WARNING!!!
Bisa menyebabkan kram pipi!
Bagaimana jadinya jika di dalam Rumah tangga hanya ada sebuah pura-pura untuk mengelabuhi kedua orangtuanya. Padahal masing-masing diantaranya masih menjalin hubungan dengan pasangannya.
Matcha Aurora seorang sekretaris dari Milo Anggara harus terjebak dalam sebuah pernikahan pura-pura demi menolong bosnya yang sangat dia hormati. Sayangnya setelah pernikahan itu berlangsung hari-hari Matcha semakin rumit ditambah lagi dengan perasaan yang dia sadari jika dirinya telah jatuh cinta kepada bosnya. Disisi lain Milo tak bisa meninggalkan kekasihnya.
Apakah Matcha harus menimbun dalam-dalam perasaannya atau dia harus memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Lii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epsd 31. Hasil kolaborasi
Pagi itu Milo memutuskan untuk kembali ke Hotel untuk sekedar berganti pakaian. Milo tak sengaja melewati kamar Lisa, kebetulan ada seorang pasutri yang keluar darisana. Milo menghentikan langkahnya, penasaran dengan pasutri tersebut.
"Maaf, apa Lisa ada didalam?" Tanya Milo.
"Lisa, siapa Lisa?" Balik tanya pasutri tersebut.
"Lisa, orang yang menempati kamar ini?" Milo menjelaskan penginap sebelumnya.
"Maaf tuan, kami baru saja tiba. Kamar ini sudah kosong," jawab mereka.
Milo terkejut jika ternyata Lisa sudah tak berada didalam sana. Pasutri tersebut kemudian melewati Milo disaat Milo terdiam berdiri mematung.
"Lisa tak berada dikamarnya, dia juga tak menghubungiku. Lalu, pergi kemana dia?" Gumam Milo.
**
"Jason apa yang kamu lakukan!" Teriak Lisa dengan marah.
"Kamu masih menanyakan apa yang kita lakukan semalam Lisa? kamu memberikannya langsung kepadaku, nampaknya Milo sudah lama tak menyentuhmu." Sindir Jason.
"Tutup mulutmu Jason!" Bentak Lisa sudah dengan air mata yang mengalir.
"Aku memang berhutang budi banyak denganmu, tapi gak begini juga kamu lakukan padaku, hiks... hiks...," imbuh Lisa meratapi kondisinya, Lisa yang hanya berbalut selimut menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang sama sekali.
"Lisa, apalagi yang kamu pikirkan? lepaskan Milo dan menikahlah denganku." Sahut Jason.
"Untuk apa kamu berharap sesuatu yang sama sekali tak mungkin." Imbuh Jason.
"Aku siap menerimamu, keluargamu... tolong pikirkan soal itu." Ucap Jason kemudian meninggalkan Lisa sendirian.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gumam Lisa menyesali perbuatannya.
**
Milo terus saja menghubungi Lisa, namun tak aktif.
"Lisa, kemana saja kamu?" Gerutu Milo kemudian membanting ponselnya keatas ranjang.
Setelah selesai semuanya, Milo memutuskan untuk kembali menemani Matcha. Belum sempat mengetuk pintu, Milo mendengar suara tawa Tiar dan Matcha.
'Seakrab apa mereka berdua?' Batin Milo.
"Pahit, lu udah sembuh?" sapa Milo masuk kedalam.
"Mendingan kok," jawab Matcha.
Milo duduk disamping Matcha, kebetulan dia juga membawakan softcake keju kesukaan Matcha.
"Apa ini?" Tanya Matcha.
"Buka aja," jawab Milo. Matcha langsung membukanya.
"Softcake keju, darimana kamu tau kalau ini kesukaanku?" Tanya Matcha.
"Lu istri gue, jadi mulai sekarang gue kudu ngerti apa yang menjadi kesukaan dan ketidak sukaan elu." Jawab Milo menekankan kata istri sembari melirik kearah Tiar.
Matcha tersenyum kaku mendengar jawaban Milo. Sebenarnya dia sendiri masih belum percaya dengan perubahan sikap Milo. Tapi Matcha akan berusaha untuk memahaminya.
"Tiar, sejak kapan kau tiba kesini?" Tanya Matcha mengalihkan.
"Sejak elu ngilang sama si ono," jawab Tiar sembari melirik Milo.
"Lu ngapain sih Cha, pake cari cokelat hangat segala. Kalau saja lu kagak cari cokelat hangat, gue yakin lu baik-baik aja." Ucap Tiar.
"Mau gue potong kuenya?" Sahut Milo mengalihkan keduanya.
"Eh, gak usah... biar nanti aku yang potong kuenya sendiri." Tolak Matcha.
"Pahit, gue kan udah bilang. Elu itu istri gue, jadi lu kudu nurut apa kata gue. Gue tuh gak mau elu kenapa-napa," ucap Milo langsung mengecup kening Matcha didepan Tiar.
"Ehm. Cha, gue pamit dulu ya... ada hal yang harus gue urus disini sebelum pembukaan cabang perusahaan kakek." Pamit Tiar.
"Tiar...!" Panggil Matcha langsung membuat langkah Tiar terhenti. Tiar membalikkan tubuhnya dengan senyum termanisnya.
"Terimakasih. Terimakasih sudah menjadi temanku," ucap Matcha sebelum akhirnya dia pergi.
Tiar mengangguk dan tersenyum, kemudian pergi.
"Akrab banget ya elu sama Tiar?" Sahut Milo.
"Begitulah... Tiar selalu ada setiap aku dalam kesusahan. Bukannya kamu yang membuat kami dekat?"
Milo yang sedang minum langsung saja tersedak.
Uhuk... uhuk!
"Apaan gue yang bikin kalian dekat, kalian aja yang pada baper...," elak Milo.
"Ih... siapa coba yang baper. Asal kamu tau aku dan Tiar cuma teman gak lebih, lumayan tau punya teman yang bisa diandalkan seperti dia. Multifungsi juga bukan pekerjaan tapi moodbooster," ucap Matcha tak tau jika ucapannya malah membuat mood Milo berubah.
"Ya udah sama dia aja, gue mau pulang!" Milo langsung berjalan keluar. Menyadari Milo marah, Matcha berusaha untuk menghentikan Milo.
"Milo...! Mil... aduh," Matcha terjatuh dari brankarnya.
Milo yang mendengar Matcha kesakitan langsung menoleh kebelakang dan segera berlari menolong Matcha. Infus yang berada ditangannya lepas sehingga mengeluarkan darah.
"Pahit, maaf gue bercanda." Ucap Milo langsung mengangkat tubuh Matcha kembali ke atas brankarnya, lalu segera memanggil suster.
"Suster... Suster...!" Panggil Milo.
Suster segera masuk setelah mendengar panggilan Milo.
"Suster, tolongin istri gue!" Perintah Milo panik masih menggunakan elu gue.
"Baik tuan, tuan gak usah khawatir. Ini hanya infus yang lepas. Kami akan memperbaikinya," ucap suster langsung melaksanakan tugasnya.
"Sudah tuan, istri tuan bisa beristirahat sambil menunggu hasil lab selanjutnya." Imbuh suster kemudian berpamitan.
"Lu gak apa-apa Cha?" Tanya Milo khawatir.
"Aku gak apa-apa. Eh, tadi kamu manggil aku apa? Cha? Alhamdulillah... akhirnya aku gak mendengar sebutan pahit lagi. Kamu tau, aku kesal banget tiap kamu panggil aku pahit, bisa-bisanya aku dipanggil pahit padahal aku kan manis," Jawab Matcha sembari mengerucutkan bibirnya.
Milo menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia tersenyum saat Matcha protes tentang nama panggilannya.
"Kan bener kalau Matcha itu rasanya pahit. Lagian elu sih, nama Matcha lainnya Matcha kek Vanila apa chocolate." Sahut Milo menertawakan ucapannya.
"Ih... gak ngaca deh, orang namamu juga, aneh Milo bukannya Dancow." Ledek Matcha langsung membuat Milo kesal. Milo langsung saja menggelitik Matcha sehingga membuat Matcha merasakan geli.
Mereka berdua saling tertawa. Ini pertama kalinya Matcha dan Milo tertawa bersama.
"Pa... kedatangan kita kesini hanya mengganggu mereka rupanya," ucap mama Rika entah sejak kapan tiba disini.
Milo dan Matcha langsung menoleh kearah sumber suara. Mereka terkejut dengan kedatangan kakek Hermawan, mama dan papa.
"Kalian, sejak kapan kalian tiba disini?" Tanya Milo menyelidik.
"Kamu tau Mil, selepas kamu telfon kakek terus saja mengajak kita kesini. Untung saja badai salju sudah reda, kalau belum mungkin kakek gak akan bisa tidur sampai kalian pulang." Jawab papa Angga.
Kakek Hermawan langsung mendekati Matcha dan mengelus ujung kepalanya.
"Bagaimana kondisimu nak?" Tanya kakek Hermawan.
"Seperti yang kakek lihat, Acha sudah merasa baikan." Jawab Matcha.
"Maafkan papa karena sudah memberikan tiket kesini, papa janji akan menggantinya ke Paris sebagai pengganti honeymoon kalian." Sahut papa Angga.
"Pa... papa tak perlu repot-repot, ini sudah lebih dari cukup. Kalau aku cuti terus, nanti pekerjaan kantor bagaimana? aku gak mau menunda pekerjaan terlalu lama." Ucap Matcha.
"Lu ngomong apa sih Cha, selepas dari sini gue mau elu gak ke kantor lagi tapi menemani mama di butiknya. Gue gak mau elu terlalu berat mikir dengan pekerjaan kantor. Jadi, lebih baik elu ngikut saran gue," Sahut Milo.
"Tapi---"
"Yang dikatakan Milo ada benarnya nak, kalau kamu terlalu capek intensitas memiliki cucu untuk mama juga lama, mama sudah gak sabar ingin melihat hasil kolaborasi kalian."