Dikhianati oleh adik angkatnya, di penghujung kematiannya sang ratu iblis menggunakan kekuatan terakhir untuk melakukan perpindahan jiwa.
Jiwa ratu iblis berkelana untuk mencari raga baru dan masuk ke dalam tubuh anak bungsu kaisar yang disebut aib karena lahir dari hubungan gelap kaisar bersama wanita penghibur.
Mengisi raga baru, ia bertekad untuk merebut kembali posisinya sebagai ratu iblis sekaligus membersihkan namanya sebagai aib keluarga kekaisaran. Tapi, apa yang harus dilakukannya ketika sebuah masalah muncul, dimana tubuh baru itu diberkahi oleh dewi penyembuhan yang kemudian dirinya digadang-gadang akan menjadi saintess menjanjikan bagi kekaisaran? Padahal kenyataannya ia adalah ratu iblis, sosok yang jauh dari kekuatan suci apalagi penyelamatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantaRiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31| Menjelajahi Hutan
...SELAMAT MEMBACA...
Daratan luas yang dikelilingi air laut, tampak tenang dan hening tapi menyimpan kengerian luar biasa, itulah Pulau Milvi.
Ronav tidak tahu haruskah dia tenang setelah tahu menyembunyikan Seana di pulau tersebut dengan alasan sebuah misi. Saat ini, berita kehancuran ras peri telah menyebar disusul kehancuran tempat tinggal lainnya. Kebanyakan dari ras yang selamat kabur dan memasuki kehidupan para manusia.
"Si kembar memiliki kemampuan yang hebat, Geas pun tidak begitu buruk." Lasius berujar saat melihat Ronav khawatir selama beberapa hari terakhir setelah kabar dari akademi datang, memberitahu bahwa Seana telah melakukan perjalanan ke pulau tersebut.
"Kerajaan suci nyaris runtuh jika pertolongan Zielda terlambat, mereka berhutang budi pada kita. Jika suatu hari mereka menuntut untuk membawa Seana kesana dengan alasan firman para dewa, kita hancurkan sekalian kerajaan mereka."
Lucas menimpali dengan ekspresi jengkel. Para iblis telah mendapat kabar bahwa ada manusia yang diberkati kemampuan 'Penyembuhan Dunia' dan berpikir bahwa anak manusia itu berada di kerajaan suci yang diapit dua kekaisaran, yakni Zalmitic dan Jargenia.
Demi memperkuat terkaan bahwa anak manusia itu sungguh dilindungi disana, Zielda bersama pasukan khususnya, Ordo Magna, mengerahkan seluruh kekuatan melindungi kerajaan suci yang beberapa bulan terakhir terus mengirim surat kekaisaran untuk membawa Seana menemui Penguasa Agung yang merupakan kekuasaan tertinggi di kerajaan tersebut.
"Hanya segelintir orang yang tahu bahwa Seana berada di Milvi." Ronav mengembuskan napas khawatir.
"Untuk saat ini akan lebih baik kita bekerja sama dengan ras lain. Entah sampai kapan serangan monster-monster dan iblis ini reda." Ronav kembali berujar cemas.
Sedangkan itu, gadis kecil yang tadi dibicarakan tengah menjelajahi pulau Milvi. Menyusuri pepohonan rindang yang tinggi dan besar, sangking lebatnya daun pohon disana cahaya matahari benar-benar tidak bisa mendesak masuk lebih dalam, tapi setidaknya kabut di pagi hari tidak begitu tebal sehingga matahari bisa berbagi binarnya walau hanya segaris cahaya menembus dari celah kecil antar kelopak pohon.
"Sebenarnya apa yang mau kamu lakukan di pagi begini?" Geas tampak kesal karena Seana memaksa bangun lebih pagi padahal dia masih butuh tidur, setidaknya bangunkan siang hari.
"Aku punya semacam latihan untukmu, Kak."
"Latihan?"
Seana angguk kepala dan berhenti sejenak, memandangi Geas yang memiliki potensi untuk jadi lebih kuat, setidaknya berkat dari Dewa Ots bisa membentuk jumlah kekuatan fisik setara titan pada tubuh manusia Geas. Hanya perlu latihan ekstrem untuk itu.
"Kita sudah tahu bahwa di Milvi ada Cyclops, mereka adalah monster yang cukup berbahaya dan akan menjadi gangguan jika tidak dibereskan. Tapi kupikir tidak perlu terburu-buru karena mereka bisa jadi teman latihanmu."
"Teman latihan? Sebenarnya apa yang kamu rencanakan."
Seana mendengus lalu sedikit menyibak semak belukar, menampakkan seekor Cyclops terlelap.
"Aku mau kakak mengalahkan monster itu tanpa mengincar matanya."
"Hah? Tapi matanya, kan, kelemahan terbesar."
"Walau begitu kakak bisa membuatnya kewalahan sebelum menyerang mata, kan?"
Geas menelan ludah. "Kemarin itu pasti keberuntungan."
Raut wajah Seana berubah dingin lalu detik berikutnya satu tendangan mendarat di punggung Geas hingga tersungkur tepat di depan kepala Cyclops, saat itu pula mata besar Cyclops terbuka lebar.
"Sialan! Adik baj*ngan!" Geas memaki dan langsung berdiri.
Seana tersenyum puas. "Aku mau kakak menyambut serangannya. Pukulan dengan pukulan, begitupula tendangan. Aku harap kakak mengerahkan seluruh tenaga!"
Seana berteriak bersamaan Cyclops mulai berdiri dan mengangkat tongkat batu, dihantamkan ke arah Geas. Dentuman dari pukulan yang meleset itu membuat burung-burung menyembur dari hutan.
"Sial! Sungguh, dia lebih kejam dari pada guru di akademi!" Geas meraung nelangsa dan menerima setiap serangan Cyclops.
...***...
Isha baru selesai memanggang daging orc sisa semalam, sebagian lainnya diasap, dan dikeringkan agar awet karena mereka akan bertahan cukup lama di Milvi.
Saat pagi buta, si kembar terbangun dan tidak mendapati Geas dan Seana jadi keduanya memutuskan keluar untuk mencari buah-buahan atau tanaman liar yang bisa dikonsumsi. Namun setelah itu, Seana dan Geas belum pulang sementara hari sudah siang.
"Apa mereka meninggalkan kita, ya?" Asha berkacak pinggang, memandang dari bibir gua, sedikit cemas karena dua adiknya belum kembali.
"Aku tidak terlalu peduli jika Geas dimakan monster, tapi jika itu Seana sungguh disayangkan. Kita belum melihat banyak tingkah gilanya." Celetuk Isha.
Asha angguk-angguk kepala dan segera masuk tapi tidak lama Seana kembali sambil mengeret Geas yang habis tenaganya. Padahal Geas terlihat selalu bugar dan berstamina tapi saat ini wajahnya berubah tirus, kotor, dan penuh pelu seolah dikuras lemaknya.
"Hm, jadi apa yang kamu lakukan padanya?" Asha menyentuh dagu, memperhatikan Geas lebih dekat.
Seana duduk di salah satu bongkahan batu sambil membuka mulut ketika Isha menyuapinya potongan kecil daging orc yang telah dipanggang.
"Dia latihan pagi ini dan berhasil membunuh satu Cyclops lagi." Seana menjawab enteng membuat Isha dan Asha menganga.
Geas menangkap ekspresi itu lalu berujar dengan suara bergetar yang amat lemah. "Dia adalah guru kecilku sekarang."
Seana tersenyum bangga padahal itu ada cibiran dari Geas. Yah, walau sejujurnya latihan kejam itu tidak terlalu buruk karena untuk pertama kali Geas menyadari bahwa dia masih perlu berlatih jika mau melampaui saudara lainnya. Cyclops yang dia kalahkan hari ini telah memancing kekuatannya untuk meningkat ke tahap lebih tinggi.
"Aku harap bisa menghancurkan sebuah bukit jika terus berada dibawah latihan kejamnya." Geas berujar lagi sebelum akhirnya tepar, terlelap damai tanpa mengisi perut.
"Apa dia sungguh baik-baik saja?" Isha mengernyit.
Seana acungkan jempol pertanda sungguh aman.
"Kak."
"Ya?"
Asha dan Isha menoleh pada Seana. "Alih-alih langsung mencari pemimpin monster di pulau ini, aku berencana untuk membabat habis monster di Milvi sembari meningkatkan kekuatan dan menyelesaikannya dalam waktu dua tahun sebelum kembali."
"Dua tahun? Kurasa kamu terlalu menganggap misi ini sepele. Setidaknya butuh empat tahun untuk rencanamu itu."
Seana mengulum senyum bersamaan sepasang mata biru yang Asha dan Isha yakini berubah jadi merah walau hanya seperkian detik, cepat sekali.
Mereka bertanya-tanya apakah itu hanya halusinasi tapi ketika saling pandang keduanya menyadari bahwa itu sungguhan. Kenapa bisa?
"Baiklah, dua tahun adalah yang tercepat, paling lama tiga tahun kita disini. Setelah itu, aku berencana untuk membentuk pasukan khusus seperti Kak Zielda untuk melakukan ekspedisi perburuan monster."
Jika itu sungguhan, berarti Seana berencana memiliki pasukan sendiri di umur 15 tahun nantinya. Memimpin sebuah pasukan apalagi untuk melakukan perjalanan jauh memburu monster bukanlah hal mudah terlebih memang siapa yang mau tunduk dibawah kepemimpinan bocah semuda itu?
"Aku berencana merekrut kalian bertiga."
Sudut bibir Asha berkedut sementara Isha tak paham karena perkataan Seana terdengar omong kosong baginya.
"Dengar, ya, Dik. Kami disini memang diharapkan melindungimu tapi jangan lupa bahwa perebutan takhta masih berlangsung jadi kami bisa kapan saja menyingkirkan kandidat lain demi takhta itu."
Seana berdiri lalu melepaskan energi ratu iblis yang telah cukup besar membuat dua saudarinya terkejut sampai-sampai menekuk lutut dan memegang leher yang terasa tercekik.
"Sepertinya aku yang pantas berkata demikian, Kakak sekalian." Seana tersenyum manis setelahnya. Membuat si kembar sukar menelan ludah karena ngeri.
...BERSAMBUNG ......
Udah 2 Minggu lebih ga up, lagi sibuk kah?