Gadis manis itu menghilang begitu saja meninggalkan luka yang cukup dalam untuk seorang sang most wanted. Hingga bertahun-tahun lamanya Darren memendam kebencian pada Dila
Setiap mengingat gadis itu darah Darren mendidih, Darren merasa terbuang, padahal Darren yang digilai para gadis itu memilih Dila, gadis sederhana yang energik. Darren tak ingin bertemu gadis itu lagi
Namun takdir berkata lain, ia malah dipertemukan lagi dengan Dila >>>>
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darren marah
Tiba di apartement Dila, Darren langsung menghempaskan tubuhnya yang terasa lelah ke sofa panjang dekat tv, dua jam ia mencoba mengelabuhi sang ayah sampai-sampai Dila juga tertidur dimobilnya
Sementara Dila langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Kehamilan membuat Dila selalu merasa gerah dan berkeringat
30 menit ia mandi, kini Dila sudah rapi dengan piyama tidurnya. Dila mendekati Darren yang malah tidur disofanya. Padahal sejak tadi pria itu memohon-mohon agar Dila tak tidur karena ia ingin menghabiskan malam ini bersama Dila
Dila duduk disamping Darren, menatapi wajah Darren yang terlihat lelah." Sebenarnya ada apa? Kau merahasiakan sesuatu dariku Darren?" Gumam Dila
Lama Dila menatapi Darren lalu ia menggoyang pelan tubuh Darren
" Darren, bangun. Kau belum mandi." Ucap Dila
" Emmh nanti saja." Saut Darren malah bergerak membelakangi Dila
" Mandi dulu, nanti bisa lanjut tidur lagi."
Tidak ada jawaban dari Darren membuat Dila bergerak, ia mendekati Darren
Cup
Akhirnya kecupan hangat itu mendarat dipipi Darren
" Bangun." Bisik Dila pelan
Darren tersenyum dalam tidurnya
" Sekali lagi." Gumam Darren
" Tidak mau, ayo cepat bangun. Kau bau keringat!" Ledek Dila
Spontan Darren membuka kedua matanya, ia bergerak menghadap Dila
" Berani kau bicara seperti itu."
" Memang bau, aku mual jadinya." Darren menggigit pelan bibirnya kesal lalu bangkit duduk dan secepat kita ia menarik Dila kepelukannya
" Darren." Teriak Dila menutup hidungya
" Rasakan!" Saut Darren tertawa pelan
" Aku tidak tahan, aku bisa pingsan!"
" Aku tidak perduli."
" Perutku, sakit!"
" Jangan berakting!"
Tapi tiba-tiba Dila terkulai lemas dan memejamkan kedua matanya. Membuat Darren melepaskan pelukannya
" Dila, kau serius?" Tanya Darren
" Dila." Darren mencoba menegapkan tubuhnya, sehingga kini setengah badan Dila dipangkuannya
" Dila, kau benar-benar pingsan." Gerutu Darren menepuk-nepuk pipi Dila
" Hey berhenti bercanda." Ucap Darren mulai terlihat khawatir, sambil tak berhenti menepuk-nepuk pipi Dila
" Aku hitung sampai tiga, kalau tidak bangun. Kau akan merasakan akibatnya."
" Satu, dua, tiga."
Namun Dila malah tak kunjung bangun membuat Darren kalap, ia segera bangkit membopong Dila. Ia berlari membawa Dila menuju keluar
Hahaha
Darren berhenti ketika mendengar Dila tertawa
" Kau." Tapi Dila malah tak berhenti tertawa. Darren tampak kesal karena berhasil dikelabuhi. Ia menurunkan Dila begitu saja dan masuk lagi ke Apartement Dila
" Darren." Panggil Dila mengejar Darren
" Apa kau pikir membuat orang khawatir itu sebuah candaan." Gerutu Darren
Dila yang dibelakang menahan tawanya
" Aku tidak bermaksud begitu." Saut Dila pelan
" Sejak dulu, kau memang tak pernah berperasaan." Jawab Darren kali ini membuat Dila mematung dan menunduk
Keterdiaman Dila membuat Darren memutar tubuhnya. Tak ada kata yang keluar dari mulut Darren ataupun Dila saat ini. Dila mencoba mengangkat wajahnya
" Memangnya kau siapa berani mempermainkanku."
" Darren, aku-" Darren tak mau mendengarkan Dila, ia malah pergi meninggalkan Dila dan kekamar mandi
" Kenapa dia sampai semarah itu." Gerutu Dila
Lama Dila menunggu Darren sampai-sampai ia mengantuk. Ketika pintu kamar mandi terbuka, Dila segera meletakan novel love story yang dibacanya ke meja samping tempat tidur
Darren yang hanya memakai celana panjang hitam itu melirik dengan tatapan sinisnya. Lalu ia naik keatas kasur dan tidur membelakangi Dila
" Darren, kau bisa memakai kaosku. Tapi ya pasti sangat ketat ditubuhmu."
Tapi tak ada jawaban dari Darren
" Biasanya juga kau membawa baju ganti."
Darren tetap tak mau menjawab membuat Dila bingung, Dila tak pernah menghadapi seseorang yang sedang merajuk seperti Darren
Dila menggigit bibir bawahnya, ia mencoba memberanikan diri untuk merayu Darren. Dila mendekati Darren, menumpukan dagunya dilengan atas Darren
" Maaf." Bisik Dila. Darren malah memejamkan kedua matanya
" Darren. Berhenti marah, peluk aku. Anak kita membutuhkannya." Bisik Dila
Tetap tak ada jawaban dari Darren membuat Dila bergerak tidur dan melingkarkan satu tangannya diperut Darren. Dila meneguk ludahnya kasar ketika jemarinya merasakan begitu kekar perut sixpack tersebut, entah kenpa gairahnya meningkat saat ini
Dila semakin menghimpit Darren, sepertinya ia membutuhkan kehangatan Darren saat ini. Dengan segenap keberaniannya, jemari lentik Dila menelusuri perut itu dan menuju bawah. Dila menghilangkan rasa malunya, toh mereka suami istri. Bukan hanya seorang suami kan yang suka minta jatah. Tapi seorang istri juga memerlukan hal itu
Bibir Darren tersenyum nakal, ia memegang jemari lentik itu membuat Dila terkejut
" Darren, emmm aku."
" Aku akan memaafkanmu, kalau kau bisa membuatnya bangun." Ucap Darren dengan segala akan bulusnya
" Ma-maksudmu!"
" Jangan berpura-pura bodoh dan polos." Dila menggigit bibir bawahnya
Darren bergerak tidur terlentang lalu kepalanya menoleh pada Dila, wajah Dila memerah saat ini
" Ayo lakukan!"
" Memangnya harus sampai sejauh itu."
" Ya sudah!" Darren mencoba membelakangi Dila lagi namun segera Dila tahan. Dila memberanikan diri bangun dan menaiki tubuh kekar itu
Darren hanya memperhatikan Dila dari bawah. Wanita itu membuka melepaskan piyamanya dihadapan Darren sehingga hanya tersisa bikini saja. Sebenarnya Darren tak tahan melihat Dila yang seksi. Tapi Darren ingin tahu sejauh mana wanita itu
Darren meneguk ludahnya kasar ketika Dila mengecup puncak dadanya. Wanita itu membasahi dada Darren dengan lidahnya, semakin kebawah dan terus kebawah
" Buka." Perintah Darren. Dila menurut, ia membuka dan menarik celana panjang Darren dari tubuhnya lalu menarik boxer hitam Darren hingga terbitlah junior Darren yang sudah tegak menantang
Darren langsung bangun, menarik Dila duduk dipangkuannya. Ia membuat Dila polos tanpa sehelai benangpun
Bibir keduanya tak berhenti bertaut sejak awal menyatu hingga akhir. Semakin lama malam mereka semakin panas dan penuh keringat
Darren mengusap-usap punggung Dila yang mulus. Wanita itu tumbang diatas tubuhnya. Keduanya masih saling mengatur nafas. Keperkasaan Darren tidak Dila ragukan, berkali-kali pria itu membuatnya menjerit dan menuju puncak nirwana
Darren berguling membuat Dila berada dibawahnya lalu melepaskan penyatuan mereka. Darren menatapi Dila, wajah berkeringat itu membuat Dila semakin cantik sehingga Darren berlama-lama memandanginya
" Ini sudah malam, memangnya kau tidak mau tidur?" Tanya Dila, ia mencoba menghentikan Darren yang terus memandanginya
" Kau lelah?" Tanya Darren mengusap pipi Dila dengan ibu jarinya
" Hmm." Saut Dila membuat Darren segera bangkit. Ia menarik selimut dan merebahkan dirinya disamping Dila
Dila ikut menarik selimut itu dan bergerak memeluk Darren. Darren memegang jemari lentik diperutnya itu. Pandangannya menuju langit-langit kamar, entah apa yang Darren pikirkan
-
Dila membuka kedua matanya ketika mendengar suara bising hairdryer. Bibir Dila tersenyum melihat Darren yang sedang mengeringkan rambutnya, Dila melirik jam didingding yang sudah menunjukan pukul 07: 00 pagi. Seharusnya Dila bergegas bersiap-siap namun entah kenapa Dila masih betah menatapi pemandangan didepan matanya
Darren sendiri tampak masih santai dengan kaos hitam dan celana hitamnya. Dila segera bangun, menggulung tubuhnya yang polos dengan selimut lalu mendekati Darren. Dila memeluk tubuh tegap dan lebih tinggi darinya itu, Dila menempelkan sebelah pipinya dipunggung Darren dengan bibir tersenyum
Darren membiarkan Dila memeluk dirinya berlama-lama
" Mandilah, kita sarapan bersama." Ucap Darren membuat senyum Dila semakin melebar
" Bisakah kita seperti ini saja selamanya." Namun kata itu hanya bisa Dila lontarkan didalam hatinya. Sepertinya Dila sudah benar-benar terjatuh lagi dengan pesona Darren
" Aku akan memasak untukmu."
" Tidak, aku sudah memesan sarapan."
" Kenapa? Masakanku tidak enak."
" Aku tidak mau membuatmu repot."
Dila tak menjawab, ia hanya terdiam membuat Darren meletakan hairdryer lalu melepaskan kedua tangan Dila. Darren berbalik menghadap Dila, kedua matanya sejenak melirik dada Dila yang agak menyembul dengan dua titik kecil merah yang Darren berikan
Darren berniat mencium bibir Dila namun Dila menahan wajah itu dengan telapak tangannya. Dila tertawa pelan lalu bergegas meninggalkan Darren menuju kamar mandi
Darren tersenyum nakal lalu berjalan menyusul Dila tapi sayang Dila malah mengunci pintu kamar mandinya membuat Darren berdecak kesal
Didalam kamar mandi ia memegangi dadanya, sejak semalam jantungnya terasa akan meledak karena perlakuan Darren padanya. Lalu Dila berdiri didepan cermin menatapi Dirinya yang aut-autan. Rambutnya jangan ditanya lagi, bibirnya sedikit bengkak dan Dila terpaku pada buah dadanya yang terdapat kissmark Darren, ini pertama kalinya Darren melakukan itu
Wajah Dila memerah beberapa saat. Tapi senyum dibibirnya tiba-tiba memudar ketika mengingat wanita yang bersama Darren. Beberapa kali Dila melihatnya, hatinya berkecamuk saat ini dan mood Dila langsung buruk
Dila keluar dengan bibirnya yang cemberut. Ia sedikit terkejut karena ternyata Darren masih dikamar, pria itu sedang duduk dimeja rias dengan bersedekap dada
" Kemarilah, pakai ini." Namun Dila yang hanya memakai bathrod pink itu hanya diam menatapi Darren
" Ayolah, ini sudah siang." Gerutu Darren
Pelan-pelan Dila mendekat yang mana Darren langsung memberikan dua papperbag ke tangan Dila
" Apa ini?"
" Lihat saja." Dila mengeluarkan sebuah dress warna pink selutut yang pas bodi. Kedua mata Dila hanya menatapi pakaian indah dan terlihat cukup mahal ditangannya
" Pakailah."
" Mana mungkin aku bekerja mema-"
" Memangnya siapa yang menyuruhmu bekerja?" Spontan Dila menatap Darren
" Mulai hari ini, kau dipecat."
" Darren." Wajah Dila memelas
" Aku sudah memikirkan dan memutuskan semuanya. Perutmu mulai membesar dan orang-orang akan curiga!" Seketika Dila menunduk menatapi dan menyentuh perutnya. Semalu itukah Darren? Ada secuil rasa sakit dihati Dila mendengar pernyataan Darren
Keterdiaman Dila membuat Darren bangkit, ia berdiri memegang kedua pundak Dila." Apa yang kau khawatirkan?"
" Hatiku, aku mengkhawatirkan hidupku jika ini semua selesai." Batin Dila lalu menatap Darren
" Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, setelah melahirkan kau bebas melakukan apapun. Sebagai ucapan terima kasih, aku akan menbantumu kembali bekerja dihotel." Mood Dila yang jelek itu makin bertambah jelek dengan setiap ucaoan Darren. Dila hanya diam tak berkata seoarah katapun
" Pakailah, atau kau mau aku memakaikannya untukmu?" Goda Darren
" Oke, oke kalau itu maumu." Darren mencoba menbuka bathrod Dila karena wanita itu tak mau menjawabnya
Dila menepis kasar jemari kekar yang hendak menarik tali bathrodnya itu. Ia akan kembali kekamar mandi namun belum juga selangkag Darren menarik pinggang itu mendekat kepelukannya. Darren memeluk tubuh itu dengan erat
" Lepaskan aku." Dila mencoba meronta
" Pakai saja disini, kenapa harus dikamar mandi hmm?"
" Apa kau sudah gila!"
" Gila katamu, aku ini suamimu, aku sudah melihat semuanya. Apa lagi yang mau kau tutupi?"
" Aku tetap tidak mau, lepaskan aku." Gerutu Dila dengan wajah kesal namun itu malah membuat Darren merasa lucu
" Oke kalau begitu, itu artinya kau setuju kita bercinta lagi pagi ini."
" Darren, kau benar-benar!" Gerutu Dila
" Bagaimana?" Tanya Darren menatapi setiap inci wajah cantik itu
" Lepaskan dulu." Darren tersenyum senang lalu benar melepaskan Dila dan mengambil alih papperbag ditangan Dila
Sambil menunduk dan menghela nafas, Dila membuka bathrod pinknya hingga menampilkan lekuk tubuhnya yang tentu saja membuat Darren meneguk ludahnya kasar
Lalu Dila mengambil dress pink yang berada ditangan Darren. Tapi Darren tak membiarkan itu, ia mengacungkan papperbag itu keatas
" Apa yang kau lakukan?" Dila melototi wajah tampan itu, ia sudah kesal sejak tadi. Ditambah malu karena ia polos tanpa busana dihadapan Darren
Darren melempar papperbag itu kebelakang membuat Dila menghela nafas. Dila mencoba mengambilnya namun pinggangnya kembali ditarik Darren, pria itu memeluknya lagi
" Kau bisa merasakannya kan?" Bisik Darren. Dila hanya diam, wajahnya memerah, ia merasakan seuatu yang sudah keras dibawah sana menekan perut bawahnya
" Kau sudah janji."
" Kapan?" Tanya Darren dengan seringai nakalnya
Dila tak bisa berkata-kata dengan tingkah Darren
" Darren." Teriaknya ketika Darren menarik tubuh itu menuju sofa. Darren membawa Dila duduk dipangkuannya
Dan ia melakukan lagi adegan demi adegan panas itu. Tubuh Dila mulai menjadi candu untuknya
" Ayo bersuaralah." Bisik Darren dengan suara parau didada Dila. Jemarinya jangan ditanya lagi sudah menjalar ditubuh Dila
" Aku suka suara dessahanmu." Bisik Darren lalu membawa Dila berbaring disofa, ia mengukung tubuh itu dibawahnya. Kedua matanya menatapi Dila, ia mencoba memancing Dila agar mengeluarkan suaranya dengan jemarinya yang nakal dibawah sana
" Dila, emmh ayolah." Bisik Darren ditelinga Dila. Lalu ia mengangkat wajahnya, menatapi Dila yang merem melek dibawah kendalinya
" Darren." Darren tersenyum, akhirnya wanita itu bersuara juga. Darren segera bangkit, ia melepaskan celana panjangnya dan mulai menyatukan tubuhnya lagi dan Dila
Pergulatan itu terjadi hampir satu jam lamanya. Karena keringat mengucuri tubuhnya dan Dila. Akhirnya Darren membawa tubuh yang masih lemas itu kekamar mandi
Dikamar mandi, Darren menyalakan shower sehingga air menyiram tubuhnya dan Dila. Darren mendorong Dila kedingding, ia menyingkap rambut panjang Dila lalu mengecup pundak wanita itu
Darren memeluk tubuh Dila dari belakang sambil menikmati guyuran air shower
" Aku menikmatinya." Bisik Darren
Dila hanya terdiam, rasanya malu jika Dila pun bicara bahwa ia pun menikmati percintaannya dan Darren
" Darren, kau tidak bekerja hari ini?"
" Tidak untuk hari ini, aku akan mengurus kepindahanmu."
" Pindah?"
" Aku sudah memutuskan-"
" Kenapa kau selalu memutuskan tanpa memberitahuku dulu."
" Memangnya harus?" Dila hanya bisa diam, tapi wajahnya menunjukan kekesalan. Darren melihat itu, lalu mengecup pipi Dila
" Aku akan melakukan ini demi kebaikanmu dan bayi kita. Semakin hari perutmu pasti semakin membesar. Apartementmu ini terlalu jauh dari rumahku dan aku tidak bisa setiap hari menemanimu, jadi aku memutuskan membawamu ke Apartementku."
" Maksudmu kita tinggal serumah?"
" Tidak, apartementku sangat dekat dengan rumahku. Aku bisa setiap hari melihatmu, setidaknya aku bisa menjagamu. " Ucap Darren, padahal ia berusaha menyembunyikan Dila dari ayahnya. Sebenarnya bukan Apartement Darren, melainkan Aparement yang baru Darren beli beberapa hari yang lalu
" Dan aku tidak butuh persetujuanmu." Keterdiaman Dila membuat Darren kembali bicara
" Tidak usah khawatir, aku akan menyewa jasa kebersihan untuk apartementmu ini."