Kisah sepasang suami istri yang menikah karena sebuah perjodohan.
Ara dan Fawwaz.
Berawal dari tidak saling kenal, lalu dipaksa hidup dalam satu atap.
Ara bersikap sangat dingin dan acuh, berbanding balik dengan Fawwaz yang begitu hangat dan penuh perhatian. Walau sudah berkali-kali di acuhkan, ia tak pernah merasa bosan sedikitpun.
Suatu ketika Ara merasa kasihan dan ingin memperbaiki sikapnya. Benih-benih cinta mulai bersemi, tapi justru ujian berbalik kepadanya.
Dia harus melewati berbagai ujian untuk mendapatkan Fawwaz seutuhnya. Hingga suatu hari ia di melihat kenyataan yang membuat dunianya serasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiva cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Langit gelap berhiaskan bulan dan beberapa titik bintang di angkasa menjadi pemandangan yang sangat indah di malam hari.
Semakin gelap malam, semakin terang cahaya bintang maka semakin terasa kesunyianya.
Ara duduk di sisi ranjang tidurnya, menatap kosong keluar jendela.
Beberapa waktu lalu dia merasakan kehangatan dalam ruang ini, tapi hari ini semuanya terasa kosong dan hampa. Seolah Takdir sedang mengujinya.
Ceklek.
"Ra ... " Ratih memperhatikan Putrinya dari balik pintu. Kesedihan masih memupuk di wajahnya.
Perlahan Ratih mendekati Ara, lalu duduk di sampingnya.
"Kamu belum tidur Nak?" tanya Ratih. Ia membelai rambut Ara.
Ara menggeleng.
"Ara belum ngantuk Buk." Jawabnya.
"Tapi ini sudah malam Nak," ujar Ratih.
"Gak baik orang hamil tidurnya larut malam." Tambahnya.
"Sebentar lagi Ara tidur Buk," jawab Ara.
"Ya sudah, Ibuk kembali ke kamar dulu ya. Kamu cepat tidur !" Seru Ibuk.
"Iya Buk." Sahut Ara.
Kemudian Ara membuka ponselnya. Sejak Fawwaz di rawat di rumah sakit, ia tidak pernah mempedulilan ponselnya.
"Yah, lowbat." Gumamnya.
Lalu ia mencari charger di laci atau lemari kamarnya, tapi ia tidak menemukan.
"Oh iya, sepertinya Charger handphone Mas Fawwaz sama kayak punyaku." Ara bergumam sendiri.
Lalu ia berjalan ke arah ruang kerja Fawwaz.
"Dimana ya?"
Ara mencari ke setiap laci yang ada di ruangan Fawwaz, lalu pandanganya tertuju pada sebuah rak kotak kayu berukuran sedang yang ada di pojok ruangan.
"Itu dia," Ara bergegas mengambil charger Fawwaz.
Namun matanya melirik sebuah kotak kecil lusuh yang berada diantara tumpukan buku.
"Apa ini?"
Ara penasaran, lalu membuka kotak tersebut.
Brakkk !
Ara terbelalak melihat isi kotak dan spontan menjatuhkanya ke lantai.
"Kamu sedang apa Ra?" tanya Ratih dari balik pintu.
"Eee, Ara cari charger Buk." Jawab Ara.
"Sudah ketemu? mau Ibuk bantu cari?" ujar Ibuk.
"Gak usah Buk, sudah ketemu." Sahut Ara.
Lalu Ara memungut kembali kertas foto yang berserakan di lantai.
Ia pandangi foto tersebut, dan tak terasa bulir bening dari sudut matanya mulai berjatuhan.
Dadanya terasa sesak, lebih sesak saat ia mendengar suaminya tertabrak mobil.
Sepasang pengantin tersenyum bahagia berlatar di sebuah Masjid.
Kemudian Ara membalikkan fotonya, membaca tulisan di belakang foto tersebut.
Fawwaz Albar Hermawan dan Angelie Anastasya / 2013.
Ara merasakan goncangan yang sangat hebat pada tubuhnya, bahkan ia kesulitan bernafas karena himpitan di dadanya terasa begitu menyiksa.
Ara tidak bisa lagi membendung air matanya, dan membiarkanya lolos begitu saja.
Lalu ia melihat sepasang cincin yang di satukan dalam kotak kecil. Tapi Ara tidak terlalu mempedulikan dan membiarkan begitu saja.
Kemudian dia keluar dari ruang kerja Fawwaz, membawa selembar foto dan charger.
Sesampainya di dalam kamar, ia mengunci pintu kamarnya lalu menangis sepuas hatinya.
"Kenapa, kenapa mereka membohongiku?" gerutu Ara.
"Aku mengerti sekarang kenapa wanita itu tadi menyebut Fawwaz sebagai suaminya."
"Aku benci mereka semua, AKU BENCI !!!" Umpat Ara.
"Arrrghhh !!!" teriak Ara, tapi tidak bersuara.
Ia memukul-mukul dadanya sendiri sembari menangis tersedu-sedu.
"Kenapa ini terjadi padaku Tuhan?
Dulu Engkau ambil Nathan, orang yang sangat aku cintai. Sekarang, Fawwaz yang aku anggap sebagai malaikat ternyata ... "
Arrrgghh !!!
Ara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia meremas sprei nya dan melempar bantal ke sembarang arah hingga membuat barang berjatuhan.
Tok tok.
"Neng, ada apa?" tanya Bibik dari balik pintu.
Tapi Ara mengabaikanya.
"Ra, ada apa Nak?"
Berganti Ratih yang coba mencari tau kegaduhan di dalam kamar.
"Ra, kalau kamu tidak menjawab, Ibuk akan menyuruh Mas mu untuk mendobrak pintu." Gertak Ratih.
"Gak ada apa-apa Buk, Ara baik-baik saja." Sahut Ara dengan suara berat.
"Buka dulu Nak pintunya, Ibuk mau masuk." Kata Ratih sedikit memaksa.
"Tidak Buk, Ara mengantuk. Ara akan segera tidur." Jawabnya bohong.
"Ya sudah kalau gitu." Sahut Ratih.
Kemudian mereka meninggalkan Ara sendiri di dalam kamar.
****
Matahari masih memperlihatkan sedikit cahayanya. Mengintip dari balik gedung-gedung tinggi.
Entah sudah berapa lama Ara menangis, tapi yang jelas ia terjaga semalaman.
Ara bergegas mandi dan bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
Tak lupa ia memakai kacamata hitam supaya tidak orang tau jika matanya bengkak.
"Buk, Ara mau keluar dulu." Pamit Ara.
Ratih melirik jam yang ada di dinding ruang makan.
jarum jam masih menunjuk antara angka lima dan enam.
"Sepagi ini Nak? mau kemana?" tanya Ratih penasaran.
"Ara ada keperluan Buk, gak lama kok." Sahutnya.
"Ya sudah kalau gitu. Ga tolong antarkan adikmu !" Seru Ratih kepada Putranya.
"Gak usah Buk, Ara sudah pesan taxi online." Sahut Ara.
"Ya sudah Nak, hati-hati ya. Pulang sebelum jam makan siang." Pesan Ratih.
Ara mengangguk, lalu ia mencium tangan Ibunya.
"Pak, ke rumah sakit." Ucap Ara kepada Driver.
Entah dapat keberanian darimana, Ara bisa senekat ini. Pergi tanpa ada orang yang menemani.
Sesampainya di rumah sakit, Ara mengendap-endap melihat kondisi Fawwaz dari balik kaca jendela.
Air matanya menetes kembali, tapi ia segera menyekanya.
Bagaimana ia mau meluapkan kemarahanya sedangkan orang yang menyakitinya sedang terbaring lemas di rumah sakit.
Kemudian dari kejauhan tampak kedua mertua Ara berjalan ke arah ruang Putranya.
Lalu Ara segera meninggalkan tempat tersebut.
Ara memesan kembali taxi online dari ponselnya. Setelah kurang lebih limabelas menit Driver pun datang.
"Dengan Mbak Zahra?" tanya Driver tersebut.
"Iya," sahut Ara.
"Mari Mbak silahkan,"
Kemudian Ara pun masuk ke dalam mobil tersebut.
"Ke alamat ini ya Pak." Kata Ara. Ia menunjukkan sebuah kartu nama yang terdapat alamat kantornya.
"Baik Mbak," sahut Drivernya.
"Itu Mbak kantornya." Kata Driver. Ia menunjuk sebuah gedung tinggi yang berseberangan dengan Cafe.
"Baik Pak terimakasih." Jawab Ara, kemudian memberikan satu lembar uang seratus ribuan.
"Wah Mbak, gak ada kembalianya." Kata Driver tersebut.
"Gak apa Pak, buat Bapak saja." Sahut Ara.
Kemudian ia berjalan kaki sekitar limabelas meter.
Lalu Ara di sambut oleh resepsionis Kantor.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya resepsionis tersebut.
"Saya mau bertemu dengan Alfin." Jawab Ara.
"Sebelumnya sudah membuat janji dengan beliau?" tanya resepsionis kembali.
Ara menggeleng.
"Baik kalau begitu saya sambungkan dengan beliau."
"Halo Pak, ada yang mencari Bapak." Kata resepsionis tersebut kepada seseorang dari balim telpon.
"Maaf nama Mbak siapa?"
"Ara." Jawab Ara singkat.
"Baik Pak."
Kemudian telponya terputus.
"Mbak bisa menunggu di situ, sebentar lagi Bapak Alfin akan segera menemui Mbak." Kata resepsionis tersebut.
"Terimakasih Mbak." Sahut Ara.
Kemudian Ara menunggu di lobby kantor.
Meskipun Ara adalah istri dari Wakil Direktur di Perusahaan ini, tapi ini adalah pertama kalinya Ara menginjakkan kakinya di tempat kerja Fawwaz. Dan belum banyak orang yang mengetahui seperti apa istri dari salah satu orang terpenting di Perusahaa tersebut.
Kecuali orang-orang terdekat Fawwaz.
"Ara," panggil Alfin.
Ara langsung mengalihkan pandanganya ke arah suara.
Ara menyeringai.
"Silahkan masuk ke dalam ruangan saya." Alfin menunjukkan ruang kantornya.
"Jangan di dalam ruangan. Aku tidak mau ada orang yang mengenaliku dan salah paham tentang kita." Jelas Ara.
"Baiklah. Kalau begitu tunggu aku di cafe sebrang. Saat makan siang aku akan menemuimu disana." Kata Alfin.
Bersambung.
•
•
•
Halo reader, tidak bosan-bosanya Author mengingatkan kalian untuk selalu support terus dengan klik like, terus komentar yang nyambung sama ceritanya, klik tombol love nya juga biar gak ketinggalan sama cerita selanjutnya. Dan kasih vote juga pastinya.
pasti ada hati yg tersakiti.
Duhh knpa ujungnya kek gini sih😥
dasar laki laki