7 tahun berlalu Briana Luna keluar dari rumahnya sendiri semenjak sang ibu meninggal dunia. Statusnya sebagai anak angkat membuat gadis tidak bisa melakukan apapun selain angkat kaki dari rumah tersebut.
Seperti biasa, saat libur semeter Luna akan berubah menjadi gadis gila pekerjaan. Semua dia lakukan demi kelangsungan hidup dan untuk biaya kuliahnya. Sampai hari itu tiba, Elova. Satu-satunya sahabat yang dia miliki menawarkannya sebuah pekerjaaan dengan gaji yang fantastis.
Niat ingin bekerja Luna malah dijadikan obsesi seorang pria aneh yang sialnya adalah majikannua sendiri. Dia Scott Diego Nevalion
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi ervendi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Sedikit aneh, semua terasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Scott membuka kancing kemeja bagian atasnya yang basah, lalu menarik lengan bajunya hingga memperlihatkan urat-urat lengannya yang seksi.
Srettt!!!
Luna yang nyaris tertidur melonjak kaget, dia segera bangun mendekati Scott yang hendak beranjak dari tempatnya.
“Tidak usah saya bisa sen…”
“Ishhh… Harga diri anda tidak akan jatuh hanya karena aku memegang lengan anda tuan.” Luna memotong. Dia menuntun Scott berjalan menuju ranjang meski pria itu terus menolak, melatakkan diatas kasur yang kusut, menyandarkannya sejenak disana. Sementara, itu Luna kembali berjaan menuju walk in closet, mengambil stelan baju berbahan rajut dan sebuah selimut baru.
Scott yang terus memandangi apa yang sedang gadis lakukan menyipitkan mata dan tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat.
“Maaf, apa aku boleh membukanya?” Tanya Luna pelan. Setelah keluar dari kamar mandi dengan baskom kecil ditangannya.
“…”
“Aku bersihkan dulu.” Suara Luna begitu lembut memecah kesunyian mereka berdua. Diantara sinar remang-remang, dalam mata Scott membola penuh. Luna yang mengangkat kedua lengannya hanya untuk mengikat bersih rambutnya itu terlihat begitu seksi. Itu membuat Scott sulit menelan ludah.
Jemari Luna perlahan membuka satu persatu kanci kemeja Scott yang sudah terbuka sebagian. Sesekali sentuhan jemarinya menyentuh dada Scott membuat Luna salah tinggah sendiri.
Saat semua terbuka dengan sempurnah, mata Luna terarah secara halus menyusuri dada Scott yang lengket. Matanya sedikit perih dan berair, saat melihat semua bekas luka terpatri diatas kulitnya.
“Maaf. Akan aku bersihkan.” Ucap Luna. Ujung jemarinya dengan tidak sengaja menyentuh dada bidang Scott. Membuat pria itu sedikit bereaksi.
“Hem.”
Tangannya secara lancang naik pelan-pelan menyentuh tubuh Scott , hingga berakhir diwajahnya. Menyapu sisa keringat di pelipisnya.
“Maaf, Boleh kah aku…?”
Set…
Kemaja Scott terjatuh diatas kakinya, tangan mungil Luna kembali memakaikan pria itu baju. “Tunggu disini, aku akan mengambilakan anda makanan dan segelas air hangat.”
Namun, jemrin Scott lebih dulu menahan pergekan Luna membuat gadis itu menatap heran. “Ada apa? Anda ingin sesuatu?”
“Tidak. Saya tidak lapar.”
“Tapi anda belum makan apapun sejak pagi tadi.”
“Tetap disini!!!, saya hanya ingin tidur.”
.
.
.
Tepat sesaat fajar menyingsing, Tuan Nevalion beserta rombongan tiba di kediaman Scott. Pria paruh baya yang masih terlihat kekar menatap pagar hitam yang menjulang perlahan terbuka, mobil yang membawanya perlahan memasuki pekarangan mansion putranya yang selama bertahun-tehun belum pernah dia jumpai.
Didepan pintu utama, sekertaris Don sepertinya sudah menunggu kedatangan tuan Nevalion
“Selamat datang tuan.” Kata Sekertaris Don sambil menunduk menyambut kedatangan tuan besar
“Dimana anak itu?” Dia dengan tegas berjalan memasuki mansion
“Tuan muda sedang dikamarnya, saya akan memangg…”
“Tidak usah, aku sendiri yang akan menemuinya.” Potongnya.
“Selama ini apa yang anak itu lakukan?” Tuan Nevalion kembali bertanya seiring langkah kakinya yang mulai menapaki anak tangga.
“Sepanjang hari tuan muda hanya menghabisi waktunya didalam pustaka. sesekali jika bosan, beliau berburu ditengah hutan.”
Tuan Nevalion menghentikan langkahnya “Berburu?”
“Iya tuan.”
“Sejak kapan dia memiliki hobi seperti itu.”
Langkah mereka berhenti tepat didepan pintu kayu dipenuhi ornamen, wajahnya angkuhnya pelan-pelan berubah lebih melunak namun, itu tak berlangsung lama.
Dia menoleh pada sekertaris Don yang tidak melakuakan apa-apa. “Kenapa? Buka pintunya!”
Untuk sesaat Sekertaris Don terdiam dan hanya menatap tuan besar Nevalion.
“Minggir!”
“Tuan?” Don berusaha menghentikan tuan Nevalion, namun hanyad dengan sebuah lirikann tajam dari pria paru baya itu berhasil membuat sekertaris Don menarik mundur langkahnya.
Sekali dorongan tuan Nevalion berhasil membuka pintu kmar Scott yang cukup berat itu, dia lebih dulu melangkah masuk tanpa menunggu sekertris Don dibelakang.
Brak!!
“Tuan?”
“Akh!!! Kenapa gelap sekali?”
Sekertaris Don segera berlari dan mencari sakelar lampu lalu menyalakannnya.
Tepat sesaat lampu dinyalakan tuan Nevalion tiba-tiba membeku ditempatnya tak berkedip. Tatapannya tertuju pada pria yang dia tahu itu adalah putranya yang hampir seluruh dunia tahu jika dia pria yang memiliki kelainan seksual, tengah tertidur pulas bersama seorang wanita dalam pelukannya.
“Tuan anda terluka?”
Melihat keterdiaman tuan Nevalion, sekertaris Don akhirnya mengikuti kemana tuan besar menatap.
Deg!!!
Dia langsung membuang muka, diikuti tatapan tuan Nevalion penuh tanya.
Sedangkan Scott yang merasa sebuah cahaya seolah menusuk mata elang miliknya perlahan mengerjab. Scott menyipitkan mata, menghalau cahaya yang membuatnya silau. Sesuatu yang berat sepertinya menindih lengan sebelah kirinya, dengan nyawa yang masih terkumpul Scott menoleh kesamping, mendapati Luna yang masih meringkuk didadanya.
Itu tak berlangsung lama saat menyadari dikamar itu bukan hanya ada dirinya dan Luna. Sorot matanya langsung tertuju kearah pintu. Bodoh jika dia tidak mengenali wajah pria tua yang penuh dengan guratan halus dikedua sisi pipinya. Wajah yang bertahun-tahun belum pernah dia lihat.
“Ayah?”
are ok thor ?