NovelToon NovelToon
Nona Muda Love Pengacara

Nona Muda Love Pengacara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:304.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Setelah mengarungi dunia pendidikan di bidang fashion design, Jelita akhirnya lulus dengan baik. Kehidupannya dimulai dari sini, membuka usaha dengan modal yang diberikan oleh ayahnya. Ia dipertemukan dengan Reza dan mulai pendekatan. Namun, ketika orang aneh yang tidak lain adalah mantan ibu tirinya yang berhasil kabur dari rumah sakit jiwa, hidupnya menjadi tidak baik-baik saja.

Jelita selalu berusaha menyembunyikan segala kesulitannya dari siapapun, tanpa terkecuali teman-teman dan kekasihnya. Alhasil, Reza merasa diabaikan dan tidak dipercayai karena perubahan sikap Jelita yang menjadi tertutup. Reza justru menganggap bahwa Jelita tidak menerima apa adanya dirinya, terlebih merupakan pria dengan tubuh yang gendut. Kisah asmaranya harus kandas oleh kesalahpahaman.

Lantas, apakah Jelita bisa menghadapi teror dari sang ibu tiri? Juga membuat kekasihnya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31-Kekesalan Jeli

“Hmm ... sampai kapan Kakak selalu butuh keberanian untuk ngomong sama pacar sendiri?”

Episode 31-Kekesalan Jeli

“Mm ... Nyonya, sepertinya Jeli harus balik, masih ada pekerjaan di butik dan siang nanti ada acara. Jeli minta maaf, Nyonya,” ucap Jelita sembari merundukkan badannya.

Reyna memasang wajah sendu, meski ada senyum yang ia ulas di sudut bibirnya. “Enggak apa-apa, Sayang. Mama anter ya?”

“Ma ... ma? Ah, mm ... enggak perlu, Nyo-nya. Jeli habiskan dulu kopinya dan Nyonya di sini dulu menikmati. Lagipula arah kita berbeda.” Jelita salah tingkah karena ucapan sebutan untuk ibu itu terlontar di bibir Reyna. Kendati, ia sudah menunjukkan rasa keberatan.

Reyna menghela napas. Ada sedikit kecewa karena Jelita masih menyebutnya dengan kata ‘nyonya’. Bahkan, gadis itu menolak ketika ia hendak mengantar. Namun tak ada yang bisa Reyna lakukan kecuali mengangguk setuju. Mau bagaimanapun, ia masih enggan membuat Jelita tidak nyaman.

Setelah itu, Jelita segera menyesap kopi yang sudah mendingin. Gerakannya begitu tergesa, bahkan sempat tersedak sedikit. Baru setelah ia menghabiskan isinya, diambilnya napas lega. Senyum pun mengembang mania menghias di bibirnya.

Dengan penuh hormat sekaligus kesopanan, Jelita menghampiri Reyna yang masih bertahan duduk. Ia merunduk, kemudian meraih telapak tangan Reyna sebelah kanan. Jelita mengecup punggung tangan dari wanita paruh baya itu.

“Jeli pamit, Nyonya, semoga hari Nyonya indah tanpa saya,” ucap Jelita tersenyum malu-malu.

Reyna mencoba mengulas senyum, padahal merasa sesak karena rencananya belum sempat ia katakan pada gadis itu. Namun, tampaknya waktu yang dimiliki Jelita perihal pekerjaan juga tidak banyak. Reyna mencoba mengerti, ia tidak menjadi calon mertua yang posesif.

“Baiklah, kamu hati-hati di jalan ya, Sayang. Mama tunggu kamu di rumah, pria gembul kamu pasti senang kalau kamu main ke rumah,” ucap Reyna.

Jelita salah tingkah. “Ah ... mm, baik sa-saya usahakan mampir ketika ada waktu.”

Selepas itu, Jelita mengangguk pelan. Detik berikutnya, ia berbalik badan dan mengambil langkah untuk keluar dari kafe tersebut.

Sementara Reyna masih mengamati punggung Jelita yang semakin menjauh. “Hmm ... lihat saja, Jeli. Saya akan membuat kamu memanggil saya dengan kata maaama!” ucapnya penuh keyakinan.

Reyna memang sudah berencana, tepat ketika Jelita keluar karena ada panggilan. Wanita paruh baya itu berusaha tidak menggubris penolakan gadis itu seputar penyebutan atas namanya. Biar saja, ia yakin suatu saat Jelita luluh dan tersugesti mengikutinya. Dengan begitu, kedekatannya dengan Jelita pasti akan semakin erat.

Lalu, di suatu titik tunggu, Jelita baru saja menyetop taksi yang lewat. Beruntung, keadaan sepi dan ia langsung mendapat kendaraan itu. Kalau tidak, mungkin saja ada orang yang mengenalnya. Ia bisa gila karena ulah penggemar seperti beberapa tahun silam. Meski hanya sebatas selebgram bukan artis layar kaca, namanya sudah santer diperbincangkan. Bahkan, ada perkumpulan fans yang membentuk komunitas di sosial media, tentu saja Jelita sebagai idola dari komunitas itu.

****

Waktu kembali berjalan. Waktu makan siang pun tiba. Sang pangeran gembul sudah menyapa dengan setia. Ia baru saja turun dari mobilnya sekaligus memasuki butik kekasih tercintanya. Sambutan dari para pegawai butik itu, ia dapatkan. Tentu dengan beberapa cibiran yang sukses membuatnya malu-malu.

“Kak Reza!” seru Jelita. Gadis itu melepaskan alat ukur dari lehernya, kemudian meletakkan buku sketsa rancangan di meja kerjanya. Detik berikutnya, ia menghampiri sang pangeran kesayangan.

Reza tersenyum. Rasanya sangat lega setelah setengah hari berjibaku dengan kasus-kasus, akhirnya ia dapat menemui gadisnya itu. Bagi Reza, senyum milik Jelita sudah seperti sebuah obat dari segala keletihan. Juga, rasa rindunya yang turut hadir ketika tak berjumpa.

“Hei! Kok bengong?” tanya Jelita keheranan sembari menoel perut buncit kekasihnya yang tersamar oleh blazer besar.

Reza mendengkus. Sayangnya, ia tidak bisa mengomel ataupun merundung Jelita, sebab kecantikan kekasihnya justru membuatnya menelan saliva.

“Kangen ...,” lirih Reza tanpa sadar.

Kendati cukup pelan, ternyata mampu didengar oleh Iin dan kedua rekan yang belum keluar untuk makan siang. Ketiga wanita bawahan Jelita itu menyerukan kata ‘cie’ secara bersamaan.

Alhasil, Reza menggeragap. Kedua bola matanya mengedar tak beraturan, sementara tangannya sibuk mengusap leher dan punggung. Reza mencoba berdeham kencang demi menghalau pergi rasa tidak nyaman.

Jelita tertawa kecil. “Iya, Jeli juga kangen sama Kakak! Kangeeen banget! Mbak Iin, Desi, sama Mbak Leby cuma iri. Uh, ayo, Kak!” Gadis itu berucap sembari merengkuh lengan Reza. Hingga keduanya kompak berjalan keluar, untuk menuju mobil milik sang pengacara.

Reza mulai sibuk memutar kemudi. Namun, bibirnya asyik bersenandung. Sementara Jelita justru terpaku mengamatinya dari sampingnya. Bahkan, gadis itu sampai tersenyum-senyum.

“Kenapa, Dek?” tanya Reza tanpa mengubah sikapnya.

Jelita tersentak. Namun ia segera menjawabnya, “Jeli terharu, Kak. Kakak bilang kangen sama Jeli.”

“Kakak emang selalu kangen kok sama kamu.” Reza menatap kekasihnya sekilas.

“Tapi Kakak enggak pernah bilang sama Jeli.”

“Maaf, butuh keberanian ekstra, Dek.”

“Hmm ... sampai kapan Kakak selalu butuh keberanian untuk ngomong sama pacar sendiri?”

Reza meperlambat laju kendaraannya. “Maaf, Dek.”

“Maaf? Kenapa harus maaf? Jeli butuh jawaban bukan maaf!”

Reza menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, sampai membuat keduanya terantuk dashboard. Napas Jeolita terengah-engah. Ia sendiri heran mengapa sekeras itu pada Reza. Tampaknya sedang mendekati tanggal merahnya. Hanya saja, Jelita juga kesal dengan jawaban Reza yang tidak pasti. Memangnya sulit bersikap apa adanya di depan pacar? Mengapa harus selalu ia yang maju duluan?

Karena berada di posisi tengah jalan, akhirnya Reza segera menepikan mobilnya supaya tidak mengganggu kendaraan lain. Ia menghela napas. Gusar sekaligus bingung menyapa hati Reza. Ketegasan Jelita yang secara tiba-tiba, benar-benar membuatnya terkejut.

“Kakak ... Kakak ....” Sulit sekali bagi Reza untuk berkata-kata. Apalagi ketika ia harus melihat wajah kekasihnya itu tengah sendu.

“Maaf, Jeli lagi tanggal-tanggal emosi, Kak,” ucap Jelita. Sendu di wajahnya bukanlah kekesalan melainkan rasa sesal.

“Tanggal emosi?”

Jelita mengangguk.

“Maafin Kakak yang kurang peka, Dek. Mm ... kamu butuh apa di saat tanggal seperti ini?”

Jelita menatap Reza. “Butuh kasih sayang. Enggak butuh kata maaf. Jeli ....” Ia menghela napas. “Jeli mau Kakak peka, perhatian dan enggak minderan lagi!”

“I-iya, Kakak usahakan buat kamu, Dek.”

Tatapan mereka saling bertaut satu sama lain. Menimbulkan debaran yang tidak keruan. Posisi wajah yang saling berhadapan seakan kian mendekat. Hingga hembusan napas saling terasa di kulit satu sama lain.

Jelita menelan saliva dengan getir. Posisi wajah kekasihnya yang semakin mendekat membuatnya bak terpaku. Lehernya kaku, tubuhnya bergetar, jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha memejamkan matanya di sela rasa tegang. Hingga ... bibirnya, terasa disentuh halus.

“Hmm ... belum boleh.”

Mendengar itu, Jelita sontak membuka mata. Reza tersenyum di hadapannya, sementara tangan pria itu menyentuh bibirnya.

“Ck!” Jelita mendengkus, karena seolah sedang dipermainkan oleh kekasihnya.

“Kamu berharap apa, Sayang?” tanya Reza tanpa rasa bersalah. Ia kembali melaju mobilnya.

“Enggak asyik!”

Gimana mau asyik, kalau kamu aja gemetaran, Jeli. Mana tega aku ambil bibir manismu!

****

Jempolnya yah!

1
Revina Darajati
haduh aneh keluarga ini...orang kaya tp kenapa gk cari orang punter untk njaga dan selidiki semuanya.. bapaknya juga kebpaa cuek bgt siih
Hetnawati Simbolon
jeli tak punya harga diri aku selaku wanita malu
VhyDheavy: Namanya anak muda kebacut cinta memang suka lupa daratan Kak. Hehehe.
Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Afid Diyah
apa judul novelnya kak
VhyDheavy: Halo, Kak. 😊

Pembalasan Istri Yang Dibunuh Suaminya

itu judulnya ya, Kak. Mari mampir. atau klik saja nama saya, dan nanti tersedia beberapa judul lain. Terima kasih 😊🥰
total 1 replies
rina purwati
lanjutanya kpan thor
reza gaming 30
tetap semangat ya thor, semoga nnt bnyk yg mampir 💪🏾💪🏾💪🏾💪🏾
reza gaming 30
tenang Jel, Reza lg merasakan indahnya dicium gadis cantik
reza gaming 30
disini ada kesalahan org berasymsi bahwa daging mengandung kalori tinggi, pdhl yg berkalori itu karbohidrat, org bilang diet gak makan nasi, tp makan roti, makan mie, justru roti mie itu kalorinya lebih tinggi dr nasi, krn roti itu bs dibilang tdk ada serat, jd semuanya menjadi glukosa, yg terbaik adalah diet gizi seimbang + olga 30menit/hari
Kecombrang
🤣🤣🤣🤣🤣
reza gaming 30
sebaiknya jgn ditiru diet seperti Jelita, diet yg baik diet seimbang ptoteinnya karbohidratnya sayur buah
reza gaming 30
abis cerita cewe endut sekarang cowo endut 😁
reza gaming 30
basahamu itu lho thor, membuat karyamu enak dibaca d tdk bertele2,. perlu dilanjut unt dibaca
Oh Dewi
mampir ah mana tau seru.
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya
Hendri Astiti
gemes sama reza
Noorhied
Reza gembul tapi ganteng persis anak lelakiku... 😍😍😍
mbak i
ini cerita jeli,,,nggak lanjut lagi ya😥😥😥
Syifadini Atira
kok aku jadi bingung alur ceritanya 🤔
Han da Yani
maaf, banyak pembaca yang kayak saya..
saking asyiknya baca sampai lupa kasih like.

bukan berarti tak suka ceritanya.
bahkan semua cerita favorit lainnya juga begitu.
mungkin kebetulan sebagian besar pembaca karya kakak sama seperti saya, saking asyiknya baca sampek lupa kasih jempol.
maaf ya kak.. semangat terus berkarya.
Aruna Zahrani
duuuh sayang tuh bibir. blm jg diperawanin ama yayang willi udah terkontaminasi aja ama bibir laki2 lucknut
Aruna Zahrani
jgn2 yg nangkep dery mereka ber3 secara tdk sengaja tp bertemu pd saat n sikon yg sama 🤣🤣🤣🤣
Aruna Zahrani
kata2 om galak josss 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!