Setahun berlalu, Qian mencari tahu keberadaan gadis yang pernah menolong hidupnya, hanya bermodalkan gelang kaki sebagai petunjuk untuk Qian yang terus mencari gadis itu. Keindahannya pada gadis yang tidak ia kenal itu makin menyita hari-harinya.
Ia sudah berjanji pada dirinya untuk menikahi gadis itu bagaimana pun rupanya karena hidupnya terlalu berharga untuknya dari pada memikirkan karakter gadis yang harus ia pilih menjadi istrinya.
Setiap kali ia mencari tahu informasi tentang gadis itu sangat nihil, hingga akhirnya mereka dipertemukan dengan cara yang tidak terduga.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
"Apakah Qian Akan menemukan gadis itu?"
"Yuk, ikuti kisah cinta mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kedatangan Mertua
Tuan Rafika dan nyonya Raditya tiba di Jakarta tanpa mengabari putranya Pengacara Qian. Begitu mobil mewah itu masuk halaman mansion, para pelayan bersikap sempurna menyambut kedatangan majikan mereka dengan kepala tertunduk.
Khansa yang baru turun dari tangga rumah, ikut berdiri menyambut kedatangan kedua mertuanya.
"Apakah kamu yang bernama Khansa?" Tanya tuan Raditya dengan nada remeh.
"Iya om." Ucap Khansa tanpa ingin. menatap wajah mertuanya.
"Ayah!" Tegur nyonya Rafika pada suaminya yang terlihat menyelidiki Khansa.
"Ayo duduk di sofa Khansa!" Ayah dan bunda ingin ngobrol banyak denganmu!" Ucap nyonya Rafika sambil menarik tangan Khansa lembut.
"Maaf tidak mengabari kalian sebelumnya, karena Tante ingin buat kejutan untuk kalian berdua.
Tidak lama pengacara Qian datang. Betapa terkejutnya Pengacara Qian ketika Khansa sudah duduk bertiga dengan kedua orangtuanya.
"Bunda, ayah!" Sapa Pengacara Qian sambil mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Jadi ini calon kamu Qian?" Apa tidak ada lagi gadis lain selain dia?" Sindir tuan Raditya.
"Ayahhh...!" Intonasi suara lebih tinggi.
"Kamu mau menikahi keluarga pembuat skandal ini?" Tekan tuan Raditya.
"Apakah ayah sudah menonton beritanya?" Jika berita itu kurang jelas, biar Qian perjelaskan lagi pada ayah. Keduanya tidak saling mengetahui kalau mereka...?"
"Tidak perlu!" Ayah sudah mengetahuinya tapi tetap saja ayah tidak menyukai gadis ini karena dia berasal dari keluarga broken home."
"Itu bukan kesalahan Khansa ayah. Dia adalah korban dan dia juga tidak memilih untuk menjadi bagian dari kedua orangtua yang bercerai. Lagi pula, aku menikahi Khansa bukan keluarganya dan berhentilah untuk menyalahkan Khansa karena perbuatan orangtuanya." Timpal Pengacara Qian sengit.
Khansa terlihat makin gugup dengan tubuh gemetar hebat. Nyonya Rafika langsung memeluk Khansa agar gadis itu merasa di lindungi.
"Ayah!" Sudah. Apakah ayah pulang hanya untuk menghina calon menantunya ayah?" Apakah tidak cukup ia tidak menerima keadilan seumur hidupnya hingga menjelang hari pernikahannya pun ayah masih menghinanya.
Emang kebahagiaan putramu Qian bisa tergantikan dengan gadis lain?" Sementara pendiriannya yang teguh hingga pernah menolak Khansa karena janjinya pada gadis penolongnya itu.
Sekarang di tambah lagi, gadis penolong itu adalah Khansa sendiri. Mana mungkin putramu tega meninggalkannya karena mengikuti kemauan mu yang tidak masuk akal itu!" Omel nyonya Rafika makin membuat suasana memanas.
"Putraku bisa melakukannya bunda. Dia tidak akan melawan aku ayahnya. Jika dia melawanku, dia harus meninggalkan firma hukum itu!" Ancam tuan Raditya serius membuat ketiganya langsung tercengang.
"Baiklah ayah!" Kalau begitu, biar aku yang meninggalkan semuanya milik ayah karena aku lebih mencintai Khansa. Ayo Khansa kita pergi dari sini!" Ucap Pengacara Qian lalu menarik tangan kekasihnya.
"Mas Qian!"
"Qian sayang, jangan tinggalkan bunda nak!"
"Maafkan Qian bunda!" Khansa adalah segalanya untuk Qian. Selamat tinggal bunda!" Pengacara Qian memeluk ibunya lalu mengambil barang-barang miliknya dan milik Khansa.
Dalam beberapa menit, kedua sudah meninggalkan mansion milik kedua orangtuanya Pengacara Qian.
"Mas Qian!" Kita mau ke mana?"
"Lihat saja nanti sayang!"
"Apakah mas Qian punya tujuan?"
"Hmm!"
"Tujuanku hanya di hatimu dan ingin aku miliki tubuh sang pemilik hati itu." Ujar Qian begitu puitis.
Khansa tersenyum bahagia, mendengar ucapan calon suaminya.
Tidak berapa lama, mobil pengacara Qian sudah memasuki salah satu apartemen mewah yang ada di daerah Kebayoran baru.
"Mas Qian!" Apakah kita akan menyewa kamar apartemen mewah ini?"
"Hmm!"
"Ya Allah aku tidak menyangka bisa merasakan juga yang namanya apartemen.
Tiba di tempat parkir lantai sepuluh, Pengacara Qian sudah di sambut oleh petugas apartemen.
"Biarkan koper itu mereka yang bawa. Kamu ikut saja aku!"
Pengacara Qian menautkan jemarinya pada gadisnya dan berjalan menyusuri koridor apartemen setelah keluar dari lift yang tersambung langsung lantai kamar apartemennya lantai dua puluh.
"Mas Qian, bukankah tadi mas parkir mobil lantai sepuluh, kenapa tinggalnya di lantai dua puluh?"
"Untuk mengecoh orang yang ingin mencari tahu keberadaan aku."
"Weh, keren!" Dasar pengacara!" Ada aja idenya sampai ke arah situ.
Setibanya di kamar apartemennya, Pengacara Qian membuka pintu utama itu dengan kode sandi sekalian memberi tahu kepada Khansa.
Pintu di buka dan di dalamnya begitu mewah. Khansa terlihat begitu takjub hingga menutupi mulutnya setengah terbuka dengan pupil mata yang melebar.
"Masya Allah!" Ini bagus sekali. Berapa harga sewanya mas?"
"Ini bukan aku sewa sayang, tapi aku sengaja membelikan untukmu sebagai kado pernikahan kita, tapi semuanya jadi gagal karena kamu sudah mengetahuinya sebelum kita menikah." Ucap Pengacara Qian dengan wajah sendu.
"Mas Qian!" Maafkan Khansa, gara-gara aku, mas Qian jadi bertengkar dengan ayah."
"Aku tidak merasa begitu, sayang. Sekarang lihat kamar utamanya!"
Keduanya sangat bahagia memiliki apartemen sendiri. Khansa sibuk memeriksa setiap ruangan yang ada di dalam apartemen itu.
"Ini kamar utama untuk kita nanti. Tapi untuk sementara, kamu tidur di sini dan aku tidur di kamar tamu." Ucap Pengacara Qian.
"Mas!" Dua Minggu lagi kita akan menikah, apakah kita harus tinggal berdua tanpa ada pernikahan, bukankah ini adalah ujian besar untuk kita?"
"Tidak usah kuatir sayang." Kita ke rumah sakit sekarang menghadap ayahmu dan membicarakan hal ini, kalau bisa kita menikah hari ini di kantor KUA agar kita bisa halal saling bersentuhan." Ujar Pengacara Qian.
"Itu ide bagus sayang, tapi apakah ayahku akan mendukung kita?"
"Hanya dia satu-satunya yang bisa kita andalkan sayang, saat ini."
"Kita coba saja ya mas!"
"Baiklah kalau begitu kita ke rumah sakit!"
...----------------...
Tuan Raffa terlihat sedih saat mengetahui kalau putrinya tidak diterima oleh keluarga Pengacara Qian. Tapi, saat mengetahui Pengacara Qian teguh dengan pendiriannya, membuat tuan Raffa sangat semangat untuk menikahkan keduanya hari itu juga.
Ketiganya berangkat ke kantor KUA setempat dan meminta penghulu untuk dipercepat pernikahan mereka karena berkas dokumen pribadi keduanya sudah berada di kantor KUA tersebut.
Khansa meminta waktu untuk didandani dengan baju pengantin miliknya yang sudah dirancang oleh desainer ternama di Jakarta.
Kebaya modern dengan hiasan beberapa batu kristal di bagian lengan. Dalam dua jam Khansa sudah berubah menjadi seorang bidadari hingga Pengacara Qian tidak mampu menggeser pandangannya saat Khansa keluar dari butik itu.
"Tuan Qian!" Masih belum halal, jadi jaga itu matanya!" Ucap asisten Fian membuat Pengacara Qian langsung balik menatapnya tajam.
"Apakah kamu bisa diam?"
"Bisa Tuan."
"Ayo kita berangkat!" Titah Pengacara Qian yang duduk di depan dengan asistennya Fian.
Sementara Khansa duduk berdua dengan ayahnya tuan Raffa.
Keluarga itu turun dan langsung ke ruang aula KUA.
Setelah mengucapkan ijab kabul dengan fasih, Pengacara Qian menyerahkan mas kawin untuk istrinya berupa seperangkat perhiasan dan uang tunai sebesar dua miliar berupa buku tabungan yang sudah terdaftar atas nama Khansa.
Tuan Raffa terlihat terharu menyerahkan diri putrinya pada suaminya Khansa.
"Qian!" Aku percaya bahwa kamu sangat mencintai putriku Khansa. Jika suatu saat nanti kamu bosan dengan dirinya, jangan kamu mengatakan kepadanya bahwa kamu tidak mencintainya lagi, tapi cukup katakan itu kepadaku saja, karena aku tidak ingin melihatnya terluka." Ucap tuan Raffa begitu emosional.
"Insya Allah, ayah!" Aku akan menjaga istriku Khansa dengan sepenuh jiwa ragaku. Dan aku tidak akan mengecewakan ayah karena Khansa adalah tujuan hidupku." Ucap Pengacara Qian dengan penuh keyakinan.
Pengacara Qian sudah menyiapkan syukuran sederhana di kantornya usai ijab Kabul. Semuanya disiapkan oleh asisten Fian untuk prasmanan nya.
Semua koleganya berkumpul di ruang meeting untuk merayakan pesta pernikahan yang digelar sederhana oleh pengantin baru ini.
Bibi Lea sangat bersyukur dan bahagia atas pernikahan Khansa dengan pemilik gedung Firma hukum Hambada ini.
"Khansa!" Selamat sayang atas pernikahanmu, semoga Allah menjaga rumah tanggamu dari godaan orang ketiga... aamiin!" Ucap bibi Lea sambil mengusap air mata harunya.
"Terimakasih bibi Lea!" Gara-gara permintaan bibi untuk mengantarkan sarapan paginya, akhirnya aku bisa mendapatkan pendekar hukum ini." Ucap Khansa sambil cekikikan.
"Aku pikir Pengacara Qian itu galak, nggak tahunya dia sangat penurut denganmu sayang." Ucap bibi Lea.
Para pelayan bibi Lea nampak menyesal karena mereka tidak mendapatkan kesempatan mencuri perhatian Pengacara Qian.
"Andai saja dulu aku lebih rajin datang ke kafe lebih pagi, mungkin akulah yang dipilih Pengacara Qian untuk menjadi istrinya. Tapi sayang, aku tidak mendapatkan kesempatan itu." Sungut pelayan Inggit.
"Sial!" Kenapa jadi orang luar yang dapat kesempatan itu," Timpal Yohan membuat temannya Bagas tertawa ngakak.
"Eh, loe ngaca dong!" Tampang kaya kalian pada, apakah pantas dapatkan pangeran setampan dan sehebat Pengacara Qian?" Sadar diri nggak loe?" Ledek Bagas dengan aksi kocaknya.
"Cih!" Kau ini, teman atau musuh, bukannya prihatin dengan nasib temannya malah di-bully." Umpat Inggit.
"Habis, daya khayal kalian tingkat dewa Bu, Pengacara Qian dan kalian bagaikan bumi dan langit. Yang pantas mendampingi Pengacara Qian yah cuma gadis itu, cik..cik..cik!" Harusnya aku yang dapatin nona Khansa.
Sudah cantik, jenius, dokter dan siapa sangka dia adalah putri pemilik rumah sakit Dwipa." Ucap Bagas yang sangat memuja kecantikan Khansa.
"Gantian kamu yang ngaca!" Tampang kaya elo, sudah seperti itu, mana ada nona Khansa naksir sama kamu. Jangankan naksir, lirik saja nggak..ha..ha .ha!" Tawa Inggit dan Yohan bersamaan membuat wajah Bagas sangat merah.
"Diiih!" Dia marah!" Sendirinya ngatain kita duluan, dikatain balik malah marah!" Ledek Inggit.
"Ada apa dengan kalian?" Bukannya kerja malah ngerumpi." Umpat bibi Lea pada anak buahnya yang sedari tadi asyik ngobrol.
"Maaf nyonya!" Ketiganya langsung kembali ke tempat kerja mereka masing-masing.
mmg km lemot pengacara pandai ungkap perkara pelik tp tdk pandai ungkap mslh diri😵💫🙄
kalian mmg rumit sih
tinggalkan saja semua Qian toh km msh bs kerja dg keahlianmu. kl km bela kemauan kakekmu itu hya sebuah alasan sebab Allah punya jalan cerita sendiri buat umatnya