Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB30 - BINGUNG
Jangan lupa Like dan Komentar kalian. Jika suka mohon kerja samanya. Mampir juga di karya saya lainnya ya ^^
* Terpaksa Menikah
* My Chosen Wife
IG saya @putritritrii_
Terima kasih dan selamat membaca ^^
.
"Dave ... kau di sini?" Sekali lagi wanita itu bertanya hingga membuat Dave fokus. Tapi, kedua matanya membalas tatapan Davina.
"Kenapa kau masih di sini? Ayo masuk," ajak Dave dan menarik lengan Davina. Ia mengantarkan Davina berjalan ke arah kubikelnya dan mendahului Ecca sang mantan tanpa kata-kata.
"Itu siapa, Will?" Ecca tak ingin berbalik menatapi kepergian Dave dan Davina.
Williams seakan kejepit dengan suasana barusan.
"Sial. Aku pikir, Davina tidak secepat ini datang ke perusahaan," gumam Williams dalam hatinya.
Williams mengusap kasar wajahnya.
"Wanita itu adalah istri sah, Dave. Kau harus menerima kenyataan, Cha." Eccha tertegun. Kedua tangannya terkepal mendengar penuturan Williams.
Tiba di kubikel Davina, sahabat Davina menyapa kedatangan Dave dengan ramah, di terima Dave dengan baik.
"Kau bekerjalah dengan baik. Jangan memikirkan yang macam-macam," kata Dave mengingatkan.
Davina tersenyum.
"Tidak masalah Dave. Jika kau ingin menemuinya, aku tak akan melarang. Aku tahu siapa wanita itu. Dia yang ada di foto waktu itu, kan?" Dave tak bisa menampik ucapan Davina. Wanita didepannya, berhasil membuat gusar hati dan perasaannya.
"Jangan sembarangan bicara. Aku pergi sekarang," bisik Dave sedikit kesal. Ia pun melangkah menjauh dari pandangan Davina.
"Kenapa lo?" bisik Aldi.
Davina mengulas senyuman.
"Nggak apa-apa, Di." Davina beralih pada komputer didepannya.
"Lo mau tahu aja urusan rumah tangga orang." Dinda menimpali.
"Egh ... gue ada kabar baik untuk, lo," sambung Aldi lagi.
Dahi Dinda dan Davina sama-sama mengernyit. Biasanya tuh, kabar dari mulut Aldi tidak pernah ada yang baik. Dan ini, menurut mereka sangat langkah.
"Apaaaa? kenapa gue merasa merinding dengarnya," kata Dinda. Davina mengangguk mengiyakan penuturan Dinda.
"Lo nggak tahu, kalau Rasyid dan Savira akan menika dua minggu lagi dari sekarang?" Aldi menaikkan sebelah alisnya. Matanya secara bergantian menatap mata Dinda dan Davina.
Davina menelan salivanya. Ia sendiri, sebenarnya sudah tak peduli kepada sahabat pengkhianatnya. Hanya saja, di satu sisi ia merasa, kalau Savira sangat beruntung menikah dengan pria yang di cintai dan mencintainya.
"Woi! kenapa lo pada diam?" Dinda sedari tadi memperhatikan wajah Davina yang langsung berubah setelah mendengar ucapan Aldi. Kini, kedua matanya membola ke arah Aldi dengan bibir yang dicebikkan.
"Kau ini! suka-suka sekali," gumam Dinda.
"Aku?" tunjuk Aldi pada dirinya.
"Iya! kau tidak melihat itu," ucap Dinda bisik-bisik menunjuk ke arah Davina.
Aldi menepuk jidatnya.
"Maafi gue, Vin. Gue nggak bermaksud lancang. Gue cuma mikirnya, ya itu kabar baik buat lo, kan?"
"Apanya yang baik! mereka berdua sangat cocok. Keduanya sama-sama pengkhianat!" gumam Dinda kesal.
"Tidak masalah. Begitupun, mereka pernah memiliki tempat di hatiku. Jadi, itu merupakan berita baik. Pas yang Aldi katakan," balas Davina. Ia tersenyum untuk menguatkan dirinya sendiri.
Dinda dan Aldi sama-sama tercengang. Mereka berdua terkadang suka kaget dengan segala ucapan yang keluar dari bibir mungil Davina. Di sisi lain, pria yang di anggap Davina atasannya, sedari tadi sibuk memperhatikannya diam-diam.
Dave berjalan keluar pintu lift. Perasaannya sama sekali terganggu dengan ucapan Davina. Ia benar-benar merasa kesal. Sejak ucapannya kemarin di dengar oleh Davina. Wanita itu sedikit berubah dan menjaga jarak dengan Dave.
"Dave," panggil seorang wanita dari arah belakang Dave. Kedua kaki Dave terhenti, badannya berbalik dan mendapati sang mantan sudah berada dibelakangnya.
"Hai ...," balas Dave dengan basa-basi.
"Tadi itukah istrimu?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Ecca tampak tidak senang dan tidak bersahabat.
Dave menganggukan kepalanya.
"Ya ... dia istriku, Cha. Kenapa?"
Ecca tersenyum seraya bersedekap.
"Lumayan cantik. Nenekmu pintar juga memilih istri." Dave tahu itu bukan sebuah pujian.
"Terima kasih, Cha. Aku anggap itu sebuah pujian," balas Dave dengan tersenyum miring.
"Kau terlalu jahat, Dave! Kau tidak tahu kan? aku sempat di rawat di rumah sakit? Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu, Dave. Tega sekali kau membuatku seperti ini dan kau membuatku hancur di dalam persakitanku sendiri." Kedua mata Eccha memerah. Dave mendengar ucapan Eccha, merasa bersalah untuk itu.
"Maafkan aku, Cha. Kita tidak bisa bersama lagi. Sekarang aku punya tanggung jawab dan aku harus melakukan tugasku sebagai seorang suami. Aku harus bagaimana? aku tak mungkin menjalani dua hubungan. Aku mencintaimu, tapi aku sudah memiliki istri yang juga harus aku cintai. Jadi, tidak mungkin untuk kita bersama. Kau carilah kebahagiaanmu sendiri dan temukan sosok pria yang lebih baik dari aku. Aku pergi," kata Dave, lalu berjalan meninggalkan Eccha.
Eccha melihat punggung Dave yang sudah menjauh dari posisinya. Kedua kakinya berjalan dan mengejar kepergian Dave. Hingga tiba di area parkiran, Eccha berhasil menarik tangan Dave sebelum pria itu masuk ke dalam mobil.
"Dave!" Air mata Ecca akhirnya tumpah ruah. Tubuhnya bergetar. Dave benar-benar menjadi serba salah. Ecca adalah wanita baik-baik yang ia kenal selama dengannya. Hanya saja, Oma Alexa tak menyukai pekerjaan Ecca sebagai model di salah satu majalah. Terus, Ecca merupakan anak korban perceraian kedua orang tuanya. Dikarenakan itu, Oma Alexa tak menyetujui, cucu tunggalnya bersama dengan Dave.
"Jangan menangis, Ca. Kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku," kata Dave dengan penuh penekanan.
Ecca menggelengkan kepalanya. Ia tak terima dengan ucapan Dave barusan.
"Hanya kau, Dave. Yang mampu mengerti aku. Cuma kamu, pria satu-satunya yang terbaik menurutku. Aku mohon, berikan aku sedikit saja cinta yang kau berikan untukku seperti dulu. Aku benar-benar tak sanggup melihatmu dengan wanita lain," balasnya dengan beruraian air mata. Dave merasa sedih. Apa yang dirasakan oleh Ecca, sebelumnya sempat Dave rasakan.
"Ecca ... jangan menangis lagi. Sekarang, pulanglah. Aku tidak mau kau sakit lagi karena aku. Mulai sekarang, kabari aku tentang keadaanmu. Kita bisa jadi teman, kan?" Dave membujuk.
"Tidak Dave. Aku mau lebih dari sekedar teman. Aku mau kita seperti dulu," balas Ecca seraya menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa, Ca. Aku pria beristri. Ada wanita lain yang akan aku sakiti dengan hubungan kita." Dave menghembuskan napas kasarnya. Ia sebenarnya tidak tega melihat keadaan Ecca yang sekarang.
Ecca dengan cepat memeluk Dave. Ia benar-benar sangat merindukan aroma tubuh maskulin dari pria tegap didepannya. Semakin erat dia memeluknya. Semakin besar pula keinginan Ecca untuk mendapatkan Dave kembali.
"Ca ... aku mohon jangan begini. Nggak enak di lihat orang lain," kata Dave dengan menarik kedua tangan Ecca. Ecca mengeratkan pelukannya.
"Aku mohon Dave. Kembalilah seperti dulu denganku. Aku rela berbagi waktu dengan istrimu, asal kau masih tetap mencintaiku, bertemu denganku. Kapan kau sempat menemuiku, aku terima Dave," ujar Ecca membuat Dave merasa bimbang.
Dave merasa benar-benar lemah akan dirinya sendiri. Ia tak bisa, membedakan mana cinta sesungguhnya. Di satu sisi, ia masih mencintai Ecca. Wanita yang sudah menemaninya hampir dua tahun lamanya. Sementara Davina, ia mulai tertarik, ketika Davina menggerakkan hatinya dengan sebuah perasaan. Di satu sisi lainnya, tubuhnya masih ingin meminta lebih dari perasaannya tentang Ecca.
"Kau mau kan, Dave?" tanya Ecca sekali lagi.
***
Tiba di perusahaan, otak Dave seakan sedang di timpuk sama batu besar. Hasrat untuk bekerja, saat itu pun hilang seketika.
"Selamat pagi, Tuan Dave," sapa Rianti. Sekretaris Dave selaku sahabat Dave sendiri.
"Pagi Rin." Dave terhenti di depan meja Rianti.
"Apa hari ini ada kerjaan?" tanya Dave malas.
"Anda cuma memiliki jadwal wawancara dengan majalah bisnis, Tuan," balas Rianti.
Dave menghembuskan napasnya dan mengacak rambutnya yang tak gatal itu. Rianti menaikkan salah satu alisnya. Ia tahu, ada yang tak beres dengan sahabat dan atasannya itu.
"Tuan Dave," bisik Rianti.
Dave langsung membawa wajahnya menatap Rianti.
"Ada apa?"
"Agh ... apa anda ada masalah?"
Dave menganggukan kepalanya.
"Aku pusing, Ri."
"Mau saya panggilkan dokter?"
Dave menggeleng.
"Bukaaaan. Ini menyangkut masalah pribadiku. Maukah menjadi pendengarku?" Dave memasang tampang memohon.
Rianti menarik napasnya. Kalau begini, ia bisa apa.
"Baiklah, Dave. Sebagai sahabatkan?" Rianti memastikan. Dave mengangguk lirih.
"Keruanganku aja, Rin." Dave membawa kedua kakinya berjalan mengarah ke ruangannya. Rianti cuma bisa tersenyum, melihat sahabatnya yang selalu di rundung masalah.
"Duduklah," kata Dave mempersilahkan.
Rianti pun berjalan ke arah sofa dan duduk. Ia memperhatikan wajah Dave yang sudah serius.
"Apa yang bisa aku bantu, Dave?"
"Bagaimana Kiano?"
Rianti tertawa kecil.
"Sehat ... dia juga sudah bisa jalan. Jangan basa-basi. Aku tahu bagaimana dirimu, Dave," kata Rianti mengingatkan.
Dave mengacak-ngacak rambutnya.
"Aku pusing, Ri. Bagaimana bila kau di posisiku. Tadi, aku mengantarkan istriku ke tempat dia bekerja. Pemilik perusahaannya, kau tahu. Itu Williams. Jadi, tadi tuh aku mengantarkan Davina ke ruangannya, eh ... malahan ketemu sama Ecca. Dia minta aku balikan, Ri. Tapi aku menolak karena alasan Davina sebagai istriku. Di sisi lain, aku benar-benar menyedihkan lihat Ecca. Saat dia menangis di pelukanku, rasanya aku benar-benar merasa bersalah untuk itu. Jadi, aku harus bagaimana menurutmu, Ri?"
Rianti sama bingungnya dengan Dave. Ia tahu, selama ini Ecca dekat dengan Dave. Tapi, ia merasa Dave cuma jadi tameng untuk Ecca. Bukan mencintai secara tulus. Itu pendapat Rianti, meskipun di matanya Ecca baik. Baginya, menjadikan Dave sebagai benteng untuk kekuasaannya, Rianti menjadi tidak suka akan hal itu. Sedangkan Davina, untuk pertama kali melihatnya. Rianti sudah mengagumi sosok Davina. Ia juga merasakan perubahan baik dari atasannya, sejak bersama Davina.
"Bagaimana dengan kata hatimu, Dave?"
"Aku masih mencintai Ecca, Rin. Di sisi lain, aku takut Davina terluka dan sedih. Aku juga mulai merasakan benih cinta untuk Davina." Wajah Dave benar-benar terlihat sangat bingung untuk memilih.
Bersambung.
Ayooo bully Dave 🤣
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔