"Mas Rizal jangan kaget, dia namanya Sulastri, memang sudah mengalami gangguan jiwa semenjak kecil. Keluarganya juga tertutup, sedikit misterius," terang salah seorang warga yang lekas membangkitkan rasa penasanku.
Di mana ternyata, hal itu dilatarbelakangi oleh masalah nan pelik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERSIHAN Bagian 3
"Ternyata benar, ini karena si War," ucap ibuku yang membuat kehebohan di pagi hari.
"Apa sih Buk, si War kenapa?" tanya ayah.
"Ini karena si War tuh buang anak Ambar dan melakukan pagar ghaib di rumahnya jadi para setan berkeliaran."
"Jangan membuat gosip yang tidak-tidak buk!" sahutku.
"Ini bukan gosip Zal, ini fakta. Ibuk dapat berita dari Bu RT. Mbah buyut yang bilang. Ini valid asli tanpa pemanis buatan," jawab ibuku menggebu.
"Kalau memang benar karena bayi Ambar, kenapa setannya jadi banyak? Kan bayinya cuma satu buk?" tanyaku.
"Kata Mbah buyut sih karena rumah itu digunakan untuk ritual selama puluhan tahun sehingga memiliki aura yang disukai para Jin. Akhirnya banyak jin juga yang turut tinggal di sana. Itulah kenapa jadi banyak setan yang berkeliaran saat si War memasang pagar ghaib di rumahnya."
"Itu klaim sepihak saja dari Mbah buyut. Setan kan bisa dari mana saja. Bisa juga jin-jin lain ikut memanfaatkan kekacauan dalam desa lalu ikut usil mengganggu juga biar disangkanya semua jin berasal dari rumah buk War," kilahku.
"Ah kamu ini Zal. Kamu gak pernah dengar hal-hal semacam ini apa? Dulu ya, di jembatan X saat proses pembangunan dulu. Konon katanya ada buaya putih yang tinggal di sungainya. Sudah pernah diingatkan sesepuh di sana agar dilakukan ruwatan dulu lah, istilahnya minta ijin gitu ke penunggu yang sudah lebih dulu tinggal tapi diabaikan. Akhirnya kamu tahu? Itu kendaraan besar-besar eskavator atau apa itu namanya, patah loh Zal. Satu kali sih masih dimaklumi tapi saat patah untuk yang ke dua kali, akhirnya pemborong proyek percaya. Mereka nurut deh bikin ruwatan dan segala macamnya. Setelah itu, pembangunan menjadi lancar. Nah, contohnya seperti itu tuh. Di rumah si War, jinnya pada ngamuk karena diusir begitu saja."
"Lalu maunya gimana buk? Masak iya, harus dikasih dana kompensasi dan disiapin RUSUN (Rumah Susun) buat tempat tinggal yang baru?"
Ayah sontak tertawa mendengar ucapanku. Ibu menjadi kesal seraya memanyunkan bibirnya. Sementara aku, ikut tertawa kecil melihat ekspresi kesal ibuk. Di sisi lain, apa yang ibu ceritakan, cukup masuk akal bagiku. Sejujurnya, aku pernah berpikiran sampai ke situ. Namun, segera kualihkan pemikiranku itu dan menurutku, lebih baik fokus pada solusi dari pada terus menerus menyalahkan.
...🌟🌟🌟...
Dari berita-berita yang beredar. Mbah Buyut sempat berjalan berkeliling desa sembari membaca sesuatu yang orang-orang anggap doa, orang-orang tidak tahu seperti apa detil doa yang dirapalkan. Sesekali mbah buyut menabur garam pada beberapa dan juga memercikkan air ke titik-titik tertentu saat berjalan-jalan itu. Akhir dari semuanya adalah beliau mengimbau agar para warga menyemarakkan kegiatan-kegiatan berbau keagamaan. Rutin bersholawat dan juga berdzikir bersama. Ia pun mengatakan kalau insha Alloh setelah ini, tidak akan ada gangguan lagi. Kalau pun ada, tidak separah yang kemarin-kemarin. Kondisi akan normal kembali tapi kebiasaan-kebiasaan baik dalam beribadah harus terus jaga dan ditingkatkan. Semua warga setuju dan jujur, muncul rasa lega menyeruak di dalam dada hingga saat kuterima kabar kalau Mbah buyut pernah juga mengunjungi rumah Lastri. Rasa penasaran lekas memuncah. Segera setelahnya, kutemui Lastri beserta ibunya untuk menanyakan perihal apa saja yang Mbah buyut katakan ketika mengunjungi rumah mereka.
"Soal itu, Mbah buyut tahu semua," jawab buk War mengawali cerita panjangnya.
"Tahu tentang apa?"
"Tentang makhluk-makhluk yang awalnya bersemayam di sini. Mbah buyut mengatakan kalau ritual bayi Ambar yang saya lakukanlah yang akhirnya menarik jin-jin lain untuk turut tinggal. Mereka marah saat rumah ini dipagari. Meluapkan emosi dengan mengganggu yang lain sekaligus berharap agar warga takut dan bisa tunduk kepada mereka. Diawali dari rasa takut lalu dihasut agar bersedia memberikan sesajen rutin hingga perlahan menjadi musrik. Itu tujuan lain mereka."
"Jadi benar yang ibuk katakan," benakku.
"Mbah buyut bilang kalau keputusanku mengakhiri ritual bayi Ambar, sudah benar. Tentang efek yang ditimbulkan, Mbah buyut akan membantu membereskannya. Mbah buyut juga memintaku untuk bertaubat. Menyesali dengan sungguh-sungguh atas seluruh perbuatanku dan memperbaiki diri untuk ke depannya," lanjut buk War.
"Iya buk, sepertinya Mbah buyut benar-benar bisa menyelesaikan masalah gangguan jin-jin itu. Dilakukan saja pesan-pesannya. Mbah buyut juga meminta para warga untuk terus melestarikan kegiatan-kegiatan berbau keagamaan. Ini bagus sih, supaya dapat mempertebal iman semua orang," jawabku.
"Iya benar."
"Untuk keadaan buk War dan Lastri sendiri bagaimana? Beberapa hari ini apakah baik-baik saja?"
"Baik, Alhamdulillah kami baik."
"Baguslah kalau begitu, semoga setelah ini, semua akan kembali normal dan semakin baik lagi ke depannya!"
"Iya, aamiin!"
...🌟🌟🌟...
"Mas Rizal!" panggil Lastri ketika aku beranjak pergi.
"Ada apa?"
"Lastri tadi belajar menulis. Mas baca ini ya nanti di rumah!" ucapnya sembari mengulurkan sebuah kertas yang telah dilipat dengan rapi.
"Iya, nanti kubaca!"
"Iya mas, hati-hati!"
"Iya, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
...🌟🌟🌟...
Di perjalanan, kubuka secarik kertas yang Lastri berikan, yang isinya seperti ini:
Mas Rizal..
Terima Kasih..
Lastri ya dulu tidak memiliki harapan, sekarang bisa jadi lebih baik..
Semua ini karena mas Rizal yang tidak mau menyerah..
Karnanya, Lastri akan terus belajar dan selalu bersemangat..
Terima kasih mas..
Aku tersenyum membaca surat yang Lastri tuliskan. Jangan ditanya bentuk tulisannya.Yang terpenting adalah isi dan ketulusan hatinya.
"Setelah ini, aku ingin mengajari Lastri untuk berjualan," gumamku di dalam hati.
...🌟🌟🌟...
Hari demi hari berlalu dengan sangat tenang. Tak ada lagi warga yang diganggu makhluk astral, begitu juga denganku. Desa kami benar-benar telah aman. Normal dan kondusif seperti semula. Pesan dari Mbah buyut pun tetap dilaksanakan. Di desa sekarang banyak perkumpulan keagamaan. Diantaranya, khataman al-Quran setiap satu bulan sekali. Bersolawat bersama, dzikir dan doa bersama yang diagendakan bergantian di setiap minggunya. Semua warga turut andil dalam kegiatan keagamaan. Baik laki-laki maupun perempuan semuanya ikut. Mulai dari anak-anak hingga dewasa turut berpartisipasi juga. Alhamdulillah, semuanya menjadi lebih baik sekarang.
"Zal, acara sholawatan Minggu depan di rumahmu bisa?" tanya Soni.
"Bisa Son."
"Sudah tanya ibumu belum? Langsung main jawab bisa aja kamu."
"Pasti bolehlah, anak semata wayangnya bilang boleh, pasti boleh," selorohku yang lekas mengundang gelak tawa.
"Okelah, aku umumkan ke jamaah habis ini!"
"Iya."
Setelah Soni beranjak, Ari bergeser duduk di sebelahku.
"Yang serius solawatannya! Jangan noleh belakang terus! Nyariin Lastri kan kamu?" ledeknya.
"Enggak, siapa juga yang nyari. Dari tadi aku fokus. Cuma barusan Soni ngajak ngobrol aja," jelasku.
"Lah iya, eh.. Loh loh mau ke mana tuh Lastri kok kayak pucat gitu," timpal Ari sembari menatap tajam ke arah belakang.
Aku pun reflek menoleh ke arah yang sama dan seketika itu juga, Ari terkekeh melihat tingkahku.
"Ah sialan, ngerjain aku ya kamu?" umpatku.
"Udah kayak gitu masih gak mau ngakuin kamu?"
"Ngakuin apa? Reflekku itu respon yang wajar. Aku khawatir juga kalau si Lastri sakit. Namanya teman, sama seperti kekhawatiran ku kalau kamu yang sakit Ri."
"Hemm.. Gak percaya, gak percaya.. Masak sih?"
Ari kian menjadi-jadi. Aku dibuatkan tak berdaya.
...🌟 BERSAMBUNG 🌟...