Bidariblue namanya, dia bukan robot, tapi tubuhnya dipasangi Bio Bionic dan Microchip oleh dokter James Athur atas permintaan Bob Meyer, seorang owner dari badan intelijen swasta yang bernaung dibawah bendera XPostOne.
James sendiri adalah seorang dokter genetika Bionic women atau manusia robot. Kini Bidari menjadi eksperimen pertama.
Sayang sekali ekspektasi dokter James dan Bob Meyer tidak tercapai. Bidari menjadi tambah berutal disaat ia tersakiti. Bukan itu saja, gadis itu bersikap dingin terhadap lawan jenis, terutama kepada Zuga Qiosaki yang sangat mencintainya.
Apakah perubahan temperamen Bidari hanya pura-pura untuk mengelabui XPostOne dan para agent lainnya atau otaknya sudah terkontaminasi oleh Bio Bionic ciptaan dokter James?
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bidariblue saat tahu dirinya diculik dan dipasangi Biobionic dan Microchip?
Ayo ikuti perjalanan Bidariblue dalam sepak terjangnya menumpas musuh negara, dan juga percintaannya yang panasss...
******
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENJATA KIMIA
Kenapa saat melihat wanita itu Zuga merasa merinding, padahal Ia tahu bahwa wanita itu manusia yang cacat. Pertama kali bertemu dan memandang wanita itu ia merasa kaget, tapi biasa lagi. Ia sering melihat wanita yang rusak wajahnya.
Tapi ketika wanita itu membunuh dan memakan sesuatu dari badan korbannya, Zuga menjadi antipati kepada wanita itu. Untunglah cepat diketahui, ia selamat.
"Sak kamu kemana?"
"Bikin kaget saja kenapa ngumpet disitu."
"Siapa yang ngumpet, aku bingung mencari kamu yang hilang secara tiba-tiba."
"Masuklah, aku mau bicara sesuatu." ucap Zuga dengan nafas memburu.
Farida masuk kamar, ia bingung melihat Zuga yang awut-awutan. Zuga langsung menuju wastafel untuk membersihkan wajahnya, ada cipratan darah di bajunya padahal tidak ada membunuh orang.
"Aku mau pulang ganti baju, ternyata ada cipratan darah."
"Kamu membunuh orang?"
Akhirnya Zuga bercerita tentang kejadian tadi yang hampir merenggut nyawanya. Farida kaget dan memerintahkan scurity ke gudang.
"Nona, apakah nona yakin di gudang ada pembunuhan."
"Sopirku diculik, ini ada bekas darahnya. Kedua scurity dibunuh." sahut Farida menunjuk darah dibaju Zuga.
"Siap kami akan ke gudang."
"Siapin pistol, orang-orang ini berbahaya."
"Baik nona."
Farida mengambil dua botol air mineral dan menyodorkan ke Zuga.
"Minumlah, jangan buru-buru pulang. Kita bicarakan dulu kedepannya, semoga saja scurity bisa melacak siapa wanita itu. Kau tidak usah takut ada aku dibelakangmu."
"Aku percaya padamu." sahut Zuga pura-pura tak berdaya.
Selang dua puluh menit kedua scurity itu datang.
"Tidak ada apapun disana, darah tidak ada. Bersih gudangnya, bau anyir juga tidak ada." jelas kedua scurity itu merasa dipermainkan oleh Zuga.
"Tidak mungkin, bajuku ini buktinya."
"Disini kau cuma sopir jangan mengarang cerita untuk menarik simpaty nona Farida." scurity itu kesal kepada Zuga.
"Jangan marah dulu, aku juga mengalami hal serupa. Aku tadi ketempat kontrol cctv, disana aku menemukan scuritynya sudah meninggal, aku lari kesini dan melihat dua orang meninggal, tapi ntah kenapa baru kembali dilihat tidak ada mayat, bersih. Secepat ito lho, aku heran."
"Aku tidak bohong khan?!"
"Tidaklah..."
"Aku pulang dulu perasaanku tidak enak, semoga itu hanya ilusi saja."
"Besok datang lagi, aku minta diantar ke pulau." rengek Farida manja.
"Oke bos, besok pagi aku kesini."
Zuga turun lewat lift, ia langsung menuju ke basement. Penghuni crocodile house tidak pernah mengira kalau Basement adalah tempat yang paling bagus untuk sembunyi. Disini hanya dihuni oleh mobil rongsokan dan tikus, kecoa.
Zuga melangkah ke mobilnya dan mengambil pistol, kaca mata serta alat kejut listrik. Ia juga menutupi wajahnya dengan masker dan memakai jaket hoodie.
Pukul 03.45 dini hari.
Zuga kembali ke lantai satu, ia menuju ke gate tiga dan menempel ditembok untuk meng zoom sekitar gudang. Ia mengamati dengan seksama pergerakan di gudang.
Ketika ia mau melangkah ke gudang, ia melihat pergerakan di gate enam, tempat penyimpanan senjata crocodile house. Zuga berlari cepat dengan cara memutar, ia ingin menangkap basah ketiga orang itu supaya orang yang mencuri senjata itu tidak bisa melihatnya.
"Angkat tangan!!" perintah Zuga berusaha menyamarkan suaranya.
Ketiga orang itu kaget dan menjatuhkan senjatanya. Mereka memandang Zuga lekat-lekat.
"Siapa kau berani menghalangiku?"
"Aku pengawal disini, kau telah memakai senjata weapons of mass destruction. Kau menyalah gunakan senjata ini dan tidak mengerti cara mempergunakannya. Tidak boleh dipakai perseorangan atau negara tanpa seijin PBB." pungkas Zuga.
"Abrano sering memakai kalau banyak mayat bergelimpangan. Dia menuangkan sedikit, mayat itu sudah lenyap tanpa bekas."
"Jika kau yang kena maka kau juga akan lenyap, senjata itu sangat berbahaya. Aku memerintahkan supaya kalian menaruh semua senjata itu ketempatnya."
"Kami perlu senjata." kata wanita itu kekeh.
"Apa yang kau tahu tentang abrano dan keluarganya?"
"Banyak! di trowongan sebelah kanan ada banyak narkotika. Bom dan pengantinnya ada di gate lima dekat dapur. Senjata api untuk tentara bayangan ada di gudang. Ruang kerja pak Joni ada di lantai satu, kalau mau masuk ke ruangannya lewat dinding. Sangat rahasia."
"Tujuan kalian disini untuk apa?"
"Balas dendam."
"Pergilah sejauh mungkin semasih pikiranku waras, jika kalian bandel pistol ini akan meletus."
Mereka tidak menjawab dan berlari ke utara, ntah kemana. Luas crocodile house tiga ratus are. Sangat luas, membelakangi laut Baladewa. Kalau mau pergi mereka mempergunakan buggy. Mungkin mereka sudah tahu tujuannya, terserahlah.
Zuga mengangkat tabung platinum yang berisi cairan senjata kimia. Sangat berat, tabungnya berbentuk apollo.
Ia berpacu dengan waktu, sebentar lagi pagi. Perlahan ia membuka bagasi mobil Robiconnya dan menaruh benda itu dengan hati-hati, ia berdoa supaya bisa lolos dari scurity. Setelah menutup benda itu dengan karpet dan karton barulah Zuga menutup bagasi mobil.
Zuga mendorong mobilnya keluar basement, ia tidak ingin menghidupkan mobilnya di dalam, karena suara mobil akan terdengar lebih keras.
Setelah agak jauh dari basement barulah ia menghidupkan mobilnya, tanpa lampu. Zuga meluncur satu kilometer kedepan dan bertemu gardu scurity yang pertama.
Seorang scurity keluar dari gardu sambil menguap. Zuga sudah siap dengan senjatanya apabila scurity itu berulah.
"Tokk..tokk....keluar dari mobil." teriak scurity itu mengetuk kaca mobil.
Zuga menurunkan kaca mobil dan...
"DEBBBSS"
Zuga tidak mau basa basi ia menembak scurity itu dengan Revolver yang ada peredam suaranya. Scurity itu terjengkang ke belakang dan meninggoy.
Peluru masih lima butir, di gardu masuk atau gardu pertama terlihat dari zoom kaca matanya ada lima scurity sedang berdiri, mungkin mau ganti shift.
Mobil Robicon itu melaju sejauh satu kilometer lagi dan berhenti tepat di depan gardu. Seorang scurity memberi isyarat untuk menyalakan lampu.
"Tokk..tokk...anda lupa menyalakan lampu." teriak scurity itu seraya membuka palang.
"Stop...stop...jangan dikasi keluar, teman kita satu ditembak di gardu belakang."
Zuga tancap gas, tembakan beruntun di arahkan ke mobil. Robicon adalah mobil anti peluru, tidak apa-apa kalau ditembak, kecuali ditembsk memakai rudal barulah mobil akan hancur.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, dan masuk ke parkiran Kuta. Jam segini parkiran masih ramai walaupun suasana remang-remang karena penerangannya temaram.
Disini ratusan mobil terparkir, sulit menemui mobil yang dicari. Zuga turun mencopot flat mobil dan membuang ketempat sampah. Kemudian ia kembali naik ke mobil membuka masker, berganti pakaian.
Dia menyimpan kaca mata di dashboard, kemudian menyelipkan Revolvernya di sepatu sneakers.
Mobil Robicon itu keluar dari parkiran Kuta, sejauh ini ia sudah merasa lega. Ketika sampai di kilometer sepuluh ada razia, Zuga terpaksa menepi. Banyak mobil yang kena tilang, orang-orangnya juga kena tilang karena mabuk.
"Surat-surat" seorang aparat menemuinya Zuga mengambil STNK dan memberikan kepada aparat.
"Kami akan menggeledah mobil anda, silahkan turun."
"Tidak ada yang perlu dicurigai pak, saya No Drugs No Alcohol." sahut Zuga mengambil kaca mata dari dashboard.
"Kami ada surat perintah penggeledahan, jika anda melarang kami, anda bisa diancam penjara."
"Tolong surat perintahnya..." pinta Zuga karena merasa aneh. Ia melihat di antara aparat itu ada tiga orang Assassin.
"Turun atau aku tembak jidat kau!!" bentak seorang aparat menodongkan pistolnya.
Zuga terpaksa turun dari mobil, dengan tangan di atas kepala. Ia ingin mencari tahu siapa orang-orang ini.
"Kau dari mana?"
"Denpasar pak."
"Kau datang dari mana malam-malam begini?"
Biasanya kalau ditangkap oleh aparat Zuga cepat memperlihatkan kartu intelijennya. Sekarang ia mengulur waktu supaya bisa lebih banyak merekam situasi disini.
Tiba-tiba Zuga di dorong oleh salah satu orang yang ada disitu. Mereka mengurung Zuga.
"Kau yang membunuh scurity di crocodile house. Dari cctv terlihat mobil Robicon meluncur, dan kau menembaknya."
"Maaf saya tidak mengerti apa yang bapak tuduhkan kepada saya."
"Jangan pura-pura bego, kau tidak ngaku juga. Ini apa, ada dilipatan karpet." salah satu dari mereka pura-pura mendapat dua linting ganja.
"Pak itu sudah basi, modus. Tidak usah menjebak masyarakat dengan cara menipu. Maksud kalian apa?"
"Kau melawan, borgol dia!!" perintah mereka.
"Jangan main kekerasan pak, sebagai aparat harusnya bapak melindungi rakyat kecil, bukan malah menjebaknya."
"Banyak cingcong kau!!" bentak yang berkumis lebat menampar pipi Zuga.
Badan Zuga terdorong sedikit. Ketika tamparan yang kedua datang, Zuga menarik tangan si pemukul dan mundur kebelakang sedikit.
"Kalian sudah keterlaluan, menjebak aku, menampar aku, maksud kalian apa?"
"Kau pantas menerima perlakuan buruk dari kami karena kau melawan petugas dan membawa narkoba."
Zuga mengunci mobilnya dan membiarkan tangannya di borgol. Ia berkumpul di pinggir jalan dengan lima orang laki-laki dan dua perempuan. Rupanya setiap yang membawa mobil Robicon ditangkap.
Zuga bersyukur aparat tidak memeriksa bagasi mobilnya, ia menunggu Bob Meyer untuk membebaskannya. Sudah dua puluh menit tapi tidak ada tindakan, padahal kaca matanya sudah mengirim rekaman.
Pada saat yang bersamaan dua buah mobil Robicon di berhentikan. Seperti nasib Zuga mereka juga diborgol.
"Kalian jangan main borgol dan menjebak aku dengan tuduhan murahan ini!!" teriak Bidari kesal. Ia melawan saat tangannya mau diborgol.
Zuga yang mendengar suara Bidari, berusaha mendekat.
"Diam kau!!"
Seorang aparat mau menampar pipi Bidari, tapi Bidari lebih dulu menendang orang itu. Zuga ikut menendang aparat.
Keadaan menjadi ricuh, semua jadi berantem dan saling pukul. Ketika Bidari melihat Zuga, semangat berantemnya tambah tinggi. Ia mengamuk dengan kekuatan super bionic. Kelincahan Bidari semakin sempurna belakangan ini.
Hampir saja Bidari menyapa, untung Bidari ingat tidak boleh saling sapa saat menjalankan tugas.
"DOARRR...."
Suara tembakan peringatan dari aparat bergema. Mereka terpaksa diam. Zuga mendekati Bidari dan berbisik.
"Lepaskan borgolku."
"Tahan ya...." Bidari lalu mematahkan borgol itu menjadi dua. Zuga mengibaskan tangannya yang pegal.
"Trimakasih, kau datang tepat waktu." bisik Zuga mesra.
*****
thrrr jngan lupa ea bidari