mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31: peta kuno
Langit mulai berubah jingga saat Lin Xieng dan rombongannya tiba di dataran landai berbatu. Di hadapan mereka berdiri sebuah kuil tua, bangunannya sebagian runtuh dimakan usia, namun aura spiritual yang terpancar dari dalamnya terasa kuat dan menekan.
“Kita sudah sampai,” gumam Lian Bo, matanya menyipit menatap reruntuhan. “Menurut naskah lama, peta kuno yang menunjukkan titik-titik sumber energi purba tersimpan di tempat ini.”
Chu Qingli mengangguk. “Tapi kita tak tahu apa yang menjaga peta itu, atau… siapa.”
Saat mereka melangkah mendekat, tiba-tiba... Miao-sama, si kucing ungu raksasa di atas kepala Chu Qingli, melompat turun dan berdiri tegak di depan kuil. Telinganya bergerak-gerak seolah mendeteksi sesuatu.
Lin Xieng mengangkat alis. “Apa dia jadi penjaga sekarang?”
“Tidak tahu,” jawab Chu Qingli, “tapi kalau dia mulai bicara bahasa manusia, aku akan mulai mempertanyakan semua keputusan hidupku.”
Miao-sama mengeluarkan suara keras: “Mmmmrrrrooowwwww!”
Dan tepat setelah itu, batu nisan di depan kuil retak, membuka jalan menuju lorong bawah tanah.
Lin Xieng tertegun. “Serius? Dengkurannya kunci pintu?”
“Dia jelas lebih berguna daripada Lian Bo,” kata Chu Qingli.
“Protes! Aku adalah—”
“Pewaris teknik Lembah Pagi, kami tahu,” potong Lin Xieng dan Chu Qingli bersamaan.
Mereka pun turun ke dalam lorong itu, cahaya spiritual memancar samar dari dinding-dindingnya. Di dalam, mereka menemukan sebuah ruangan bulat yang dipenuhi ukiran-ukiran tua dan sebuah peta besar tergantung di dinding batu.
Namun belum sempat mereka mendekat...
Tshiiiiing!
Sebuah sosok hitam muncul dari bayangan—makhluk berkaki enam, bertubuh manusia tetapi berwajah ular. Matanya bersinar hijau menyala, dan ia berbicara dalam bahasa aneh yang entah bagaimana bisa dimengerti: “Yang ingin menyentuh peta, harus melewati ujiannya.”
Chu Qingli mengangkat pedangnya. “Ujian jenis apa?”
Sosok itu menyeringai. “Ujian... tertawa.”
“Tertawa?” tanya Lin Xieng, tidak yakin ia mendengar benar.
Sosok itu tiba-tiba berubah bentuk—menjadi... Lian Bo.
Namun Lian Bo yang memakai wig aneh, berdansa sambil menyanyi fals, “Aku pewaris lembah... tapi jatuh ke sawah...”
Seluruh ruangan menjadi sunyi.
Lin Xieng menatapnya. “Ini semacam... ilusi untuk menguji kontrol emosi?”
“Kalau tertawa, gagal,” kata Chu Qingli pelan.
Lian Bo berdiri dengan wajah kaku, tapi bibirnya berkedut. “Kenapa dia jadi aku... dan kenapa begitu menghina?!”
Lin Xieng mulai berkeringat. “Jangan ketawa… jangan ketawa…”
Tiba-tiba, Miao-sama melompat ke tengah dan… memukul ilusi itu dengan ekornya.
Tshak!
Ilusi hancur, dan sosok ular itu lenyap.
“...Kita boleh begitu?” tanya Lian Bo bingung.
Miao-sama menoleh ke belakang dengan ekspresi meremehkan. “Mrrrow,” katanya, seolah berkata: Cupu.
Dengan ujian yang mendadak disingkat paksa oleh kucing misterius, mereka pun akhirnya bisa mendekati peta.
Di atas batu tertulis dengan aksara kuno: Peta ini bukan hanya peta dunia… tapi juga peta jiwamu.
Lin Xieng menatap titik-titik bercahaya di atasnya. “Ada puluhan lokasi spiritual penting… beberapa mungkin berisi teknik, peninggalan, atau bahkan… rahasia dunia.”
Chu Qingli menunjuk satu titik di bagian barat laut. “Yang ini bersinar paling terang. Kita bisa mulai dari sana.”
Namun Miao-sama mendengkur dengan keras, mengisyaratkan untuk tidak pergi ke sana.
Lian Bo bergumam. “Kalau kucing yang mendengkur bisa meramal nasib, aku menyerah.”
Lin Xieng mengusap dagunya. “Bukan meramal. Mungkin... dia punya koneksi dengan tempat itu.”
Di saat itulah, sebuah suara samar terdengar dari dalam kuil. Bukan dari mereka, bukan dari roh, dan bukan dari kucing.
Suara itu berkata lirih, seolah menembus ruang:
> “Seseorang bermarga Wang... mengubah hukum dunia, dan memutar waktu...”
Lin Xieng tersentak. Suara itu datang dari dalam pikirannya, seolah berasal dari gulungan kuno yang belum ia miliki.
Matanya menyipit. “Marga Wang... Siapa dia? Apa hubungannya dengan teknik tubuh itu...?”
Namun belum sempat ia mencerna semuanya, suara Chu Qingli memanggil. “Lin Xieng, ayo. Kita harus pergi sebelum malam. Tempat ini tidak enak didiami terlalu lama.”
Lin Xieng mengangguk. Tapi hatinya tidak tenang. Ada sesuatu... sesuatu besar yang telah mulai bergerak.
Dan entah kenapa, Miao-sama juga ikut menatapnya dalam-dalam, seolah berkata: Kau sudah mendengar bisikan masa depan. Jangan abaikan.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan