Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.
Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.
Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Bergerak dalam Kegelapan
Semakin hari, suasana di rumah besar itu terasa semakin tegang dan berat. Tidak ada pertengkaran yang terang-terangan, tidak ada bentakan yang terdengar keras, namun udara seolah dipenuhi rasa curiga dan kewaspadaan yang menyelimuti setiap sudut ruangan. Dika tetap menjalani hari-harinya seperti biasa: bangun paling pagi, menyiram tanaman, merapikan taman, dan membereskan perpustakaan dengan teliti seolah tidak ada masalah apa pun. Namun, di balik ketenangan itu, matanya selalu mengamati, telinganya selalu mendengarkan, dan pikirannya terus bekerja mencari celah untuk membongkar kebenaran yang disembunyikan.
Setiap kali ada kesempatan, ia mencoba mengamati pakaian para pekerja dan pembantu rumah tangga. Ia ingin memastikan apakah ada yang masih memakai kancing logam berukiran daun yang sama dengan yang ditemukannya di dekat lokasi perampokan. Namun, Paman Arga rupanya sudah mengambil langkah antisipasi yang cepat. Hanya dua hari setelah kejadian itu, semua orang yang biasanya mengenakan baju kerja dengan kancing model itu diminta menggantinya dengan yang biasa, tanpa penjelasan yang jelas.
“Yang lama sudah mulai aus dan kancingnya mudah lepas,” kata Paman Arga dengan nada datar saat ada yang bertanya. “Untuk keamanan dan kerapian, lebih baik diganti sekaligus.”
Tindakan itu justru semakin meyakinkan Dika dan Kirana bahwa mereka berada di jalur yang benar. Mengganti kancing secara mendadak tanpa alasan yang masuk akal adalah tanda jelas bahwa Paman Arga merasa terancam dan takut jejaknya akan terbongkar.
Suatu sore, hujan turun dengan sangat deras disertai angin kencang yang membuat dahan pohon bergoyang hebat. Saat sebagian besar orang berlindung di dalam rumah, Dika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Seorang pria bertubuh kekar, berkulit gelap, dan berjalan dengan langkah tergesa-gesa masuk lewat pintu samping yang jarang digunakan. Ia mengenakan jaket lusuh yang menutupi sebagian wajahnya dan membawa sebuah tas kain yang terlihat agak berat. Tanpa berhenti menyapa siapa pun, pria itu langsung menuju ruang kerja Paman Arga yang terpisah dari bangunan utama.
Dika bersembunyi di balik tiang teras yang tertutup rimbunnya tanaman rambat, mengamati dari kejauhan dengan hati-hati. Ia belum pernah melihat pria itu sebelumnya, dan penampilannya tidak cocok dengan pekerja atau kenalan keluarga yang biasa datang. Sekitar tiga puluh menit kemudian, pria itu keluar lagi, kali ini tas kainnya terlihat lebih ringan dan gerakannya lebih santai seolah sudah menerima apa yang diinginkannya. Ia segera berjalan membelah hujan menuju gerbang belakang dan menghilang di balik kabut air.
Malam itu, saat suasana rumah sudah benar-benar sunyi dan hanya terdengar suara tetesan air hujan yang masih tersisa, Kirana menyelinap masuk ke kamar Dika dengan langkah pelan. Dika segera menceritakan apa yang dilihatnya tadi sore.
“Saya yakin dia bukan orang yang biasa bekerja di sini,” kata Dika dengan suara berbisik. “Mungkin dia adalah salah satu dari dua orang yang menghadang saya di jalan. Dia datang menemui Paman Arga, kemungkinan untuk menerima upah atau sekadar diberi peringatan agar tetap diam.”
Kirana mengerutkan dahi, wajahnya terlihat serius. “Kalau begitu, ini semakin jelas. Semua rencana ini memang disusun rapi sejak awal. Tapi bagaimana kita bisa mendekatinya tanpa membuat Paman Arga curiga? Kalau kita bertindak sembarangan, justru bisa membuat keadaan semakin buruk.”
“Kita tidak bisa memaksanya bicara,” jawab Dika sambil berpikir. “Orang seperti itu biasanya hanya bekerja karena tergiur uang, bukan karena membenci saya. Kalau dia sadar bahwa dia hanya dijadikan alat, dan kalau masalah ini terbongkar dia yang akan dipersalahkan sepenuhnya, mungkin dia akan membuka mulutnya sendiri.”
Namun, mereka tidak punya banyak waktu. Paman Arga juga mulai merasa gelisah. Ia menyadari bahwa Dika tidak menyerah seperti yang diharapkannya, dan Kirana terlihat semakin waspada. Ia tahu, selama kebenaran belum terkubur rapat-rapat, posisinya tetap berada di ujung tanduk. Maka, ia memutuskan untuk memperketat pengawasan dan membatasi ruang gerak mereka.
Keesokan harinya, saat Nyonya Wijaya sedang sibuk menerima tamu penting, Paman Arga berkumpul dengan para pembantu dan pekerja di ruang tengah. Suaranya tegas dan cukup keras agar didengar semua orang.
“Mengingat kejadian hilangnya uang beberapa hari lalu belum menemukan titik terang, saya memerintahkan agar keamanan di rumah ini diperketat. Setiap ruangan, setiap barang, dan setiap gerak-gerik harus diawasi. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kamar Dika akan diperiksa secara berkala kapan saja diperlukan, karena dia adalah orang yang paling berhubungan dengan kejadian itu.”
Mendengar perintah itu, hati Dika terasa seperti dicengkeram. Ini adalah cara Paman Arga untuk mengintimidasi dan memastikan tidak ada bukti yang bisa disembunyikan. Namun, Dika sudah mempersiapkan diri. Malam sebelumnya, ia telah memindahkan kancing logam, catatan penting, dan segala hal yang bisa menjadi petunjuk ke tempat yang lebih aman — diselipkan di celah batang pohon beringin tua yang rindang di ujung taman, dibungkus rapat dengan daun kering dan kain minyak agar tidak rusak terkena air atau lembap.
Sore harinya, seperti yang diumumkan, Bu Marni datang bersama Sari untuk memeriksa kamar Dika. Mereka membuka lemari, membolak-balikkan tumpukan pakaian, mengangkat kasur, dan melihat ke bawah tempat tidur dengan teliti. Yang mereka temukan hanyalah pakaian sederhana, peralatan kerja, serta buku catatan yang berisi tulisan tentang cara merawat tanaman dan pengalaman keseharian. Tidak ada uang, tidak ada barang berharga, dan tidak ada dokumen yang mencurigakan.
“Sudah selesai, tidak ada apa-apa di sini,” kata Bu Marni dengan nada agak tidak enak hati. Ia sendiri sebenarnya mulai ragu dengan tindakan ini, tapi harus menjalankan perintah.
Saat malam tiba, Kirana datang lagi dengan wajah yang terlihat cemas namun juga penuh tekad. “Mereka mulai membatasi ruang gerak kita. Kalau terus begini, kita akan kesulitan mencari bukti. Kita butuh strategi lain, bukan hanya mengamati dari jauh.”
Dika terdiam sejenak, lalu matanya bersinar seolah mendapatkan ide yang lebih matang. “Saya memikirkan Sari. Dia adalah tangan kanan Paman Arga, dia yang melaporkan segala hal dan mungkin tahu banyak hal. Tapi dia hanyalah orang biasa yang takut kehilangan pekerjaan dan takut diancam. Kalau kita bisa membuatnya sadar bahwa dia sedang dimanfaatkan, bukan dilindungi, dia mungkin akan membuka rahasianya.”
“Bagaimana caranya meyakinkannya?” tanya Kirana. “Dia sudah terlalu lama mengikuti perintah Paman Arga.”
“Kita tidak perlu menuduhnya secara langsung,” jawab Dika tenang. “Cukup tunjukkan padanya konsekuensi dari apa yang dia lakukan. Biarkan dia berpikir sendiri, bahwa kalau semuanya terbongkar, Paman Arga akan menyelamatkan dirinya sendiri dan melemparkan semua kesalahan padanya. Rasa takut itu yang bisa membuka mulutnya.”
Mereka pun menyusun rencana dengan hati-hati. Keesokan harinya, saat Sari sedang sendirian di ruang cuci menyetrika pakaian, Kirana datang dengan alasan membutuhkan selembar kain bersih. Ia berdiri tidak terlalu dekat, lalu mulai berbicara dengan nada santai namun penuh makna.
“Sari, kamu sudah bekerja di sini bertahun-tahun, kan?” tanya Kirana sambil melipat kain. “Kamu pasti tahu betul siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang hanya memikirkan dirinya sendiri saja. Kadang kita diajak melakukan hal yang salah dengan janji akan dilindungi, tapi saat bahaya datang, orang yang berjanji itu biasanya adalah orang pertama yang lari meninggalkan kita.”
Sari berhenti menyetrika, tangannya sedikit gemetar. Ia menunduk, wajahnya terlihat pucat. Selama ini ia memang merasa tidak tenang, dibayangi rasa bersalah karena membantu menjebak Dika, tapi juga takut akan ancaman Paman Arga. Kata-kata Kirana itu menancap tepat di keraguan yang selama ini ia pendam.
“Lebih baik bicara jujur selagi masih ada kesempatan, Sari,” lanjut Kirana lembut. “Menutupi kesalahan orang lain tidak akan membuatmu selamat selamanya. Justru akan membuatmu terjerat lebih dalam.”
Sari tidak menjawab, hanya menunduk semakin dalam, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa kata-kata itu sudah masuk ke dalam hatinya.
Sementara itu, Dika juga bergerak maju. Ia mengetahui dari percakapan sesama pekerja bahwa pria asing yang datang menemui Paman Arga itu sering beristirahat dan minum di sebuah warung kecil di pinggir jalan raya, tidak jauh dari lokasi kejadian. Malam itu, saat suasana mulai sepi dan lampu jalan mulai redup, Dika berjalan menuju tempat itu dengan langkah hati-hati.
Sesampainya di sana, ia melihat pria itu duduk sendirian di sudut paling gelap, memegang cangkir kopi dengan wajah lelah dan gelisah. Dika mendekat, lalu duduk di bangku kosong tepat di hadapannya, tanpa terlihat mengancam.
“Boleh saya bicara sebentar?” tanya Dika dengan suara rendah namun jelas.
Pria itu langsung menegang, matanya melebar kaget. Ia hendak berdiri dan pergi, tapi Dika segera melanjutkan bicara dengan nada tenang.
“Jangan takut. Saya tidak datang untuk memarahi atau melaporkanmu ke polisi. Saya tahu kamu hanya melakukan itu karena dibayar, bukan karena ingin mencelakakan orang lain. Tapi tahukah kamu, orang yang menyuruhmu itu tidak akan memikul tanggung jawab apa pun kalau semuanya terungkap? Dia akan bilang dia tidak kenal kamu, dan kamu yang akan menanggung semua hukuman sendirian.”
Pria itu terdiam, tangannya mengepal erat. Ia menatap Dika lama, mencoba membaca apakah kata-kata itu benar atau hanya taktik untuk menipunya. Di matanya terlihat perasaan bingung, takut, dan sedikit penyesalan yang mulai muncul ke permukaan.