Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 31 - Semudah Itu
Anjas bukanlah seseorang yang bisa memukul wanita, tapi ketika ada seseorang yang menjelek-jelekkan Lili seperti ini dia merasa tak bisa menahan diri. Meskipun itu adalah Felin tangannya tergerak sendiri untuk melayangkan sebuah tamparan.
"Maafkan saya Pak, maafkan saya," mohon Felin, meski hati dan pipinya sama-sama sakit namun dia tetap memohon untuk permintaan maaf itu. Karena bagaimanapun dia tak ingin pekerjaannya dipertaruhkan.
"Keluar," titah Anjas.
Dengan sedikit berlari akhirnya Felin keluar dari ruangan tersebut. Dia berteriak di dalam hatinya tak menyangka akan mendapatkan perlakuan sekasar ini.
Bahkan di saat Lili sudah tidak suci lagi pria itu masih saja mencintai Wanita itu.
Sumpah Felin merasa begitu iri pada Lili, bagaimana bisa wanita yang tidak ada harganya itu mendapatkan cinta yang begitu besar dari Anjas.
Ini semua terasa seperti tidak adil, Anjas sangat bodoh.
Tapi Felin pun tak bisa bertindak gegabah, jujur saja pekerjaan yang dia punya sekarang pun sangat penting baginya.
"Sabar Felin, sabar, tunggu saja sebentar lagi. Meskipun kamu tidak bisa memiliki pak Anjas tapi setidaknya pria itu pun akan bercerai dengan Lili." gumam Felin, menenangkan dirinya sendiri. Jika dia tidak bisa mendapatkan pak Anjas, maka Lili pun harusnya tak bisa juga.
Andai, Lili adalah orang yang sepadan seperti Anjas mungkin dia bisa terima jika pernikahan keduanya bahagia.
Tapi Lili hanyalah orang biasa, bahkan lebih miskin daripada dia. Felin tak bisa terima itu.
Tidak ada yang namanya Cinderella di dekat dia, jika harus ada Cinderella itu harusnya dia.
Jam pun bergulir.
Ketika jam pulang kerja tiba Lili begitu bersemangat untuk pergi ke tempat kursus mobil bersama Marta.
Lili bahkan meminta supirnya untuk pulang duluan, juga pamit pada papa Irwan tentang kepergiannya tersebut.
"Pulangnya jagan malam-malam ya," ucap papa Irwan.
"Siap Pa," balas Lili semangat.
Marta yang melihat interaksi keduanya hanya mampu tersenyum, begitu bersyukur Lili memiliki papa mertua yang seperti papanya sendiri.
"Kamu tidak pamit dengan suami mu?" tanya Marta pula ketika papa Irwan sudah pergi.
"Sudah kok, tadi aku kirim pesan," jawab Lili bohong. Karena sebenarnya diantara dia dan Anjas kini sudah tidak saling terhubung lagi.
Sedikitpun Tidak ada komunikasi yang tercipta di antara mereka berdua.
Lili yang sudah mengiklaskan semua dan Anjas yang masih berharap Lili akan menghubungi yang lebih dulu.
"Ayo pergi," ajak Lili kemudian dan Marta mengangguk.
Kedua wanita itu berjalan dengan sesekali tertawa bersama keluar dari perusahaan. Di depan sudah ada taksi yang menunggu.
Lili sudah tidak pernah lagi berjalan sendirian keluar dari area perusahaan ini, tiap kali dia melihat halte Bus di depan sana membuatnya ketakutan.
Jika tidak dengan sang supir, maka Lili akan pilih untuk memesan taksi.
Lili tidak sadar, jika sejak tadi semua pergerakannya diperhatikan oleh sang suami.
Anjas sejak tadi berdiri di salah satu sudut lobby dan melihat semuanya. Melihat saat Lili berpamitan dengan papa Irwan, melihat saat Lili tertawa bersama Marta entah membicarakan apa.
Lili benar-benar seperti telah memulai hidupnya yang baru.
Sementara Anjas masih seperti ini saja.
Cih! Anjas berdecih dengan bibir tersenyum miring.
Sungguh tak menyangka jika Lili semudah itu melepaskan cinta dan pernikahan mereka. Sampai tak ada niat sedikit pun Lili untuk meminta maaf padanya.
"Putra, besok daftarkan perceraian ku ke pengadilan," titah Anjas pada sang asisten, Putra yang sejak tadi berdiri tepat di sampingnya.
"Baik Pak," jawab Putra patuh.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.