Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Kediaman Almero/Pagi Hari
Elina melawan rasa malasnya, ia berusaha untuk bangun lalu duduk ditepi ranjang. Saat hendak berdiri, ia melihat ada selembar kertas di atas nakas, tangannya meraih kertas tersebut. "Apa ini?" gumam Elina. Elina berjalan ke luar menuju balkon, ia membaca isi surat yang ia temukan di atas nakas.
"Untukmu Elina, maafkan aku yang belum sempat membahagiakanmu namun sudah memberimu luka baru. Kamu pasti membenciku kan. Maafkan aku yang tidak bisa memberitahumu alasanku apa. Aku memberimu izin untuk pergi dariku dan lakukan apapun yang ingin kamu lakukan"
"Mungkin mulutku mengatakan aku tidak terluka, tapi hatiku menjerit kesakitan" batin Elina sembari memegang dadanya yang terasa sesak.
"Akkhahahaha. Akkhahahaha" Elina menangis sembari memukul dadanya dengan pelan, hatinya terasa sakit. "Kenapa kamu tidak jujur padaku, Natan." Elina semakin terisak.
Menangis adalah cara terbaik untuk meluapkan kesedihan ataupun kekesalan, dan Elina merasakan keduanya. Sedih karena harus menyaksikan apa yang tidak ingin ia lihat dan kesal karena suaminya tidak jujur padanya. Hampir 20 menit Elina melampiaskan kesedihan dan kekesalannya, di dalam ruangan yang ia tempati untuk melatih dirinya.
"Kita tidak akan bertemu sebagai pasangan suami istri, tapi kita akan bertemu sebagai patner bisnis" gumam Elina sembari memakai pakaian ala anak Kantor.
Jika biasanya Elina ke kampus menggunakan Jins kini ia merubah penampilannya selayaknya anak kantoran. Rok span selutut dan baju ketat yang agak terbuka adalah pilihannya serta rambut yang diikat dengan rapih. "Selamat tinggal Elina yang dulu dan welcome Elina yang baru" gumam Elina sembari memejamkam mata, senyum kembali terukir diwajah manisnya.
Perusahaan Almero
"Semuanya bersiap-siap...!" titah pengawal, menandakan CEO baru mereka sudah tiba.
Semua pegawai berdiri dengan tegap, tak berlangsung lama mobil Lamborgini silver berhenti tepat di depan Perusahaan yang menjulang tinggi. Beberapa detik kemudian, Anjas ke luar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Elina, Elina yang tidak biasa diperlakukan seperti sekarang merasa risih namun ia berusaha untuk terlihat santai.
Elina berjalan memasuki perusahaan. Ia berhenti saat berada di bagian tengah ruangan. "Aku mohon bimbingan kalian," ujar Elina kemudian membungkukan tubuhnya sejenak. Semua pegawai merasa takjub dengan kemurahan dan kepribadian CEO baru mereka. Setelah mengatakan semua itu, Elina melanjutkan langkahnya menuju ruangannya yang dikawal oleh Anjas dan Jivan.
"Nyonya" panggil Anjas saat mereka di dalam lift.
"Kenapa?" tanya Elina.
"Tidak jadi," kata Anjas. Ia mengurungkan niatnya untuk tidak memberitahu Elina tentang Jonathan. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di ruangan Elina. Di atas meja, ada tulisan, Chief Executive Officer (CEO).
"Apa yang harus aku pelajari?" tanya Elina pada Anjas dan Jivan.
"Semua berkas yang ada di atas meja," kata Anjas sembari menatap berkas-berkas yang ada di atas meja.
"Apa! Semua ini," Elina terlihat lesuh.
"Hahahahaha," tawa Anjas dan Jivan.
Elina membulatkan mata, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. "Kalian menertawakanku!" pekik Elina.
"Oke, kalian terlalu menganggap remeh diriku. Akan aku buktikan, besok pagi semua berkas ini sudah tersimpan di otak ku" ujar Elina dengan bangga.
"Maaf, Nyonya. Eh salah maksudnya Bos. Perusahaan Javelis mengundang Bos untuk ikut perjamuan sekaligus mereka akan mengumumkan hari pertunangan CEO Perusahaan Javelis" kata Anjas dengan hati-hati.
Deg... hati Elina seperti tersayat pisau. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk melepaskan Jonathan dan membiarkannya menikah dengan Niza. Tapi kabar itu terlalu cepat dari dugaannya. "Kalian saja yang hadir, aku tidak mau pergi!" ketus Elina.
"Ya ampun Bos, ini kesempatan Bos menunjukan pada Jonathan jika Bos sudah benar-benar melupakannya," kata Anjas.
"Apa aku bisa melakukannya" gumam Elina. Selang beberapa detik, Elina menatap Anjas bergantian dengan Jivan.
"Jangan menatap kami seperti itu, Bos. Kami takut," ujar Jivan bersamaan dengan Anjas.
Elina tersenyum, senyum itu tak berlangsung lama. Senyum berganti menjadi tetesan air mata bahagia. "Terimakasih untuk kalian berdua, kalian masih setia menjagaku dan mengikutiku. Jadilah sahabatku dan terus temani aku dimanapun aku berada" ujar Elina.
"Bosku yang cantik jelita, kami berdua sudah menganggap Bos sebagai sahabat kami," balas Anjas. Ia tersenyum menatap Bos-Nya.
Elina membuka satu persatu berkas yang harus ia pelajari, dengan cermat ia membaca dan mempelajarinya. Namun, ia merasa risih saat Anjas dan Jivan terus mengawasinya.
"Hei kalian berdua!!" seru Elina, menatap tajam Jivan dan juga Anjas. "Apa kalian tidak punya pekerjaan?" tanya Elina pelan.
"Ck ck ck... tatapan tajamnya seketika memudar saat ada maunya," gumam Jivan.
"Hehehehe, kita kan sahabat jadi tolong bantu aku..." Elina memohon pada kedua pria yang belum lama ia anggap sahabat.
"Katakan saja, Bos" ujar Jivan.
"Temani aku ke kampus," balas Elina sembari mengedipkan sebelah matanya pada Anjas dan Jivan.
Harvard University
Kendraan roda empat lamborgini warna silver baru saja terparkir di depan kampus ternama. Pemilik mobil dan kedua teman prianya turun dari mobil, mereka berjalan masuk ke dalam area Kampus.
"Elina...!" teriak Melisa. Melisa sangat bahagia saat melihat Elina berjalan masuk di area Kampus.
"Melisa...!!" teriak Elina takalah bahagianya.
"Aku rindu padamu. Aku sendiri di sini, tidak ada lagi yang mengajakku belajar dan makan" ujar Melisa cemberut.
"Cup cup cup... kasihan sabatku ini, tidak punya pacar dan sekarang hidup sendiri di Kampus" ledek Elina yang direpon langsung oleh Melisa. Melisa menatap tajam Elina.
"Hahahaha," tawa Elina saat melihat mata sahabatnya.
"Pulang dari Kampus kamu ke rumah ya. Aku mau keruangan Kaprodi dulu," ujar Elina kemudian meninggalkan Melisa.
Sesampainya diruangan Kaprodi, Elina membahas segala sesuatu mengenai study dan niatnya datang. Saat ia sedang berbicara dengan Ketua Kaprodi, terdengar ketukan pintu dari luar. Elina menoleh ke arah pintu, di depan pintu berdiri seorang pria dengan jas hitam dan celana hitam, ia terlihat sangat tampan. Namun, ketampanannya sudah tidak bisa membuat hati Elina luluh. Jonathan, ya pria itu adalah Jonathan.
"Silahkan duduk," ujar Ketua Kaprodi.
Jonathan melangkah masuk, ia mengambil tempat disamping Elina, keduanya nampak seperti orang tidak saling mengenal.
"Apa tujuan kalian menemuiku?" tanya Ketua Kaprodi.
Elina lebih dulu mengutarakan niatnya, setelah selesai mengutarakan niatnya, Elina pun ke luar. Ia mencari Jivan dan juga Anjas tapi keduanya tidak ada di depan pintu Kaprodi.
"Ikut aku!" ujar Jonathan dengan dingin, ia menarik tangan Elina dengan paksa kemudian membawanya di gedung belakang sekolah, tempat Elina dan Melisa belajar.
"Lepas!!" bentak Elina. Ia memberontak namun tenaga Jonathan lebih kuat.
Sesampainya di dalam, Jonathan melepaskan tangan Elina. Ia menatap Elina dengan penuh murka. "Apa tujuanmu berpakaian terbuka seperti itu! Hah!!" bentak Jonathan.
"Hahahahaha, akhirnya kamu tunjukan sifat aslimu" ujar Elina disertai tawa. Ia menekan kalimat terakhirnya.
"Aku membiarkanmu untuk pergi bukan berarti kamu bisa seenaknya saja," ujar Jonathan sembari mengepal tangannya.
"Kamu tidak punya hak atas diriku!" hardik Elina dengan datar dan penuh penekanan.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Cieeee, yang mampir tapi lupa bintang 5 dan tap jempol. Yuk tekan bintang 5 dan like tiap episode yang tertinggal. Hehehehehe.
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...