Novel lanjutan dari Istri Rahasia Sang Aktor
Pria yang Aya kira sudah menjadi mantan suaminya, kembali hadir dan mengatakan mereka masih terikat hubungan sebagai sepasang suami istri.
Berbagai upaya Darren lakukan agar sang istri memaafkannya bahkan mencintainya, mengingat pernikahan mereka 5 tahun silam merupakan buah dari perbuatannya merenggut kehormatan seorang gadis.
Bahkan akhirnya dihadapan media, Darren mendeklarasikan, bahwa Aya adalah istrinya, bagaimana lika-liku perjalanan mereka selanjutnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
#31
Klik
Darren memastikan safety belt Aya terpasang dengan benar, baru kemudian memastikan safety belt nya sendiri terpasang dengan benar pula.
Darren menoleh kembali ke kursi sang istri, ketika Aya menggenggam erat tangannya. “Kenapa? takut?”
“Grogi sedikit, ini pertama kalinya aku terbang dalam jangka waktu lama.” keluh Aya.
“Tak apa, lama-lama akan terbiasa, nantinya kita akan sering bolak balik London Jakarta.” hibur Darren sembari mengusap punggung tangan Aya. “Dan yang terpenting kita harus menyiapkan diri, karena kita akan melalui fase adaptasi yang luar biasa berat, lingkungan, perubahan cuaca setiap 3 bulan, Culture Shock, belum lagi perubahan hormonal kamu karena kehadiran anak kita. Berjanjilah kamu akan memberitahukan apapun yang kamu rasakan, kamu boleh menyimpan bahagia untukmu sendiri, tapi kalau kesedihan kamu wajib membaginya padaku.”
Aya mengangguk.
Pesawat mulai bergerak perlahan, semakin lama semakin kencang, sedikit berguncang ketika menerobos pekatnya awan, hingga benar benar mengudara, barulah pramugari menginstruksikan bahwa penumpang boleh melepas seat belt mereka. Dari balik jendela Aya masih melihat kelap kelip lampu malam di ibu kota Jakarta.
“Apa yang kamu rasakan?” Bisik Darren ketika melihat Aya tak melepaskan tatapannya dari jendela.
Aya menoleh, kedua matanya sedikit berair, “Rindu… belum apa apa aku sudah rindu Jakarta, rindu Mama, Papa, Oma, Opa, pokoknya rindu semuanya.”
Cup
Darren mengecup hidung Aya, “dan aku merindukanmu, karena seharian ini kamu tak memperhatikan aku.” Darren memasang wajah pura-pura cemberut.
Aya terkekeh, kemudian menangkup kedua pipi suaminya.
Cup
Ia membalas ciuman Darren dengan ciuman sekilas di bibir. “I love you.” bisik Aya
“And I love you more and more.” Balas Darren.
Keduanya saling melempar senyuman, saling bergenggaman tangan, saling mendukung dan menguatkan, bersama sama melalui jalan terjal sepanjang biduk pernikahan mereka yang masih akan terus berlayar di lautan kehidupan.
Beberapa saat kemudian Darren melihat Aya sudah terbaring lelap mengarungi mimpinya, padahal Darren sama sekali belum mendapatkan kantuknya, Darren beranjak guna membetulkan letak selimut sang istri agar tetap hangat dan nyaman.
.
.
“Hai semua, Welcome Back to our youtube channel DarrenCahaya … sebelumnya, kami mohon maaf karena sudah lama tidak upload video.”
Darren menjeda kalimatnya karena ia harus memindahkan tangan Aya ke sebelah kiri sebelum menyeberang jalan.
“Sejujurnya, kami tak tahu harus mulai bercerita dari mana,” Darren terus berbicara bahkan ketika mereka menyeberang jalan.
“Tapi jika kalian lihat pakaian yang kami kenakan pasti udah pada tahu bahwa kami tak berada di Indonesia. Yup inilah salah satu alasan kami lama tidak up video, karena rencananya hingga 3 tahun ke depan kami tinggal di London, karena harus melanjutkan kuliah.”
“Sejujurnya 2 minggu ini teramat berat, karena kami harus beradaptasi dengan tempat tinggal baru kami, urusan administrasi dan izin tinggal sementara di kedutaan Indonesia, pokoknya semuanya baru, orang baru, suasana baru, lingkungan baru, kebiasaan baru, bahkan cuaca yang mungkin ekstrim di beberapa kesempatan, harapannya sih semoga gak terjadi apa-apa.”
Darren terus berbicara dengan santai, tak peduli dengan sekitar, karena orang-orang sibuk dengan habit mereka masing-masing, beginilah realita tinggal di negara asing.
“Selanjutnya kami akan berusaha terus upload video, kabar terbaru kami di sini, dan sekarang kami mau kemana … jeng jeng jeng …” Darren mengalihkan kamera menyorot halaman depan sebuah rumah sakit, yah hari ini jadwal perkenalan dengan dokter kandungan Aya, “Kami mau ke dokter, siapa yang sakit? gak ada.” kelakar Darren.
“Jawabannya adalah, kami mau melakukan pemeriksaan kandungan, Alhamdulillah kami diberi kepercayaan lagi untuk memiliki anak, kenapa aku bilang “Lagi?” karena 5 tahun yang lalu istriku sempat hamil dan janin kami tak bisa bertahan. Karena itulah kali ini kami exited sekali menyambut calon anak kami, tak penting apa jenis kelaminnya, yang jelas kami sangat bahagia.”
“Jeda dulu ya … karena kami dilarang menggunakan kamera di area rumah sakit.” pamit Darren ketika memasuki area lobi rumah sakit, dan Aya bahkan sudah mendatangi loket pendaftaran untuk registrasi ulang setelah melakukan pendaftaran secara online.
Dua jam kemudian.
“Oke … kami sudah selesai periksa, babynya sehat, mama nya juga sehat, pokoknya untuk sementara ini Chef cantik kalian belum bisa upload video masak, kenapa? karena dia sedang TIDAK MAU MASUK DAPUR, benar begitu sayang?” Darren menekankan kalimatnya dengan nada sedikit gemas pada sang istri.
Aya tersenyum mengangguk menjawab pertanyaan suaminya, “Maaf Ya, bukan sengaja, tapi ini juga termasuk dari bagian menjalani takdir menjadi calon ibu … Mama mertua sampai heran, gimana ceritanya, seorang Chef tapi ketika ngidam, alergi masuk dapur.” kekeh Aya, “tapi banyak senengnya karena bapak suami siaga sekali, mau masakin, walau kepalanya keluar tanduk berwarna merah hahahaha …” Aya mengambil alih kamera, karena kini Darren menguasai kemudi.
“Jadi ke Supermarket Asia?” tanya Darren.
“Jadi lah … beli rempah-rempah, bumbu dan sayuran Asia.”
“Heemmm … begini nih, masuk dapur gak mau, tapi urusan belanja kebutuhan dapur tetap nomor satu.” gerutu Darren.
“Namanya juga naluri wanita, kamu gak keberatan kan kalau aku banyak jajan??”
“Nggak lah sayang … habiskan semua uangku jika kamu mau, tenang saja sumber keuanganku banyak.” sesumbar Darren.
Aya menatap wajah Darren yang tengah fokus ke jalan, menatap wajah Darren kini rasanya sungguh menenangkan, karena kini mendadak Darren jadi sosok dewasa dan selalu siaga untuknya. Entah esok dan hari-hari selanjutnya akan seperti apa, karena Darren sudah mulai kuliah, sementara dirinya masih menikmati cuti panjang selama masa kehamilan, mau masak belum dapat mood nya, menu makan juga masih pilah-pilih.
Setibanya di supermarket Asia, Darren memarkirkan mobil di spot yang masih kosong, Cuaca sungguh nyaman, tidak panas tidak juga mendung. Angin bertiup pelan sedikit dingin bagi yang belum terbiasa. Daun-daun berguguran sepanjang jalan, pertanda menyambut datangnya musim dingin. Walau banyak daun berguguran, tapi banyak juga pepohonan yang masih terlihat hijau.
Darren merapatkan mantel serta syal bulu yang Aya pakai, agar tubuh mungil sang istri tetap terlindung dari udara dingin, kemudian keduanya melangkah memasuki area toko.
Deretan sayur-sayuran beraneka warna di pajang di depan toko menyambut kedatangan mereka. Selain bahan makanan Asia tentu mereka harus mulai beradaptasi dengan berbagai macam sayuran lokal, karena mendapatkan bahan-bahan makanan Asia tak semudah yang dibayangkan, kadang kosong kadang harganya melonjak hampir menyentuh 10 kali lipat harga aslinya.
Selanjutnya di dalam supermarket mereka hanya bicara sekedarnya agar acara belanja lekas selesai, mengingat semakin sore, udara akan semakin dingin, rempah utama yang menjadi tujuan mereka adalah jahe, sebagai bahan utama minuman hangat, serta daging merah. Bagi orang orang Asia yang tinggal di negara 4 musim, berkunjung ke supermarket Asia sama seperti menemukan surga belanja, mengingat bahan-bahan yang tersedia di sana jarang dijumpai di supermarket lokal.
30 menit berkeliling toko dan trolley belanja sudah penuh, mereka pun menuju kasir, pembayaran dilakukan secara mandiri oleh para pengunjung toko, sungguh menghemat biaya tenaga kerja, dan lebih efisien waktu, karena proses scan Barcode sudah dilakukan sejak awal mereka datang ke toko.
Darren menyerahkan kunci mobil pada Aya, sebelum mengambil alih trolley belanja, “Sudah ini bagianku, kamu gak boleh angkat barang berat.” Cegah Darren ketika Aya hendak membantu Darren memindahkan barang belanjaan ke bagasi mobil.
“Yang ringan ringan aja.” Bantah Aya.
“NO … kamu duduk saja !!!” perintah tegas, dan tak mau di bantah.
Aya cemberut, tapi tak urung menuruti perintah Darren untuk duduk manis seperti baginda Ratu.
“Aku kembalikan trolley dulu yah,” Ujar Darren sebelum menutup bagasi mobilnya.
Aya mengintip kamera hasil pengambilan gambar beberapa jam yang lalu. Namun beberapa menit menunggu ia heran karena Darren tak kunjung kembali, tak ingin gelisah seorang diri, Aya keluar dari mobil, sekedar untuk menoleh ke sekitarnya, mencari cari keberadaan sang suami. Aya bernafas lega ketika melihat Darren melambai padanya ketika mengantri di sebuah stand Waffle.
BRAAAKK
Darren menutup kembali pintu mobil, setelah duduk di kursi kemudi.
“Sorry lama, tiba-tiba aku lapar,” Darren meletakkan bungkusan waffle di pangkuan Aya, kemudian 2 cup teh di cup holder. “Kupikir kamu juga pengen camilan.” Darren terus bicara, tanpa melihat jika kedua mata Aya sudah berkaca-kaca.
Menyadari tak ada tanggapan, Darren akhirnya menoleh menatap Aya, “Lho kok nangis? kenapa?”
“Lain kali bisakah bilang dulu kalau mau pergi kemana-mana?”
“Aku kan hanya mengembalikan trolley, trus mampir bentar ke stand waffle.”
Akhirnya cairan bening itu lolos dari kelopak matanya. “Tapi ini beda, kita di negara orang!!!” Pekik Aya, tiba-tiba merasa takut, kesal saja, karena Darren membeli waffle tanpa pamit. “Aku takut terjadi apa-apa padamu, kalau itu sampai terjadi bagaimana denganku, apa yang harus kulakukan?” Bak anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya, Aya menangis kencang meluapkan emosi yang tiba-tiba datang menghampiri.
Hanya sesaat Darren tercengang melihat perubahan tingkah Aya, kemudian ia menarik Aya ke pelukannya, jika tak ingat pesan Mama Disya, mungkin Darren sudah balas mengamuk. Begitulah ibu hamil, mudah sekali berubah suasana hatinya, kadang tertawa, namun tiba tiba bisa menangis sedih tanpa sebab, maka disaat seperti ini peran suami sangat diperlukan, itung-itung melatih kesabaran yang kadang hanya setipis tissue.
“Iya maaf … janji lain kali tak di ulang lagi.” Hanya itu yang Darren ucapkan, demi kembali menetralkan kembali mood sang istri.
.
.
terima kasih sudah mampir dan kasih atensi🥰
hati2 y/Sneer//Sneer/