mengisahakan perjalanan seseorang yang bernama Atika yang berkuliah diluar negri.
bagamana ceritanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurpadillah Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.30 Kekecewaan
...SEANDAINYA...
...Jika waktu adalah barang...
...Ingin sekali aku kembalikan...
...Agar tiada pertemuan aku dan dia...
...Jika suasana adalah tempat...
...Aku ingin pergi dan menghilang...
...Agar tiada kenangan yang tercipta...
...Antara ceritaku dan ceritanya...
...Andai saja...
...Ada mesin waktu yang kupunya...
...Ingin aku kembali ke pertemuan semula...
...Mengingatkan diriku ini...
...Agar tak salah memahami rasa...
...Memahami apa yang dia lakukan...
...Semuanya hanyalah kebohongan semata...
...~Atika...
****
Setelah melihat kepergian temannya Atika berbalik kekelas untuk melanjutkan pelajaran. Ia sebenarnya terlambat, tapi guru sudah di beri tahu oleh kepsek, oleh karena itu tidak diberikan sanksi.
Selama tiga hari Dinda ijin dari sekolah dan hari keempat barulah dia datang. Selama tiga hari tersebut, hari-hari Atika diisi oleh suara laki-laki yang menyapanya ketika baru saja sampi didalam kelas, berat tapi indah dipendengaran Atika. Bukan lagi suara Dinda yang super toa itu. Perbedaan mereka memang sangatlah berbeda jauh.
Walau begitu, Atika tetap menyikapinya dengan biasa saja. lain halnya dengan Ilham, setiap ada celah untuk bertanya tentang jawaban yang ia tunggu, tetapi Atika selalu menghindar. Ia belum bisa menerima laki-laki ini. Ia berfikir baru juga kenal beberapa hari, jadi ia ingin menunggu seminggu atau bahkan sebulan lagi.
Ia ingin sekali melihat, bagaimana ia bertahan jika bersamanya. Seberapa perjuangannya untuk mendapatkannya. Akan kah dia mundur? Atau meninggalkan Atika? Itu semua yang ingin Atika lihat. Bagi Atika mencari pasangan itu satu untuk selamanya bukan yang kaya orang lain, bangga dengan banyaknya mantan yang mereka miliki. Atika bukan orang yang seperti itu.
*****
Sebulan sudah berlalu, dan benar saja Ilham tetap berada di samping Atika, tidak meninggalkannya begitu saja. Malahan lebih perhatian dari sebelum-sebelumnya.
Atika berniat untuk menjawabnya pada hari ini juga, tapi saat istirahat ia tidak melihat sedikitpun batang hidung Ilham. Sebenarnya Atika tidak enak dengan laki-laki itu, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah tekat Atika mencari satu pasangan untuk menemaninya hidup kelak nanti. Dia hanya ingin satu orang yang pernah singgah dihatinya dan menetap untuk selamanya, sekarang hatinya sudah terisi penuh oleh Ilham, ntah bagaimana caranya Ilham mengisinya.
Atika tetap tidak menemukan keberadaan Ilham dimana pun. Dia memutuskan untuk makan dulu dari pada mencarinya, toh nanti diparkiran ketemu juga. Sudah hal yang lazim untuk mereka berdua ketemuan di parkiran, karena disitulah tempat nongkrong mereka ketika kakak Atika agak lambat menjemputnya.
Saat bell berbunyi, menandakan bahwa sekolah diakhiri. Atika bergegas pergi keparkiran. Tapi selama diperjalanan ia mengayun kakinya dengan pelan dan banyak mengeluarkan pertanyaan. Apa Ilham nanti bakal senang kalau sekarang gue jawab? Apa dia akan loncat-loncat yah? Ha apa sesenang itu juga?. Yah itulah yang keluar dari fikirannya.
Walau Atika tahu Ilham akan senang mendengar jawabannya, tetap saja Atika gugup untuk mengungkapkannya. Selama diperjalan ia hanya tersenyum membanyangkan reaksi Ilham yang sangat kegirangan nanti.
Saat dirasa dirinya sudah sampai diparkiran, Atika mencari Ilham ditempat yang biasa ia gunakan untuk membicarakan hal yang tidak penting. Tapi nihilnya, pada saat Atika sampai, tidak ada tanda kehidupan disitu. Jadi, dia memutuskan untuk mencarinya ditempat parkiran lainnya, walau tempat itu terbilang luas. Atika tetap sigap untuk mencarinya, ia tidak sabar melihat reaksi Ilham nanti. Saat berjalan ke bagian belakang parkiran, terdengar suara perempuan. Atika tidak ingin menggubris, tapi saat melihat tas dan postur tubuh laki-laki yang baginya sangat familiar, bahkan sangat, sangat familiar. Laki-laki itu ialah laki-laki yang ingin Atika temui. Saat ia sudah ingin menggapai laki-laki itu. Terdengar jelas bahwa dia sedang berbicara dengan lawan jenisnya, jadi Atika urungkan. Ia ingin berbalik untuknpergi ketempat duduk biasanya, tapi percakapan mereka mengundang penasaran Atika untuk mendengarnya. Dia bersembunyi dibalik mobil putih itu, lalu mendengar perkataan mereka. Atika sontak kager ketika mendengar apa yang dikatakan perempuan itu. Dan yang lebih parahnya lagi, suara perempuan itu seperti suara ketua kelas Atika, itu adalah suara Raya.
"Ilham, kapan sih tantangan lo berakhir?" tanya Raya kepada Ilham
"Atika suruh gue PDKT sebulan, seharusnya sih dia udah nerima gue. Tapi, tadi dia gak ngasih kabar apa-apa ke gue"
"Kenapa sih, lo terima tantangannya si ucup?"
"Kalau gue gak terima kan jadinya malu. Apalagi tantangannya cuman ngeluluhin hati cewek, udah tu pacarin lalu putusin. Itu kan mudah banget bagi gue. Tapi gue gak nyangka ternyata si Atika itu punya penjiwaan yang kokoh"
"Tapi kan gue pacar lo. Gimana kalau lo terperangkap dalam cintanya?"
"Itu gak mungkin sayang"
"udah jangan ngaur lagi ray, itu gak bakalan terjadi."
Percakapan singkat mereka terhenti saat diakhiri dengan ciuman. Yang benar saja diarea sekolah dia berani ngelakuin itu. Atika merasakan badannya lemas, ingin tersungkur ketanah, tapi ia tetap manahan diri agar tidak terjatuh. Ia memegang satu persatu mobil guru, menjauhi tempat yang ia rasa jijik untuk tinggal berlama-lama.
Walau atika merasa jijik akan perbuatan mereka, tetapi tetap ada rasa sakit yang mendalam setelah mendengar percakapan singkat itu.
Satu tetes
Dua tetes
Tiga tetes
Hanya air mata yang dapat ia ungkapkan, kalau sekarang dia meresa sedih, marah, tak rela, dan kecewa.
Bagaimana gue bisa lupa degan semuanya,
semua bahagia yang ternyata berujung luka,
semua mimpi indah yang kau hempas paksa, ucapnya dengan suara pelan sambil sesegukan.
Saat dirasa perasaan sakit serta sesaknya perlahan menghilang, ia mengusap wajahnya dengan kain yang habis ia ambil dari tas. Atika menggunakan bedak tipis untuk menutupi kemerahan dibagian matanya lalu beranjak berdiri untuk pulang. Ntah apa yang terjadi dijalan sampai kakaknya lambat untuk menjemput.
"Eh Atika, disini juga rupanya." suara itu. Suara yang sangat familiar dan dulu yang paling ia suka. Tapi sekarang ia mencoba untuk melupakan suara itu dan tidak menyukainya lagi.
Atika berbalik, "Ngapain lo kesini"
"Yah mau nemenin kamu lah, penjemput kamu telat lagi bukan?"
"kok bahasanya berubah?" Tanya Ilham dalam hati, ia tidak menyadari bahwa percakapannya dengan raya didengar oleh Atika"
"Wah! hebat yah lo." Atika bertepuk tangan, merasa geram melihat kepura-puraan Ilham.
"Mau buat kisah perih untuk gue yang lebih panjang yah?. Huh! Membawa mawar merah untuk menusuk sukma dengan menggenggam duri, gitu yah yang lo inginkan?
"Maksudnya apa Tika? Aku gak ngerti sama ucapanmu?"
"Jangan sok naif deh lo. Baru nyadar gue, ternyata lo itu ahlinya dalam memanipulasi sebuah keadaan yah?. Seperti hujan deras ditengah teriknya matahari. Mampu membasahi meski tak ada mendung yang tak berarti. Lo juga mampu menyakiti hati walau tanpa perlu mengucapkan kata permisi"
"Tika gue beneran gak ngerti," ucapnya sendu, seperti ada awan mendung yang datang tapi belum menurunkan hujan.
"Tatapan itu, tatapan memohon itu. paling gue benci dari lo Ilham. Lo pintar banget bermuka dua," umpat Atika dalam hati
"lo gak ngerti yah?"
hanya anggukan yang ia dapatkan dari Ilham.
"Makanya pakai otak. Lo tuh yah, topengnya bisa jadi berapa banyak dalam sehari?"
"Maksudnya?" lagi-lagi Ilham dibuat bingung akan prilaku Atika.
"lo kira gue tuli apa. Gua udah denger semua perkataan lo sama pacar lo itu. Gue denger semuanya. SEMUANYA" Teriak atika pada saat mengucapkan kalimat terakhir.
Satu tetes
Dua tetes
Tiga tetes
Lagi-lagi Ilham lah penyebab Atika menangis. Ilham ingin memegang tangan Atika, tapi sayangnya langsung ditepis.
Fikirannya kalut, ingin nolak, sayangnya tak diterima oleh hati. Ingin beranjak pergi sayangnya ditahan oleh ilusi. Tapi ia tetap mengontrol dirinya agar tidak memberi celah untuk Ilham.
Lagi-lagi Atika berteriak pergi untuk yang kesekiankalinya. Ilham awalanya tetap kekeh tinggal tapi lama kelamaan memutuskan untuk menyerah saja, karena mereka jadi pusat perhatian para sisiwa yang lalu lalang untuk pulang ke rumah.
Ketika dia kembali pergi, pasti semuanya menjadi sunyi. Terbantah dengan tangisan yang tak berarti. Tertinggal bersama pahitnya kisah cinta awal.
.
.
.
.
.
.
.
.
tinggalin jejak jg di Novelku yaa ASIYAH AKHIR ZAMAN 🥰
cinta pak bos hadir😘
mampir yuk kak
semangat teruss💪
jangan lupa mampir yaa ke karya ku yang berjudul My bad boy friend yaahhh terima kasih
salam dari
jodoh yang tertunda
cinta dalam ikhlas
salam manis dari JUST TO MET😘
Boleh banget mampir "AJARI AKU MENCINTAIMU DENGAN IMAN"
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
mampir balikk ke novel ku ya.
mampir juga ya ke novel ku
Salam "Kasih Yang Tertunda & Detektif Cinta Anti Cinta"