Apalagi yang bisa Ola lakukan selain melepaskan, ketika Esa menginginkan ikatan mereka terputus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mickey Mouse24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ola bersama pria lain di hotel
🗣️🗣️🗣️ sebelum baca mari istighfar dulu teman-teman online ku. Tahan emosi, tahan emosi... saya tidak bertanggung jawab untuk emosi kalian yak 🙏😇🥰
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
hanya butuh waktu beberapa jam bagi Esa untuk melacak keberadaan sang istri di pulau dewata ini. berkat teknologi yang makin canggih ditambah sejumlah rupiah yang Esa keluarkan demi membayar beberapa tenaga bantuan untuk menemukan titik lokasi sang kekasih halal.
lima menit sudah Esa berdiri di depan pintu hotel yang tertutup rapat. tangan kanannya masih melayang di udara, sementara si tangan kiri menenteng koper miliknya. Esa gamang bukan lantaran ia takut salah nomor kamar. sebab orang suruhannya dengan keahlian menyabotase cctv hotel mengirimkannya sebuah potongan rekaman bahwa Ola memasuki kamar ini sekitar sore hari seorang diri.
Esa hanya menduga-duga alasan sang istri memilih tidak bergabung dengan teman-temannya yang menginap di villa keluarga dari calon mempelai wanita, bahwa Ola masih butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri dari kemelut sakit hati yang memeluk perempuannya. memikirkan itu membuat Esa kembali merutuk diri.
apakah kedatangannya akan menggangu wanita itu? jawabannya pasti iya! jangan konyol Esa. sakit hati yang perempuan itu alami adalah buah dari kecurangan mu.
berjalan mondar-mandir layaknya orang yang tengah dilanda kebingungan, Esa memikirkan alasan apa yang sekiranya bisa membuat kehadirannya diterima oleh perempuan itu. jam digital di pergelangan tangannya sudah menunjukkan angka 11 lewat. gawat, ini sudah jam tidur istrinya.
perkara diterima atau tidaknya, itu urusan belakang. yang jelas Esa harus menemui sang istri malam ini juga untuk memohon maaf sekaligus menuntaskan rindu
pintu kamar hotel terbuka setelah Esa menekan bel beberapa kali. matanya kontan melotot bahkan nyaris keluar ketika ia melihat siapa yang membuka pintu itu dari dalam
pria dengan kaos polo putih dan celana kain selutut berwarna hitam menatap Esa dengan alis hampir menyatu. Rahang Esa otomatis mengeras, wajahnya merah padam dan kedua tangannya terkepal kuat. darahnya pun mendidih menyaksikan ada laki-laki lain di dalam kamar istrinya di waktu yang sebagian besar orang gunakan untuk terlelap.
tanpa mengucapkan sepatah katapun Esa menerobos masuk dan menyenggol bahu Irham dengan keras. namun langkahnya terhenti begitu Irham menarik pundaknya sehingga tubuh Esa berbalik dan menepis kasar tangan Irham
"ngapain lo ke sini?" tanya Irham dengan nada ketus, tatapan matanya tak bersahabat
"gue yang harus nanya, ngapain lo di kamar istri gue, hah!" bentak Esa emosi
Esa maju mendekati Irham, matanya menyiratkan kemarahan yang terlalu kentara. jadi ini alasan kenapa Ola memilih menyewa kamar hotel dari pada bergabung dengan keluarga pengantin di villa? bisa bebas bertemu dan berduaan dengan laki-laki ini? Esa mengenali siapa sosok Irham, satu-satunya laki-laki dalam geng istrinya. jika sebelumnya Esa biasa saja dengan pertemanan mereka maka mulai detik ini Esa mengutuk persahabatan itu. mana ada laki-laki dewasa dan perempuan dewasa selalu bersama kalau tidak salah satunya memiliki rasa. dan sepertinya dari tiga perempuan dalam persahabatan itu, Ola lah yang terjebak rasa dengan Irham. Esa berdecih sinis memikirkan hubungan mereka
"bukan urusan lo, mending sekarang lo pergi. Ola lagi nggak bisa diganggu" Irham lekas menarik keluar koper dari tangan Esa, mengisyaratkan agar Esa keluar dengan gerakan kepalanya
Esa semakin tersulut. tapi alih-alih menuruti perintah Irham, ia malah berbalik dan melangkah masuk semakin dalam. namun langkahnya terhenti begitu melihat istrinya berbaring di ranjang dengan mata terpejam
tubuh Esa langsung terdorong ke belakang sesaat setelah seorang perempuan dengan rambut sebahu menerjangnya. hampir saja ia jatuh terjerembab kalau saja tangannya tidak memiliki refleks yang bagus untuk berpegang pada dinding penghubung kamar mandi. belum sepenuhnya sadar dari keterkejutan lantaran didorong tiba-tiba, tangan kanannya sudah lebih dulu ditarik seseorang untuk menjauhi ranjang
"ngapain lo kesini?"
pertanyaan yang sama terlontar dari manusia yang berbeda. kenapa semua orang merasa aneh ketika ada seorang suami yang datang ke kamar hotel istrinya? bukankah pikiran mereka harus dibenahi? Esa berhak berada disana, toh Ola masih sah istrinya walau perempuan itu sudah menggugatnya di pengadilan.
"mau nyakitin Ola sampai mana?" pertanyaan kedua dari Claudia terucap dengan nada yang dinaikan satu oktaf
"Ola kenapa?" tanya Esa tak peduli dengan ucapan menohok Claudia
"Ola lagi nggak bisa diganggu. kalau lo ada urusan penting lo bisa sampaikan ke kita, nanti kita kasih tau ke Ola" sahut Naya yang baru saja beranjak dari sisi Ola, berjalan mendekati Claudia yang sudah menguarkan aroma pertengkaran dengan Esa. Naya lekas menepuk pelan pundak Claudia dari samping agar bisa mengontrol emosi sahabatnya itu
"Ola kenapa?" Esa mengulang pertanyaannya. ada nada khawatir yang terselip dalam kata-katanya. meskipun belum tahu apa yang terjadi pada istrinya tapi Esa dapat menebak jika ada sesuatu yang buruk. wajah Ola terlihat sangat pucat dan tak membuka matanya sama sekali padahal dalam ruangan yang luasnya hanya setengah dari kamar pribadinya itu telah terjadi perang intonasi suara
"jangan bersikap seolah lo peduli sama Ola, bang-sat!" Claudia menimpali dengan sinis
"gue emang peduli. dia istri gue!" Esa tak kalah emosi. bagian mana dari dirinya yang menunjukkan jika dia tak peduli dengan keadaan sang istri? buta kah dua perempuan di hadapannya ini.
sambil menghela napas berat, Naya yang notabenenya paling realistis di antara mereka menyuruh Esa duduk di sofa panjang dengan kode matanya, lalu ia menyusul
"asam lambung Ola kambuh tadi sekitar jam 8 malam. dia sudah diperiksa dokter. katanya beberapa hari ini pola makannya tidak teratur ditambah stres yang Ola alami membuatnya drop seperti itu" Ungkap Naya mengenai keadaan Ola pada Esa. bagaimanapun Esa masihlah suami Ola yang sah sekarang ini, jadi Naya rasa, Esa berhak tahu keadaan Ola
"tanpa perlu bertanya sebabnya, biar gue kasih tahu kalau semua yang Ola derita itu hasil perbuatan setan, lo bang-sat" Claudia yang berdiri ditemani Irham di samping ranjang Ola menyahut dengan kalimat yang berhasil menohok jantung Esa
tanpa diberitahu, Esa tahu betul kalau semua karenanya, tapi mendengar Claudia memperjelasnya membuat Esa ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat itu juga, merasa tak berguna dan sangat kejam pada sosok sang istri
"kenapa Ola tidak mengabari gue kalau dia sakit?" Esa menunduk. ia dan Ola masih terikat pernikahan sah, istrinya masih tanggungannya, tapi kenapa malah orang lain yang Ola hubungi untuk merawatnya? setidak berarti itukah Esa dimata sang istri saat ini?
"apa yang Ola harapin dari suami kayak lo? yang mungkin lagi mesra-mesraan sama jal4ngnya merayakan hari pertama sidang perceraian yang telah lama diimpikan"
kalimat Irham memukul Esa telak. jantungnya seperti diremas kuat. sekelebat bayangan wajah Ola yang menunggunya pulang menari-nari di memorinya. istrinya itu tetap tersenyum manis meski lelah tidak bisa ditutupi secara sempurna. tanpa perempuan itu tahu kalau ia menunggu seorang suami yang tengah berselingkuh.
Bersambung...
Alhamdulillah kita bertemu lagi bulan suci Ramadhan 😇 semoga kita bisa memaksimalkan amal ibadah kita di bulan suci yang penuh keberkahan ini.
selamat menjalankan ibadah puasa saudara-saudara seiman ku
aku masih nungguin loh kak
semoga othor sehat selalu