Winda membenci yang namanya mantan, seperti Ardi mantan pertama dan terakhir. Penghianatan dulu membuatnya enggan menjalin hubungan sspesial dengan lawan jenis. Beberapa tahun berlalu, keluarganya ternyata mengatur perjodohan dengan Ardi tanpa ia ketahui.
(ON REVISI) Perbaikan akan dilanjutkan bab selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anindyafatika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di luar
Winda membuat jarak dengan dua guling dan beberapa bantal sofa yang ada di dalam kamarnya agar tak mencium bau suaminya yang ia pikir aneh setelah memakai parfumnya.
"Kamu kenapa sih, Aku masih bau?" tanya Ardi jengah dengan tingkah Winda.
"Iya!"
"Padahal aku mau manja-manja sama kamu udah lama loh aku nggak nengokin anak aku," pinta Ardi seraya membawa selimut dalam dekapannya.
Ya, setidaknya Ia tak diusir dan disuruh tidur di kamar lainnya. Itu tak akan terjadi, Winda tak akan tega melihat suaminya yang ganteng ini tersiksa karena tidak bisa tidur.
"Anak kamu nggak mau, dari pada aku susah gerak, mending malam ini kamu tidur di kamar lain aja."
What!!
"Nggak mau, Yang."
"Sayang-sayang cuma pas ada maunya, ck," gerutu Winda kemudian bersiap untuk tidur.
"Nggak gitu, Win. Aku tuh sayang banget sama kamu sama anak kita juga. Masa nggak boleh aku panggil istri aku sayang."
Ardi terus merengek agar bisa tidur di kasur yang sama.
Winda pura-pura tertidur karena tak mau mendengar ocehan suaminya. Namun, Ardi tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Winda tidur.
Ia menjajarkan tubuhnya dengan perut Winda. Mengamati dengan saksama perut Winda yang tumbuh buah hati mereka.
Tangannya terulur untuk menyentuh permukaan menonjol itu. Sebelum itu tangan Winda telah memegang tangan Ardi.
"Eh, aku bangunin kamu ya?" merasa ke gep oleh Winda. Akhirnya Ardi berangsur berdiri tetapi cekalan tangan Winda tak dilepaskan.
"Kamu nggak mau pegang?" tanya Winda.
Ardi menoleh dengan mata berbinar. Ah, Winda bisa saja membuat dirinya tersentuh. Namun, lagi-lagi pikiran nakal itu muncul lagi di otaknya.
Dengan tersenyum miring seraya mengatakan, "Pengang yang lain gimana?"
"Hah? Kamu punya yang lain lagi, Mas?"
Winda mendudukkan dirinya perlahan sembari menyibak tangan Ardi yang ia cekal tadi, pun membuat Ardi terhuyung ke belakang.
Buru-buru Ardi akan meluruskan perihal ini agar tak beruntun panjang jika Winda menyimpulkan yang tidak-tidak.
"Bukan gitu," gemasnya sembari menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal.
"Terus apa, Mas? Kamu pasti punya simpanan ngaku deh, Mas. Kurangnya aku apa sih sampai kamu cari yang lain?"
Ardi mencoba bersabar, beginilah tempramen seorang ibu hamil. Ternyata apa yang dibilang oleh temannya terjadi juga, Ardi pikir itu hanya mitos semata ternyata ia mengalami pula.
Tiba-tiba terdengar Winda terisak.
"Ya Allah, apalagi ini." gumam Ardi pelan.
"Kamu jahat banget sih, Mas. Kamu... nggak pikirin perasaan aku apa... sama anak yang ada dikandung aku?" ujar Winda terbata.
Ardi menepuk dahinya, salah apalagi dirinya. Siapa juga yang tidak memikirkan istri dan anaknya?
"Jangan deket-deket! Nggak ngerti apa aku tuh nggak suka bau badan kamu!"
Baru saja Ardi ingin memeluk Winda berniat untuk menenangkan, barangkali setelah tenang Ardi bisa menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Aku mau jelasin, Winda. Ya Allah berilah hamba Mu ini kesabaran ekstra, aamiin."
"Nggak usah jelasin, nggak ada yang perlu dijelasin lagi!"
"Tap-"
"Ngak!"
"Win-"
"Nggak! ya nggak!"
Ardi mengalah, jika ia melanjutkan kesalahpahaman sepele yang berujung rumit ini maka Winda akan semakin berspekulasi jauh.
"Oke, aku tunggu kamu tenang dulu."
Winda perlahan berhenti menangis, ia memilih untuk berbaring memunggungi Ardi.
"Malam ini, Mas tidur di kamar lain!"
.
.
.
T B C
bukan dibawa kepelaminan.
kwkwkwkwkkwkw