Kael Lancaster seorang komandan angkatan laut dan pengusaha besar, selalu menjadikan keluarganya sebagai pelabuhan hatinya. Ia yak pernah lupa menyelipkan cinta untuk sang istri Aeliana meskipun tak secara terang-terangan. Suatu hari Aeliana menemukan surat yang isinya terkesan mesra. Kecurigaan mulai menggerogoti hatinya dan bayang-bayang perselingkuhan merusak kepercayaannya. Di sisi lain, Kael tak menyadari kecurigaan istrinya. Ia berusaha menghadirkan kebahagiaan untuk wanita yang ia cintai. Apakah cinta mereka mampu bertahan melawan badai kesalahpahaman? atau akankah pernikahan karam oleh ombak curiga tak bertepi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Titik Temu
Ruangan interogasi itu remang, dindingnya berlapis pelat besi kedap suara. Sebuah meja panjang memisahkan antara pihak penyelidik dan tersangka. Di sisi kanan meja Ethan duduk tegap, wajahnya serius, mencatat setiap gerakan kecil dari wanita di hadapannya. Sian berdiri bersandar di dinding, menyilangkan tangan di dada, matanya tajam memperhatikan setiap detail yang mungkin bisa menjadi celah.
Lista duduk dengan tangan terborgol, rambutnya kusut, bibirnya pecah-pecah dan sebagian luka di pelipisnya belum sepenuhnya kering. Ada ketegangan di wajahnya antara lelah dan kebencian yang terpendam.
“Lista, kami sudah mendapatkan cukup banyak bukti dari rumah Lancaster. Tapi kami yang kami butuhkan sekarang adalah kesaksianmu,” ucap Ethan.’’
Sian menambahkan. “Termasuk siapa yang benar-benar menarik tali dalam semua ini. Kau mungkin pelaku tapi kami tahu kau bukan otaknya.”
Lista menyeringai. “Apa kalian pikir aku akan menyebut nama semudah itu?”
“Kami tidak butuh pengakuanmu untuk menjatuhkan mu Lista. Kau sudah mencoba membunuh istri komandan Lancaster, menyebabkan kebakaran dan hampir membunuh dua anak kecil.”
“Aku…”
“Siapa yang menyuruhmu?”
Lista menunduk. Ada jeda panjang sebelum dia menjawab. “Anton.”
...…....
Sementara itu, Kael duduk di sisi ranjang Aeliana yang masih terbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Luka gores di lengannya sudah dibersihkan da diperban namun Kael tetap menggenggam tangan istrinya erat-erat, seolah dengan itu bisa memastikan bahwa Aeliana benar-benar di hadapannya.
“Maaf…” bisiknya lirik, mengusap rambut Aeliana yang basah karena keringat.
Seorang dokter keluarga masuk, memberikan laporan perkembangan kondisi.
“Nyonya sudah stabil tapi tubuhnya masih melemah karena asap yang dihirup. Saya butuh waktu observasi lebih lanjut.”
Kael mengangguk namun matanya tak beranjak dari wajah istrinya.
“Aku akan menunggu sampai dia sadar.”
Tak lama setelah dokter pergi, seorang ajudan datang membawa tablet data. “Komandan laporan dari agen Ethan dan Letnan Sian. Interogasi selesai. Mereka berhasil memaksa Lista membuka informasi tapi tak sepenuhnya.”
Kael menerima tablet itu dan membaca cepat dahinya mengernyit. “Masih ada satu sosok yang belum disebutkan tapi ini sudah cukup untuk membuka jalur selanjutnya.”
“Apakah kita akan lanjut ke penangkapan Anton?”
“Bukan hanya dia. Pantau semua pergerakan orang-orang yang punya kaitan dengannya. Jangan berhenti sampai akar terdalamnya ditemukan.”
“Siap, Komandan.”
“Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Bahkan jika aku harus melawan seluruh dunia.”
Sepanjang malam, Kael selalu berada di sisi Aeliana sambil memantau hasil penyelidikan Ethan dan juga Sian.
Kael langsung tersentak saat melihat kelopak mata istrinya bergetar lalu terbuka perlahan.
“Aeliana.”
Aeliana memalingkan kepalanya perlahan dan mendapati Kael duduk di sisi ranjangnya masih mengenakan seragam setengah terbuka, namun tampak tak tidur. Rambutnya berantakan dan ada bayangan lelah di matanya.
“Sayang…kau sadar.” Suaranya bergetar.
Aeliana membuka mulut namun suaranya nyaris tak terdengar. “Anak-anak…”
“Juvel dan Julian aman. Serin juga. Semua selamat,” jawab Kael cepat.
Kael menunduk menahan air mata yang hampir tumpah. Aeliana baru menyadari perban di lengan kirinya terasa sedikit perih saat bergerak.
“Lista…”
Kael mendongak. “Sudah ditangkap. Ethan dan Sian yang menanganinya. Rumah kita sebagian sudah hangus. Aku akan memperbaikinya. Sekarang kau istirahat di sini untuk sementara.”
Aeliana menatap wajah suaminya, kini dengan lebih jernih. Wajah keras dan tegas itu tampak hancur oleh kekhawatiran dan penyesalan. Ada garis merah samar di bawah matanya. Kael tampak seperti seseorang yang telah kehilangan separuh napasnya.
“Kael…”
“Ya, sayang…aku di sini.”
Aeliana tiba-tiba menangis. Kael yang melihat itu langsung memeluknya erat.
“Aku takut.”
“Aku di sini. Tenang saja, setelah ini selesai…aku ingin membawa kalian pergi dari semua ini. Jauh, tenang dan damai.”
Kael mengecup kening Aeliana, lembut dan penuh janji.
“Kau istirahat sekarang. Aku akan menjagamu. Selalu.”
Pintu kamar terbuka perlahan dan Serin menuntun mereka hingga tepat di ambang.
“Ibu…”
Suara Juvel, kecil dan serak memecah keheningan. Ia melangkah maju, kedua tangan terbuka untuk memeluk. Julian mengikuti, berhati-hati mendekat.
“Juvel, Julian.” Senyum tipis menghiasi wajah Aeliana. Aeliana berusaha mengangkat tubuhnya untuk meraih mereka tapi Kael menahannya lembut.
“Ibu masih lemah, nak. Duduklah di sini,” kata Kael, sambil menunjuk bangku kecil di dekat ranjang.
Juvel merunduk dan duduk di tepi ranjang, memegangi tangan ibunya yang masih dibalut perban. Julian hanya duduk di samping adiknya, mencondongkan tubuh.
Juvel memeluk lengan ibunya dan menatap luka dan perban di lengan yang lainnya.
“Itu…itu bekas luka itu…?”
Aeliana tersentak kecil, mengingat kembali malam kelam itu.
“Ibu baik-baik saja sayang.”
“Aku takut ibu…” kata Juvel.
Kael langsung mengusap kepala Juvel.
“Ayah tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada kalian. Ayah sudah perintahkan semua orang untuk menjaga mansion ini. Dan ayah akan selalu pulang.”
...…....
Matahari berada di puncak, bersinar di atas jantung kota. Gedung-gedung tinggi pencakar langit berdiri megah dengan kaca besar yang mencerminkan langit biru cerah. Di dalamnya, sekretaris mengetik cepat di balik meja, staf berlalu lalang membawa berkas. Tak ada yang mencurigakan sampai empat pria berpakaian hitam masuk, dipimpin seorang pria tinggi dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.
Ethan berjalan tegap, langkahnya mantap tanpa ragu. Ia menunjukkan tanda pengenalnya pada resepsionis yang terkejut.
Resepsionis menelan ludah lalu dengan gemetar menunjuk ke arah lift pribadi. Ethan memberi isyarat pada dua anak buahnya di belakangnya dan mereka segera naik ke atas.
Anton sedang berbicara di telepon ketika pintu ruangannya dibuka paksa. Ia sontak berdiri dari kursi kerjanya, matanya melebar saat melihat siapa yang datang.
“Ada apa ini? Kenapa kalian menyerbu kantorku tanpa izin?”
“Kami punya cukup bukti untuk penahanmu atas konspirasi penyerangan terhadap keluarga Lancaster.”
Anton tertawa sinis, meski matanya menyipit dengan keresahan. “Apa kau gila? Aku pebisnis bukan pembunuh.”
“Jangan mencoba menyangkal. Lista sudah bicara. Dan kami sudah menemukan nama aliasmu dalam transaksi gelap dengan jaringan penyelundupan senjata.”
Anton menyipitkan mata. “Lista? Wanita itu tak stabil secara mental. Kau percaya dengan apa yang dia katakan?”
Ethan mengeluarkan borgol dari balik jaketnya. “Kau bisa bicara nanti. Sekarang ikut kami.”
Tapi dua anak buah Ethan bergerak ke arahnya. Anton mendadak menarik sesuatu dari laci bukan senjata melainkan tombol darurat di bawah meja. Seketika tirai otomatis turun, lampu padam dan ruangan geap hanya disinari cahaya redup dari layar komputer.
“Dia mencoba kabur!”
Anton melemparkan berkas ke arah mereka dan lari ke pintu samping yang terhubung langsung ke koridor darurat. Anak buah Ethan langsung mengejar.
Ethan berteriak melalui alat komunikasi.
“Tim dua, Anton melarikan diri! Tutup seluruh gedung! Jangan biarkan dia kelua!”
wow bab ini bikin aku mewek bombay/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/