami. Dan maaf semalam kami membuat keributan di sini."
"Tidak apa-apa, nak. Kemalangan bisa terjadi kapan saja. Begitu pun dengan kejadian semalam."
"Sekali lagi, terima kasih paman. Kalau begitu kami pamit untuk melanjutkan perjalanan kami."
"Baiklah, nak. Hati-hati di setiap perjalanan."
"Terima kasih, paman. Kalau begitu kami pamit."
Setelah berpamitan dengan paman pemilik penginapan, mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju Lembah Tianlong. Tempat di mana Naga Putih berada.
...... to be continued ......