Ardian Herlambang duda tampan yang tak memiliki keinginan untuk menikah lagi setelah sang istri meninggal harus berurusan dengan gadis yang selama ini selalu dihindarinya.
Kinanti Maheswari, dokter cantik yang selama ini selalu menatap satu pria di dalam hidupnya. Rasa cintanya yang besar membuatnya tak bisa berpaling dari Ardi, walaupun berkali-kali lelaki itu mematahkan hatinya.
Hingga akhirnya sebuah kesalahpahaman membuat Ardi terang-terangan membenci Kinanti dan mengucapkan kata-kata yang sangat menyakiti hati gadis itu. Hingga akhirnya Kinan memutuskan untuk benar-benar pergi.
"Jangan pernah menghubungiku hanya karena merasa bersalah, semua yang kamu ucapkan benar. Aku bukan siapa-siapa, hanya parasit yang menumpang hidup di tengah-tengah keluarga kalian." ucap Kinan pada Ardi sebelum berlalu menuju calon suami yang sudah menunggunya.
Akankah Ardi menyadari perasaannya setelah kehilangan Kinanti? Bagaimana kehidupan Kinanti bersama lelaki yang tak pernah bisa dicintainya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naira_W, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin Yang Cantik
"Dokter Kinan!!! Aaa... Kangen banget sama dokter"
Kinan yang baru saja sampai di rumah sakit tempatnya bekerja langsung disambut oleh para perawat yang selalu membantunya, suster Nadia.
"Kangen sama saya apa oleh-olehnya?" tanya Kinan.
"Dua-duanya, dok. Hehehehe..." kata Nadia sambil nyengir kuda.
"Nih, aku bawakan spesial buat kamu. Dan yang ini buat bagi-bagi ke staf lain." kata Kinan sambil menyerahkan dua buah paper bag kepada Nadia.
"Wah, terima kasih, dok. Memang dokter memang terbaik. Semoga persiapan pernikahannya lancar sampai hari H ya, dok." kata Nadia sambil menunjukkan jari jempolnya kepada Nadia lalu segera berlari keluar ruangan setelah melihat mata Kinan yang melotot.
Kinan menatap ruangan yang ditinggalkannya selama seminggu. Ada rasa rindu pada aktivitas rutinnya itu.
Beberapa hari kemarin dia dan Bian berusaha untuk mencari ayah kandungnya, tapi usaha mereka sia-sia.
Untuk bertemu keluarga Wicaksono sangat sulit. Maklum saja, dia dan Bian bukanlah kalangan atas tentunya mereka tak akan memperdulikan Kinan yang mengatakan jika dirinya adalah putri sahabat Mahesa, cucu Wicaksono.
Kinan memijit keningnya, lalu dia menatap ke arah jarinya yang tak lagi kosong. Sebuah cincin melingkar di jarinya. Cincin yang disematkan oleh Bian dihadapan mama Putri dan papa Permadi.
Mereka memang baru saja tiba pagi ini dan Bian mengantarnya ke rumah sakit hingga membuat heboh para pegawai rumah sakit yang melihat Bian turun dari mobil dan membukakan pintunya untuk Kinan.
Ditambah lagi Kinan menggunakan cincin di jari manisnya. Tentu saja membuat orang berspekulasi jika Kinan cuti untuk mengurus pernikahannya dengan Bian.
"Hah... Mungkin ini sudah waktunya." kata Kinan pasrah.
Dia dan Ardi tak akan pernah berjodoh. Apalagi kemarin Ardi sempat pulang ke kampung halaman mereka, yang kabarnya untuk membahas masalah perjodohan laki-laki itu dengan sepupu almarhum istrinya.
Kinan menatap jam yang tergantung di dinding, masih sekitar lima belas menit sebelum memulai praktek. Kinan pun mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya.
Dia membalikkan foto pernikahan orang tuanya dan melihat tulisan belakang foto tersebut. Kata papa Permadi itu adalah tulisan tangan sang ibu, Tulisan tangan yang sangat indah.
"Rianti Prameswari dan Mahesa P. Wicaksono." kata Kinan lirih.
Dia mengingat ucapan papa Permadi sebelum dia kembali ke kota ini.
"Ibumu selalu memiliki pemikiran yang berbeda dari gadis kebanyakan, Kinanti, kini dan nanti. Sedangkan Maheswari adalah gabungan nama orang tua kamu Mahesa dan Prameswari. Nama mu adalah murni pemberiannya. Papa tak berani mengganti ataupun menambahkan nama lain karena itu adalah permintaan terakhirnya."
"Kenapa papa baru menceritakannya sekarang?"tanya Kinan heran.
"Karena sudah ada lelaki yang serius menginginkan kamu. Papa merasa jika Bian laki-laki baik yang bisa menjaga mu. Lagipula papa tidak mau punya anak yang berstatus perawan tua gara-gara patah hati." kata papa Permadi
"Papa! Aku belum tua pa, banyak gadis yang lebih tua dari usia ku yang belum menikah." Kinan tak terima
"Itu papa orang lain, ini papanya Kinan." kata papa Permadi
"Kamu tetap menganggap papa ini papa kamu kan?" papa menghela nafasnya dengan keras lalu melanjutkan ucapannya yang membuat Kinan tak bisa menahan air matanya.
"Walaupun sudah tau jika papa bukanlah ayah kandungmu, kamu putri papa. Kamu selalu jadi kesayangan papa." kata papa Permadi.
"Papa..." Kinan pun langsung memeluk sang papa.
"Papa itu papanya Kinan. Sampai kapanpun, papa tak akan tergantikan oleh siapapun bahkan ayah kandung Kinan yang entah ada dimana. Kinan selalu sayang sama papa."
Tok...Tok...Tok
Kinan tersentak dari lamunannya saat mendengar suara ketukan di pintunya. Ternyata Leni, si dokter kandungan itu sudah berdiri di depan pintu ruangannya sambil tersenyum cerah.
"Selamat datang adik ipar." katanya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck, kamu itu kayak jelangkung saja. Datang tak dijemput pulang tak diantar." gerutu Kinan.
"Hei, bicara yah sopan sama kakak ipar. Kualat nanti kamu." kata Leni lalu duduk di depan Kinan.
"Kakak ipar apanya, biarpun Mas Rafa itu lebih tua dari mas Bian tapi statusnya mas Bian itu anak Pakdenya Mas Rafa jadi tetap saja Mas Bian yang berstatus kakak." kata Kinan lalu menjulurkan lidahnya ke arah Leni yang terlihat bingung.
"Mana ada seperti itu, kamu nggak ikhlas jadi adik ipar aku makanya ngada-ngada kayak begitu." kata Leni tak terima.
"Tanya saja sama ibunya mas Rafa kalau nggak percaya." kata Kinan.
"Oke, nanti aku tanya. Kalau main ke sana." kata Leni.
Kinan hanya mencebikan bibirnya, Leni termasuk menantu yang sedikit 'menghindari' mertuanya. Ibunya mas Rafa yang memang agak cerewet selalu saja mengomentari Leni yang merupakan dokter kandungan tapi sampai sekarang belum hamil-hamil.
Leni jarang berkunjung ke rumah mertuanya, kecuali jika ada Mas Rafa di kota ini. Mau tak mau dia ikut suaminya mengunjungi ibu mertuanya dan menahan diri dengan ucapan-ucapan pedas mertuanya.
"Eh, ngomong-ngomong beneran lamaran Bian udah diterima?" tanya Leni tak percaya
"Hemm..." jawab Kinan
"Dih, kok gitu jawabnya."
"Baru sekedar omongan Mas Bian dengan papa mama saja. Belum ada rencana mau lamaran resmi." kata Kinan
"Kalau kayak begitu sih, udah aman. Ibunya Bian nggak seperti mertuaku. Tante Gina orangnya baik dan ramah. Kalau kata Bian yes, udah pasti Tante Gina juga yes." kata Leni mempromosikan ibu mas Bian yang merupakan tetangga rumah orang tuanya.
"Testimoni, ya sis." ucap Kinan.
"Kalau testimoni aku udah pernah merasakan jadi menantunya. Ini FYI khusus buat kamu, for your information." kata Leni.
"Dih, dokter Leni yang lagi-lagi banyak followers di tok-tok, bahasanya sekarang beda." ledek Kinan.
"Ck, kamu ini kalau dikasih tau suka banget mengalihkan pembicaraan." kata Leni kesal.
"Jadi gimana? Kapan rencana kalian married? Aku harus siapin seragam buat keluarga, loh. Soalnya calon iparku ini bukan kaleng-kaleng, dokter Kinanti Maheswari, Sp. A. Lulusan termuda dan terbaik di Jepang." kata Leni dengan lebay.
"Jangan mulai, Len. Kamu juga tau aku masih belum siap buat menikah." kata Kinan.
"Dan kamu juga udah janji buat usaha menerima Bian dan melupakan Ardi." balas Leni.
"Hapus laki-laki itu dari list masa depan kamu. Dengan begitu akan mudah melangkah bersama Bian." kata Leni mengingatkan Kinan.
"Tau ah, pusing kepalaku." kata Kinan
"Ya udah, aku ke poli dulu." kata Leni
"Cincinnya cantik, selera Bian boleh juga." sambungnya lagi lalu keluar dari ruangan Kinan.
Kinan menatap tangannya, cincin itu memang terlihat cantik. Bian pasti banyak mengeluarkan uang untuk membeli cincin bermata berlian itu.
"Cantik... Mungkin karena aku yang pakai jadi kamu semakin cantik." Kinan berbicara sendiri sambil menatap cincin di jari putihnya.
😀😀😚😍😙😗
alfian bawa kabur aja Era..
biar Rukmini keoanasan..
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤😘😍😙😙😙
kasihan pak prabu...
❤❤❤😘😍😙😙
❤❤❤❤❤
gmna kabar Rukmini yaa..
apakah masih kenceng mukanya..
decara si tuan golek kan dibuang gak dikasih makan lagi..
❤❤❤❤😀😀😘😍😍😙
❤❤❤❤😀😀😀😘😙😙
❤❤❤❤❤
❤❤❤❤
nana syok tuhhh..
😀😀❤❤❤❤
laki2 tau dori dan baik hati..
❤❤❤❤❤