Zira harus pindah sekolah karena ulah Refan yang membuat sahabatnya menjauh darinya. Bukan karena ada paksaan tapi karena itu adalah pilihan yang tepat. setidaknya ia tidak akan berjumpa lagi dengan Refan cowok dingin dan kasar itu.
Setelah pindah Zira menjadi lebih tertutup dari sebelumnya dan tidak ingin bersahabat dengan siapapun lagi. Karena bukannya persahabatan harus didasari kepercayaan. Kecuali Deva cewek tomboi yang berhasil menjadi sahabat Zira satu-satunya.
7 tahun berlalu Zira kembali bertemu dengan Refan di waktu dan tempat yang tidak terduga. Dan mendadak orang tua Refan menjodohkan Zira dengan Refan. Sedangkan ibu Zira setuju dan meminta Zira berhenti kabur seperti dulu.
Apa yang akan terjadi dengan Refan dan Zira selanjutnya ?
IG @hanmiiie
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanny sun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Dari Rumah
Zira duduk termenung di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Banyak hal yang saat ini mengganggu pikirannya.
“Bukannya berita itu lebih menyakitkan untuk Refan ya. Jadi siapa orang yang selama ini tidak suka dengannya sampai merusak nama baik Refan seperti itu” batin Zira
“apa yang kamu lamunkan” Refan yang tuba-tiba memeluk Zira dari belakang.
Zira yang terkejut langsung menutup matanya.
“Fan bisa pakai bajumu dulu”
“kenapa! Bukannya kamu sudah melihat setiap inci badanku”
“aku tidak melihat apa pun” masih memicingkan matanya.
Refan melepaskan pelukannya dan beralih berdiri di depan Zira. Zira pun membuka matanya. “Aaaaa.. kenapa kamu di situ” langsung menutup matanya lagi.
Melihat kelakuan Zira. Refan pun tertawa dan mencium puncak kepala Zira “kenapa istri aku lucu sekali” bisik Refan.
“buka matamu. Karna malam ini kamu akan lihat seluruh tubuhku lagi” Refan yang dalam keadaan sedang memakai pakaiannya.
“kenapa dia bicara hal itu dengan santai sih” batin Zira.
"apa yang kamu pikirkan?" tanya Refan lagi.
"kamu benar mau tau" Zira.
"katakan saja apa yang mengganggu kamu" Refan
Zira bangkit dari duduknya dan mendekat ke Refan “Fan”
“ada apa” melihat ke Zira yang sudah berdiri di depannya.
Zira langsung memeluk Refan tanpa berbicara sepatah kata pun.
“kenapa?” membalas pelukan Zira.
"aku ingin tau semua yang terjadi saat kamu membawaku pergi ke Jepang" Zira.
"bukannya kita sudah pernah membahas ini" Refan.
"kita cuma membahasnya. Tapi kamu tidak memberitahu masalahnya padaku" Zira.
"karena itu hal yang tidak penting untuk di bicarakan." Refan.
“Pokoknya Aku mau kamu ceritakan semuanya. Kalau kamu tidak mau. Aku akan pulang ke rumah ibu aku” Zira.
“kamu mengancamku. karena hal sepele seperti itu” Refan.
“iya” Zira.
Refan melepaskan pelukannya dan mendorong Zira agar melepas pelukannya juga “apa yang di ceritakan Deva?”
“enggak ada. Makanya aku mau kamu yang cerita!” Zira.
“terus kamu mau aku cerita apa Nazira! Dongeng?” bentak Refan.
“tentang masalah yang terjadi dan tentang orang-orang yang ingin merusak pernikahan kita” Zira.
“tidak ada hal seperti itu” langsung pergi dari hadapan Zira.
Namun Zira mengikuti Refan keluar dari ruang ganti. “Kalau kamu tetap menyembunyikan semuanya. Aku benaran akan pulang ke rumah ibu Fan” Jerit Zira.
Refan berbalik menatap Zira “Silakan! Aku tidak akan menahan istri pembangkang seperti kamu” Bentak Refan.
“kamu serius?” Zira yang sudah menangis.
Refan hanya membuang muka tanpa menjawab pertanyaan Zira.
Zira langsung keluar dari kamar.
Didepan kamar sudah ada bibi “Ehh..nona Zira makan malamnya sudah siap” bibi yang tadinya ingin mengetuk pintu kamar Refan Zira.
“panggil Zira saja bi” masih menangis dalam keadaan menunduk.
"nona Zira kenapa? kalian bertengkar" Bibi
"enggak bi. Zira hanya kelilipan. Oya panggil saja Refan untuk makan duluan Zira mau keluar sebentar" Langsung pergi keluar dari apartemen Refan.
Bibi langsung masuk ke kamar Refan "Den makanannya sudah siap" Bibi.
"mana Zira bi" Refan.
"katanya mau keluar dulu. dan menyuruh Den Refan untuk makan duluan" Bibi.
"mau kemana dia?" Refan.
"Nona Zira tidak bilang mau kemana den"
"ya sudah bibi boleh pulang. Bekas makannya nanti saya yang bereskan" Refan
"tapi den"
"tidak apa bi. Nanti bibi kemalaman pulangnya"
"baik den Refan. Bibi permisi dulu" keluar dari kamar Refan.
Refan melihat Hp Zira yang terletak di meja "Pergi kemana dia tanpa membawa Hp dan uang" batin Refan.
Zira Pov
Zira berjalan di trotoar dengan air mata yang masih terus menetes.
"katanya cinta. Tapi tega membiarkan istrinya pergi" Ketus Zira.
"Ke rumah ibu atau ke rumah Deva ya" Batin Zira.
"malah tidak bawak Hp dan uang lagi. Kalau Deva tidak di rumah bagaimana aku bayar ongkos taksinya. Kalau ke rumah ibuk nanti dia khawatir lihat mata sembabku." batin Zira lagi.
Setelah lelah berjalan dan berhenti menangis Zira pun menyetop taksi.
Setelah sampai "Sebentar ya pak. Saya ambil uangnya dulu" Zira
"iya mbak"
tok.. tok.. tok " Assalammu'alaikum buk...ibuk"
pintu rumah pun dibuka "Zira. sama siapa?"
Zira langsung salim "Zira boleh pinjam uang ibu?"
"buat apa?" Bu Ana.
"Ongkos taksi bu. Tadi Zira lupa bawak uang hehe" Zira.
"sebentar ya" Bu ana langsung mengambil uang.
"ini ambil sendiri" menyerahkan dompetnya.
Zira langsung berlari ke arah mobil taksi yang di tumpanginya tadi "Terima kasih ya Pak" Zira
"sama - sama mbak"
Zira kembali masuk ke rumah.
"kenapa kamu sendiri. mana Refan" Bu Ana
"di rumah buk" Zira
"kenapa tidak ikut! kalian bertengkar" Bu Ana
"Tidak buk. Zira hanya ingin tidur di dini karena kangen dengan ibuk. Refan juga pasti lelah kalau Zira minta antari " Zira
"Awas kalau kalian bertengkar ya" Bu Ana
"mana Fero buk?" Zira
"Di kamarnya" Bu Ana
Zira langsung berlari menuju kamar Fero dan langsung membuka pintu kamar Fero "Wayo.. lagi ngapai lu"
"Astaga. ngapai sih kak nyelonong masuk kayak hantu" Fero
"Enak saja. Lu yang hantu!" Zira duduk di pinggir tempat tidur Fero.
"kenapa malam-malam ke sini?" Fero
"memangnya enggak boleh gue kesini. Ini kan rumah Ibuk gue juga" Zira
"mana bang Refan?" Fero
"di rumah" Zira yang sudah membaringkan badannya di tempat tidur.
"kakak datang sendiri?" Fero
"Iya" Zira
"Kalian bertengkar?"
Zira hanya diam tidak menjawab pertanyaan Fero.
"jadi benar kalain bertengkar" Bentak Fero
"kenapa lu bentak gue. ingat status lu sebagai adik" Ketus Zira
"Ya Sorry!" Fero pun tidak meneruskan pertanyaannya ke Zira. Lama mereka terdiam samapi Zira yang memulai bicara.
"Sebelum kami pergi ke Jepang. Bang Refan ada ke sini kan?" Zira
"ada" Fero
"Ada bilang apa dia?" Zira
"minta izin untuk pergi ke jepang dan meminta kami untuk mengabaikan berita yang sedang menyebar " Fero
"berita apa ?" Zira
"kan sudah Fero bilang saat kita bertelepon. Untuk saat ini sikap cuek kakak dibutuhkan" Fero
"kalau enggak mau kasih tau juga tidak apa. gue jg udah tau isi beritanya kok" Zira
"pasti kak Deva" Fero
"Sepertinya hanya dia satu-satunya sahabat dan keluargaku" bangkit dari tidurnya dan ingin keluar dari kamar Fero.
"Fero tidak akan diam kalau kakak di sakiti. karena kakak kembali ke rumah ibuk sendirian malam-malam begini. Pasti ada sesuatu dengan kalian." Fero
"Tidak ada masalah kok. kakak hanya rindu tidur di rumah ibuk" Zira
"jangan bohongi aku. Mata bengkak kakak sudah menunjukkan semuanya dan jangan harap dia bisa menemui kakak besok" Fero.
"Jangan kasih tau ibuk dan bang Fandi ya" Zira
Fero mengangguk. "ibuk pasti juga udah tau lah" batin Fero.
"Oya. Kalau bang Refan telepon kamu nanya aku. Bilang aku enggak di sini ya" Zira.
"Oke" Fero.
Zira pun keluar dari kamar Fero dan masuk ke kamarnya.
Fero turun kebawah untuk menjupai ibunya.
"Buk. Bang Refan ada telepon ibu?" Fero
"enggak. Mereka pasti sedang bertengkarkan. Ibu yakin sekali" Bu Ana dengan wajah cemas.
"bang Fandi mana buk?" Fero
"Belum pulang" Bu Ana masih mondar mandir di kamarnya.
"Apa yang ibu cemaskan" Fero
"Kakak kamu lah Fer. Bagaimana kalau mereka berpisah! siapa sih orang yang tega memfitnah mereka sampai seperti ini jadinya" Bu Ana yang sudah menitikkan air mata.
"ibuk percaya dengan berita mengenai kak Zira" Fero
"Ya enggak lah. Kakak kamu bukan wanita seperti itu" Bu Ana
"Terus kenapa ibu khawatir" Fero
"karena Zira datang sendiri hanya memakai piama tanpa membawa uang sepeserpun. Kamu tidak sedih melihat dia di usir seperti itu. Ibu takut kalau Refan dan kedua orang tuanya percaya dengan berita murahan itu Fer" Bu Ana yang mulai menangis.
"jangan menangis buk. Nanti kak Zira dengar. Mereka bertengkar pasti bukan karena percaya dengan berita itu. pasti ada hal lain buk" Fero mencoba menenangkan bu Ana.
Treet.. treet "Fandi! Kamu saja yang angkat" Bu Ana memnerahkan Hp-nya ke Fero.
"Halo bang" Fero.
"Lu kemana? tadi abang telepon ke nomormu enggak di angkat" Fandi.
"lagi di kamar ibuk bang. Kenapa?"
"Tumben. Biasa di kamarmu terus." Fandi
"Hmm. Terserah deh" Fero
"Zira ada di Rumah? " Fandi
"kenapa kok nanya kak Zira?" Fero
"Refan tadi telepon abang. Dia nanyak Zira ada ke rumah kita enggak! Karena dia lupa bawak Hp." Fendi
"Ooo" Fero
"Kok lu ngeseli banget ya Fer. Jadi Zira ada di rumah enggak?"
"Abang pulang saja dulu nanti kita bicara di rumah" Fero