Sabar bukan berarti lemah,bertahan bukan berarti bodoh.Itulah ungkapan Arumi menjalankan rumah tangganya.
Sejak menikah, Arumi harus banting tulang cari nafkah untuk suami, anak dan juga mertuanya.Tapi apa yang di dapatkan Arumi, hanya perlakuan kasar dari suaminya
Setelah mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya.
Apakah Arumi masih akan mempertahankan rumah tangganya?
Jika ingin tahu kelanjutan ceritanya ikutin terus ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Untuk apa aku peduli?
Gilang yang mendapatkan undangan makan malam.Arumi pun angkat bicara karena sikap sang ayah sungguh tidak adil, padahal Angga ikut serta dalam persidangan sebagai saksi.
"Kenapa cuma dia saja yang di undang?Bukankah Angga, juga turut membantu membebaskan, Ayah?" komplain Arumi pada ayahnya.
" Ayah,sudah mengundang dia makan malam sebelumnya.Jadi biarkan kali ini, adiknya yang aku undang ke rumah," dalihnya.
Tentu saja Angga sangat berharap diundang.Hanya saja, Angga memilih diam sambil menggenggam tangan jemari Aqilah.
"Kak Angga, tidak keberatan,kan kalau aku saja yang di undang makan malam?"tanya Gilang dengan sengaja.
Angga tersenyum tipis dengan pertanyaan Gilang yang seperti meledek dirinya yang tidak mendapatkan undangan makan malam oleh Ayah Arumi.
" Tentu saja tidak," jawab dengan santai walaupun hati berkata lain."Mari aku antar kalian pulang!" tawar Angga.
"Tidak perlu! Asisten aku ada di sini, biar dia yang mengantar kami pulang,"tolak Irawan dengan tegas.
"Kalau begitu aku duluan ya,Rum,Om,Tan!"pamit Angga dengan wajah lesunya.
Arumi hanya mengangguk sambil menatap kepergian kekasihnya itu.Entah kenapa sikap tenang pria itu menghadapi ayahnya yang tegas membuat Arumi semakin kagum.
Sementara Gilang ikut berpamitan pulang sambil menyalami tangan Ayah dan Mami Arumi lalu menyusul Angga yang sudah berjalan di depan sana.
*****
Tak lama, Arumi sampai di rumah bersama putrinya dan juga orang tuanya.Sontak wanita paruh baya masuk ke dalam rumah untuk menemui Arumi.
"Ibu Sarita!"
Arumi tidak menyangka kalau Sarita akan datang ke rumah ayahnya.Tapi kedatangan wanita itu, ada maksud dan tujuannya datang menemui Arumi.
" Berani sekali kamu datang ke sini,setelah apa yang di lakukan putramu itu?" celetuk Irawan dengan nada ketus.
Tetapi Sarita masih diam sambil memperlihatkan wajah sedihnya agar mendapatkan simpati dari mereka.
"Apa yang membuat ibu datang kemari?tanya Arumi yang masih memanggil Sarita sebutan Ibu.Karena bagaimanapun wanita itu pernah menjadi Ibu mertuanya.
Sarita berlutut di hadapan Arumi sambil menyatukan kedua tangannya.
"Arumi,bebaskan Gerry!Bagaimanapun Gerry pernah menolong kamu yang hampir bunuh diri?Apa kamu tega membiarkan dia di penjara? ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja aku tidak lupa dengan itu,Bu.Bahkan aku sangat berterima kasih karena pernah ditolong olehnya, dan pernah juga di beri luka.Tapi apa ibu dan Gerry peduli dengan kesakitan yang aku rasakan, saat aku menjadi istrinya. Lalu untuk apa aku peduli padanya? Lagi pula itu salah dia sendiri sudah bersekongkol dengan orang yang ingin menghancurkan ayahku.Jadi biarkan dia yang merasakan hukuman itu," ucap Arumi yang sulit untuk melupakan perbuatan Gerry terhadap dirinya.
"Kamu salah, sudah berpikir seperti itu pada Gerry.Nyatanya dia peduli, bahkan waktu kamu kecelakaan dia begitu mencemaskan kamu hingga datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi kamu.Tapi apa, ayahmu itu justru merendahkan dia bahkan mengusirnya dari rumah sakit.Bukan cuma itu saja, ayah kamu datang ke rumah dengan membawa sejumlah uang agar Gerry menandatangani surat perceraian kalian berdua.Jadi putraku melakukan ini karena dia kesal pada Ayahmu.Jadi aku mohon bebaskan putraku, karena dia tidak bersalah,"ucapnya sambil meneteskan air mata.
Arumi terkejut mengetahui hal itu, karena sang ayah tidak pernah cerita kalau Gerry datang ke rumah sakit menjenguknya.Namun, itu bukan menjadi alasan untuk membebaskan Gerry karena mantan suaminya itu terbukti bersalah.
"Tidak ada gunanya kamu berlutut di hadapan putriku, dengan tujuan untuk membebaskan putramu itu.Aku ayahnya, tidak mengizinkan hal itu.Jadi kamu pergi dari sini ! Kalau tidak,asisten aku yang menyeret kamu keluar dari rumah."
" Aku tidak akan pergi, sebelum kalian membebaskan putraku," kekeh Sarita.
"Adit, bawa wanita ini keluar sekarang juga!"titah Irawan dengan tegas.
Baik,Pak."
Adit menyeret Sarita keluar dari rumah.Tetapi wanita paruh baya itu tidak terima di perlukan seperti itu hingga berteriak.
" Lihat saja nanti, kalian akan menyesal tidak membebaskan putraku dari penjara."
Arumi hanya diam atas ancam Sarita.Sementara ayahnya justru tertawa karena dia tidak takut dengan ancaman tersebut.
******
Sore telah berganti malam.Gilang sudah bersiap akan pergi ke rumah Arumi.Namun, Angga hanya berbaring di tempat tidur.Sementara Gilang segera keluar dari rumah tanpa berpamitan karena orang tuanya tidak ada di rumah.
Tak lama, ada pesan masuk di handphone Angga.
[ Ga, klien dari luar negeri, komplain dengan hotel yang kita pesan,dia minta untuk dijemput.]
[ Kenapa kamu tidak carikan hotel lain saja? ]balas Angga
[Klien kita itu lebih suka menginap di apartemen.]
[ Ya sudah, kamu jemput lalu antar ke apartemen ku! ] balas Angga
[ Aku lagi sakit,Ga.Itu mengapa aku meminta kamu untuk menjemputnya di hotel.]
" Gini nih, kalau sahabat jadi manajer, dia sesuka hati menyuruh bosnya sendiri," gerutu Angga yang masih menatap layar handphone nya.
[ Ya sudah, aku kesana menjemputnya] balas Angga, tidak ada pilihan selain menjemput klien nya itu.
Mendapatkan balasan dari Angga,dua wanita di dalam kamar hotel saling TOS.Tanpa curiga, Angga bergegas ke hotel tersebut, dia menganggap itu adalah Al yang mengirim pesan padanya.Padahal handphone Al lagi hilang saat ini.
Sementara Gilang yang tiba di rumah Arumi, disambut hangat oleh Irawan dan Aleta.Tetapi pria itu tidak melihat keberadaan Arumi di sana.
" Om, Arumi mana?" tanya Gilang.
"Dia ada di kamar, lagi kurang enak badan.Itulah mengapa dia tidak bisa bergabung bersama kita di sini," jawab Irawan.
Rasa kecewa pun di rasakan oleh Gilang.Dia menerima undangan makan malam dari Irawan berharap bisa makan malam bersama Arumi.Namun, nyatanya tidak seperti yang di harapkan hingga pria itu tidak nafsu makan melihat makanan yang begitu banyaknya disediakan di meja makan.
"Ayo di makan ,Nak Gilang!" seru Aleta.
Gilang tersenyum tipis sambil mengangguk, seperti orang lagi tertekan di suruh makan oleh Aleta.Seakan makan yang masuk ke dalam mulutnya, terasa hambar karena tidak ada kehadiran Arumi.
" Kenapa? Makanan tidak enak ya ?" tanya Aleta, saat melihat Gilang begitu sulit mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Enak kok Tan, hanya saja kurang---"
"Apanya yang kurang?" tanya Aleta kembali
Sementara Irawan hanya tersenyum karena dia paham maksud perkataan Gilang.
" Kurang Arumi,Mi."
" Om, bisa aja," Gilang sampai tersenyum simpul.
"Aku tahu kamu menyukai Arumi, aku bisa melihat itu saat kamu datang pertama kali ke rumah ini memandangi putriku."
" Iya, Om, aku menyukai Arumi dan bermaksud ingin menikahinya," ungkap Gilang membuat Irawan dan Aleta terkejut.
terimakasih Thor🙏
terimakasih Thor