Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15_Rasa penasaran
"Edgar, aku mau tanya tentang Elvara." ucap Nathan pelan. Ekspresi wajah serius, sedikit gugup.
Nathan berdiri di depan meja kerja Edgar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tampak ragu untuk membuka percakapan. Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia memberanikan diri.
Jemari Edgar yang sejak tadi sibuk mengetik di atas laptop langsung berhenti. Ia perlahan mengangkat kepalanya, lalu menatap Nathan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Hah? Kamu bilang... Elvara?" tanya Edgar memastikan. Wajahnya terkejut, kedua alis terangkat.
Nathan mengangguk pelan.
"Iya." jawabnya singkat, tetapi terlihat canggung.
Edgar langsung menutup layar laptopnya.
"Aku nggak salah dengar, kan?" tanyanya lagi, masih tidak percaya.
"Nggak." jawab Nathan sambil tersenyum tipis dengan wajah malu-malu.
Edgar menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menghela napas panjang.
"Wah... ini benar-benar di luar dugaan." ucap Edgar dengan ekspresi wajah kagum.
Nathan mengernyit.
"Kenapa?" tanya Nathan dengan wajah bingung.
Edgar terkekeh pelan.
"Tumben kamu nanya soal wanita. Biasanya kamu paling anti kalau soal wanita." kata Edgar heran bercampur geli.
Nathan menundukkan kepalanya sejenak.
"Aku juga nggak tahu kenapa." balas Nathan dengan wajah malu.
Edgar tersenyum jahil.
"Selama bertahun-tahun aku kenal kamu, jangankan ngobrol sama perempuan, lihat perempuan cantik saja kamu paling cuma bilang, 'Oh,' habis itu selesai." ucap Edgar dengan ekspresi mengejek, menahan tawa.
Nathan ikut tersenyum kecil.
"Memang begitu." balasnya santai.
"Bahkan waktu sekretaris baru di kantor mencoba mendekatimu, kamu malah sibuk membahas laporan keuangan." ejek Edgar dengan wajah geli.
Nathan mengusap tengkuknya.
"Aku memang nggak tertarik." sahut Nathan datar.
"Nah, sekarang malah datang ke sini cuma buat nanya soal Elvara." ujar Edgar sambil melipat kedua tangan di dada, wajah penasaran.
Nathan mengangguk pelan.
"Iya." jawab Nathan serius.
Edgar menatap Nathan cukup lama.
"Jadi... kamu suka sama Elvara?" tanyanya terus terang ingin memastikan.
Nathan terdiam beberapa detik.
"Aku rasa... iya." jawab Nathan jujur, pipinya sedikit memerah.
Edgar sampai menggelengkan kepala berkali-kali.
"Kalau teman-teman kantor dengar ini, mereka pasti nggak bakal percaya." canda Edgar tertawa kecil.
Nathan menghela napas.
"Aku datang bukan buat dijadikan bahan bercandaan." balas Nathan dengan wajah pasrah.
Edgar langsung mengangkat kedua tangannya.
"Oke... oke... maaf." ucap Edgar tersenyum meminta maaf.
Nathan menarik kursi lalu duduk di depan meja Edgar.
"Aku cuma ingin tahu... seperti apa sebenarnya Elvara." katanya penuh rasa ingin tahu.
Edgar ikut duduk dengan lebih santai.
"Kenapa harus Elvara?" tanya Edgar penasaran.
Nathan menatap kosong ke arah jendela.
"Aku juga bingung menjelaskannya." sahut Nathan dengan wajah bingung. Wajahnya tampak sedang berpikir.
"Jelaskan saja." ucap Edgar menyimak.
Nathan menarik napas panjang.
"Pertama kali bertemu, aku cuma menganggap dia perempuan biasa." katanya dengan wajah tenang.
"Lalu?" tanya Edgar dengan wajah penasaran.
"Tapi semakin sering melihatnya, aku sadar dia berbeda." lanjutnya dengan ekspresi wajah lembut.
"Dari sisi apa?" tanyanya ingin tahu.
"Dia selalu menghormati semua orang. Mau itu orang kaya atau karyawan biasa, dia memperlakukan mereka dengan sama." jelas Nathan dengan perasaan kagum.
Edgar tersenyum bangga.
"Itu memang sifat Elvara." jawab Edgar dengan wajah hangat.
Nathan melanjutkan,
"Waktu aku melihat dia berbicara dengan seorang anak kecil di taman, cara dia tersenyum... entah kenapa membuatku merasa nyaman." lanjut Nathan tersenyum tipis.
Edgar mengangguk pelan.
"Berarti kamu benar-benar memperhatikannya." balas Edgar dengan senyum jahil.
Nathan tidak menyangkal.
"Mungkin memang begitu." balas Nathan malu-malu.
Ruangan kembali hening beberapa saat.
Edgar memandang Nathan dengan tatapan serius.
"Nathan... sebelum kamu berharap terlalu jauh, ada sesuatu yang harus kamu tahu." kata Edgar. Wajahnya berubah serius.
Nathan langsung menoleh.
"Apa?" tanyanya penasaran.
Edgar menghela napas pelan.
"Elvara itu perempuan yang baik." ucap Edgar tenang.
Nathan mengangguk.
"Aku tahu." sahut Nathan serius.
"Tapi..." Edgar kembali menggantungkan ucapannya. Wajahnya tampak ragu.
Nathan mulai merasa cemas.
"Tapi apa?" tanya Nathan dengan wajah khawatir.
Edgar menatap sahabatnya dalam-dalam.
"Mungkin Elvara masih trauma karena perceraian yang pernah dia alami." lanjut Edgar dengan wajah prihatin.
Nathan langsung terdiam.
"Perceraian..." gumamnya lirih. Ekspresi wajah terkejut.
Edgar mengangguk pelan.
"Iya." sahut Edgar dengan wajah sedih.
Nathan menatap meja tanpa berkata apa-apa.
"Aku nggak menyangka." balasnya.
Edgar kembali berbicara dengan suara pelan.
"Sejak perceraian itu, Elvara banyak berubah." lanjutnya.
"Berubah bagaimana?" tanya Nathan penasaran.
"Dia memang tetap tersenyum di depan semua orang. Tetap ramah, tetap sopan." ucap Edgar tenang.
Nathan mendengarkan tanpa memotong.
"Tapi orang yang benar-benar mengenalnya tahu kalau senyumnya sekarang berbeda." lanjutnya dengan wajah sedih.
Nathan mengepalkan tangannya pelan.
"Dia masih sering mengingat masa lalunya?" tanyanya dengan wajah iba.
Edgar mengangguk.
"Sesekali, iya." balasnya cepat.
Nathan menghela napas panjang.
"Pasti berat." sahut Nathan dengan wajah sedih.
"Sangat berat." jawab Edgar lirih, wajahnya muram.
Nathan kembali bertanya,
"Kalau ada laki-laki yang mendekatinya?" tanya Nathan penasaran.
Edgar menggeleng.
"Dia selalu menjaga jarak." balas Edgar tenang.
Nathan menelan ludah.
"Berarti... dia belum mau membuka hati?" tanya Nathan, ekspresi wajah khawatir.
Edgar tersenyum tipis.
"Kalau untuk buka hati..." Edgar berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "aku juga nggak tahu kapan." balas Edgar pasrah.
Nathan mengangguk pelan.
"Aku mengerti." jawab Nathan serius.
"Bahkan keluarga kami pun nggak pernah memaksanya." lanjut Edgar dengan bijaksana.
"Itu keputusan yang benar." jawab Nathan setuju.
Edgar kembali menatap Nathan.
"Karena kami ingin dia sembuh dulu dari luka yang pernah dia rasakan." lanjut Edgar lembut.
Nathan menghela napas panjang.
"Aku tidak ingin menjadi orang yang menambah luka itu." katanya dengan wajah tulus.
Edgar memperhatikan wajah Nathan.
"Lalu... setelah mendengar semua ini, apa kamu masih ingin mendekatinya?" tanya Edgar dengan wajah serius.
Nathan terdiam cukup lama.
Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Edgar dengan tatapan penuh keyakinan.
"Iya." balas Nathan mantap.
Edgar sedikit terkejut.
"Kamu yakin?" tanya Edgar memastikan.
Nathan mengangguk mantap.
"Justru setelah tahu masa lalunya, aku semakin menghormatinya." ucapnya tulus.
Edgar tidak berkata apa-apa.
"Aku nggak berniat memaksanya mencintaiku." lanjut Nathan. Ekspresi wajah tenang.
"Lalu?" tanya Edgar penasaran.
"Aku hanya ingin mengenalnya. Menjadi seseorang yang bisa membuatnya merasa nyaman. Kalau suatu hari dia membuka hati, aku akan bersyukur. Kalau ternyata tidak, aku juga akan menghormati keputusannya." katanya penuh ketulusan.
Edgar menatap Nathan cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis.
"Sekarang aku mengerti kenapa kamu akhirnya tertarik pada seseorang." balas Edgar dengan ekspresi lega di hatinya.
Nathan tersenyum kecil.
"Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Karena kali ini kamu bukan tertarik pada wajahnya saja, tapi juga ingin menerima masa lalunya." ucap Edgar bangga.
Nathan mengangguk pelan.
"Setiap orang punya masa lalu. Aku tidak berhak menilai seseorang dari luka yang pernah dia alami." balasnya dengan bijaksana.
Edgar bangkit dari kursinya, lalu menepuk bahu Nathan.
"Kalau begitu, aku doakan niat baikmu berhasil. Tapi ingat, jangan pernah terburu-buru. Biarkan Elvara menentukan sendiri kapan dia siap membuka kembali pintu hatinya." balas Edgar dengan wajah hangat dan penuh harapan.