NovelToon NovelToon
Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Cinta Tak Ada Dalam Pasal

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kiky Mungil

Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pagi Yang Tidak Sehangat Sebelumnya.

Pagi itu Shira mengantar Ruan ke balai desa tempat dimana mobilnya terparkir selama dua hari ini. Dalam perjalanan tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Ruan masih betah dengan sunyi dan sedingin udara pagi. Sementara otak Shira berkali-kali memutar adegan kissing di kebun singkong Pak Ajat dan pelukan Ruan semalam. Shira ingin protes atas sandiwara yang dilakukan Ruan, namun dia juga ingat kalau saat adegan di depan Beno, dia juga membalas ciuman pembuktian itu.

Dari kejauhan di belakang mereka yang menuruni jalanan berkerikil, terdengar suara knalpot motor, karena memang akses jalanan itu hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua saja. Namun karena pikiran Shira yang masih belum sepenuhnya fokus pada hari ini, dia tidak menyadari bahwa langkahnya sudah membawa dirinya agak ke tengah jalan dan membuat tangan Ruan secara refleks menariknya agar tidak ada adegan ciuman lagi antara Shira dan body motor.

“Jangan melamun di jalan.” Ruan mengingatkan. Nadanya tidak dingin, tapi cukup membuat Shira gugup. Mungkin karena dibarengi dengan sorot mata yang berbanding terbalik dengan udara pagi yang dingin.

Mereka sampai di balai desa, di sana ada beberapa ibu-ibu petugas balai desa yang sudah berkumpul, mereka menyapa Shira.

Shira menyahuti dengan sopan, sementara Ruan hanya memberikan senyuman formalitasnya.

Sebelum Ruan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan, dia menarik Shira, memeluknya dan mengecup kening Shira.

“Besok aku jemput.” katanya dengan lembut.

Lutut Shira lemas, tapi harus bertahan kuat demi harga diri.

“Sa.. a-aku dijemput Pak supir aja. Kamu pasti banyak kerjaan yang harus diurus karena udah dua hari ditinggal.”

Ruan tersenyum, tangannya mengacak rambut Shira pelan.

“Aku akan memecat supir itu kalau kamu ga mau dijemput sama aku.” katanya santai, tapi membuat Shira melotot.

“Eh, mana bisa begitu.”

Ruan semakin melebarkan senyumnya yang membuat jantung Shira pagi ini terlalu jedag-jedug, sampai membuat ibu-ibu petugas balai desa pun bersorak pelan memuji betapa gantengnya cucu mantu neneknya Shira dan betapa beruntungnya Shira punya suami seganteng artis sinetron.

“Tunggu aku saja. Oke?”

Shira memilih untuk mengangguk supaya cepat selesai karena ibu-ibu itu semakin berisik.

Setelah mobil Ruan keluar dari balai desa, Shira hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil menanggapi pujian ibu-ibu itu. Dia kembali menjalani jalanan menanjak berkerikil menuju rumah nenek dengan hatinya yang terus-terusan grundel, sembari tangannya memainkan rumput liar yang tadi sempat dia ambil asal.

Kenapa Pak Ruan harus akting senyata itu, sih? Kenapa juga masih akting padahal setelah aku balik ke kota, kontraknya akan selesai, dia pasti juga udah curiga dengan perasaan aku. Huh! Kalau dia masih terus akting, bagaimana nanti aku harus menjelaskan ke Nenek? Ke Mama Ratna? Ke Lulu? Bagaimana juga dengan hatiku yang menyedihkan ini …

Langkahnya lunglai seperti orang bangun tidur yang nyawanya belum menyatu sempurna. Bahkan perjalanan jalan kaki dari balai desa ke rumah Nenek yang harusnya bisa ditempuh dengan sepuluh menit, kini Shira harus menyelesaikan hampir tiga puluh menit.

“Ah, akhirnya muncul juga.” Suara Nenek menyambut di teras begitu Shira sampai di pagar bambu rumah Nenek.

“Loh kok Nenek sendirian?” Shira bertanya sembari membuka pagar.

Nenek berdiri. “Iya, Neng Agnes lagi temenin Lulu. Neng Aura lagi di kamar mandi. Nenek pengen tunggu Shira di sini, pengen lihat Shira sebelum Nenek tidur, pagi ini rasanya ngantuk sekali..” Nenek melangkah pelan-pelan dari kursi bambu untuk menghampiri Shira yang baru selesai mencuci kakinya di keran depan dekat kebun kecil Nenek.

“Ya, kan, bisa nunggu Shira di dalam aja… eh, Nenek mau kemana?” Nenek sudah menuruni anak tangga dari teras, Shira melangkah cepat mendekat, tapi berhenti sejenak karena mata kakinya digigit semut merah entah dari mana, sesaat ketika sedang Shira mengusap kakinya, tiba-tiba bunyi gedebum besar membuat Shira membeliakkan kedua matanya.

“NENEK!”

    *

Ruan baru saja mengeluarkan ponselnya berniat untuk menghubungi Faris agar mempersiapkan rapat internal berdasarkan hasil laporan email yang dia terima semalam sebelum tidur. Namun, ponselnya bergetar dengan nama Shira tertera.

Sudut bibirnya bergerak membentuk senyuman, entah kenapa, kini hanya dengan melihat namanya saja sudah membuat syaraf senyum Ruan otomatis bergerak. Baru saja dia hendak menyahut panggilan itu, suara Shira langsung terdengar panik.

[Pak… Nenek… tolong!]

Tiga kata itu membuat Ruan tidak lagi bertanya apa pun dan tidak lagi berpikir apa pun, selain membanting stir untuk putar balik kembali ke balai desa.

Sesampainya di balai desa, Ruan tidak lagi memikirkan bagaimana posisi mobilnya berhenti, beberapa orang yang baru saja berlari dari arah atas langsung mengenali Ruan sebagai cucu dari nenek Shira, mereka langsung memberitahukan sembari bergegas kembali bersama Ruan ke rumah nenek.

Di teras, sudah banyak orang berkumpul, kebanyakan hanya penasaran mencoba mencari informasi dari jendela, beberapa menutup jalan masuk ke rumah.

“Minggir, minggir atuh, jangan nutupin jalan!” ujar seorang bapak-bapak kepada orang-orang yang berdiri di depan depan pintu.

“Shira…” Ruan melihat Shira sudah duduk lemas di dekat nenek, sementara Lulu menangis sembari memegangi tangan Shira. Dua orang perawat yang biasa dipanggil Neng Agnes dan Neng Aura masih berusaha untuk mengembalikan kesadaran nenek.

“Pak, kita harus ke rumah sakit sekarang!” ucap Agnes begitu melihat kedatangan Ruan.

“Pak … tolong Nenek …” Shira hanya bisa berkata lirih, matanya sudah sembab.

Ruan mengangguk, tanpa banyak kata, dia langsung menggendong Nenek dengan sigap lalu membawanya ke luar, langkah kakinya cepat dan akurat menuruni jalanan walaupun bukan jalan yang mulus. Sementara Shira di belakangnya, dibantu oleh seorang ibu paruh baya yang memegangi Shira agar tidak terjatuh, Agnes bersama Lulu juga ikut bergegas.

Aura lebih dulu menuju ke rumah sakit menggunakan ojek pengkolan, Agnes ikut di mobil bersama Ruan, Shira dan Lulu. Semua orang yang mengantar memberikan ucapan-ucapan yang menguatkan untuk Shira dan kalimat-kalimat positif bahwa nenek akan baik-baik saja.

Namun Ruan bisa melihat bagaimana Shira kehilangan sorot matanya, tatapannya kosong, namun air mata terus keluar. Lulu yang duduk di pangkuannya berkali-kali mengusap air matanya, namun air mata itu terus saja mengalir. Di kursi belakang, Agnes masih berusaha memberikan aroma-aroma herbal untuk menyadarkan nenek, mengecek denyut nadi, namun karena keterbatasan alat dan ruang, Agnes pun tidak bisa melakukan banyak.

Ruan langsung menginjak gas begitu masuk ke jalan raya utama, beruntungnya di wilayah itu, jalan raya utama pun masih tergolong sepi dan tidak ada macet. Perjalanan yang ditempuh untuk bisa mencapai rumah sakit pun bisa dilalui dengan waktu yang singkat.

Mobil berhenti tepat di depan IGD, dimana perawat Aura sudah menunggu di depan pintu dengan satu orang perawat lain, seorang dokter dan sebuah brankar yang sudah siap. Ruan langsung mengangkat tubuh Nenek dan meletakkan Nenek hati-hati di atas brankar.

Begitu Nenek sudah berada di atas brankar, para petugas medis langsung sigap mendorong brankar masuk ke dalam.

Shira bersama Lulu dan Agnes lebih dulu masuk menyusul Nenek, sementara Ruan harus memarkirkan mobilnya lebih dulu. Setelah mendapatkan tempat parkir, dia langsung bergegas menyusul.

Suasana di dalam IGD terbilang tidak ramai, cukup lenggang sehingga Nenek bisa langsung ditangani, namun dokter mengatakan bahwa kondisi Nenek cukup mengkhawatirkan dan harus segera dilakukan beberapa tindakan pemeriksaan untuk memastikan kondisi Nenek.

Aura ikut masuk ke dalam ruang tindakan untuk menjelaskan kondisi Nenek sebagai perawat yang telah mengetahui riwayat kesehatan Nenek selama beberapa waktu ini, sementara Agnes tetap di ruang tunggu bersama Shira, Lulu dan Ruan.

“Lulu, Papa boleh minta tolong?” Ruan berlutut di depan Lulu.

Lulu mengangguk.

“Bisa belikan Ibu air minum?”

Lulu mengangguk lagi.

Ruan kemudian memberikan uang kepada Agnes sebelum mereka meninggalkan ruang tunggu IGD.

Shira duduk lunglai di atas kursi tunggu, kepalanya bersandar pada dinding, air mata masih mengalir, namun sorot matanya kosong melihat ke arah langit-langit ruang tunggu itu. Ruan menempatkan diri tepat di sebelah Shira, tangannya mengusap wajah Shira, namun perempuan itu bergeming. Lalu dia meraih tangan Shira, menggenggamnya erat seakan mencoba mengalirkan rasa aman untuk Shira.

“Shira …” panggilnya lembut.

Kepala Shira bergerak pelan, matanya yang basah itu melihat Ruan dengan seribu kesedihan yang selama ini terpendam. Ruan bersumpah demi apa pun, jika dia mempunyai kekuatan super, dia ingin memiliki kekuatan untuk bisa menyembuhkan agar tidak melihat Shira dengan sorot mata yang penuh dengan begitu banyak luka dan duka.

“Nenek bilang …” Suara Shira gemetar, tangis dia tahan sekuat tenaganya. “mau melihat saya … sebelum tidur … lalu Nenek … jatuh di tangga … dan … dan …”

Ruan menarik Shira, memeluknya dan pada akhirnya membiarkan Shira menangis dalam pelukannya.

“Semua akan baik-baik saja…” ucap Ruan, meskipun dia sendiri juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

.

.

.

Bersambung

1
Humaira izzatunisa
luar biasa
ms. S
up lagi kak. ceritanya seru lho
Anonim
😍😍😍😍
Anonim
😍😍😍
Anonim
/Drool/
Anonim
Lanjut thor cerita nya fresh beda dengan yang lain😍😍😍
Oksy_K
lanjut kak.... penasaran kisah selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!